Untuk seorang Sohib

EA. Inakawa – Africa


Ter-untuk seorang Sohib

Selamat menjemput fajar sohib………….
Sebuah catatan harian mengingatkanku padamu pada hari ini.

Banyak hal yang tak bisa kulupakan darimu,  dimana kita ditakdirkan :

Dilahirkan di hari yang sama

Di bulan yang sama,

Di tahun yang sama,

Di bawah Zodiak yang sama dan di rumah sakit propinsi yang sama walau berbeda kelas.

Ketika itu masing masing ayah kita duduk bersama menunggu cemas atas kelahiran kita Sang Kafilah baru.

Hanya sebuah rumah yang membedakan kita tumbuh & dewasa, aku hanyalah anak desa, sementara kau anak gedongan dan orang tuamu kaya luar biasa. Sungguh baik nasibmu Sohib, masih kecil kau sudah bertahta menjadi pewaris kekayaan yang luar biasa.

Atas izin & kehendak Tuhan nasib menuntunku duduk sebangku denganmu studi bersama di sebuah Universitas terkemuka di propinsi kita dan itu membuat percaya diriku luar biasa, kaya dan miskin bukanlah perbedaan yang harus menjadi jarak jika kita merasa punya otak.


Sohib…..

Kau pasti ingat di perjalanan waktu dalam satu almamater kampus,  kita besar & belajar di sebuah zaman yang sudah maju tetapi selalu sarat dengan berbagai kemunafikan, kita besar di sebuah generasi dan komunitas dimana kejujuran itu sudah sangat langka, bahkan kita sering melihat betapa para ulama kita tergelincir dalam tipu daya keduniawian yang menjerumuskan mereka sampai ke balik terali besi.

Kita beranjak dewasa di suasana ketidak pastian hanyalah benang tipis antara keinginan & sebuah harapan jujur. Usia kita merilis jalan panjang yang dengan susah payah dan tanpa kita sadari di pundak kita telah menanti berjuta dolar hutang  piutang yang diciptakan para penguasa negeri kita ini, kita belum usai belajar tapi kita harus menanggung beban yang sesungguhnya bukanlah tanggung jawab kita.

Hari-hari yang kita lalui membuat kita dipaksa untuk memahami urusan yang bukan tanggung jawab moral kita. Tetapi mau tidak mau kita sebagai ahli waris memang tidak bisa melarikan diri dari kondisi kekacauan negeri ini.  Kau & Aku adalah anak muda yang terpaksa menjadi cepat tua oleh sebuah generasi yang menyebut diri mereka sebagai “Orde Baru Penyelamat Bangsa” betapa muaknya kita setiap hari berhadapan dengan berbagai berita yang senantiasa menghasut – menghujat, memutar balikkan fakta dan sejarah bangsa.

Betapa muaknya kita melihat oknum media masa yang mengobarkan adu domba hanya untuk kepentingan seseorang, segelintir atau sekelompok sebuah organisasi politik, betapa muaknya kita melihat kasus demi kasus yang tak terselesaikan karena kepentingan & permainan HUKUM negeri kita yang serba abu abu. Betapa muaknya kita melihat berbagai LSM yang berkedok keagamaan menjadi kuda tunggang para tokoh politik. Sementara di sudut lain sebuah generasi muda lainnya besar & bergumul tidak sebagai mestinya, mereka tumbuh dan terjebak narkoba, kehidupan sex bebas & Aids…..tanggung jawab siapa !

Mereka adalah korban situasi ekonomi, politik & moral para penguasa.

Betapa banyak para penguasa yang tidak menyadari kekeliruan mereka.

Betapa mereka tidak menyadari kegagalan mereka & bersiap mundur demi menyelamatkan regenerasi anak cucu mereka kelak agar tidak terkontaminasi atas perilaku budaya asut & dusta mereka.

Sesungguhnya para penguasa saat ini tidak lebih dari wujut nista sebuah generasi sial bagi kita, mereka sebuah waris dari laku para penghianat bangsa negeri ini yang selalu berkedok dalam tutur bahasa agama. berpakaian sorban haji, mengaku mengedepankan tentang kebenaran yang hanyalah bayang bayang kepalsuan yang lebih mengedepankan kebutuhan harta duniawi, ironisnya timbunan harta mereka tidak cukup hanya untuk satu generasi, mereka terlalu tamak ingin lebih & lebih.


Sohib ….. sampai kapan kita harus memahami kondisi & laku tak terpuji para penguasa negeri kita, haruskah kita mewarisi & meneruskan keinginan yang mereka sebut sebagai sebuah cita cita luhur untuk kemaslahatan bangsa, lalu kita menjadi seperti mereka, menjadi sosok penipu & pecundang yang berkedok sebagai manusia baik dengan topeng warna warni dalam dimensi waktu tanpa batas.

Di bumi Indonesia yang Indah ini,  kebaikan politik hanyalah dusta, sementara rangkaian permainan mereka tumbuh liar dan berkuasa luar biasa. Berapa banyak generasi seusia kita melalui kehidupan ini tanpa sebuah impian, melalui hidup tanpa memaknai apa yang mereka lakukan, tanpa sebuah konsep my dream.

Mereka cenderung menjadi pelomba yang serba mau instant, ingin memperoleh segala sesuatu tanpa sebuah usaha & kerja keras, ingin tenar tanpa berpikir tentang sebuah ujung sial, segala sesuatu ingin diraih dengan sesaat. Berapa banyak orang yang tidak pernah berhenti sesaat dan mensyukuri atas nikmat Tuhan, nikmat umur. Sepertinya moral baik mereka enggan berbagi sesama. Sialnya di tengah kesusahan orang lain mereka menikmati kebahagiaannya.


Sohib ….. beginilah sebuah kondisi di negeri kita, kita sedih & perihatin, sepertinya generasi kita rentan dengan berbagai kepedulian-kesetiaan-iman-rasa cinta terhadap sesama yang menjadikan kebaikan itu menjadi sangat langka. Sulit memang merenungkan sebuah bangsa di kemudian hari sementara generasi kita sudah tercemar oleh olah kata para Cendekiawan – Politikus – Ulama & Penguasa yang notabene hanya memikirkan harta di setiap melaksanakan amanah negeri ini, bagaimana kita akan melanjutkan & mempertahankan sisi baik di perjalanan waktu kita dalam waktu yang sama kita selalu dicecoki laku sesat mereka yang bergerak liar mempengaruhi alam bawah sadar kita.


Sohib….. kau pasti sependapat bahwa mencintai sesama adalah sebuah anugerah Tuhan yang tidak sepele untuk diabaikan. Seandainya kita selalu mencintai sesama betapa damainya bumi ini.

Kita menyaksikan kondisi saat ini semakin tidak menentu, pekikan anti korupsi mewarnai setiap sudut jalan, berbagai kebohongan publik terus juga melaju pesat, proposal itu dengan sengaja dipersiapkan untuk membunuh karakter rakyat & alih generasi yang keracunan kekuasaan dan dinasty, miskin moral & iman.


Sohib….seandainya cita citamu adalah sama dan tidak ber-ubah sebagaimana ungkapanmu kala kita dulu selalu bersama di perpustakaan kampus, pastilah kelak kau akan menjadi penentu atau paling tidak memberi makna atas kebenaran di negeri kita ini, mengingat sosokmu aku percaya kalau di kemudian hari kau akan sukses dalam kehidupanmu, kau selalu penuh percaya diri untuk sesuatu yang kau sebut

“Aku Pasti Bisa”  aku percaya di dadamu tersemat titipan ayahmu tentang sebuah cita cita dan harga diri yang luhur.


Sohib…..

Kemarin, di awal tahun Duaribu11 ini aku baru kembali cuti, melihat kampung halaman kita, tak kuhitung ternyata telah berbilang tahun kita tak bertemu jumpa & tak jua berkirim kabar.

Kudengar kabarmu sohib…..

