Senja di Chao Phraya (6)

Endah Rahardjo


Bab 2: Gerimis di Sangkhlaburi (2)

Sebagian tubuh matahari bersembunyi di balik kuil, sisanya sebentar lagi akan menghilang tertutup pegunungan. Kampung orang Mon di atas bukit di seberang Danau Khao Laem terlihat seperti negeri dongeng yang rajanya arif bijaksana dan rakyatnya makmur sentosa. Tenang. Tenteram. Seharian Laras berada di sana, di salah satu rumah panggung kayu sederhana, duduk berlapis tikar bersama sepuluh perempuan muda.

Sosok Laras sama dengan mereka, namun perbedaan bahasa menjadi pembatas maya, lebih kokoh dari benteng buatan bangsa Eropa. Sekuat tenaga Laras berusaha menerobos benteng itu. Seorang penerjemah lokal ia bayar. Tanpanya misi Laras pasti tak akan tersampaikan. Bila sudah demikian, Laras jadi merasa malu. Ia juga lelah, sering kali merasa kalah.

Para perempuan yang lebih muda dari anaknya itu sudah terhimpit beban hidup begitu rupa. Manusia semestinya terlahir merdeka. Namun remaja-remaja putri itu telah terbelenggu sejak dalam kandungan. Bagai kecambah yang tercerabut dari akarnya. Sebagian mati sia-sia tanpa tahu untuk apa.

Memandangi matahari yang  sebentar lagi meninggalkan bumi, Laras duduk sendirian di teras kamar hotel. Sepatunya ia lepaskan. Ia selonjor setelah menarik kursi lain dengan mengaitkan kakinya ke kaki kursi itu.

“Hai!” suara Mila mengejutkan Laras.

“Hai…,” balas Laras terdengar lelah.

“Mereka sudah mau bicara?” Mila menanyakan kemajuan pekerjaan Laras. Ia duduk di pagar batu yang memisahkan terasnya dengan teras Laras. Sudah dua hari Laras berusaha mewawancarai para perempuan tanpa negara itu. Mereka belum mau benar-benar bicara. Laras tahu, tidak mudah menumbuhkan rasa percaya. Perlu waktu. Butuh kesabaran.

“Sedikit. Ada empat orang yang mulai cerita,” Laras menjawab tanpa memandang Mila. Lehernya tersandar di kepala kursi. Kepalanya menengadah. Matanya terpejam. “Paling tidak mereka telah menyampaikan keinginannya.”

“Oh ya? Bagus sekali! Apa itu?” Mila mencondongkan badannya.

“Buku dan sekolah,” jawab Laras pendek.

“Wah. Kalau buku sih mudah. Kalau sekolah susah.”

“Besok saja kita bahas di meeting pagi, ya.” Laras enggan bicara lagi. Ia ingin sendiri.

Mila melangkah keluar teras, menyusuri jalan setapak di atas rumput kemudian menuruni undak-undakan batu. Ia ingin duduk di tepi danau. Memandangi matahari terbenam. Bila Laras sedang tak tampak risau, ia pasti sudah mengajaknya. Mila tahu apa yang berkecamuk di benak Laras. Selain pekerjaan, Osken sebentar lagi datang.

Hanya beberapa menit sebelum matahari hilang, mendung datang, berbaris di atas bukit. Langit jadi kelabu. Gerimis turun pelan-pelan.

“Sialan!” Teriak Mila. Akuntan dengan tiga anak itu berjingkat-jingkat lari ke atas, kembali ke kamar.

***

Laras sibuk membersihkan diri, berdandan demi lelaki Amerika berdarah Kazakhstan-Irlandia. Lelaki itu terbang ke Bangkok dari Kalkuta, disambung naik taksi tujuh jam, dari bandara Suwarnabhumi ke Sangkhlaburi, untuk menemui Laras.

Osken sudah empat kali menjalin hubungan serius dengan perempuan. Semuanya gagal. Pekerjaannya yang berpindah-pindah selalu menjadi sandungan. Selepas usia 45, ia mulai enggan berburu istri. Empat kali patah hati membuat Osken jera.

Ia menikmati kemerdekaannya. Berhubungan dengan perempuan hanya bila perlu, sekedar mengisi kekosongan malam-malamnya.

