Indonesia Bubar; Kini atau Nanti

Rusdianto


Bubarnya NKRI adalah salah satu dari empat skenario yang mungkin terjadi di tahun 2010. Sebuah kemungkinan masa kini –atau masa depan- Indonesia yang realistis, terlepas dari kita ingin atau tidak; Demikian antara lain isi dokumen resmi Skenario Indonesia 2010.

Beberapa hari lalu, tanpa sengaja aku menemukan kembali dokumen selebar kertas Koran, sebanyak 8 halaman timbal balik, di antara tumpukan buku zaman kuliah. Judulnya Skenario 2010 Indonesia Masa Depan. Dokumen ini memuat ikhtisar hasil Dialog Indonesia Masa Depan prakarsa Kelompok Kerja IMD (Indonesia Masa Depan) yang melibatkan kurang lebih 500 orang dari kalangan birokrat, militer, pengusaha, akademisi, aktivis LSM, pemuka adat, politisi, termasuk kelompok-kelompok marginal. Sebuah kerja bersungguh-sungguh, akuntabel, dan kolektif, dari segi waktu & lokasi; Berlansung mulai dari Januari 1999 – Agustus 2000; Bertempat di 14 kota, di antaranya Berastagi, Samarinda, Celebes, Mataram, Kupang, Jogja, sampai Jakarta.

Sepuluh tahun silam, para peserta dialog mencoba mematok tahun 2010 sebagai masa terwujudnya salah satu dari ke-empat skenario. Namun –syukurlah– yang terjadi tahun ini, tak satupun dari ke-empatnya –terkhusus skenario buruk– berhasil terwujud. Tapi di sisi lain, banyak gejala bermunculan yang dihasilkan oleh daya dorong perubahan (driving forces), –yaitu kondisi atau situasi yang arah perkembangannya belum pasti-. Gejala-gejala demikian menyisa wasangka; sebenarnya ke-empat skenario itu bukan gagal terwujud, melainkan belum terwujud.

Kita pantas was-was, mengingat keempat skenario dimaksud masih memiliki peluang terwujud yang sama. Meski batas waktu 2010 yang dipatok sepuluh tahun silam hampir usai, bukan berarti keempat skenario otomatis gagal mewujudkan dirinya. Waktu kerap menipu. Faktor waktu terlalu luwes dalam setiap upaya ummat manusia menyimpulkan masa depan. Selama gejala-gejala tumbuh berbiak, selama itu pula peluang terwujudnya setiap skenario terbuka lebar. Ibarat kuman berinkubasi, dia mengintai sampai waktunya tepat guna melumpuhkan imunitas kita. Saya khawatir, salah satu skenario terburuk bakal terjadi hanya karena kita abai mengidentifikasi gejalanya.

Perlu diingat kalau, gagasan merangkai skenario (scenario building) a la IMD 10 tahun silam sama sekali bukan peramalan, atau perencanaan. Peluang kebolehjadiannya tidak tergantung pada tenggat waktu sebagaimana biasa ditemui pada perencanaan proyek fisik. Skenario hakikatnya adalah cerita mengenai kemungkinan yang bisa menjadi kenyataan. Tugasnya semata membantu sekaligus mengingatkan. Secara kontradiktif, skenario dapat mencerahkan –pandangan kedepan-, tapi juga menggentarkan. Namun kegentaran belaka yang kini melandaku, dan lewat tulisan ini, aku berniat membagi kegentaran tersebut kepada sidang pembaca.

Dari empat skenario yang dihasilkan IMD; Di ujung Tanduk Mengayuh Biduk Retak Masuk ke Rahang BuayaLambat Tapi Selamat, setelah aku cermati, skenario paling riskan ‘Di Ujung Tanduk’ tampak paling potensial terwujud. Kehadiran gejala yang dibutuhkan skenario maut itu, sebagaimana tertera pada iktisar Skenario Indonesia 2010 di halaman 8, tumbuh berbiak lebih cepat dari gejala ketiga skenario lainnya. (karena terlalu banyak ikhtisar gejala dimaksud, maka penulis menyarankan masing-masing pembaca mencermati point-point gejala itu melalui arsip IMD yang mudah-mudahan masih bisa dtemui di perpustakaan-perpustakaan terdekat).

Aku sendiri paling kurang mengidentifikasi hadirnya dua faktor dominan dari seluruh faktor pemicu  terwujudnya skenario Di Ujung Tanduk yaitu; konflik antar agama & antar suku. Kedua konflik ini dapat ditelusuri akarnya pada hegemoni imaji sektarian, primordial di tengah masyarakat yang, sepertinya enggan bersekutu dengan Imaji Ke-Indonesiaan. Imaji terakhir notabene merupakan faktor utama tegak berdirinya negara-bangsa ini. Ketidakakuran imaji-imaji ini tak punya muara selain berujung pada skenario lenyapnya sebuah negara-bangsa bernama Indonesia dari sejarah dunia.

“ Skenario DI UJUNG TANDUK : Disintegrasi Indonesia mencapai titik puncak. Konflik daerah & pusat melebar jadi antar agama, suku, buruh-majikan hingga antar pribumi vs pendatang. Rakyat tidak lagi percaya pada pengadilan yang berpihak pada penguasa & pengusaha. Riau menyusul Aceh & Papua yang lebih dulu merdeka. Indonesia seperti kapal diterjang badai, dan pecah berantakan.


Bangsa Imajiner

Semangat disintegrasi muncul setiap kali ada elemen anak bangsa berusaha membebaskan dirinya dari jaringan memori kolektif ‘satu bangsa’.  Setiap kita –yang sarat perbedaan-, pemukim negeri ini, dari sabang sampai marauke memahami bahwa, kita hanya disatukan oleh satu imaji belaka. Imaji akan kesatuan bangsa; Indonesia. Perekat yang boleh kuat, pula rentang. Kuat karena imaji (bayangan) belaka itu terbukti sanggup merekatkan kita selama 65 tahun tetap kokoh berdiri sebagai satu negara-bangsa. Rapuh, karena imaji –sebagaimana kita pahami– tak lebih dari satu ingatan, bayangan yang tak kasat mata. Imaji berupa ingatan-ingatan simbolik yang kelestariannya tergantung pada kemampuan sang ingatan untuk terus-menerus mengingatkan kita akan kehadiran dirinya.

Indonesia, adalah imaji anorganik. Diciptakan oleh para founding fathers republik ini beralaskan kesamaan nasib sebagai bangsa terjajah (kenangan kolektif), dan kesamaaan cita-cita sebagai bangsa merdeka. Indonesia tidak berurat-berakar sebagai satu bangsa yang bisa diidentifikasi sevulgar kesamaan fisik (ras) yang pernah ada atau, dilahirkan di jazirah nusantara. Secara ringkas – namun menyayat- harus diakui kebenaran tesis Benedict Anderson; untuk kasus Indonesia, negara lebih dulu hadir untuk kemudian negara menemukan bangsa.

Maka, pasca proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa-bangsa pemilik sejati nusantara (sunda, papua, bugis, aceh, dayak, dll) harus rela diturunkan derajatnya sekedar suku bangsa, demi menjaga orok republik bisa bertahan hidup di tengah rongrongan dari dalam dan luar. Karena telah dideklarasikan sebuah negara bernama Indonesia, maka seluruh anak negeri yang bermukim di bekas Hindia Belanda diharapkan bersigera mengikatkan diri ke dalam satu jaringan memori kolektif sebagai satu bangsa baru bernama Indonesia.

Maka wajar saja bila ada di antara saudara-saudara kita di negeri ini yang tetap konsisten dari waktu ke waktu, berteriak ‘Kami bukan Indonesia’. Mata rantai jaringan memori kolektif akan imaji ke-Indonesiaan belum –atau tidak– pernah tersambung di kepala mereka. Semakin kuat penetrasi imaji oleh pemerintah lewat serangkaian hegemoni atas ingatan – khususnya di era orde baru-, semakin kuat pula penolakan mereka. Kita sadar, sebuah imaji hanya bisa ditanamkan atas seizing yang bersangkutan. Iulah mengapa tak seorang pun punya hak menyalahkan pembangkangan mereka, sebab kita tahu imaji ke-Indonesiaan muncul belakangan, jauh setelah mereka mengikatkan diri pada satu imaji komunal bernama –misalnya– bangsa Papua.

Usaha saudara-saudara kita itu melestarikan imaji kolektif di antara mereka melalui pendeklarasian, Republik Maluku Selatan (RMS), Organisasi Papua Merdeka (OPM), atau Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dapat dipahami sebagai cara yang tidak jauh berbeda dengan yang pernah ditempuh para founding fathers RI di masa silam.

