Demo Wudo

Ki Ageng Similikithi


Musim kering tahun enam puluh enam. Malam Jum’at  yang cerah. Langit bertabur bintang. Kami bertiga, bersama Diono dan Raden Mas Martalin menghadap seorang tokoh spiritual  di kampung Kemlayan, Solo. Kami masih duduk di kelas satu SMA. Santo Josef. Solo dalam kondisi tak aman waktu itu. Bentrok antar warga selalu terjadi di jalan jalan, dengan korban tidak sedikit. Kami tak ikut kelompok mana, tetapi pernah beberapa kali terjebak di antara dua kelompok yang bertikai. Di pasar Widuran, di muka kebon binatang Sriwedari, dan terakhir di alun alun Utara. Hanya sepele, karena kami tak dapat menjawab yel yel mereka, hampir  saja dipukuli ramai ramai.

Banyak pemuda yang kemudian ambil jalan pintas. Mencari ilmu kebal. Gemblengan. Kami berempat, dengan Ho, minggu sebelumnya telah menghadap Eyang ini. Singkat kata mohon kekuatan luar dalam, menghadapi segala rintangan di jalan. Syaratnya gampang. Diberi mantera yang ditulis dalam secarik kertas, lalu puasa mutih selama tiga hari tiga malam. Artinya hanya makan nasi putih, sepiring kecil sehari sekali, tanpa lauk, tanpa garam.  Juga hanya boleh minum air putih. Hari pertama mutih, Ho langsung keok. Pas pelajaran olah raga dia berhenti. Kami antar pulang ke rumah. Mami dan kakak kakaknya marah marah. Jangan ikut ikutan Ki pakai gemblengan. Padahal yang punya ide awal ya si Ho sama Martalin.

Malam itu kami mendengarkan petuah dari Eyang. Samar samar masih ingat petuahnya. Anakmas ini para satria muda, harus berpegang pada tuntunan jiwa yang teguh. Jangan seperti pemuda jalanan suka kelahi beramai ramai.  Nggak begitu konsentrasi saya waktu itu. Hanya mendengarkan dengan sabar semua petuah saktinya. Umur Eyang mungkin pertengahan tujuh puluhan, masih jelas kata katanya. Hanya agak renta,  kalau ke belakang harus di tuntun salah seorang pembantu yang berfungsi sebagai punakawan.

Ada beberapa anak muda yang hadir bersama waktu itu. Kami bertiga mungkin yang paling muda. Saya mulai gelisah, takut pulang kemalaman. Janjinya sesudah selesai mutih tiga hari kami akan segera di beri wasiat kekebalan tubuh. Ini kok malah cerita tentang satria muda, satria piningit, wahyu ketiban ndaru segala. Satria dari mana? Saya saja masih kesulitan menyesuaikan tinggal di kota sejak pindah dari desa di Ambarawa. Saya hanya terdiam mendengar petuah petuah beliau. Manut saja, satria sokur, enggak ya nggak apa apa, sing penting slamet.

Lewat jam sembilan belum juga selesai. Malah petuahnya agak melebar.  Tengah malam nanti kami diajak tirakatan kungkum di Bengawan Solo. Tapa wuda. Jangan takut anakmas. Pasti sampeyan akan mendapat mukjizat. Minggu kemarin, saya tirakat wudo dan kungkum di bengawan ditemui seorang bidadari sangat cantik. Kami bergembira ria dalam taman yang indah sekali. Makanan begitu berlimpah ruah di sana. Saya lihat Martalin, begitu terpukau dan antusias. Wah sendika saya ikut Eyang nanti. Sementara Diono, kelihatan bimbang, menengok ke saya. Dengan lirih sekali, saya mohon maaf, saya harus pulang sebelum jam malam. Waktu itu jam malam mulai jam sepuluh. Jangan ragu anakmas, tak ada yang bisa melihat sampeyan.