Banyak sel darah pemberontak mengalir di tubuh lelaki itu, warisan ayahnya. Ibunya terlahir di Kazakhstan, dibawa ke Amerika oleh pamannya. Keluarga ibunya berasal dari etnik Kazakh, etnik terbesar yang bermukim di wilayah Kazakhstan, keturunan saudagar Turki dan Mongol. Wajah ibunya sangat Asia, mungkin karena darah Mongol kakek-nenek Osken lebih kental.

“Dalam kamus tua Turki-Arab, kata kazakh atau qazaq artinya merdeka, bebas. Mungkin itulah yang menguasai jiwaku,” cerita Osken pada Laras di awal pertemanan mereka.

“Apa kamu memang tidak ingin menetap?” tanya Laras.

“Sampai saat ini belum,” ujar Osken, “belum ada alasan untuk menetap.” Kata-kata Osken bagai bersayap. Laras menebak-nebak maksudnya. Berharap tebakannya benar.

***

Sepasang kaki terbalut sepatu berhak tujuh senti hati-hati menapaki tangga batu. Kicau burung malam terdengar bagai siulan. Laras merasa agak jengah. Saat bekerja di lapangan, ia jarang membawa sepatu semacam itu. Kamar Mila tertutup rapat. Mungkin ia sedang sholat. Pelan-pelan tangan kanan Laras mengetuk pintu kayu. Mata Mila terbelalak memandangi rekan kerjanya yang berdiri anggun di depannya.

“Aku sebentar lagi keluar. Draft laporan ada di sini, kalau kamu mau baca dulu. Nama-nama file-nya ada di sini.” Laras mengangsurkan flashdisk dan selembar kertas.

“Wuiiiihhh… keren banget… wuiiiihhhh… Osken bisa langsung klepek-klepek lihat kamu!” Mila menggoda Laras yang tampak sexy dengan sackdress batik sutera berleher Sabrina. Pundak telanjangnya melengkung indah. Lehernya jenjang menyangga kepala, seperti setangkai kuncup mawar. Perempuan itu masih menyimpan keindahan.

“Brisik!” Laras pura-pura sebal, memukul pelan lengan Mila dengan clutch merah marun yang sudah sejak pagi disiapkan, sewarna dengan sepatunya.

“Kalian mau ketemuan di mana? Bukan di danau kan?” Mila bercanda.

“Dia udah di atas. Di lobi.” Laras berkelebat pergi.

Mila memandangi Laras yang menghilang di balik kerimbunan pepohonan. Ia berdoa agar sahabatnya itu bisa menemukan kembali cintanya yang terkubur bersama jasad suaminya, hampir lima tahun lalu.

***

Mila benar. Osken ternganga melihat Laras melangkah ke atas tangga batu, menuju lobi. Laras menyerupai lukisan, dengan air danau yang dipenuhi kabut sebagai kanvas hitam. Osken tidak mau menunggu lagi. Setengah berlari lelaki itu menuruni tangga-tangga batu, menghampiri Laras.

Hello, there,” sapa Osken dengan suara penuh rindu. Sudah enam bulan mereka tidak bertemu. “Kamu….” Osken tidak meneruskan kata-katanya.

Dua lengan terbuka lebar. Lembut dipeluknya tubuh mungil Laras. Kalau saja Laras tidak menahan diri, ia pasti sudah membiarkan Osken menciumi bibirnya.

Sepasang makhluk yang telah matang dengan pengalaman hidup itu bergandengan tangan menuju ke lobi yang sekaligus ruang makan. Mereka tampak bagai pasangan ideal. Osken dan Laras saling bercerita tentang perkerjaan masing-masing. Apa saja yang mereka lakukan sejak perpisahan mereka di bandara Suwarnabhumi.

“Anak-anakmu bagaimana?” Osken mulai menanyakan hal-hal personal.

Dengan antusias Laras menceritakan perkembangan Mega dan Angka.

“Saya ingin mengunjungi orang tuamu, kapan-kapan. May I?” Osken menatap Laras tajam. Laras menunduk, tidak kuat menahan perasaan namun juga tidak berani menghadapi kenyataan. Mereka lama terdiam. Tangan Laras mempermainkan cangkir teh.

“Sebaiknya…, mungkin…, jangan dulu…,” Laras kebingungan.