Kubaca berita tentang popularitasmu…..

Kau hebat dan sukses sebagai seorang pengusaha sekaligus politikus, ketua partai terkemuka, achirnya sampai juga kau menjemput sukses semua impian dan cita citamu.

Tapi sohib….. cerita miring tentang sepak terjangmu sungguh membuat aku terpana, takjub & terkesima….. engkaukah itu sohib, karib masa lalu yang kukenal begitu baik, santun & berbudi, duhai Gusti waktu terlalu banyak membuat perubahan bagi kami hamba MU.

Dengan rasa hormatku, maafkan & izinkan aku mengingatkanmu, kembalilah ke cita citamu, ke-asal dimana sebagai seorang penguasa yang diberi amanah agar Jujur & berbudi sebelum semua menjadi terlambat, pada galifnya sesal selalu menyusul di kemudian.


Sejujurnya Sohib, pesan ini dari seorang karib, di sebuah waktu & jika ada umur aku ingin melepas tawa bahagia yang lepas bersamamu,  sesaat seperti dulu setiap kali kita melirik setiap pinggul & buah dada gadis kampus yang lewat di depan mata kita, tak ada yg terlewati kita komentari mahluk cantik dan menggairahkan ciptaan Tuhan itu.

Dan salah satu dari mereka Lani anak FK achirnya kau persunting menghiasi mahligai rumah tanggamu hingga saat ini, Lani wanita cerdas dengan sorot mata dalam cahaya keteduhan, sabar dan selalu ringan tangan membantu sesama teman, perempuan cantik yang aktive di senat kampus, begitulah sohib…………………………..

Doaku sohib…..semoga kau selalu berbahagia dan sukses setiap kali menjemput fajar,  tidur nyaman di pintu matahari terbenam, bermimpi indah kala naik keperaduanmu.

Dan semoga saja kau berkesempatan membaca surat ini.


Bumi Zambia : 21 januari 2011

Salam Setepak sirih sejuta pesan – EA.Inakawa.


9 Comments to "Untuk seorang Sohib"

  1. Alvina  25 January, 2011 at 21:30

    Thank you for sharing ya… Saya juga punya 1 kawan yg tgl lahirnya sama persis, tempat lahir dan thnnya juga sama persis; cuma jln hidupnya beda banget. Semoga sohibnya EA diberi jln yg lurus dariNya.
    P.S. Mbak Lani, ini nama yg sama ttp kan orgnya beda lah. Memang nama Lani itu te o pe dech…

  2. Djoko Paisan  24 January, 2011 at 23:49

    Mas Inikawa….
    Terimakasih ya…

    Dj. merasa geli ( maaf ) dengan tulisan ini….

    kaya dan miskin bukanlah perbedaan yang harus menjadi jarak jika kita merasa punya otak.

    Rupanya anda tau, ada yang tidak punya otak tho….
    Maaf…Dj. belum pernah lihat, yang tidak punya otak….

    Salam Damai dari Mainz….

  3. Handoko Widagdo  24 January, 2011 at 15:19

    Lho kata sohib itu masih dipakai toh? Saya kira sudah digudangkan.

  4. Lani  24 January, 2011 at 14:14

    EA : iiiiiih! istri sohib mu Lani?????? hikkkkkkkkkkks………untung bukan org yg sama…….tobattttttttt!

  5. Lani  24 January, 2011 at 14:13

    MBAK NUK : hebatttttttttt! nomer siji, ngimpi opo to mbak NUK?????? wakakakak

  6. Silvia  24 January, 2011 at 11:14

    Thanks ya buat tulisannya.

  7. J C  24 January, 2011 at 11:11

    Untaian kata EA. Inakawa selalu dalam bermakna…

  8. Sumonggo  24 January, 2011 at 10:32

    Pak Inakawa, kalau sohib-nya tidak mau eling, dijenggung saja, he he …

  9. nu2k  24 January, 2011 at 10:17

    Lapor, untuk Jeng Lani, yu Clara, Dinda . Nummer 1, doei Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)