Kisah Seorang Pengelana (2)

Cechgentong


Semalaman aku hanya bisa duduk dan berdiri. Setiap aku ingin pindah, tiba-tiba ada suara yang memperingatkanku. Suaranya persis dengan Eyang berjenggot putih. Uhhh sungguh menyebalkan dan membosankan.


Tanpa terasa subuh tiba, terdengar suara azan di mesjid dekat pasar. Ada beberapa orang yang selalu memperhatikan aku setiap melewati tempat pembuangan sampah. Aku hanya diam membisu dan  pura-pura tidak tahu dengan tatapan mereka kepadaku. Beberapa kali aku mendengar sumpah serapah dan suara nyinyir dari orang-orang tersebut tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukan.

Seiring berjalannya waktu tanpa terasa matahari mulai menampakkan wajahnya, mulai banyak orang yang hilir mudik di hadapanku dengan segala aktifitasnya.

” Hei, kamu “

Aku menolehnya dan hanya terdiam sesuai dengan pesan eyang.

” Hei kamu ya kamu. Kok kamu diam saja. Ngapain kamu di sini.“

Aku masih terus berusaha untuk diam.

” Wah dasar orang gila !!! Ditanya kok diammmm saja. “

Sungguh aku kaget dan ingin marah ketika orang tersebut meludahi mukaku. Tiba-tiba ada suara Eyang terdengar jelas di telingaku.

” Sabar anakku. Sabarr. Katanya kau ingin mengenal siapa kamu“

Emosiku langsung turun drastis. Aku berusaha menenangkan diri. Wao, pagi-pagi aku sudah mendapat sebuah hinaan. Hari pertama yang amat sangat berat. Kujalani hidup dengan segala hinaan dan cercaan dari orang lain. Belum lagi bau sampah yang menyengat dan membuat kepalaku menjadi pusing.

Selain itu aku menahan malu karena aku sudah tidak mampu lagi menahan kencing sehingga tanpa kusadari sudah ngompol di celana karena seharian aku tidak bisa kemana-mana dan bergerakpun tidak bisa. Cobaan berikutnya adalah menahan lapar dan buang air besar. Sungguh menyiksa.

Waktu terus berjalan, Eyang Jenggot Putih yang kutunggu-tunggu tidak memberikan tanda-tanda kedatangannya. Demi janjiku kepadanya maka ku bersikap pasrah dan menerima nasib dihina oleh orang-orang pasar.

Banyak orang yang mengatakan aku gila dan pantas untuk disiksa baik fisik maupun non fisik. Tanpa terasa sudah hampir 3 bulan aku berada di tempat itu. Aku mulai terbiasa dengan kondisiku saat itu. Baju kumal, celana panjang usang dan bau badan bercampur aduk baunya sehingga sudah hampir hilang indera perasaku.

Ada satu peristiwa yang membuatku kaget dan tertegun. Suatu hari turun hujan deras sekali sehingga tempatku untuk diam menjadi kebanjiran. Tapi aku tetap hanya bisa berdiri dan duduk. Tiba-tiba datang seorang ibu yang kelihatan penjual di pasar tersebut sedang kebelet untuk buang air kecil.

Karena malam hari dan suasana gelap serta sudah tidak kuatnya menahan hajatnya, ibu tersebut berdiri (tidak jongkok) di depanku dan mengeluarkan air kecingnya ke mukaku. Rupanya ibu tersebut tidak melihat diriku di depannya. Suasana gelap, sunyi dan derasnya air hujan membuatnya tidak menghiraukan lingkungan sekitar.

Sungguh malu dan terhina diri ini. Saat aku ingin menegurnya, mulut ini terasa dikunci dan diam tanpa bisa berbuat apa-apa. Kalau aku bangun berdiri nanti akan membuat ibu tersebut kaget dan lari ketakutan. Sudahlah akupun hanya bisa menerimanya dan mengelus dada.

Peristiwa yang lain adalah ada seorang tukang becak yang sedang memarkirkan becaknya dekat dengan posisiku duduk. Hari itu suasana terik sekali. Siang hari yang membuatku lemas tak berdaya. Tak disangka tukang becak tersebut memberikan aku sebungkus nasi dan air putih yang dikemas dalam plastik.

” Sungguh kasihan nasibmu anak muda. Saya sudah memperhatikanmu beberapa hari ini. Saya tahu kamu kelaparan. Ini ada nasi bungkus untukmu. Ambil dan makanlah.”

Aku hanya terdiam membisu karena ku tak bisa bicara untuk mengucapkan terima kasih. Aku tak tahu kenapa aku jadi membisu.

”Ambillah dan makanlah. Kau lebih membutuhkan. Memang saya lagi susah dan beberapa hari ini jarang penumpang menaiki becak saya. Tapi saya ikhlas nasi bungkus ini untuk kamu. “

Aku terima pemberian tukang becak tersebut. Aku makan nasi bungkus tersebut dengan lahapnya. Alhamdulillah dalam hatiku, sungguh baik sekali tukang becak ini. Ya Allah berikanlah kemudahan rizki untuk tukang becak ini. Begitulah doaku saat itu.

Setelah itu tukang becak tersebut meninggalkan aku. Tapi malam harinya tukang becak tersebut datang lagi menemuiku. Di tangannya sudah ada nasi bungkus dan air putih. Wajahnya tersenyum kepadaku sambil berkata,

”Ini kubawakan lagi nasi bungkus buatmu anak muda. Alhamdulillah hari ini aku mendapatkan banyak penumpang. Sampai-sampai saya keletihan untuk menariknya. Inipun kalau tidak menemuimu, tadi sudah ada lagi penumpang yang ingin memakai becak saya. Tapi saya ingat kamu. “

Akupun tersenyum kepadanya. Akupun berdoa kepada Allah dalam hati agar tukang becak tersebut diberikan rejeki yang lebih.

Tanpa diduga dan dinyana, ternyata selama ini doaku diijabahi oleh Allah SWT. Hampir 3 kali sehari tukang becak tersebut menemuiku dan bercerita kalau dia selalu mendapatkan banyak rejeki sehabis memberikanku makan.  Aneh pikirku, tapi itulah kalau Allah punya kehendak.

Suatu hari tukang becak tersebut datang ke tempatku dengan membawa isteri dan 5 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Tukang becak tersebut memperkenalkan aku dengan keluarganya. Mereka semua menyalamiku. Bahkan isterinya memelukku tanpa risih dan malu dilihat orang. Apalagi jijik mencium bau tubuhku. Akupun menangis tapi tak bisa berkata-kata.

”Sebenarnya siapakah dirimu anak muda? Apakah Allah mengirimmu untuk keluarga kami ” kata tukang becak tersebut.

Aku hanya diam dan menunduk malu. Sungguh Allah telah memberikan penghargaan kepadaku melalui tukang becak tersebut. Tak bisa lagi aku berkata-kata. Allah memang Maha Besar.

Rupanya itulah hari terakhir tukang becak tersebut menemuiku. Dia dan keluarganya ingin pulang kampung dan menetap di sana. Alhamdulillah kehidupan tukang becak tersebut telah berubah. Sejak mengenalku, penghasilannya makin besar dan mulai bisa menabung.

Itulah alasannya tukang becak tersebut pulang kampung untuk memulai hidup baru menjadi petani di kampung halaman. Katanya dia telah membeli sebidang sawah yang rencananya akan digarapnya. Luar biasa. Sungguh momen perpisahan yang menyedihkan dan menggembirakan.

Bagaimana dengan nasibku selanjutnya? Aku masih terus menjalani amanah Eyang. Aku hanya punya keyakinan kalau memang sudah saatnya Eyang akan datang menemuiku. Benar saja, tepat 4 bulan dan kejadiannya malam hari, aku melihat sosok putih datang mendekati. Rupanya Eyang jenggot putih yang datang.

” Hahahahaha senang saya melihatmu “

Senang sekali perasaanku setelah melihat kedatangannya tapi saya masih tetap tak bisa berkata-kata. Aku pun memberikan tanda kepada eyang sambil menunjuk bibirku.

” Ohhhh sampai aku lupa. Bukalah suaramu. “

” Alhamdulillah ” Aku sudah bisa berkata-kata lagi walaupun  bibir ini masih kelu.

” Engkau memang cucuku yang amanah.“

” Terima kasih Eyang.“

” Menyesalkah dirimu dengan kondisi yang sekarang? “

” Tidak, Eyang. Mun

Mungkin inilah jalan hidupku dan aku merasa dekat denganNya “

” Alhamdulillah. Maafkan Eyang karena telah membuatku menderita.“

” Tidak ada yang perlu dimaafkan karena ini sudah menjadi pilihanku.“

” Hahahahahahahaha bangga saya mendengarnya.“

” Terima kasih sekali lagi Yang. “

” Sekarang kamu mandilah dan bersihkanlah badanmu. Nich sudah kubawakan pakaian untukmu. “

Segeralah aku pergi ke kamar mandi di pasar dan mandi sepuas-puasnya. Terasa lega dan segar melihatku kembali normal. Kemudian aku menemui Eyang kembali.

” Syukur Alhamdulillah, kamu telah melewati semua ini. “

” Alhamdulillah Yang. Berarti saya telah lulus ya Yang.“

” Hehehehe belum anakku.“

” Belum ? Bagaimana bisa belum lulus. Kulalui semuanya dengan sabar, ikhlas dan pasrah.“

” Betul tapi masih ada yang harus kamu lakukan selanjutnya.“

” Apa itu Yang ? Tolong jangan bilang aku banyak tanya.“

” Tidak anakku. Tapi ini harus kamu lakukan untuk menyempurnakan dirimu.“

” Apalagi Yang.“

Eyang Jenggot Putih mendekatiku dan berbisik ke telingaku.

”Hahhhhhh !!! “

”Ayo jalankan anakku. Ingat ! jangan banyak tanya.“

” Hmmmmmmmm.“

-=-

Sebenarnya apa yang dibisikkan oleh Eyang Jenggot Putih kepada Widi ? Apakah Widi akan melakukan perintah beliau ? Kejadian-kejadian apa yang akan dialami oleh Widi ? Bersambung lagi dech….

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

39 Comments to "Kisah Seorang Pengelana (2)"

  1. Lani  29 January, 2011 at 12:28

    CECH : niat thok modale utk tdk makan/minum selama 3 bulan?????? hadoooooooh……ora wes ora kuat…….iso mati garink!!!!!!! kkkkkkkkk……….

  2. cechgentong  28 January, 2011 at 02:50

    Pak DJ n Lani, jawabannya adalah NIAT

  3. cechgentong  28 January, 2011 at 02:50

    Kine, no comment juga. takut ada yang makin penasaran hahaha

  4. Lani  28 January, 2011 at 00:22

    MAS DJ: la aku jg ada pertnyaan yg sama je……3 bulan ming ngadeg…….njagong……turu mungkin cm semende tong sampah njur 3 bulan juga ora mangan???????? wahhhhhh ajaib wessssss………hebatttttttttt ngono…….nek aku yo wes dadi lelembut……..kamsute mati ket zaman kompeni ngakak aku massssssssss

  5. Djoko Paisan  28 January, 2011 at 00:08

    Cechgentong, terimakasih ya…
    Cerita yang menarik, terutama perkenalan dengan tukang becak dan keluarganya……
    Pertanyaan Dj, bagaimana 3 bulan sebelum perkenalan tersebut, siapa yang kasi dia makan….???
    Kok kuat 3 bulan tidak ada yang kasi makan….???
    Atau hanya makan pisang goreng saja yang dibawain Cechgentong….???

  6. Lani  27 January, 2011 at 22:53

    ya udah gini aja……yg preman CECH nah KINE salah satu anak buah preman…….gimana se7777777777? ya aku jik fenasaran iki

  7. KIne Risty  27 January, 2011 at 19:45

    wadew.. kalau itu saya no comment

  8. cechgentong  27 January, 2011 at 17:18

    Kine, emang saya yang ngajarin tapi kine lebih galak nodongnya hahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *