Mimpi si Bejo

Dwi Klik Santosa


(cerpen untuk Bang Saut Poltak Tambunan)


SUATU KISAH di zaman gelap peradaban. Pada sebuah kampung di hulu Sungai Serambi terdapat kehidupan yang dihuni oleh masyarakat suku terasing. Kampung Suku Sawut merupakan komunitas terpencil yang hidup dan berkoloni di pinggir hutan belantara dan dihimpit gundukan dua gunung besar.

Kampung Sawut senantiasa gelap, meski hari selalu beranjak siang. Sebab laju matahari senantiasa terhalang bebatuan gunung yang tegar menjulang di antaranya.

Kehidupan di dalam kampung pun sesuram lilitan dahan hutan liar yang tumbuh di sekitarnya. Masyarakat Suku Sawut bermuka pucat dan bertubuh lunglai. Mereka hidup dalam kecemasan. Kisut dan layu. Karena terbiasa hidup dalam gulita, mereka menunggu kepunahan.

Syahdan, tinggal seorang pemuda sahaja bernama Bejo. Hidup di Kampung Sawut yang muram membesarkannya sebagai manusia tanpa cita. Bertahun waktu dilaluinya tanpa ceria.

Ada apa dengan kehidupan?

Kenapa dunia ini gelap? .. ah .. tidak!

Setiap hendak tidur, Bejo selalu dihampiri gelisah. Baringnya tidak jenak.

Nasib kampung sukuku harus berubah

Kewajaran harus dibela

Kegelapan itu harus dienyahkan

Matahari ..

matahari …

Mimpi. Sinar merah merona di ufuk Timur, betapa menakjubkan. “Matahari … pastilah benar-benar ada!” seru Bejo dengan mata binar.

Hari demi hari, suram dan gelap, masih dan terus membungkus kehidupan Kampung Sawut. Seusai tidur, senantiasa Bejo berharap dibangunkan silau mentari. Mandi dan hanyut oleh kehangatannya. Akankah harapannya itu nyata. Atau hanyalah mimpi belaka?

Akankah matahari terbit hanya saja milik makhluk-makhluk di seberang sana? Tidak! Sesuatu harus dilakukan. Agar kehidupan kampungnya terbebas dari lesu. Tapi apalah daya, keinginan Bejo menggapai matahari terbit selalu saja dibenamkan oleh gundukan perkasa gunung di seberang kampungnya.

Matahari …

matahari …

Jangan pergi.

Mimpi selalu saja mimpi. Sang mentari betapa indah tersenyum ramah menyambutnya. Matanya binar mengalirkan tempaan sinar yang hangat.

Keramahan yang hangat itu menggetarkan hati Bejo. Menggelorakan jiwa dan raganya untuk hidup wajar. Tulang sumsumnya yang longgar kembali rapat berdesakan. Mukanya berseri-seri. Tubuhnya jadi sehat. Matanya berpijar cerah. Badannya menggeliat, bergemeretak nada sendi yang terbebas dari bolot. Otot-ototnya bertonjolan. Bejo merasa menjadi manusia baru. Jatidiri yang dilahirkan kembali oleh keajaiban mentari.

Perkenalannya dengan matahari sebagaimana dalam mimpinya itu telah membangkitkan semangat dalam diri Bejo. Peri kehidupan suku ini harus dibela. Tapi Bejo sadar, bahwa apa yang baru saja dialaminya itu hanyalah mimpi. Ya, mimpi.

Ah, benarkah matahari itu milik dunia mimpi?

Tidak! sesuatu harus kukerjakan

Harus kupikirkan caranya

Agar kehidupan kampungku terus berlangsung

Tapi apalah daya?

Dengan cara yang bagaimana

Agar matahari itu

Sang hangat sumringah itu

Hadir utuh, berbagi senyum di kampungku?

Berhari-hari Bejo termangu dan terpekur. Pada akhirnya, …

“Gunung itu .., ya, gunung itu harus dipindahkan.”

Bejo terlonjak gembira.

“Ahhaaa … gunung di seberang itulah menghalangi matahari bergaul dengan kehidupan kampung”.

Jadi gunung itu harus dipindahkan. Orang-orang harus dibangunkan. Mereka harus diberi tahu dan diajak serta menyambut mentari di balik gunung itu.

Mereka harus bergotong-royong memindahkan gunung di seberang itu. Agar matahari dapat menyembul di cakrawala, menghangati kehidupan penjuru semesta. Menerangi semua yang gelap, begitupun ke setiap ruas dan ruang di seantero perkampungan Sawut.

Agar pula setiap pagi, mentari menerobosi bilik-bilik kamar mereka, menembusi tulang sumsum dan merakit gairah orang-orang penghuninya. Dan lantas agar mereka jadi lebih giat dan bersemangat menyambut hidup, menyambung kelanjutan generasi menuju peradaban modern.

Agar pula, onggokan daun jatuh, lumut-lumut dan jamur yang lembab menghumus menjadi bakal subur ibu buminya. Dan lagi, bebijian tumbuh lebat menjadi pohon-pohon yang senantiasa mekar dan merekah siap melayani kebutuhan hidup manusia yang mendiaminya.

Bejo terhenyak dari mimpinya. Gegas ia berlari dengan semangatnya. Orang-orang harus dibangunkan. Mereka mesti diberi tahu.

Di setiap jumpa dengan teman, orang tua, dan siapa saja, Bejo mengkhabarkan idenya. Kepada mereka, pemuda yang dianggap lugu itu mengajak memindahkan gunung yang tegar menggunduk di seberang.

Bejo terus berlari dan menghampiri. Me-rekadaya dan berupaya. Akan tetapi, sial bagi Bejo. Usaha kerasnya tak semujur namanya. Setiap orang yang dijumpainya enggan beranjak dari kolong malasnya. Mereka mengabaikan ajakan Bejo. Bahkan tak segan-segan mencemooh dan menertawakan. Ajakan Bejo dianggap igauan mimpi di tengah siang bolong.

“Sudahlah Jo, mimpi itu kan bunga tidur, … jadi tidak usah dipikirin.”

“O, alah .. Jo, .. Bejo. Ada-ada saja. Bagaimana mungkin kita dapat memindahkan gunung sebesar itu.”

Bejo sadar, orang-orang tengah mentertawakan niatnya. Tapi ia tak patah arang. Terus saja ia berlari. Dihampiri lagi orang-orang dan diajaknya mereka menyandang beliung, kapak dan apa saja untuk memindahkan gunung.

Namun, orang-orang telah tetutup oleh kabut hati. Bodoh dan malas. Ya, … kebodohan dan kemalasan telah menutupi semangat hidup mereka. Masa depan telah kisut dan kusut oleh kilaf. Akar batin telah dipenuhi jibaku nafsu dan ambisi, demi menurutkan hasrat pribadi yang kolot dan ortodoks.

Malah, semakin berapi-api Bejo mengajak mereka, semakin ramai orang-orang itu menertawakannya.

“Sudahlah, Jo … daripada kamu terus-terusan mengigau seperti itu, lebih baik kamu bekerja saja di rumahku. Tidak sia-sia tenagamu, dapat upah lagi. Ha … ha .. ha ..”

Semua orang mencemoohnya. Sakitnya hanya sebait luka yang menguji. Senyum mentari sebagaimana dalam mimpinya teringat lagi dalam lelahnya. Darahnya kembali berdesir. Gejolaknya bangkit lagi. Gunung di seberang itu harus dipindahkan, agar kelangsungan hidup kampungnya lepas dari kehancuran.

Tanpa mempedulikan sorak-sorai tawa mencemooh yang dialamatkan kepadanya, Bejo beranjak menggali kerikil demi kerikil, batu demi batu, agar gunung itu dapat dipindahkan.

Orang-orang terus ramai menertawakan usahanya. Sementara nasib mereka segelap belantara di sekitarnya. Mereka tergelak dalam kemalasan, menunggu kemusnahan menghampiri.