Saya mulai bergeming, syaratnya minggu lalu hanya mutih 3 hari, kok sekarang ditambah tirakatan kungkum wudo di bengawan. Saya sangat ragu ceritanya tentang pertemuan dengan bidadari. Bidadari mana pilih lelaki yang nuwun sewu sudah renta, buang air kecil pun harus dibantu sang punakawan ? Jamane jaman edan, bidadari pun pasti akan pilih yang masih jos membara, sokur kalau punya kekuasaan, paling tidak Sekda, Bupati atau anggota DPR. Bidadari tak akan tertarik sama lurah atau carik. Mereka belum tingkatnya mendapat wahyu kahyangan.  Bidadari kan dulunya juga dari manusia biasa.

Melihat keraguan saya, Eyang akhirnya mengijinkan saya undur diri duluan.  Saya dan Diono diberi minum air putih yang telah diberi mantera. Tidak lupa diberi jimat yang harus selalu saya pakai. Martalin tinggal dan akan mengikuti tapa wudo di bengawan. Katanya singkat, sampeyan berdua belum dapat wahyu.

Lebih empat puluh tahun berlalu. Saya bertemu dengan teman teman kelas satu SMA, lebih setahun lalu. Raden Mas Martalin, masih aktif di dunia spiritual. Menjadi guru spiritual yang andal. Dia menawarkan kalau saya mau ikut tapa wudo kungkum di bengawan, dalam rangka hari lahir Gadjah Mada. Saya menolak sopan. Wah sampeyan sampai sekarang masih jauh wahyunya Ki. Saya ini di dunia spiritual sudah jadi guru besar. Kata katanya ditujukan pada teman yang juga sama sama sekelas di SMA dulu, yang sekarang jadi guru besar di universitas di Solo.

Dalam sejarah tapa wudo hanya dilakukan dalam kesedihan dan keputusasaan. Seperti kisah Ratu Kalinyamat yang saya ceritakan. Beliau bertapa telanjang meratapi kematian sang suami Pangeran Hadiri (nama mudanya Toyib, atau Win Tang) yang berasal dari Aceh dan berkelana ke daratan Cina, sebelum datang ke Demak. Pangeran Hadiri wafat dikeroyok anak buah Aryo Penangsang, bupati Jipang. Ratu Kalinyamat lantas tapa wudo di bukit Donorojo, di depan pulau Mondoliko, Jepara. Kisah ini terjadi kira kira di tahun 1549. Saya pernah menginap di desa Donorojo, ke pertapaan Ratu Kalinyamat, dan ke pulau Mondoliko saat kelas 5 sekolah rakyat dulu.  Tak ada dalam legenda ulang tahun kok harus tapa wudo di bengawan. Ulang tahun itu peristiwa orang bersenang senang. Mau dapat apa kungkum telanjang di bengawan?

Dalam kehidupan modern kita sering melihat masalah pertelanjangan sebagai masalah  pornografi, tetapi juga kadang kala sebagai alat protes sosial, jika semua pilihan sudah mentok. Siapa tahu dengan telanjang para penguasa berwenang bisa tergugah hatinya lalu mengambil langkah langkah perbaikan. Beberapa kali kita lihat di TV orang berdemo telanjang. Ini juga yang membuat saya dan teman lama, bung Nunung, mantar kiper PSIM tahun tujuh puluhan, punya ide jika pension nanti mungkin bisa mengorganisir demo telanjang para pria pensiunan.  Kami bertemu dan main golf bersama bulan Desember kemarin.

(detik.com)

Sebagai ungkapan frustasi kok begitu gampang hukum dan aparat hukum, diperjual belikan. Tak ada kebanggaan profesi, tak ada kebanggaan sebagai  narendro  manggalaning projo, tak ada kebanggaan sebagai priyayi, bisa dibeli murah dengan uang.  Jika perlu akan kami ajak para bidadari  yang bahenol, biar meliuk liuk tanpa busana, di gedung DPR sana. Pasti para wakil rakyat itu, para aparat, dan para pemegang wewenang hukum itu, tergerak hatinya (mungkin juga burungnya) melihat demo wudo para bidadari kayangan.

Seperti yang pernah Eyang Kemlayan petuahkan, walau para pensiunan itu nampaknya hanya gondhal gandhul tanpa daya, tetapi jangan lupa mereka bisa mengajak para bidadari telanjang di Monas ataupun di Senayan. Jika perlu dikasih jamu susu madu telor jahe dulu (STMJ) atau pil Viagra, biar bisa berjalan tegak segagah tugu Monas. Saya yakin itu.

(photobucket)

Ndul gondal gandhul, tunggu saja tanggal mainnya. Beberapa bidadari dan selebriti sudah menyatakan minatnya.

Salam damai

Ki Ageng Similikithi


Catatan Redaksi: wudo = telanjang dalam bahasa Jawa



29 Comments to "Demo Wudo"

  1. Ki Ageng  25 January, 2011 at 12:47

    Terima kasih semuanya. mohon maaf internet connection saya maju mundur di rumah. Dari pada pulang pertemuan akbar mbalangi dan njarah toko, nglempari polisi, mbakari mobil, kan ya enak demo secara damai ginian. Walau hanya gondhal gandhul, pahalanya banyak. Para selebriti pada ikut (terutama Jupe sama Dewi Persik) bersama para bakul kates pasar Mberingharjo. Pating grandul papaya sama pisang kepok.

    Ceritanya Bu Nunuk hampir sama dengan cerita mereka mereka yang kesambet/linglung di Rawa Pening, seolah olah diajak orang meghadiri pesta meriah di sana. Satu teman saya (wanita) pernah linglung jalan jalan di tepi rawa sehari suntuk. Seorang teman di SMP, tewas tenggelam di pertengahan tahun enam puluhan. RM Jegot, putra alm Ki Ageng Suryomentaram ( oomnya HB IX) juga meninggal tenggelam di Rawa Pening. mungkin dengan fenomena yang serupa. manusia selalu terdikte fantasi aneh didekat air atau laut

  2. Dewi Aichi  25 January, 2011 at 09:29

    Mas JC…malah kebalik, yg diwut diwut kayaknya justru Ind, , cewe Brasil kan rajin depilasi alias cabut bulu sampai ke akar akarnya.

    Pak Edy há há ha…komen no 13 ….kuwi kanggo miss Kona waelah…..(kok yo sempet ngematke)!

  3. J C  25 January, 2011 at 08:17

    Mana, mana, nyaut? ora nyaut gitu lho, tapi pidato…

  4. Anastasia Yuliantari  25 January, 2011 at 08:10

    @Mu ammar: lha, koq komennya dipasangi gambar bunga bakung? Apa hubungannya dengan yang wudo lolos sensor itu??? hehehehe.

  5. Anastasia Yuliantari  25 January, 2011 at 08:07

    @JC: tumben langsung nyaut….biasane alim….hahahahhaa.

  6. Onder de Boom USA.  24 January, 2011 at 23:40

    Mas Edy,komen 13 buat DA begitu saya perhatikan betul juga (lolos sensor niihhhh yeeeaaahh)vision yang tajam dari yg suka ngedun digurun ……jadi cukup terlatih,mana bukit pasir gurun dan yang mana unta bukankah punduknya unta yang duduk sama dengan bentuk bukit pasir dari kejauhan? Salam buat Mas Edy dari Florida

  7. mu ammar  24 January, 2011 at 21:52

    hi..hi..hi..ngguyu fotone jan lumayan.

  8. Edy  24 January, 2011 at 17:26

    Ki Ageng: Kapan ki demonya? aku yo siap melu demi keprihatinan nasib NKRI yang makin awut2an.
    DA: photo terakhir ada yg kelimat di blur tuh..cepet penthelengi, ,mumpung belum ketahuan admin wkwkwkwkwk

  9. J C  24 January, 2011 at 16:41

    Beda wudo-wudo di sana dan di sini, kata pak Ki Ageng di sini ndul-gondhal-gandhul, kalo di sana, wut-diwut-diwut tur plenthang-plenthung (bertonjolan di mana-mana)

  10. Dewi Aichi  24 January, 2011 at 16:38

    Ha…ha….namanya saja carnaval, nek ra wudo malah antik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.