Orang Indon

Ary Hana


“Jangan merasa terhina jika nanti mereka akan memanggilmu orang Indon,” nasihat Pak Teguh, mantan bosku yang pernah memberiku proyek penelitian di Jakarta, jelang keberangkatanku ke Malaysia dulu. Matanya tajam menatapku. Pandangannya serius.

Nasihat itu kupegang teguh, menjadi modalku merambah kehidupan buruh di Malaysia. Panggilan Indon langsung kudengar begitu menjejakkan kaki di asramaku, Taman Pelangi. Beberapa kawan yang sudah punya pengalaman lebih lama bekerja di Malaysia, nampak terbiasa dengan panggilan itu. Seolah begitulah identitas kami, para buruh, pekerja, di Malaysia. Kami warga kelas dua, yang hendak mendulang ringgit untuk dibawa ke tanah air.

Bahkan majikanku di pabrik, para supervisor, engineer, technician, terang-terangan menyebut kami Indon. Namun tak kurasakan nada merendahkan dari mulut mereka. Mereka menyebut orang Indonesia dengan Indon, orang Bangladesh dengan Bangla, orang keturunan India berkulit hitam dengan Tamil. Jadi kuanggap saja itu kebiasaan masyarakat Malaysia untuk menyingkat sebuah nama, semacam akronim.

Suatu hari aku menerima telepon nyasar dari seorang lelaki. “Ada Wiwik?” tanya suara di seberang sana.

“Maaf, salah sambung!” hp segera kumatikan. Tapi beberapa saat kemudian hpku berdering kembali, dari nomor yang sama.

“Ada apa lagi, kamu salah sambung !”

“Kamu Indon, ya?” balas suara di seberang.

“Ya.. memang kenapa?”

Tiba-tiba nada suara lelaki itu berubah menjadi akrab, karena dia merasa bertemu dengan sesama orang Indon. Sejak itu, Roni –namanya—rajin mengirimiku sms, menelponku. Dia berkisah tentang pekerjaannya, membuat jalan memecah bukit, di Balik Pulau.

“Kerjaku berat. Mulai pukul sembilan pagi sampai sepuluh malam. Kadang-kadang lembur sampai jam dua belas malam. Pernah juga sampai jam dua pagi. Walau letih, aku tak bisa menolak. Kalau toke meminta lembur, aku harus lembur. Kalau tidak, nanti kawan-kawanku tidak bekerja keesokan paginya,” tulisnya dalam pesan yang dikirimkannya.

Aku tak tahu pekerjaan apa yang membuat seorang laki-laki harus lembur sampai pukul dua pagi. Sulit dibayangkan jika berkaitan dengan pembukaan jalan. Membuka hutankah? Tak mungkin dilakukan tengah malam, dalam kegelapan, dan tak ada lampu penerang jalan. Bisa-bisa malah masuk jurang. Aku terus bertanya-tanya tentang pekerjaan Roni, dan tak menemukan jawabannya.

Pada sebuah sms yang dikirimkannya, Roni bercerita tentang dirinya, tentang suaranya yang kerap kusindir beraksen kakek-kakek.

“Aku memang kakek-kakek. Umurku seratus tahun. Tampangku macam pohon bambu, kenapa? Aku orang Buton, keluargaku tinggal di Bau-bau. Kenapa aku ke Malaysia? Kenapa aku tak bekerja di kampung? Entahlah, mungkin aku ingin mencari pengalaman, seperti banyak orang-orang di kampungku lakukan. Mungkin aku anak  paling nakal, sehingga terpaksa lari ke Malaysia. Adikku kuliah di Universitas Halu Oleo Kendari, ambil jurusan kimia. Tapi aku? Aku hanya tamatan SMA.”

Roni diupah 3 ringgit per jam untuk pekerjaannya memecah batu gunung, lalu meratakan tanah, dan memasang besi sebagai penyanggah pembangunan jalan. Pekerjaan yang melelahkan, katanya. Saking lelahnya sampai dia tak bisa tidur lama.