Kerikil demi kerikil. Batu demi batu. Waktu demi waktu berlangsung. Gunung di seberang itu masih kokoh menjulang. Sementara Bejo tertelan usia. Rambutnya penuh uban. Kulit dan otot-otot tubuhnya keriput dan melemah. Tapi matanya tetap berkilat.

Bertahun-tahun Bejo tak henti menapakkan beliungnya menggali bebatuan gunung. Sementara orang-orang masih saja riuh menertawakan.

Bejo telah termakan usia. Uzur pun menguburkan jazadnya. Bejo mati dengan senyum kemenangan. Sejarah telah menuliskan namanya pada setiap gen yang ditaburnya dengan penuh tanggung jawab. Harapan dan masa depan, niscaya terkuak tanda-tandanya. Ya, anak-anak cucu Bejo, setia melanjutkan cita-citanya. Mereka ceria melanjutkan juang pewarisnya. Merajut harkat, menerbitkan kembali matahari dari kegelapan.

Tahun demi tahun. Waktu demi waktu. Kerikil demi kerikil. Batu demi batu. Anak cucu Bejo bahu-membahu menapakkan beliung. Sementara terus saja orang-orang di sekitarnya mencemooh dan malas menunggu waktu binasa.

Perjuangan adalah pelaksanaan tekad. Sejarah adalah rajutan waktu yang menguji. Siapa menebar juang, niscaya cita terlampaui. Digerakkan oleh élan kesadaran dan keberanian, pada akhirnya gunung di seberang itu pun dapat dipindahkan. Anak cucu Bejo bersorak sorai. Matahari alhasil dapat tersembul. Menyinari segala yang gelap dan muram di tiap lorong sudut Kampung Sawut.

Kehidupan kembali semerbak dan tumbuh berkembang. Pelan pasti yang kusam, lembab dan kerut, menguat menjadi perjalanan evolusi yang optimis. Tangan-tangan mereka yang kuat dan terampil membuktikan hakekat budaya. Oleh lintasan orde, mereka sukses bersekutu dengan harapan. Hari esok niscaya menjanjikan sejahtera dan gemilang.

Bagaimana dengan orang-orang yang berpinak turun temurun, yang kemarin dan waktu-waktu lalu mencemooh usaha keluarga Bejo? Mereka terperangah. Seakan tak percaya akan keberhasilan itu. Ya, ketidakmungkinan telah dijawab oleh Bejo dan anak cucunya dengan semangat hidup yang tak lapuk waktu. Tak dapat dipungkiri, dalam kehidupan memang selalu butuh pahlawan.

Akankah kita mampu mewarisi élan si Bejo? Akankah kita dapat senantiasa mensyukuri berkah matahari, sang guru sejati?




DWI KLIK SANTOSA

Lahir 9 Januari 1974, di Sukoharjo. Mantan wartawan. Pernah aktif di Bela Studio (Jakarta) dan mendirikan Sanggar Ketapel (Sukoharjo). Sekarang bekerja jadi Copywriter di Zentha Hitawasana Jakarta.

Karya bukunya yang telah terbit : 70 Tahun Rendra Hadir & Mengalir (editor; Burungmerak Press, 2005), Catatan Rendra Tahun 1960-an (editor; Burungmerak Press, 2005), Asal Mula Pelangi dan Hujan (Diksi, 2009), Abimanyu Anak Rembulan (Jagad Pustaka, 2010).

12 Comments to "Mimpi si Bejo"

  1. J C  24 January, 2011 at 11:40

    Memutus rantai lingkaran nasib memang susah luar biasa. Itulah yang biasa terjadi di manapun juga. Terlahir dari keluarga apa, dan kemudian jadi apa yang tidak jauh dari akar keluarganya. Tulisan ciamik!

  2. anoew  23 January, 2011 at 01:42

    Otot-ototnya bertonjolan. Bejo merasa menjadi manusia baru. Jatidiri yang dilahirkan kembali

    Kalau bangun dari mimpi, apalagi pagi hari, saya juga merasa ‘menjadi baru’..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.