Penghuni Gelap

Nunuk Pulandari


Seperti teman-teman juga ketahui, hampir semua orang Indonesia percaya bahwa setiap rumah ada “penghuni gelap”nya. Saya lebih senang menamakannya “penunggu”.  Kadang dalam satu rumah hanya ada satu “penunggu” tetapi  tidak jarang bahkan lebih dari satu. Sesungguhnya adanya “penunggu” tidak usah harus selalu menjadi masalah bagi pemilik rumahnya. Selama “penunggu”nya tidak “menganggu” ya, ok ok saja, menurut saya. “Penunggu ”akan menjadi masalah bila dia sudah mengganggu pemilik rumahnya. Bagaimana bentuk gangguannya, bisa berbagai macam.

Foto eyang kakung+putri, ibu saya (kanan), oom Abu paranormal, tante Afiah, oom Safi, oom Wal. foto dr th plus minus 1935.

Dalam keluarga ibu saya, Oom saya , adik ibu, adalah seorang haji yang kebetulan memiliki kelebihan untuk melihat hal-hal yang tidak kasat mata. Dalam kesehariannya beliau dulunya seorang kepala pajak yang pernah bertugas  di Sumut  bersamaan dengan pak Hugeng , kapolda Sumut waktu itu.  Oom saya bisa melihat  dunia maya dan berbicara dengan para penghuninya.  Cerita tentang  hal-hal yang tidak kasat mata  yang sempat dialaminya di Sumut bersama dengan bapak Hugeng, sangat seru dan sering  membuat bulu kuduk bisa berdiri.

Sampai beliau dipanggil kembali ke hadapanNya, beliau tidak pernah mengkomersieelkan kelebihannya. Dalam hal gangguan dari “penunggu” beliau pernah mengatakan: “Selama si ‘penunggu ’ TIDAK pernah  mengganggu dalam bentuk apapun, ya biarkan saja dia tinggal di rumah “.  Mengganggu menurut beliau bila si “penunggu”sudah menampakkan wujudnya, membuat suara, menyebarkan baunya ,dll, dll, dll. Sebagai resikonya si “penunggu” boleh diusir dari rumah kita.

Ketika oom saya tinggal di Jakarta, saya sering berlibur dan menginap di rumahnya. Saya juga pernah diajak ke Yogya untuk “sowan” pada seorang sesepuh paranormal. Saya belum pernah bertemu dengan sesepuh ini dan saya juga tidak kenal siapa beliau. Yang membuat saya terpana-pana, ketika saya sowan ikut oom, baru saya duduk di kursi,  sesepuh ini sudah langsung ngendhiko: ” Nduk, odjo maem pisang kapok. Odjo kakehan garem lan daging abang. Poso nganyep  nang dino lahirmu”.  (Nduk, jangan makan pisang kepok. Jangan kebanyakan garam dan daging merah. Puasa mutih di hari lahirmu). Menurut beliau itu semua sangat bagus untuk saya…. Waktu itu saya masih duduk di kelas satu SMA II di Bandung. Saat itu saya ya nurut didawuhi tirakatan seperti itu.

Kami tinggal di Bandung karena jabatan ayah yang bekerja untuk Spoorlijn ( sekarang PJKA). Kami tinggal di Jalan Kebon Kawung . Sebuah rumah kuno,  buatan  jaman Belanda. Ini bisa terlihat dari bentuk jendelanya, atau dari bentuk  kayu  balk yang super besar yang melintang dan menyangga atapnya. Juga bisa dilihat dari halamannya yang sangat luas. Total tanah yang ada saya kira lebih dari 20 X 75 m. Di sekelilingnya dipagari dengan tembok yang cukup tinggi.  Juga pembagian rumahnya sangat khas dengan rumah Belanda. Ada rumah utama dan ada kamar-kamar yang berjajar di samping rumah utama.

Di bagian depan rumah ada teras yang cukup luas untuk duduk-duduk di sore hari.  Memasuki rumah langsung ada kamar tamu. Kamar tamu ini bersebelahan dengan  kamar tidur tamu. Di bawah jendela kamar tidur tamu yang besar, tumbuh  pohon melati (dubbel bunganya dan lebih harum) dan pohon pandan. Jadi kalau pagi hari jendelanya dibuka akan tercium bau harum bunga melati. Melewati ruang tamu kita masuk ke ruang duduk keluarga  (ada TV, Orgen dll, dll) yang berdampingan dengan ruang tidur ayah dan ibu.

Masuk terus ke belakang di sebelah kiri ada ruang makan terbuka dan di sebelah kanannya ada hal panjang di tengah dan di sebelah hal ada ruang makan tamu dan disebelah kamar makan tamu ada dua  kamar tidur .  Jadi ada rumah utama (plus minus 14 X 25m) dan di sebelah kiri rumah utama ada garage. Di belakang garage ada kamar tidur kakak saya nomor 3 dan kamar tidur lainnya. Lebih ke belakang lagi ada dapur, kamar mandi  gudang dll, dll . Di seberang kamar-kamar ini ada kamar mandi dan WC nya.  Dan di seberang dapur ada pohon delima merah yang buahnya selalu ranum dan diminati banyak orang untuk dijadikan ramuan obat-obatan.  Baik di belakang  maupun di depan  rumah ada halaman yang sangat luas. Bertahun-tahun kami tinggal di rumah ini tanpa mengalami gangguan apapun.

Sampai pada suatu sore menjelang malam,  kami mendengar adik saya (precies di bawah saya) karena keterkejutannya berteriak ketakutan dan menjatuhkan gelas dan minumannya yang dipegangnya. Kami semua menuju ke dapur dan menanyakan:”Mengapa dia menjerit dan ketakutan. Ada apa?”  Pada awalnya dia tidak dapat mengatakan apa-apa. Dia hanya menunjuk-nunjuk ke arah pohon Delima yang pagi harinya baru dipangkas beberapa cabangnya. Setelah adik dipeluk ayah dan menjadi lebih tenang dengan perlahan dia bercerita:”Aq lihat orang buuuueeesaaaarrrr sekali di pohon delima. Dia seperti marah-marah”.

Saat itu kami menduga bahwa dia hanya sedang melamun dan berhalusinasi saja.  Kejadian ini berlalu dan terlupakan karena kesibukan sehari-hari. Ketika oom saya datang ke Bandung, beliau bertanya: ”Kok cabang pohon Delimanya ditebang?”. Ayah saya hanya menjawab: ”Dik, ketok é rungkut banget”. Dari percakapan berikutnya kami bisa tahu bahwa si “penunggu “ pasti marah, kerena tempat istirahatnya ditebang. Dan sesungguhnya pohon Delima itu sangat banyak membawa rejeki bagi kami semua. Entah apakah setelah ditebang cabangnya, rejeki keluarga berkurang, saya tidak pernah menanyakannya.

Kejadian lain muncul beberapa tahun kemudian. Pada suatu hari, kakak saya yang sudah mantu datang dari Surabaya bersama dengan anak dan  1 cucunya yang masih bayi (4 bulan umurnya). Karena mereka datang sekeluarga, mereka ditempatkan di kamar tidur tamu. Di kamar depan… Seperti biasa karena bayinya tertidur, jadi ibunya langsung menidurkannya di tempat tidur. Dan belum lama sang bayi terlena di tempat tidur, langsung dia mulai menangis menjerit-jerit.

Matanya bergerak kesana kemari, seolah sedang mengikuti gerakan tertentu.  Kami semua bingung. Upaya apapun yang dilakukan untuk  mendiamkan dan menenangkan si bayi tidak berhasil. Saat itu eyang putri tinggal bersama kami. Beliau lalu menanyakan pada mak Onah (salah satu pembantu tua kami) apakah di dekat rumah kami ada “orang pintar” . Tanpa menunggu perintah selanjutnya, segera mak Onah pergi. Ketika kembali  mak Onah sudah ditemani oleh seorang  bapak haji (terlihat dari pakaiannya) yang tinggal tidak jauh dari rumah kami. Ketika  bapak haji masuk ke kamar tidur,  langsung melihat keadaan si bayi dan memegang ubun-ubunnya. Beliau langsung minta air putih. Sambil mulutnya berkomat-kamit, bapak haji  mencipratkan air putih dua atau tiga kali sampai mengenai kepala dan badannya si bayi. Hanya dalam hitungan detik si bayi  langsung terdiam dan tertidur di gendongan ibunya.