Perkenalanku dengan Roni tidaklah lama. Dia segera pindah bekerja ke tempat lain karena tak tahan dengan tekanan pada pekerjaannya yang lama. Aku pun kehilangan kontak. Nomor telponnya tak bisa lagi kuhubungi. Ingatanku akan Roni menuntunku pergi ke Balik Pulau. Aku ingin tahu bagaimana kehidupan buruh Indon di sana.

*****

Mudah menuju Balik Pulau. Dari asramaku di Taman Pelangi cukup naik bus jurusan Butterworth. Begitu turun di terminal langsung menyeberang ke Penang dengan feri. Setiba di Jeti, tinggal naik bus rapid warna merah –semacam bus kota yang disediakan pemerintah Pulau Penang, Malaysia– menuju ke Balik Pulau. Ada juga bus lain dengan jurusan sama, tapi tak banyak.

Selepas meninggalkan pusat kota, menembus Gertak Sanggul, aku mulai terpesona dengan pemandangan di kiri-kanan jalan. Perkampungan penduduk, rumah-rumah papan, hutan, masjid. Lalu bus mulai mengurangi kecepatan, merambah naik ke bukit. Berkelak-kelok, melingkari punggungan bukit demi bukit. Di kiri bus jurang, di kanan bus punggung bukit. Pohon-pohon rambutan dan durian menjulur dari tepi jalan.

Bus kian mendaki bukit. Kini nampaklah olehku bagian jalan yang belum rampung. Jembatan masih jauh dari sempurna. Tepi jalan penuh dengan bongkahan batu dan debu. Sesekali kulihat mereka, wajah para kuli bangunan menyembul dari balik debu. Lalu deretan kontena—kontainer dari besi yang menjadi kamar tidur pekerja– memantulkan terik mentari, menyilaukan mata. Bahkan di bagian hutan yang tertutup ini ada juga kongsi pekerja, tempat para kuli bangunan itu tinggal.

Menjelang kota Balik Pulau, berderet gedung-gedung baru sedang dibangun. Hotel, perumahan, kantor, restoran. Bisa dikatakan para kuli bangunan itu sedang membelah bukit agar kota di ujung pulau tak terisolir dengan Georgetown, ibukota Pulau Penang.

Sebenarnya Balik Pulau tempat tinggal yang nyaman. Udaranya sejuk, terutama di malam hari, membuat daerah ini menjadi tujuan istirahat di akhir pekan. Banyak pesanggrahan dan villa berdiri di sini. Semacam Tretes di Malang atau kawasan Puncak di Bogor. Ketika menyusuri pasar pagi yang terhampar sepanjang gang dan jalan utama, kulihat banyak keturunan Cina hilir-mudik berbelanja. Jarang sekali nampak keturunan Melayu. Ada juga satu dua orang Indonesia, perempuan tentu saja. Mungkin mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga-keluarga Cina itu.

Kalau kita menjelajah jalan utama, berjalan terus lurus, akan berakhir ke jalan mendaki bukit. Itulah arah menuju Teluk Bahang, melalui waduk atau  tasik Penang.

Kali kedua ke Balik Pulau, aku meminta sopir bus menurunkanku di pertigaan Gertak Sanggul, tepatnya di perkampungan Melayu sebelum mendaki bukit. Niatku sudah bulat, hendak melihat dengan jelas kehidupan kuli bangunan di situ.

Aku lalu berjalan mendaki bukit, perlahan, mencoba menemukan tempat-tempat para pekerja itu. Hari itu Sabtu, masih pagi, belum pukul delapan. Suasana begitu lengang, hanya bunyi bus dan mobil yang sekali-sekali lewat. Aku mengamati sebuah jembatan besi yang belum jadi, lalu melangkah mendekatinya. Ketika mengambil foto di bawah jembatan, sebuah sepeda motor mendekatiku.

Nak ambil gambar je, boleh tak?” tanyaku dalam bahasa Melayu, mengutarakan niatku hendak memotret tempat itu. Seorang lelaki Melayu turun dari motornya. Masih muda, sekitar tiga puluhan. Rambutnya pendek disisir rapi, tubuhnya terbungkus jaket abu-abu.

Tak pe..awak ni sape?” Matanya menyelidik memandangku, lalu ke kameraku, sebelum senyumnya mengembang.

