Duta Christine Hakim

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


DAHULU ada ungkapan bila Presiden Soekarno berkunjung ke sebuah negara, maka tugas duta besar Indonesia di negeri tersebut selama dua tahun, bisa dikerjakan oleh Soekarno hanya 2 hari. Selama sang presiden berkunjung ke negara tersebut. Ungkapan itu ada benarnya, mengingat kapasitas, sosok dan kemampuan olah diri presiden pertama itu sangat prima dalam berkomunikasi secara diplomatik.

Indonesia punya banyak diplomat. Ada yang ulung jago berdebat dan pandai merayu, ada juga biasa-biasa saja, bahkan ada tidak cakap menggunakan kemampuan statusnya sebagai seorang diplomat. Nah, orang-orang seperti kebanyakan menjadi duta besar karena “dibuang” atau “ditendang ke luar” atau juga “hadiah”. Tentunya mereka bukan diplomat karir. Contohnya, Kepala Polisi RI Hoegeng yang ganas memberantas korupsi terlalu bersemangat, tiba-tiba diberhentikan dan “ditendang” dengan ditawari jadi dubes di Belgia, tapi ditolaknya.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto sering ada orang “didubeskan” atau menjadi duta besar dadakan, karena diselamatkan atau dibersihkan bebas dari perkara hukum, saat instansi yang dipimpinnya terjadi tindak korupsi. Sekarang justru sebaliknya, banyak kasus setelah jadi duta besar, ketika pulang ke tanah air dijerat hukum karena melakukan perbuatan mencuri atau manipulasi uang negara.

Jaman Presiden Soekarno banyak yang bukan diplomat dikirim jadi dubes. Misalnya wartawan Adam Malik (kemudian menjadi wakil presiden) ditunjuk Soekarno jadi dubes di Moskow atau pemimpin redaksi harian Merdeka BM Diah diangkat jadi dubes di Cekoslowaia (sekarang terbagi dua, Ceko dan Slowakia). Presiden Soeharto agaknya mengikuti cara pendahulunya itu.

Pada masa-masa akhir kekuasaannya, Soeharto mengangkat beberapa wartawan menjadi duta besar untuk negara-negara terkemuka. Pemimpin redaksi The Jakarta Post dan mantan wartawan majalah Tempo, Susanto Pudjomartono diangkat jadi dubes di Moskow. Rekannya, Sabam Siagian juga ditunjuk jadi dubes untuk Australia. Bahkan pembimbing akademi saya waktu saya kuliah di FISIP-UI, Djafar H. Asegaff yang juga wartawan dijadikan dubes di Hanoi oleh Soeharto tahun 1990. Sampai dosen saya pun yang ahli jurnalistik, Bachtiar Aly ditunjuk Presiden Abdurrahman Wahid jadi dubes di Kairo.

Padahal semasa Orde Baru sudah ada “aturan main” untuk menjadi dubes. Untuk negara-negara barat maju dan Jepang tergolong pos kelas satu, biasanya diisi oleh orang birokrat atau militer aktif, kadang juga buangan atau pesiunan ABRI serta pejabat. Tokoh-tokoh Islam atau partai politik (kebanyakan tokoh Partai Persatuan Pembangunan) umumnya dapat jatah jadi dubes di Timur Tengah. Sedangkan tokoh dari Partai Demokrasi Indonesia, kebanyakan dapat jatah jadi dubes di Eropa Timur atau Indocina. Selebihnya diisi oleh diplomat karir.

Dari semua cerita diplomatik, duta besar Indonesia di Australia sering menjadi sorotan. Mereka memikul tugas berat untuk menyejukkan hubungan yang selalu berselisih dan berbeda pandangan. Banyak kerikil bahkan batu besar yang menghalangi hubungan kedua negara. Mulai dari ketidaksukaan publik Australia dan kemarahan pemerintah di sana dengan kebijakan serta kekejaman Indonesia di Timor Timur (termasuk tewasnya 5 wartawan Australia di Balibo, Timtim). Ditambah lagi sebagian masyarakat benua kangguru itu bersikap ramah terhadap tokoh-tokoh anti-Indonesia dari Timor Timur. Lebih parahnya lagi, media massa Australia sangat liberal mengulas Indonesia dan tokoh masyarakat di sana sangat agresif terhadap Indonesia. Hal ini yang sulit dipahami penguasa Indonesia.

Selama 25 tahun hubungan Indonesia dan Australia tidak terlalu baik dan saling curiga, karena masalah Timor Timur. Bagaikan kerikil dalam sepatu, istilah dari mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Lalu mengapa tidak dibersihkan batunya? Misalnya Indonesia memilih orang yang tepat untuk dubes di Australia atau ososok yang tak pernah bermasalah dengan urusan Timor Timur. Saya pernah menulis surat pembaca di harian The Jakarta Post bulan Juli 1995 untuk mengusulkan aktris terkenal Christine Hakim agar menjadi duta besar di Australia.

Alasan saya sangat sederhana sebagai warga negara. Daripada sering berselisih, kirim saja sosok yang sejuk, damai dan bisa memvisualkan keinginan baik untuk bersahabat, karena hubungan mesra antara dua negara sangatlah penting. Bagi saya Christine Hakim adalah orang yang optimal untuk dapat melakukan itu. Jangan-jangan, pikir saya waktu itu, kalau Christine jadi dubes, Australia akan mengangkat Rebecca Gilling jadi dubes Australia di Jakarta. Gilling adalah aktris terkenal dalam serial TV tahun 1980an yang menyedot perhatian pemirsa di Indonesia, Return to Eden. Pasti hubungan dua negara jadi sejuk. Sampai sekarang meski Timor Timur bukan jadi masalah utama, tetapi masih saja ada krikil dan batu besar yang menghalangi hubungan Jakarta-Canberra itu.

Aktris jadi dubes? Ya bisa, asal tidak sembarangan aktris. Dulu saya senang nonton bintang film cilik terkenal dari AS Shirley Temple, yang saat dewasa diangkat jadi dubes AS di Ghana, Afrika tahun 1974 dan Cekoslowakia tahun 1989, serta mewakili negerinya dengan baik di panggung internasional lainnya.

Indonesia tahun 1950an dan 1960an dulu punya duta besar wanita handal, seperti Ibu Laili Roesad dan Ibu Soepeni. Dua perempuan tersebut menjadi diplomat wanita yang cemerlang. Sudah banyak diplomat karir wanita kita menjadi dubes untuk negara-negara Skandinavia. Bahkan sekarang ada berita aneh, yaitu Presiden Venezuela Hugo Chavez minta agar dubes AS untuk negaranya harus dijabat oleh aktor Senn Penn!

Ternyata memang usulan saya menjadikan Christine Hakim jadi seorang duta besar mustahil didengar apalagi diwujudkan. Namun kita banyak melihat sosok aktris yang banyak meraih piala Citra ini, tampil di pentas dunia seni budaya internasional mewakili Indonesia dengan anggun dan membanggakan. Setidaknya saya benar bahwa wanita kelahiran 25 Desember ini, memang seorang duta Indonesia untuk dunia, bukan sekedar duta untuk Australia, negeri yang tidak pernah mau mengerti Indonesia. Tetapi seorang duta untuk kecantikan seni budaya Indonesia. (*)


51 Comments to "Duta Christine Hakim"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  1 February, 2011 at 21:10

    Makasih Adhe dan Linda. Nanti saya sampaikan ke mBak Christine ya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.