Ibu dan bayinya  dengan dibimbing bapak haji dibawa keluar, ke kamar yang lain. Beliau hanya berucap: “Si bayi jangan dibawa masuk lagi ke kamar tidur depan. Kalau yang dewasa boleh”.  Jadilah si bayi dan ayah ibunya tidur di kamar tidur eyangnya dan tidak menangis lagi…..Menurut bapak haji ini, si “penunggu” yang sebetulnya tinggal di bawah jendela, di antara pohon pandan, sering  iseng main ke dalam kamar dan senang sekali kalau ada seorang  bayi…..

Pada saat kejadian itu, ayah sedang dinas keluar kota. Ketika ayah kembali, kami menceritakan kejadian ini. Ayah sama sekali tidak percaya. Beliau hanya tertawa dan berkata: ”Rasanya pingin juga lihat dia (penunggu) dan bicara sama dia. Kalau ketemu ayah mau minta uang yang banyak”.  Kejadian ini segera terlupakan karena tidak ada lagi peristiwa yang mengejutkan.

Sampai pada suatu malam hari ketika ada pertandingan final sepak bola antara Belanda melawan Argentina. Tahun 80-an? Pertandingan ini di Indonesia disiarkan secara langsung. Jadi di  Bandung sesuai dengan perbedaan waktu yang ada disiarkan di tengah malam, menjelang pagi.

Perlu teman-teman ketahui bahwa susunan furniture di kamar duduk keluarga saat itu adalah, di sebelah kiri, dekat pintu dari kamar duduk tamu ada organ. Di sebelah kirinya, di pojok berdiri sebuah TV yang cukup besar.  Di seberang TV, agak menyerong sedikit ada satu set banken ( 2 sofa saling merapat ke tembok dengan titk  pertemuan dalam posisi 90 derajat). Jadi  kalau kita duduk menonton TV  agak  di sebelah kirinya kita melihat ada organ.

Seperti biasanya kalau ada pertandingan sepak bola kami semua boleh ikut lek-lekan. Demikian juga malam itu. Kami semua, ayah, ibu, dan kami  menonton TV bersama. Tapi entah mengapa , saya masih ingat sekali, waktu itu,   kami secara perlahan satu demi satu secara berurutan  saling mengundurkan diri.  Hampir semua mengatakan: “Nanti saya dibangunin ya ibu”. Dan ibu hanya mengiyakan saja.  Waktu saya sudah di tempat tidur,  saya masih mendengar  ibu berkata pada ayah: ”Mas, aq bobo sik. Ngantuk.  Mengko aq diwungoké yo” . Dan ayah masih berkata: ”Sedhelok engkas kok bu”. Tapi ibu tetap menuju kamar tidur dan ayah menyanggupi untuk membangunkannya. ….  Tapi  hanya  sekejab, setelah ibu masuk kamar tidur dan  saya masih belum tertidur,  tiba tiba  terdengar suara gaduh di ruang keluarga. Sepertinya ayah menabrak meja yang ada di tengah ruangan.

Kami semua terbangun dan bersamaan menuju ruang keluarga. Kami melihat ayah hanya menunjuk-nunjuk ke arah organ, tanpa bisa mengucapkan satu patah katapun .. Saya masih ingat raut wajah  ayah yang pucat pasi penuh ketakutan.  Kami secara serentak melihat ke arah organ, tapi tidak melihat apa-apa. Ibu lalu memberikan dan meminumkan air putih perlahan-lahan pada ayah. Ayah menjadi agak tenang, dan perlahan wajahnya mulai tidak pucat lagi… Setelah itu ayah duduk kembali dan mengajak kami semua menonton pertandingan. Malam itu ayah tidak bercerita apapun mengapa beliau sampai membuat kegaduhan di ruang keluarga. Sampai beberapa hari kemudian entah kebetulan atau memang disengaja,  oom saya dua hari kemudian datang menginap.

Dalam salah satu obrolan ayah dengan oom,  baru terdengar cerita apa yang terjadi ketika ayah seorang diri menunggu acara pertandingan. Secara tiba-tiba ayah melihat “seorang wanita” berpakaian merah dengan rambut panjang. Dia  bertopang dagu sambil bersandar ke organ dan menatap pada ayah. Ayah melihat matanya begitu aneh. Dan karena kagetnya  ayah terbangun dari duduknya dan menabrak meja. .. “Setelah itu hanya dalam hitungan beberapa detik  -sosok  wanita- itu menghilang kembali”. Demikian ayah bercerita.

Mendengar cerita yang ada oom saya  langsung bersiap-siap untuk bersemedhi di kamar tidur tamu . Sesaat kemudian oom saya memasuki kamar tidur tamu bersama dengan kakak saya yang paling besar. Lamaaaa mereka berada di kamar tidur tamu tersebut.  Sambil menunggu oom selesai bersemedhi, kami sempat secara bergurau bertanya pada ayah: ”Ayah, sempat bicara dan minta uang ke wanita itu?” Dan ayah hanya menjawab: ”Huuuusssst”.

Oom saya keluar kamar sebentar. Beliau lalu meminta pada eyang putri beberapa lembar daun sirih. Daun sirih ini beliau lipat jadi dua. Dan dengan menggunakan tangga, beliau menempelkan dan memaku daun sirih ini di tengah bakl (kayu yang melintang di bawah plafond)  yang ada di atas kamar tidur tamu. Beliau berpesan:”Siapapun yang tidur di kamar depan nanti malam tidak perlu takut dan diamkan saja  kalau mendengar ada suara. Ijik tak setrap (straf – dihukum)”. Menurut oom saya, memang sebetulnya si “penunggu” rumah  tinggal di bawah jendela kamar, di luar rumah. Tapi kadang dia main masuk ke dalam rumah.

Karena menurut oom si “penunggu”sudah mengganggu penghuni rumah, ya sudah sewajarnya kalau  “penunggu”dihukum dulu di tempat persembunyiannya. Di balk di bawah plafond di kamar tidur  tamu. Setelah selesai hukumannya si “penunggu “ akan ditempatkan  di sebuah batu besar di halaman depan  sebagai penunggu rumah. Oom saya bercerita bahwa si “penunggu”  ketika dicari sedang bersembunyi dengan posisi setengah badan ada di atas balk (menembus plafond) dan setengah sisanya  menggantung kebawah. Karena ditemukan dalam posisi demikian, oleh oom saya dihukum dengan daun sirih sebagai pengikatnya dalam posisi yang tetap sama…. Believe it or not?

Malam itu kebetulan yang berani tidur di kamar depan hanya saya (berbekal Al Quran di sisi kanan bantal) dan ayah. Saya tidak mendengar suara apapun, meskipun mata sukar sekali diajak tidur……Mungkin keberadaan Al Quran dan doa-doa yang dipanjatkan sebelum tidur sangat membantu memperkuat daya bathin untuk menghadapi suasana malam itu.

Setelah kejadian itu, saya pindah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah di FSUI. Dan sejak itu saya tidak pernah lagi mendengar cerita tentang “penunggu”rumah di Bandung.

Di Jakarta saya tinggal di rumah tante yang menjadi dosen di FSUI, di kompleks Daksinapati, UI, Rawamangun. Di belakang rumah tante tinggal kel. Oom  (begitu saya menyapa) Eddy . Suatu hari oom Eddy mengobrol dengan tante menceriterakan apa yang terjadi di rumahnya.  Dan beberapa hari kemudian datanglah oom saya ke Rawamangun untuk melihat rumah Oom Eddy. Saya boleh ikut. Kami masuk lewat pintu belakang. Ketika saya mau melangkah masuk pintu dapur, tiba-tiba kepala saya dipegang kuat-kuat oleh oom saya. Beliau mengatakan: ”Ndingklu o sethithik nék ora pingin disenggol”.  (menunduklah sedikit kalau tidak ingin disenggol).

Lalu kami masuk rumah dan duduk di ruang tamu. Oom Eddy berceritera bahwa  “penunggu” rumah sering mengganggu misalnya dengan membuka dan menutup halaman buku piano ketika oom Eddy sedang memainkan lagu di piano. Atau tiba-tiba piano memainkan lagu tanpa disentuh oleh seorangpun. Menurut oom Eddy, pernah kasur tempat tidurnya diangkat dan dipindahkan ke lantai. Sementara oom Eddy tidur di atasnya..Yang lebih seru lagi dari garasi mobilnya sering terdengar seolah motor mobilnya sedang distarter. Atau kadang ada suara ribut-ribut seperti orang sedang mereparasi mobil. Ketika oom Eddy melihat ke garage, nampak semua masih pada tempatnya.

