Kentang (1)

Josh Chen – Global Citizen


Asal Usul Kentang

Kentang, atau potato, batatas, aardapel, pomes, 马 铃 薯 atau 土 豆 (baca: ma ling shu atau du tou), itu semua adalah beberapa contoh dari kata kentang dalam berbagai bahasa. Aardapel sendiri artinya cukup lucu: “apel tanah”, sementara dalam Mandarin disebut dengan tu dou yang artinya “kacang dari dalam tanah”.

Ejaan kentang dalam bahasa Mandarin


Temuan kentang purbakala tertua berasal dari abad 5 SM. Di tengah reruntuhan kuno di Peru dan Chile, arkeolog menemukan sisa-sisa kentang. Suku Inca menanam dan memakan kentang, bahkan menyembahnya. Begitu pentingnya kentang untuk suku Inca, mereka mengawetkan kentang dengan cara dikeringkan. Kentang yang dikeringkan dibawa dalam perjalanan jauh sebagai bekal untuk makan di jalan (kering atau direndam dalam rebusan).

Kentang dari masa ini kulitnya gelap keunguan dan berdaging kuning. Suku Inca menyebut kentang “Papas,” sampai hari ini masih dengan sebutan yang sama. Berikut ini adalah doa Inca yang sejarawan mengatakan mereka digunakan untuk menyembah mereka.

Ada juga yang mengatakan kentang berasal dari dataran tinggi Pegunungan Andes di Amerika Selatan, terutama Irish white potato yang jadi makanan sehari-hari di Amerika dan negerinya Mr. Bean. Di tanah asalnya para Indian di sana mengembangkan lebih dari 200 jenis kentang yang ditanam di ketinggian. Kentang sangat berperan dalam kehidupan Indian Aymara dan Inca, bahkan ada masa di mana kentang digunakan untuk meramal cuaca.

Emerging Potato Plant


Spanish Conquistador lah yang pertama kali membawa kentang dari tanah Indian di Pegunungan Andes menjadi bekal tetap dalam makanan mereka sehari-hari di atas kapal. Pada jaman penjelajahan samudera, penyakit karena kekurangan vitamin C menjadi momok menakutkan para pelaut. Banyak pelaut di masa-masa itu yang mati hanya karena kekurangan vitamin C yang akut, hal yang bisa dikatakan mustahil untuk masa sekarang ini. Mereka segera menyadari bahwa dengan memakan kentang, para pelaut tsb terhindar dari penyakit kulit (kudis) yang akut dan juga banyak sekali nyawa terselamatkan.

Tidak seorangpun yang tahu kapan persisnya kentang ditanam di Eropa, diperkirakan di tahun 1500-1600. Awalnya penerimaan kentang dalam diet orang Eropa sehari-hari masih belum meluas. Di akhir tahun 1500-an, kentang justru digunakan sebagai alat tukar menukar di Spanyol. Pertama kali diperkenalkan di Jerman pada tahun 1620’an, Frederick The Great penguasa Jerman waktu itu mengharuskan rakyatnya untuk makan kentang dalam rangka mengatasi bencana kelaparan waktu itu.

Dalam kisaran waktu yang sama, kandungan gizi kentang mulai diteliti oleh banyak ilmuwan masa itu. Karena ketakutan rakyat Jerman untuk memakan makanan baru tersebut yang dipercaya mengandung black magic, penguasa waktu itu akan menghukum rakyat yang menolak untuk mengonsumsi kentang dengan memotong hidung dan telinga mereka. Dengan adanya peraturan yang mengerikan tsb, kentang segera menjadi makanan pokok pada jaman Seven Years War (1756 – 1763).

Sementara itu di Perancis juga tidak berbeda jauh. Seorang agriculturist dan chemist, Antoine Augustin Parmentier, ikut mempopulerkan kentang di Perancis. Dia yang pernah dipenjara di Jerman yang waktu itu disebut Prussia, sepulangnya ke Perancis, dengan kedekatannya dengan Louis XVI dan Marie Antoinette, kentang menjadi cepat populer untuk makanan sehari-hari rakyat Perancis.

Perkembangan berikutnya secara meluas kentang menjadi makanan pokok rakyat Eropa adalah sejalan dengan perkembangan industri yang paralel dengan perkembangan pertanian. Ledakan revolusi industri juga membawa kentang menjadi salah satu revolusi pertanian yang sejalan dengannya.

Imigran dari Eropa-lah yang membawa kentang masuk ke Amerika Utara di kisaran tahun 1600-an, tapi terhenti sekitar seabad tidak berkembang sampai tahun 1719 imigran dari Irlandia yang membawa kentang ke Londonderry, New Hamspshire, di mana untuk pertama kalinya kentang ditanam dalam skala besar. Meskipun demikian, kentang lebih dikenal sebagai makanan ternak daripada makanan manusia.


Bencana di Irlandia

Ketergantungan masyarakat Irlandia terhadap kentang sangat ironis, karena kemudian hari menyebabkan bencana kelaparan yang paling hebat dalam sejarah Irlandia. Bencana kelaparan ini “menghapus” rakyat Irlandia hampir seperempatnya dan sampai saat ini tidak pernah kembali ke jumlah tersebut.

Di tahun 1800’an, orang-orang Irlandia secara rata-rata mengkonsumsi 10 kentang sehari. Kentang berkontribusi sebanyak 80% dari jumlah asupan kalori mereka setiap harinya. Petani menggunakan kentang juga untuk makanan ternak mereka, dari ternak itulah mereka juga mendapat asupan protein ideal, daging, susu, dan telur. Ketergantungan terhadap single food crop sangat berbahaya, tapi waktu itu, hanya kentang yang terbukti bisa mencukupi semua kebutuhan masyarakat kebanyakan.

Di tahun 1840’an, bencana menghantam. Berturut-turut 3 tahun yang tidak terlupakan sejarah, serangan penyakit jamur, dan curah hujan luar biasa, membusukkan seluruh tanaman kentang. Manusia dan ternak kelaparan hebat, binatang ternak satu per satu bertumbangan. Dengan matinya ternak, supply protein dari daging, susu, telur untuk manusia terhenti. Lebih dari sejuta manusia mati kelaparan, 2 juta lainnya imigrasi ke negeri lain. Jumlah penduduk 8 juta berkurang drastis.


Kentang di Indonesia

Juga tidak jelas kapan kentang pertama kali masuk ke Indonesia. Diperkirakan sudah sejak jaman masuknya Spanyol dan Portugis, penjelajah Eropa awal yang masuk ke Indonesia. Sejak saat itu, diduga kentang mulai beredar di Bumi Nusantara. Menjadi makin populer dengan masuknya Belanda dan membawa segala jenis budaya makan Eropa, termasuk kentang.

Kentang di Indonesia cocok ditanam di daerah dengan ketinggian di atas 1000 m dpal (di atas permukaan air laut), walaupun sekarang berkembang juga kentang dataran menengah, dan beberapa percobaan di Jawa Tengah untuk penanaman kentang pantai. Sentra kentang terdapat di Sumatera Utara, Jawa Barat di Pengalengan dan sekitarnya, Jawa Tengah di daerah Dieng, Purwokerto dan sekitarnya, kemudian Jawa Timur banyak juga di daerah Bromo, kemudian Sulawesi Selatan.

Jenis kentang di Indonesia yang paling populer adalah Granola hasil breeding Jerman, yang menyebar di seluruh bumi, terutama di daerah tropis karena ketahanannya terhadap serangan penyakit kentang khusus daerah tropis yang panas dan lembab. Kentang di Indonesia dianggap sebagai sayuran bukan sebagai salah satu makanan pokok.

Diperkirakan konsumsi per kapita kentang untuk orang Indonesia termasuk yang paling rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Kentang inilah yang paling banyak di pasaran, yang paling dikenal oleh ibu-ibu, dan digunakan secara luas untuk hidangan di meja makan keluarga Indonesia.

Kebanyakan kentang di Indonesia digunakan untuk sup, untuk rendang dan perkedel, walaupun masih banyak sekali olahan kentang, tapi 3 itulah yang paling banyak di Indonesia. Sup ayam kurang mak nyus rasanya tanpa kentang. Rendang di resto Padang kurang lengkap tanpa kehadiran kentang kecil-kecil yang dimasak bersama dengan bumbu rendang, sementara soto ayam di pinggir jalan kurang afdol tanpa perkedel kentang.

Sementara resto cepat saji paling populer di Indonesia mulai KFC, McD, CFC, Texas, A&W, Burger King, cafe-cafe, resto, dsb, semuanya masih import kentang luar negeri. Ya, benar sekali, 100% masih import frozen french fries. Indonesia belum bisa produksi dan menanam jenis kentang tersebut, karena iklim dan investasi mesin produksi french fries yang harganya cukup “nggegirisi”. Termasuk keripik kentang produksi pabrik, Chitato dan Lays, hampir semua bahan bakunya masih import. Sementara keripik kentang rumah tangga, banyak juga yang menggunakan kentang lokal Granola semua.

French Fries, Potato Dish, Chips and Potato String


Jenis-jenis Kentang

Secara umum kentang dapat dibagi menjadi:


  • Kulit

Warna kulit kentang berwarna kuning, kuning keputihan, coklat muda, merah terang, merah agak gelap, merah keunguan. Seperti nampak dalam foto.

  • Bentuk

Bentuk lonjong, atau lebih sering disebut oblong, kemudian oval, bulat. Nampak juga dalam foto.

  • Warna daging

Warna daging kentang hanya 2, yaitu putih dan kuning, istilah kerennya white flesh dan yellow flesh potato. Silakan dilihat jika sedang makan di KFC atau McD, patahkan french fries anda, lihatlah warna dagingnya yang putih. Sementara bagi yang di rumah ada hidangan atau kentang segar, silakan dilihat atau dibelah, daging kentang yang berwarna kuning cerah sampai kepucatan akan anda jumpai. Amerika dan Inggris lebih suka white flesh potato, sementara sebagian Eropa dan sebagian Asia lebih suka yellow flesh potato. Kulit masing-masing contoh di bawah ini bisa bervariasi. Berkulit kuning dan berdaging putih, ataupun berkulit merah dan berdaging kuning.

  • Kegunaan

Floury potato: karena kandungan starch yang tinggi, kegunaan untuk mashed potato dan baking, akan menghasilkan hasil yang sempurna, termasuk untuk home-made french fries, dan juga kentang panggang. Sangat bagus untuk gnocchi dan kue atau cake atau donat kentang.

Waxy potato: karena kandungan moisture yang tinggi, kandungan starch yang rendah, untuk rebus, dan steam akan sangat cocok. Untuk stew, grate dan slice akan sangat bagus.

Salad potato: waxy dan memiliki aroma dan rasa yang distinctive, cocok untuk salad dan biasanya tidak dikupas.

Starchy potato: kegunaan untuk industri yang akan dijadikan bio-degradable materials, untuk plastik, busa untuk jok mobil, busa untuk pelapis pintu mobil, dasboard mobil, dsb.


Kentang masuk dalam keluarga besar Solanaceae, dengan nama Solanum tuberosum. Hampir semua tanaman dalam keluarga besar Solanaceae memiliki kemiripan daun dan bunga. Kerabat dekat kentang adalah tomat, cabe, terong, belladonna, petunia dan tembakau, semuanya di bawah “kerajaan” Solanaceae.

Semua tanaman itu memiliki ciri dan karakter yang sangat spesifik, termasuk di dalamnya adalah penyakitnya. Sangat jarang ditemui lahan penanaman kentang dengan penanaman salah satu dari tanaman di atas yang masih sekerabat di dekat atau sekitarnya.

China dan India merupakan negara utama penghasil kentang di Asia, disusul oleh Bangladesh, Korea Utara, Nepal, Pakistan, Vietnam dan Korea Selatan. Untuk Asia kondisi terakhir, sepertinya Korea Selatan dan China merupakan negara dengan yield tertinggi mencapai sekitar 30 – 35 ton/hektar. Masih jauh dibandingkan dengan Holland yang mencapai sekitar 70 – 80 ton/hektar, Amerika 80 – 90 ton/hektar dan Australia kemungkinan tertinggi mencapai di atas 100 ton/hektar. Besar kemungkinan angka-angka di atas sekarang sudah lebih tinggi lagi.

Areal penanaman di Indonesia berkembang pesat di tahun 1981 mencapai sekitar 26.000 hektar, dan di tahun 2000 mencapai sekitar 65.000 hektar. Rata-rata yield di Indonesia adalah berkisar di 12 – 20 ton. Memang ada beberapa daerah, dengan beberapa petani, dan beberapa varietas yang bisa menghasilkan di kisaran angka 30 – 50 ton/hektar. Di luar penelitian dan perhatian dari pemerintah, sebenarnya sudah banyak di luar sana yang melakukan penelitian dengan dibiayai oleh lembaga asing, baik organisasi nirlaba ataupun profit oriented organisation.

bersambung…

Note: tulisan ini akan dibagi menjadi 2 bagian supaya tidak terlalu panjang dan membosankan.



About J C

I’m just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

39 Comments to "Kentang (1)"

  1. nevergiveupyo  28 January, 2011 at 12:51

    khas JC… bahan risetnya ngalah-ngalahin referensi skripsiku…
    keren Oom..saya mau membudayakan makan kentang ah…

  2. Dewi Aichi  25 January, 2011 at 17:40

    Tadinya cuma tau kentang thok,jebul begitu luas ya tentang kentang, ada jenisnya macem macem.
    Aku kalau minggu beli kentang dipasar kaget deket rumah, yang kulit merah cocok untuk digoreng sak kulite, ada kentang yang kecil kecil, dikukus untuk pengganti nasi.

    Minggu lalu bertruk truk kentang terbuang per cuma di Brasil, karena hujan menghalangi pemasaran kentang, maka kentang itu busuk, sayang banget .

  3. J C  25 January, 2011 at 16:38

    Lah bakul kentang si Kine Risty dan Gemblung van Kona di mana ya, malah meneng wae…

  4. J C  25 January, 2011 at 15:40

    Kine Risty: memang banyak jenis kentang berkulit merah yang rasanya lebih enak daripada yang berkulit kuning. Banyak sekali jenis kentang, sungguh sayang di Indonesia jenis kentangnya sangat terbatas.

  5. J C  25 January, 2011 at 15:39

    Alvina: potato wine belum pernah coba…kayak apa rasanya? Betuuuullll buanget, orang yang kena diabetes lebih baik makan kentang, jauh lebih aman. Kadar karbo nasi jauh lebih tinggi dan jenis karbo nasi dan karbo kentang berbeda. Karbo kentang adalah COMPLEX carbohydrates, sementara nasi SIMPLE carbohydrates.

    Complex carbohydrates:
    Complex carbohydrates are chains of three or more single sugar molecules linked together. Long chains of sugar molecules called starches serve as a storage form of energy in plants and when you eat those plants, your body breaks down the carbohydrates for your own energy needs. Another form of complex carbohydrate called cellulose forms the structural components that give plants their shape, and is a main component of dietary fiber.

    Complex carbohydrates should supply about half the calories in your diet; however, the best complex carbohydrates come from legumes, vegetables and 100% whole grain bread, cereal and pasta products because they contain fiber and a variety of nutrients that refined flour has lost.

    Foods with the most complex carbohydrates include legumes, starchy vegetables like potatoes and corn, rice and grain products Other vegetables such as green beans, broccoli and spinach contain less starch, but they have more fiber.

    Sementara simple carbohydrates:
    Simple carbohydrates are dietary components made up of one or two sugar molecules. The most basic simple sugar is glucose, which is the type of sugar our bodies and brains use for fuel every day. Glucose is called a monosaccharide, which means “single sugar.”

    Simple carbohydrates are easy to digest. When you eat simple sugars, your body breaks them apart and they are absorbed into your blood stream through the small intestine. Any sugar your body doesn’t use for fuel is converted to fat and stored in adipose tissue.

  6. J C  25 January, 2011 at 15:26

    akiiiiiiiiiii, moco komen mu iki aku dadi bingung : “kentang memang uenak…salah satu hidangan favorit juga. Aku sih seneng mashed potato yang dicampur dengan segala macem model lah…”

    mashed potato yg dicampur dgn segalam macem model-lah………..la model opo to????? opo setelah di mashed trs di adul2…….wah njur koyok opo rupane??????? kkkkkkkkk

    Lha ya khan, dari kemarin satu ini emang bingung karep’e dhewe. Dikasi tau lho ya, karepku lah, kentang yo kentangku, arep ta’idak-idak, ta’lungguhi, ta’adul-adul, terserah aku lah…

    Campuran mashed potato khan banyak macem tho, mau pake ham, sosis, wortel, minced meat, sandal, teklek, dsb… (pokok’e karepku lah, kentang, kentangku kok).

  7. KIne Risty  25 January, 2011 at 14:54

    Mbak Lani..wkakaka ngakak gulung-gulung iki

  8. Lani  25 January, 2011 at 14:03

    KINE RISTY : laaaaaah……..kowe kemekelen moco komentarku……..aku ngakak dan rak mudenk moco komentar si aki buto………pie jal????? coba woconen komentar dia respond buat IMEII ngakak meneh aku saiki………..kentaaaaaaaaaaang!

  9. KIne Risty  25 January, 2011 at 13:35

    AKu kemekelen moco komene mbak Lani ki wakkakakaa
    Kentang..kentanggg

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *