Jadikan Suara Anak Bermakna

Odi Shalahuddin


Kami adalah anak-anak dunia
Dan terlepas dari perbedaan latar belakang kami
Kami mempunyai kesamaan realitas
Kami dipersatukan oleh perjuangan kami
Untuk membuat dunia menjadi sebuah tempat yang lebih baik bagi semua
Anda boleh menyebut kami sebagai masa depan, tetapi kami juga adalah masa kini

(life.com)

Pernyataan di atas adalah kalimat penutup yang dikutip dari pernyataan anak-anak ”Dunia Yang Layak Bagi Anak” yang dibacakan oleh Gabriela Azurduy Arreta dari Bolivia dan Audrey Chenynut dari Monaco yang mewakili delegasi anak pada pembukaan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa Special Session untuk anak, 8 Mei 2002.

Kalimat penutup di atas, terutama bagian akhirnya,  ini sangat berkesan pada diri saya dan sering saya kutip dalam berbagai tulisan yang menyangkut persoalan anak atau saya ucapkan dalam pertemuan atau pelatihan mengenai isu anak-anak .

Dokumen yang dihasilkan berdasarkan hasil serangkaian diskusi yang diikuti oleh 400 anak dari berbagai negara yang terdiri dari kelompok anak korban eksploitasi dan kekerasan, anak jalanan, anak-anak korban perang, anak yang berkonflik dengan hukum, dan berbagai kelompok anak yang terpinggirkan, menjadi sejarah bagi anak-anak dunia, dan PBB, karena inilah pertama kalinya dalam sejarah pertemuan PBB, anak-anak turut dihadirkan sebagai delegasi dan peserta aktif di setiap pertemuan formal dan sesi pendukung lainnya.

Special Session on Children yang merupakan spesial sesion ke 27 dalam Sidang Umum PBB menghasilkan dokumen Deklarasi dan Rencana Aksi untuk Dunia yang Layak bagi Anak yang disepakati oleh 190 Negara Peserta.

Sekjend PBB  pada masa itu, Kofi Annan dalam pidato pembukaan menyatakan ”Anak-anak dalam ruangan ini adalah saksi hidup dari setiap kata yang kita ucapkan.”

Pelibatan anak dalam pertemuan PBB menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap anak-anak untuk turut mendengar dan menyampaikan pandangan-pandangannya yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi dokumen yang dihasilkan. Hal ini bisa dikatakan sebagai langkah untuk melaksanakan ketentuan yang terkandung pada Konvensi Hak Anak yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi No. 44/25 tanggal 20 November 1989, khususnya pada pasal 12, yaitu:

1.            Negara-negara Peserta akan menjamin anak-anak yang mampu mengembangkan pandangan-pandangannya, hak untuk menyatakan pandangan itu secara bebas dalam segala hal yang berpengaruh pada anak, dan pandangan anak akan dipertimbangkan secara semestinya sesuai usia dan kematangan anak.

2.            Untuk tujuan ini, anak akan diberi kesempatan khusus untuk didengar dalam tata laksana hukum dan administratif yang bersangkutan dengan diri si anak, baik secara langsung, atau melalui seorang wakil atau badan yang memadai, dalam suatu cara yang sesuai dengan hukum acara pada perundang-undangan nasional.

Berawal dari keterlibatan anak dalam pertemuan PBB di atas, pada perkembangannya, berbagai pertemuan internasional dan regional (baik yang dilakukan oleh pemerintah ataupun oleh Organisasi non pemerintah ataupun keduanya) mulai melibatkan anak-anak, terutama pada pertemuan yang berhubungan dengan persoalan-persoalan anak. Pendekatan yang banyak digunakan adalah melalui Konsultasi Anak. Konsultasi Anak bisa dilakukan sebelum pertemuan berlangsung atau dilakukan secara paralel sehingga anak bisa hadir dalam pembukaan dan hadir membacakan pandangan-pandangan yang dirumuskan dalam diskusi-diskusi mereka.

Di tingkat nasional, banyak negara juga melibatkan anak untuk didengar pandangan-pandangannya sebagai salah satu bahan untuk merumuskan keputusan, baik terkait dengan kebijakan ataupun perencanaan program.

Indonesia juga telah membuka ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan pandangannya. Pengalaman penulis pada tahun 2001-2002 menjadi asisten fasilitator di dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (RAN PESKA disahkan melalui Keputusan Presiden No. 87 tahun 2002), dalam pertemuan di tingkat lokal dan nasional untuk mendapatkan masukan dari berbagai kelompok kepentingan juga menghadirkan anak-anak, termasuk anak-anak yang berada di prostitusi.

Di berbagai kota di Indonesia, Pemerintah Provinsi dan atau Pemerintah Kota/Kabupaten, sepengetahuan penulis juga sudah mulai membuka ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan pandangannya, terutama di dalam membahas indikator-indikator kota layak anak.

Hal yang juga menarik adalah mulai dilibatkannya perwakilan kelompok anak di dalam Musyawarah Rencana Pembangunan, terutama di tingkat desa dan di tingkat Kota/Kabupaten. Hal ini misalnya di Kabupaten Kebumen, ada Surat Edaran tertanggal 27 Oktober 2009 mengenai Musrenbangdes yang mencantumkan wakil kelompok anak, sebagai salah satu unsur yang menjadi peserta.

Kesadaran tentang pentingnya keterlibatan anak-anak untuk menyampaikan pandangan menyangkut kehidupan mereka, merupakan langkah maju yang patut mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Pemberian ruang-ruang untuk berpartisipasi akan mendorong dan melatih anak-anak menjadi semakin tajam untuk mencermati realitasnya dan akan semakin terlatih untuk mengkonseptualisasikan pandangan-pandangannya ke publik atau kepada para pengambil kebijakan. Bila hal ini benar-benar terjadi, maka kita bisa berharap bahwa kepemimpinan ke depan akan diisi oleh manusia-manusia yang berkualitas yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Memang hal tersebut tidaklah mudah. Persoalan utama yang patut dilontarkan adalah sejauh mana pandangan-pandangan anak yang muncul benar-benar murni berdasarkan pandangan yang didasarkan atas realitas dan kebutuhan real mereka? Hal ini mengingat sistem pendidikan formal masih menempatkan anak-anak sebagai obyek yang senantiasa harus terus menerus diisi dengan pengetahuan yang seringkali jauh dari kebutuhan sehari-hari anak. Dengan demikian, situasi yang ada, anak-anak sendiri telah dijauhkan dari realitasnya. Tantangannya adalah melatih agar anak-anak memiliki pengetahuan, kepekaan, dan kritis atas realitas yang melingkupi yang dibangun melalui kegiatan-kegiatan kolektif.

Sebagai penutup, saya kutip sebuah lagu yang beredar dari mulut ke mulut dan diajarkan serta banyak banyak dinyanyikan oleh anak-anak (dan juga orang dewasa) di berbagai pelosok negeri.


Sama-sama

Belajar sama-sama
Bertanya sama-sama
Kerja sama-sama

Semua orang itu guru
Alam raya sekolahku
Sejahteralah bangsaku


Yogyakarta, 2 Oktober 2010


Note Redaksi:

Artikel ini pernah diposting oleh penulis di Kompasiana pada bulan Oktober 2010. Selamat datang dan selamat bergabung Odi. Make yourself at home.

10 Comments to "Jadikan Suara Anak Bermakna"

  1. odi Shalahuddin  1 February, 2011 at 01:57

    Semoga Kornelya..
    Indikator-indikator kota layak anak dikembangkan untuk menjadi ukuran penilaian. Pada saat penyusunan, anak-anak dilibatkan untuk memberikan usulan. Sayang saya gak hafal indikator-indikator yang telah ditetapkan. He.he.h.e.he.he.. Harus lihat dokumennya dulu…

    Salam…

  2. Kornelya  31 January, 2011 at 05:38

    Odi, mudah-mudahan perlindungan terhadap hak hidup layak anak, terutama anak miskin dan terlantar di Indonesia suatu saat benar-benar terpenuhi. Selama ini yang bergaung dilindungi KPI, hanya anak Ayu Ashari dan Bachsim. Btw, apa arti istilah indikator-indikator kota layak anak?.

  3. odi Shalahuddin  28 January, 2011 at 15:36

    Saya tadi sudah membuat komentar, kemana ya larinya..
    Kok hilang..
    Mohon maaf bagi semua…

    Lani…. salam kenal juga ya…
    JC, terima kasih atas apresiasinya…
    Kine Risty, kayaknya yang keempat deh.. he..h.eh.eh.e.he.

  4. odi Shalahuddein  28 January, 2011 at 06:30

    @Lani: Salam kenal
    @JC: Sama-sama Pak… Saling berbagi…Saling belajar… Saling becanda… Pastilah menyenangkan. Semoga kehadiran di sini bisa melakukan yang baik dan berkenan bagi kawan-kawan semua…
    @Silvia: Ah, menyenangkan sekali, dan itu yang seharusnya dibangun dalam sistem pendidikan di indonesia… Secara tak sadar, sudah ada budaya ketika orang melihat orang lain, yang dipertanyakan adalah asal atau tebakan asal seseorang.. Setelah itu barulah menanyakan nama… Kebiasaan yang sesungguhnya menunjukkan tingkat kesadaran tertentu dalam keberagaman… Semoga bisa ada perubahan yang baik bagi masyarakat indonesia…
    @[email protected]: Sejahteralah seluruh anak Indonesia… Cerdaslah… Merdekalah…
    @KIne Risty: Ha.h.a.ha.h.ah. eh, bukan dua kali… ini kali ke empat kalau gak salah… ha.h.ah.a.h.ah.a. (FS, FB, Kompasiana, dan Baltyra…

  5. KIne Risty  27 January, 2011 at 14:00

    Hehhe,….ketemu lagi sama Om Odi
    salam kenal untuk kedua kalinya

  6. Lani  27 January, 2011 at 12:52

    salam kenal………selamat gabung di BALTYRA

  7. [email protected]  27 January, 2011 at 11:25

    saya anak indonesia….

  8. Silvia  27 January, 2011 at 10:09

    Saya bangga anak-anak saya buta ras. Ga pernah tuh mereka bilang anak bule, anak Cina, anak Korea, anak Jepang, anak India. Mereka cuma tahunya oh itu temennya yg bernama si A,B,C,D

    Kalau ada orang dewasa yang mau menerapkan hidup seks bebas, saya sih ga gitu peduli. Saya anggap mereka sudah tahu konsekuensinya. Tapi kalau ada orang2 dewasa yang suka berhubungan seks dengan anak-anak kecil bahkan darah-dagingnya sendiri, saya pikir lebih baik mereka di kurung di bawah tanah seumur hidup dan ga usah lihat mentari lagi.

  9. J C  27 January, 2011 at 10:01

    Odi, terima kasih banyak untuk artikel menarik ini.

  10. Lani  27 January, 2011 at 09:56

    satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.