Setelah oom Eddy menceritakan semua kejadian di rumah itu, oom saya minta diantarkan ke garage. Di sana oom saya nampak seolah sedang berbicara pada “seseorang”. Hanya saya tidak tahu apa yang dikatakannya. Bahasa yang digunakan terdengar begitu aneh. Cukup lama oom saya berada di garage.

Dari cerita yang kami dengar akhirnya kami tahu bahwa oom saya sudah mengadakan transaksi dan tawar menawar dengan para “penunggu”rumah oom Eddy. Menurut oom saya,  para “penunggu” rumah oom Eddy sangat sukar untuk diajak bernegosiasi. Mereka merasa bahwa mereka telah tinggal di sana jauh lebih lama dari oom Eddy. Para “penunggu” di rumah oom Eddy, berupa separuh badan manusia dan separuh lainnya berupa kuda.

Dan dengan terpaksa dan menggunakan srono yang macam-macam, oom saya akhirnya berhasil mengusir dan memindahkan para “penunggu” dari rumah oom Eddy. Ini terjadi  karena para “penunggu”sudah bertindak di luar batas dan tidak mau diajak kompromi. Tidak lama setelah kejadian ini, oom Eddy pindah rumah dan saya tidak mengikuti cerita kelanjutannya.

Beberapa tahun kemudian saya pernah tinggal di Asrama mahasiswi Wismarini untuk 6 bulan karena harus menyelesaikan penulisan skriptie. Lorong-lorong dan tangga asrama Wismarini cukup terkenal dengan cerita tentang dunia tidak kasat matanya. Kadang kalau saya pulang sudah gelap dan suasana sepi,  timbul juga rasa takut untuk menaiki tangga yang menuju ke tingkat 2, dimana kamar saya berada. Suatu hari, ketika saya harus pulang larut malam setelah mengunjungi oom, sebelum pulang saya diberi segenggam “bekal” yang dimasukkan ke dalam saku baju saya oleh oom.  Dengan mata biasa  tampak genggaman tangan oom saya tidak ada isinya.  Hanya sambil memasukkan ke dalam kantung baju saya,  oom masih berpesan: ”Kalau kamu takut, sebelum naik tangga dan melewati lorong, kamu ambil sedikit demi sedikit “bekal” yang ada dan sebarkan ke semua arah yang akan kamu lewati”. Saya melakukannya. Effectnya ketika  saya melewati tangga dan lorong terasa seolah terang benderang dan bersih semuanya….Dan saya bisa berjalan dengan tenangnya….

Setelah lulus dari FSUI saya pindah dari rumah tante karena pernikahan. Tahun pertama setelah menikah, sambil mencari rumah yang cocok, kami (saya dan sekarang ex-suami) tinggal di rumah baru milik adik ex-suami. Kami tinggal ditemani seorang pembantu laki-laki (dicarikan ibu saya)  yang bernama Kardi. Dia sangat rajin sholat dan pandai membaca Al Qur’an. Dia bukan penakut.

Sebetulnya saya senang tinggal dirumah ini. Rumah baru ini cukup besar dan bersih. Hanya kamar tidur belakang agak gelap… Beberapa hari setelah kami tinggal di rumah itu, menjelang tengah hari , ketika kami sedang duduk di ruang tamu,  kami dikejutkan dengan suara  yang super duweeer kuuueeeras di atas plafond pintu kamar tidur belakang. BUUUUMMMM. Seolah ada bom meledak atau satu drum yang berisi semen dan dijatuhkan dari atas kisi-kisi.

Saat itu kami hanya menduga bahwa suara itu berasal dari batu atau bungkahan  semen yang jatuh ke plafond. Walaupun menurut pikiran yang normal, terlalu keras bunyinya.  Keesokan harinya tukang kebun melihat ke atas plafond . Dan tukang kebun mengatakan:” Pak, nggak ada apa-apa. Bersih sekali. Tadi saya sapu lagi”. Baru saja pak kebun selesai dengan kalimatnya, tiba-tiba terdengar lagi suara yang sangat keras. Di tempat yang sama…BUUUUUMMMMM…Dan bunyi ini semakin hari semakin menjadi-jadi.