“Aku mengerti. It’s fine. Aku tidak bermaksud menekanmu.” Osken membuang pandang ke arah danau. Gerimis sudah berhenti sejak tadi, meninggalkan kabut di atas muka air. Osken mengalihkan pembicaraan, membahas cuaca di Sangkhlaburi yang gerimis hampir tiap hari. Laras pura-pura mengikuti pembicaraan walaupun tidak mendengarkan. Osken bisa merasakan pergolakan di dalam diri perempuan yang dia kasihi itu.

“Laras, aku tahu apa yang kamu pikirkan.” Tiba-tiba Osken memegang tangan Laras yang menggenggam cangkir teh.

“Aku mencintaimu.” Suara Osken bergetar, lalu terdiam sebentar. Untuk kelima kalinya, lelaki lajang yang sudah berpengalaman dengan puluhan perempuan dari berbagai negara itu menyatakan cintanya. Terakhir kali Osken mengungkapkan cinta pada perempuan asal Johanesburg berambut pirang. Lima belas tahun lalu. Cinta itu mati sebelum sempat bersemi. Sejak itu, baginya cinta adalah sekedar rasa suka sama suka karena sama-sama butuh kehangatan dan keintiman belaka. Setelah bertemu Laras, ibarat sungai yang arusnya deras dan menggelora, Osken menemukan muara. Ia ingin hanyut bersama riak-riak gelombang menuju kedalaman samudera cinta.

Osken ingat, suatu kali ia bertanya pada Laras tentang kesenderiannya yang begitu lama. Kalau belum mau menikah, paling tidak Laras bisa punya pacar. Menurut Laras lelaki Indonesia banyak yang tak punya nyali untuk menikahi janda mandiri dan kuat seperti dirinya. Selain itu, lelaki tengah baya yang berkualitas biasanya sudah beristri. Membesarkan dua anaknya dan berlindung dalam kehangatan kasih sayang kakak-adik dan orang taunya adalah cara yang dipilih Laras untuk bertahan sepeninggal suaminya.

Dari sana benih-benih kekaguman Osken pada Laras tertanam dan bertunas. Lelaki itu tak mampu mencegahnya. Osken tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia biarkan tunas itu bersemi menjadi kecambah. Bila tepat musimnya, kecambah itu pasti akan tumbuh dengan sendirinya. Namun bila kecambah itu menjadi kering dan mati, Osken bukan lelaki lemah yang suka menyesali diri.

“Hey….” Laras menggoyang tangannya yang berada dalam genggaman Osken.

“Maaf.” Osken tersenyum dan mengajak Laras meninggalkan ruangan yang mulai penuh dengan serombongan turis yang berceloteh dalam bahasa Jerman.

Berdua mereka bergandengan, turun pelan-pelan mengikuti tangga-tangga batu menuju danau. Kecipak riak air danau makin lama makin keras terdengar. Dengung dan derik serangga mendendangkan alunan tembang malam.

Sambil memeluk pundak Laras, Osken berpikir, kalau Laras bisa berselibat selama lima tahun, mengapa dirinya tidak bisa belajar untuk melakukannya juga.

*****

10 Comments to "Senja di Chao Phraya (6)"

  1. Djoko Paisan  27 January, 2011 at 23:49

    Mbak Edah….
    Teimakasih ya, untuk ceritanya yang bagus…
    Salam manis dari Mainz

  2. Endah Raharjo  27 January, 2011 at 22:47

    haduh! jadi deg-degan…
    salam semuanyaaaa… makasih kunjungannya…

  3. Lani  27 January, 2011 at 13:42

    KINE R: hari ini aku ketinggalan sepuuuuuuuuuuur………..krn gak aku dekemi sih………

  4. KIne Risty  27 January, 2011 at 13:33

    Mbak Endahhhhhhhhhh…Nice.. di tunggu lanjutanya

    @jeng Lani ..hahha no 1 pasti kamu ambil semuaaaaaaaaaaaaa

  5. Linda Cheang  27 January, 2011 at 12:02

    nyambung lagi

  6. Mawar09  27 January, 2011 at 11:57

    Endah: terima kasih ya!. Jadi makin penasaran nih, ditunggu ya lanjutannya.

  7. J C  27 January, 2011 at 10:47

    Endah, jalinan ceritanya makin menarik saja…

  8. Lani  27 January, 2011 at 10:45

    wadoooooooh……..ayo cepat ditunggu sambungane……..

  9. [email protected]  27 January, 2011 at 10:15

    Tanggung nih… hayooo lanjutkan…

  10. Lani  27 January, 2011 at 09:55

    satu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.