Imaji kebangsaan yang berbeda merupakan lahan subur tumbuhnya benih-benih disintegrasi. Siapa menyangka, rakyat Indonesia yang mendiami propinsi Timor-Timur, pasca merdeka menjadi Negara Timor Leste dalam sekejap enteng saja me-reidentifikasi dirinya sebagai Bangsa Timor. Imaji ke-Indonesiaan yang disangkakan bersemayam kuat di dada mereka sontak lenyap tak bertilas berganti imaji keTimor Leste-an.

Sejarah teramat pandai menyulap ketidakmungkinan menjadi kenyataan. Papua merdeka, Maluku merdeka, Sulawesi merdeka, Aceh merdeka, Jogja merdeka, Banten merdeka, pun bisa terjadi kapan saja, mengulang kasus lepasnya Timor-Timur. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Sejarah mencatat kerajaan Sriwijaya, juga Majapahit, yang digdaya seantero asia akhirnya punah. Uni Sovyet runtuh, negara-negara Balkan berantakan. Jangankan negara, bumi ini sendiri bahkan telah menyaksikan punahnya Dinosaurus setelah menguasai planet ini berjuta tahun.

Harus diakui imaji keindonesiaan belum mengendap sempurna walau kita telah masuk tahun ke-65 kemerdekaan. Imaji keIndonesiaan sebagai proyek masa depan masih tertati-taih di tengah upayanya bertempur melawan ingatan-ingatan yang diwariskan masa lalu. Masing-masing kita sejak balita telah disesaki warisan memori dari orang tua untuk mengidentifikasi diri terlebih dulu sebagai jawa, bugis, sunda, papua, dayak sebelum menegaskan identitas sebagai Indonesia. Selama tradisi pewarisan itu diawetkan di setiap generasi, maka potensi disintegrasi takkan kunjung padam.

Selain gejala yang secara formal menegaskan penolakannya akan imaji ke-Indonesiaan seperti ditunjukkan OPM, GAM & RMS, proyek pengendapan imaji ke-indonesiaan ternyata juga mengalami penolakan tanpa sadar dalam varian yang lebih soft. Kita lihat bagaimana orang-orang yang berafiliasi primordial kedalam -misalnya- Forum Betawi Rembug (FBR) begitu berkuasa di Jakarta. Mereka yang berafiliasi ke dalam FBR kerap menegaskan hak keistimewaannya sebagai penduduk tempatan di hadapan penduduk pendatang ibukota.

Di masa silam, perseteruan penduduk tempatan Dayak versus pendatang Madura di Kalimantan juga adalah pengingat, bahwa proyek internalisasi imaji ke-indonesiaan masih jauh panggang dari api. Apa yang terjadi hari ini, cenderung memperlihatkan di mana kita hanyalah komunitas-komunitas berbeda yang kebetulan saja hidup dalam satu naungan negara bernama Indonesia. Kita tetap getol mengawetkan memori purba, bahwa setiap dari kita betul-betul berbeda. Aku betawi, aku dayak, kamu Madura, kamu Bugis-Makassar. Kamu pendatang, kami pribumi.

Filsuf Thomas Hobbes yang mengatakan manusia ibarat serigala yang saling memangsa sesamanya, benar adanya. Tak ubahnya kawanan hewan –hyena– setiap dari kita senantiasa mengencingi batas-batas wilayah dan menyalak bila kelompok lain memasukinya. Kita menggelar liga Indonesia, tapi kesebelasan tamu merasa seperti bertandang ke negara asing akibat ulah supporter kesebelasan kandang menterorrnya bagai musuh, pihak lain.. Pastinya susah menjaga imaji keindonesiaan di saat bersamaan bersikukuh mengidentifikasi diri berbeda satu sama lain.

Selain bahaya laten berbasis primordial, imaji ke_indonesiaan kita juga tergerus oleh kampanye sektarian yang menjaga jarak imaji keIndonesiaan untuk memasuki wilayah imaji keagamaan. Bagi pihak ini, –baik yang bergerak klandestin, maupun yang bergerak terang-terangan-, imaji sektarian mutlak beroposisi dengan imaji kebangsaan. Satu menegasi yang lain. Ambil contoh misalnya, Hisbut Tahrir (HT) yang merupakan organisasi internasional.