Juga ketika tengah malam saya membangunkan mijn ex untuk menemani ke kamar mandi. Letak kamar mandi precies di tengah antara kamar tidur depan dan kamar tidur belakang. Pintu kamar tidur belakang  hanya berjarak  dua langkah  dari pintu kamar mandi. Atas permintaan saya, saat itu mijn ex hanya menjawab: ”Buka saja pintunya, saya awasi dari sini, dari tempat tidur saya lihatin”. Setelah selesai ke kamar mandi dan serentak  bersamaan dengan langkah saya melewati pintu kamar tidur, terdengar bunyi berdegum, BUUUUMMM, dari  plafond di atas pintu kamar tidur.

Dalam keterkejutan saya melompat dan kedua kaki menabrak sisi tempat tidur. Saya menjerit dan menangis penuh ketakutan… Keesokan harinya paha dan betis kaki saya biru lebam, seperti baru dipukuli.  Sampai sejauh ini meskipun suara berdebum sudah sering terjadi namun mijn ex tetap belum mau menemui oom saya.

Suatu sore, menjelang magrib, kami bertiga dikejutkan dengan suara yang berasal dari menara air, di pojok belakang rumah.  Suara yang menyerupai bunyi-bunyian kalau kita melempari tangki air dengan batu kerikil. Kardi lari ke belakang rumah untuk melihat siapa yang melempari tangki air itu. Menurut Kardi tidak ada siapapun di belakang tembok rumah. Lalu ketika kami perhatikan lebih lanjut ternyata di bawak tangki airpun tidak ditemukan batu-batu kerikil. Bunyi-bunyian berhenti  dengan sendirinya ketika terdengar suara Azdan dari Mesdjid tidak jauh dari rumah kami.

Rupanya para “penunggu” rumah itu tidak hanya dua tetapi lebih dari itu.  Terbukti ketika Kardi sedang menyapu teras belakang rumah (terbuat dari marmer) tiba-tiba Kardi menemukan seekor “ular” yang langsing dan panjang. Bentuknya seperti lidi, hanya lebih besar sedikit dan  dengan warna yang hitam kelam. Ular ini tiba-tiba ada di depan pintu dapur, yang menurut Kardi baru saja disapu dan tidak ada kotoran apa-apa. Anehnya “ular”itu tidak mau bergeming dari tempat ditemukannya.  Menurut Kardi, kalau mau diusir pakai sapu, nampak seolah “ular”itu menjadi tambah besar… Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan “ular “itu didiamkan saja di tempat ditemukannya.

Terpengaruhi oleh kejadian-kejadian yang aneh, Kardi  akhirnya mau bercerita tentang pengalamannya. Ketika saya pergi mengajar di Rawamangun, Kardi yang sedang berada di kamarnya beberapa kali seolah mendengar suara saya sedang memanggil  namanya. Bersamaan dengan itu dia juga mendengar pintu depan di ketok-ketok. Jadi dengan tergopoh-gopoh dia berlari membukakan pintu depan. Daaaannnn, ketika pintu dibuka… Ternyata ibu Nunuk tidak ada di depan pintu… Juga tidak ada orang lain…….Pernah karena Kardi mendengar suara saya dia berlari ke jalan di belakang rumah untuk menjemput saya.. Tetapi saya masih ada di Rawamangun mengajar sampai sore hari…

Suasana dan kejadian di rumah baru ini memaksa mijn ex untuk sowan kerumah oom saya di jl. Setia Budhi. Kami menceritakan semua kejadian yang telah kami alami. Dan beliau berjanji akan melihat rumah baru keesokan harinya. Ketika kami berpamitan, saya diberi selembar daun janur muda yang harus dilingkarkan di sekeliling “ular”hitam.

Sore hari, keesokannya, oom saya datang  dengan seorang puteranya, menepati janji. Beliau langsung menuju teras belakang. Ketika beliau melihat “ular”yang tidak lagi bergerak, terdengar gumaman oom:”Oooo, kasihan kepanasan sinarnya”.  Rupanya, daun janur muda dalam dunia tidak kasat mata bisa menyinarkan cahaya yang cukup panas.