Tinggal kat sini ke?

Tak de..saye tinggal kat sebrang. Mai sini sengaja nak jalan saje.

Cam tu lah..”

Mana orang yang keje kat sini Bang, tak nampak ni hari,” tanyaku ingin tahu.

Siang sikit. Ni kan Sabtu, tak banyak orang keje.” Pandangnya menyisir sekitar. Tempat itu memang lengang.

Abang keje kat sini?”

“Ya..saye kerani kat sini.” Ada nada bangga dalam suaranya.

“Ooo..banyak orang keje kat sini ya Bang.” Aku mencoba ramah. Posisinya sebagai kerani atau mandor bisa memberiku banyak informasi.

“Banyaak..tapi tiap projek lain toke.”

“Jadi yang sini dengan yang hadapan tu tak same?” tanyaku ingin tahu.

“Tak samelah. Banyak bagian kat sini, tiap bagian yang pegang lain orang.”

“Bang..nape projek Balik Pulau ni tak selesai juge. Dah bertahun-tahun tuh.”

“Iye..saye juga bingung. Pasal duit kali.” Dia mengusap-usap rambutnya.

“Nape awak tanya cam itu?” Kurasa dia mulai mencurigaiku.

“Tada.. dulu kawan saye keja kat sini. Dah lama da..”

“Boyfriend awakke?” Lagi-lagi matanya menyelidik.

“Tak de laah!” Kugelengkan kepalaku cepat-cepat, menampik tuduhannya.

Lelaki itu lalu meninggalkanku. Mungkin dia merasa tak perlu lagi mencurigaiku. Motornya menderu, membuat jembatan besi yang belum stabil itu bergoyang-goyang. Aku kembali berjalan. Kutemukan sekelompok kuli bangunan sedang mengebor batu bukit. Mukanya tertutup kain, sementara tangannya kukuh memegang bor. Macam tokoh dalam film Jango saja. Sementara itu kawan-kawannya menata batu di sampingnya.

Lom rehat ke?” tanyaku.

“Lama lagi..nanti pukul sepuluh,” jawab salah seorang dari mereka, acuh tak acuh.

Aku kembali mengeluarkan kameraku. Mereka nampak kaget namun senang, seolah baru kali pertama ini ada orang yang mau memperhatikan keadaan mereka. Selama ini yang mereka lihat hanya sesama buruh, mandor, atau kendaraan yang lalu lalang. Tak lama kemudian mereka sudah asyik dengan pekerjaannya kembali. Akupun terus berjalan. Tak mau mengganggu mereka yang sibuk bekerja itu.

Sepanjang jalan kutemui papan penunjuk. Ada yang bertuliskan  ‘PEMBINAAN TAMAT’ guna menegaskan bahwa sebuah proyek jalan telah selesai dilaksanakan.

Ketika melalui jalan menikung, nampak papan bertuliskan  ‘LENCONGAN DI HADAPAN’.

Di sebuah jalan, nampak sebuah gubuk yang didirikan cukup tinggi. Seorang penjaga duduk di atasnya sambil membawa bendera hijau dan oranye. Beberapa meter dari gubuk itu, terpancang papan bertuliskan ‘JENTERA BERAT KELUAR/MASUK DI HADAPAN’. Petugas itu mengatur truk-truk berat, lori yang melalui jalan itu. Mereka harus bergilir berjalan satu persatu.

Ada juga papan bertuliskan ‘KURANGKAN LAJU 30 KM/JAM’ yang artinya kecepatan maksimal kendaraan yang melalui tempat itu adalah 30 km per jam.

Beberapa puluh meter dari tempat buruh itu bekerja, menghampar dua kontena di tempat yang datar, terlindung oleh pepohonan. Di siang yang terik, tak bisa kuibayangkan bagaimana panasnya jika para kuli bangunan itu tidur di sana. Di malam hari, kontena akan terasa sejuk.

Di samping kontena terletak dua tong besar berisi air. Kurasa, agak susah mendapatkan air bersih di tempat ini. Air harus dialirkan dengan selang plastik dari sungai di atas bukit. Itulah sebabnya para buruh ini menampung air untuk memasak makanan. Aku sempat mencuri masuk sebuah kontena yang terbuka.