Dalam setiap aksinya, HT tak pernah lupa meneriakan slogan selamatkan negara dengan syariah dan menyerukan cita-citanya untuk mendirikan khilafah. Bagi HT, negara-bangsa Indonesia pastilah belum final. Sebab satu-satunya cara menegakkan khilafah/daulah bila mereka mampu terlebih dahulu merubah bentuk negara Republik Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika, di luar keberagaman kita satu. Di sini terlihat kesatuanlah yang mengikat kita, bukan keragamannya. Kesatuan berupa imaji ke-Indonesiaan. Tanpa ke-satu Indonesia-an, tak guna keragaman itu. Keragaman tanpa pengikat adalah bencana ketimbang anugerah. Maka dari itu, tak ada jalan selain melebur semua keragaman. Ketimbang mengagung-agungkan Forum Betawi Rembug, mengapa tidak kita buat Forum Jakarta Rembug (afiliasi warga Jakarta sebagai asosiasi kewargaan pemukim yang bersama-sama mendiami ruang hidup bersama bernama Jakarta tanpa membedakan latar belakang etnis & ras). Ketimbang mengembar gemborkan slogan ‘ sesama muslim bersaudara’, jauh lebih maslahat menggaungkan slogan ‘ sesama Indonesia adalah bersaudara’.

Upaya menjaga keutuhan NKRI semata upaya melestarikan imaji ke-Indonesia-an. Afliasi primordial dan keagamaan belum relevan dikedepankan selama proyek pengendapan imaji keIndonesian belum tuntas. Untuk konteks Indonesia hari ini yang masih rentang, imaji Keindonesiaan dengan imaji primordial/sektarian sepertinya sukar didamaikan. Kita dipaksa memilih salah satunya untuk diselesaikan terlebih dahulu yaitu, imaji ke-Indonesiaan. Kelak, ketika imaji ke-indonesiaan telah terpatri utuh, barulah kita boleh menampakkan kembali varian imaji-imaji lainnya, hanya sebagai pengaya kemajemukan. Indonesia adalah proyek masa depan yang belum sudah. Kebelumsudahan yang menuntut ketegasan memilih. Tanpa ketegasan memilih, maka konsekuensinya kita akan terus dibayangi oleh kemungkinan dua skenario yang sama-sama potensial terwujud. Happy ending atau bad ending. Pilih mana ?

———————————————————————————————————————————————-

Rusdianto. Peminat blog social media. Aktif menulis flash fiction & cerpen di blog pribadinya www.antojournal.com serta artikel resensi buku fiksi & tips menulis fiksi di www.indonovel.com. Sekarang berdomisili di Makassar.


21 Comments to "Indonesia Bubar; Kini atau Nanti"

  1. nu2k  31 March, 2012 at 12:39

    Kangmas Anwari yang budiman, memang semua yang kangmas tuliskan benar adanya. Pertanyaannya adalah bagaimana kita semua bisa melaksanakannya tanpa embel-embel yang mbel gedes segala. . Masalah terbesar adalah tidak adanya ruang dan kesempatan serta dukungan untuk “bergerak dan bekerja” bagi para “idealis bangsa”. Kalau diumpamakan dengan lampu lalu lintas, jangankan diberikan tanda lampu hijau untuk bergerak maju,.. Begitu diketahui bahwa para idealis sudah akan mencapai dan bisa menyalakan tanda lampu kuning saja aliran listriknya secara tiba-tiba SUDAH DIMATIKAN dulu…. Ya repotlah….Bagaimana kita bisa berjalan menuju dan membangun negara yang dicita-citakan. Belum lagi faktor tidak adanya keselarasan dan kesinambungan tata kerja, rencana dan pelaksanaan dalam menjalankan pemerintahan diantara para pemegang tampuk kepemimpinannya… KECUALI dalam hal KORUPSI…Tentang hal ini, saya kira anda semua lebih tahu dan ahli… Waaahhhh, sudahlah..Hal-hal seperti ini yang membuat banyak orang menjadi apatis dalam menghadapi keadaan di dalam negerinya sendiri..Juga sedih dan miris memikirkannya, walaupun hanya hari jauh mengikutinya dan masih bodoh sekali dalam memahaminya. Maaf untuk itu . Gr. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.