Selama oom saya melakukan “ritueel” nya, kami berdiri tidak jauh di belakang oom saya. Sambil berdiri  terlihat seolah oom saya sedang berbicara dalam bahasa yang kami tidak kenal. Di antara pembicaraan itu, oom tiba-tiba berhenti berbicara dan minta saya untuk a.s.a.p. mengupas satu kentang dan mengirisnya segi empat kecil-kecil. Setelah kentang itu saya serahkan, lalu oom saya menebarkan potongan kentang itu ke udara ke arah halaman luar… Sementara oom melaksanakan “upacaranya” kami dibelakangnya tersenyum bersama  Dan sepupu saya  berbisik-bisik:”Mbak Nuk, “yang tunggu” rupanya dari Belanda. Habis makannya kentang”. …No body knows!.

Setelah selesai dengan ritueelnya oom saya duduk di ruang tamu. Sambil minum teh beliau menceritakan bahwa tadi beliau berbicara pada “lurah” dari para “penunggu”rumah. Di atas plafond kamar tidur ada satu “ubur-ubur” besaaaaaar yang senang bermain dengan menjatuhkan diri dan membuat suara yang keras… Untuk mengantisipasi nya kami harus meletakkan  iga tulang babi, di atas plafond….Sejak itu, semua suara hilang ditelan masa…

Suara-suara batu yang yang dilemparkan ke tangki air, berasal dari “seorang anak kecil” yang meninggal karena terjatuh ke dalam sumur. Sumur ini ada di belakang tembok, dekat menara tangki air.  Sedang “ular” hitam yang berasal dari penjelmaan  “seorang pria tua” yang sebetulnya menjaga “anak kecil” itu, kami menetraliseernya dengan membuat sebuah tumpeng dengan lauk pauk kompleet. Antara lain dengan disertai sejenis ikan asin (lupa namanya) dan urap nangka muda….Tumpeng ini diletakan di dekat tangki air.

Sesuai dengan ritueel, sebelum di kubur di bawah pohon belimbing wuluh di dekat pintu gerbang masuk, “ular” itu diletakkan diatas nampan yang dilapisi kain putih, dan disertai beberapa irisan jahe segar, garam dan kembang telon.  Dan Kardi harus membawanya keluar rumah dan menguburkannya..

Dengan memanjatkan nama Allah Yang Maha Besar, setelah “upacara” dan semua syarat dipenuhi, kejadian-kejadian aneh  di rumah itu tidak pernah lagi terulang…..Sampai pada suatu hari ketika kami tinggal di rumah sewa di daerah Rawamangun dan kemudian pindah ke rumah kami sendiri… Tetapi ceritanya akan saya tuliskan untuk lain kali.


Selamat berkarya dan doei, Nu2k

112 Comments to "Penghuni Gelap"

  1. nu2k  17 February, 2011 at 12:35

    Mbak Cinde dear, saya sedang siap-siap mau beberes pergibkerja, jadi nanti siang kita lanjutkan obrolannya ya. Maaf. doei, Nu2k.. But thank you.

  2. Cindelaras  17 February, 2011 at 12:24

    Bu Nunuk, weleh…. Baca cerita ini jadi teringat sama anak sulung saya yang juga indigo, bisa merasakan dan melihat yang tidak bisa dilihat orang lain. Saya juga sering merasa ada yang ‘lain’ bila sedang ada di suatu tempat, tapi doa saya pada Allah memang hanya agar saya tidak diberi kesempatan melihat ujudnya. Mudak girapen Anak sulung saya sudah melihat sejak masih balita (baru 1 tahun, sudah ethes bicara, sering nangis minta pulang kalau di rumah orang dia melihat te-te-o-te, itu sebutan hantu dalam istilah dia). Sekarang sudah gadis usia 17 tahun, sebentar lagi mau ujian lulus SMA. Tapi dia sudah bisa mengendalikan ‘saringan’nya. Dia cuma mau fokus melihat pada apa yang betul-betul ingin dia lihat. Kalau yang ujudnya jelek-jelek, dia nggak mau nggubris, paling-paling dihindari papasan/senggolan. Di rumah kami banyak ‘teman’nya, tapi insya’allah tidak akan mengganggu. Yang berada disini adalah ‘penduduk’ asli tanah tempat tinggal kami.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.