Ada kompor gas lengkap dengan tabung gasnya, periuk, dan ceret. Kabel-kabel listrik beserta stop kontaknya bergantungan di luar. Kontena-kontena lain kutemukan di sepanjang perjalanan. Ada yang catnya sudah mengelupas dan tergeletak begitu saja, ada yang diberi atap seng sehingga lebih teduh bila siang menyengat. Inilah kongsi para buruh yang bekerja di sini.

Kontena ini nampak sunyi di hari ini. Tak nampak orang di dalam. Mungkin semua orang sedang bekerja. Kalau ada yang libur, mereka memilih pergi ke pusat kota atau menemui anak istrinya di rumah sewa. Tak kutemukan seorang perempuan pun di dalam kontena, apalagi anak-anak. Kongsi ini benar-benar milik laki-laki.

“Hei..Indon ya..Indon,” teriak seseorang dari jauh.

Nampak seorang buruh mengayunkan tangannya. Sementara beberapa kawannya hanya tertawa sambil memandang ke arahku. Mereka ada di bawah, jauh di dekat jurang, berlaga dengan besi-besi dan tiang bangunan, bergelantungan dengan sebuah tangan menggenggam las. Kulambaikan tangan, sebagai isyarat bahwa teriakannya benar, bahwa aku orang Indon. Mereka lalu bersorak. Tanpa menunda waktu, segera kuabadikan  mereka dengan kameraku.

Indon. Bagi orang di negeriku panggilan itu sebuah penghinaan. Kembali aku teringat kata-kata Pak Teguh. Mungkin karena mereka tak pernah menjadi tki.

Indon. Panggilan yang semakin akrab di telingaku. Mungkin karena posisiku hanya buruh, tki, yang dipandang rendah oleh orang di negeriku, walau sering disanjung sebagai pahlawan devisa. Indon. Sebuah identitas yang tak mudah lepas di bekas jajahan Inggris ini.

Indon-Indon sebagai kuli bangunan kutemukan sepanjang pendakian menuju Balik Pulau. Tak banyak percakapan yang kubuat karena mereka sibuk bekerja. Ketika waktu istirahat tiba pun mereka memilih bersembunyi di balik kayu, besi, atau rebahan di bawah jembatan, ketimbang kembali ke kongsi. Ada yang menghabiskan waktunya dengan minum. Ada yang tiduran. Tapi ada pula yang asyik bergayut, ngobrol dengan pacarnya lewat hp.

Wajah-wajah Jawa langsung kukenali begitu aku berjalan mendekati mereka. Wajah Buton atau Flores susah kubedakan karena mereka memiliki ciri fisik yang serupa. Nyaris tak ada orang Melayu di Balik Pulau, kecuali kerani yang tadi kutemui. Ada juga keturunan India  di proyek ini. Tapi mereka bukan buruh kasar, melainkan sopir truk pengeruk, operator mesin, dan sejenisnya. Itu pun tak banyak jumlahnya. Ada juga orang-orang Bangladesh  yang memasang batu, atau mengelas besi. Kurasa, kalau tak ada orang Indonesia atau Bangladesh, mungkin jalan dan jembatan yang menghubungkan Georgetown dan Balik Pulau tak pernah terwujud. Jadi untuk apa aku malu diteriaki ‘….Indooooooon…..!’


*diambil dari buku ‘TKI di Malaysia, Indonesia yang Bukan Indonesia’

33 Comments to "Orang Indon"

  1. HennieTriana  30 January, 2011 at 16:56

    Ary, pasti banyak kisah suka dan duka di sana ya.
    Kadang panggilan bisa dianggap penghinaan, padahal yang manggil nggak menyadarinya. Sama juga untuk penyebutan Eskimo.
    Salam kenal Ary.

  2. Fani  30 January, 2011 at 15:38

    seru perjalan hidup ini ya..

  3. AH  28 January, 2011 at 20:33

    mbak linda : hehehe… no komen
    mbak tantri : udah lama terbitnya, cuma saya ga punya waktu nulis serius, jadi nyomot aja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.