Lubang Hitam Menganga (2)

Tantripranash


Hidup berjalan terus. Hari-hari Salija diisi dengan kesibukan rumah tangga. Kadang-kadang di siang hari ia menjahit jala dan menjemur ikan yang sudah digarami. Jika pekerjaan selesai dan tak ada lagi yang dikerjakan di rumah, sering ia lari ke pantai sejenak. Duduk melamun menikmati ombak barang sebentar supaya bisa kembali ke rumah dengan lebih riang. Ombak yang bergulung-gulung itu telah membawa sebagian galaunya.

Galau yang dulu tak pernah dihiraukannya kini mulai terasa mengganggu. Terasa mengetuk-ngetuk kesadarannya karena jarak antara ia dan suaminya makin jauh membentang. Wakijan begitu sulit diraih, seperti berada di alam yang berbeda. Kadang-kadang Salija merasa dirinya juga tak ingin diraih. Ia lelah melompati jurang yang lebar menganga itu.

Malam sebelumnya mereka bertengkar hebat. Hanya soal sepele. Makanan kesukaan Wakijan yang dimasak istrinya sejak sore sama sekali tak disentuh, karena tiba-tiba tamu-tamu itu datang sebelum makan malam. Tumis genjer dan sambal oncom teri itu teronggok di dapur sampai pagi. Ini bukan kali pertama Wakijan memperlakukan Salija seperti itu, tetapi malam ini berbeda rasanya.

Lewat tengah malam Wakijan tiba, tapi tak terbuka pintu baginya. Wakijan memanggil lembut lama kelamaan berubah menjadi murka karena istrinya diam saja. Pintu kayu tua terbuka dengan sekali tendangan. Salija melompat dari ranjangnya.

(sumutpos)

Dasar pamajikan teu bener (Dasar kamu istri tak benar)!” Wakijan menunjuk-nunjuk wajah Salija dengan jari telunjuknya yang kurus.

Maneh, salaki nu teu bener! Ti mana wae akang teh? (Kamu suami yang tak benar! Darimana saja akang sih?).” Salija membalas tak mau kalah.

Gawe (kerja)!”

Gawe naon nepi ka tengah peuting kie (kerja apa sampai tengah malam begini)?” Salija mencibir.

Plak!!!

Makian kasarnya tak seberapa dibandingkan tamparan pedas itu. Cukuplah sudah. Bagi Salija ini bukan soal sayur genjer dan sambal oncom, ini adalah puncak bukit kekecewaannya.

Pagi harinya, Wakijan mondar mandir dalam rumah seperti tak terjadi apa-apa semalam. Salija menyalakan tungku dalam diam. Masih terus diam ketika Wakijan menyantap sarapan pagi seadanya.

Hampura nya Neng (maafkan ya Neng),” katanya singkat sambil menyendok nasi.

Cuma itu. Salija pun mengangguk dingin. Malam kemarin tak ada pintu terbuka untuk Wakijan tetapi mulai hari ini tak ada lagi pintu hati Salija yang terbuka untuk suaminya. Kesadaran Salija menyeruak, sesungguhnya mereka memang tidak saling memahami. Bulir-bulir kebencian mulai mengalir meletup-letup di urat nadinya. Meski fisik selalu dekat tetapi antar batin mereka semakin jauh.

Kesepian Salija lengkaplah sudah, apalagi anak yang ditunggu pun tak kunjung datang. Perutnya rata saja dari waktu ke waktu. Ia pun tak suka bergaul dengan sesamanya karena hanya membuang waktu bicarakan orang lain. Salija memang tak punya apa-apa, tapi harga diri masih tetap dimilikinya sebagaimana ayahnya mendidiknya sejak kecil. Jadilah perempuan yang bermartabat meski sekelilingmu adalah sekumpulan orang-orang dungu tak beretika.

Di dalam kesepian yang berbalut kekecewaan itu, kehadiran Leman menjadi begitu berarti. Leman sering ikut Wakijan melaut. Juga membantu-bantu apa saja bila diperlukan. Sering juga ia memergoki Leman dan suaminya berbicara berdua dengan suara pelan di teras rumah. Salija tak pernah ingin tahu apa yang dibicarakan, paling-paling hanya pembicaraan biasa antar lelaki.

Satu dua kali ia memberi makan siang sisa sayur untuk Leman. Saat itu suaminya sedang pergi ke pasar. Lelaki itu makan di dapur sambil duduk di samping tungku dan mereka hanya bicara basa-basi saja. Tanpa terasa hal itu menjadi suatu rutinitas yang terasa hilang bila tidak dijalani. Bahkan kini rasanya ia memasak bukan hanya untuk suaminya tetapi juga untuk Leman.

Leman memakan dengan lahap semua masakannya tanpa protes. Sebagai bujangan tentu ia bersyukur tak perlu susah-susah pergi ke warung. Awalnya memang hanya mengobrol biasa tapi lama kelamaan mereka telah berani saling bertatapan.

Tak pernah lagi Salija bertengkar dengan Wakijan. Hidup terasa makin datar. Kini Salija selalu bicara pendek-pendek tapi suaminya tak pernah protes. Wakijan pun seringkali menjawab dengan ujung bibir kiri terangkat ke atas.

*****

Hari itu Wakijan pergi pagi-pagi, katanya diminta membantu membetulkan perahu kawannya. Selesai memasak yang sederhana saja Salija duduk di depan tungku yang sudah tak lagi menyala. Saat itu masuklah Leman. Ia sudah berani masuk tanpa mengetuk pintu dulu.

“Lapar?” tanya Salija singkat. Pertanyaan yang tak perlu dijawab karena Leman tak pernah menolak diberi nasi.

Sambil memperhatikan Leman makan entah mengapa kali ini Salija tak dapat menahan mulutnya. Mulanya agak tersendat lama kelamaan deras juga kata-kata itu mengalir. Keluh kesahnya yang selama ini teronggok di sudut hati berhamburan menghujani Leman. Leman makan dalam diam. Sesekali mengangguk-angguk menanggapi Salija. Sewaktu piringnya sudah kosong segera bangkit ia hendak membawa piring ke sumur di belakang tanpa berkata-kata. Tak disangkanya Salija menghadang di depan pintu dapur.

“Jawab Leman, apa yang suamiku kerjakan dengan orang-orang kota itu?”

Tak jua mendapatkan jawaban, Salija menarik tangan Leman dengan kasar dan ditatapnya biji mata Leman bulat-bulat. “Bilang! …Ayo bilang!!” Suaranya bergetaran penuh emosi.

“Aku punya hak untuk tahu … aku istrinya…” Kali ini suaranya mulai melemah dan air mata berleleran di wajahnya.

Lelaki mana yang tahan menghadapi perempuan dengan air mata. Juga Leman si pemuda lajang itu yang seumur hidupnya tak pernah bersentuhan dengan dunia perempuan. Pertahanannya runtuh bukan oleh nafsu tetapi oleh karena penghargaan kepada perempuan di hadapannya itu, yang ia tahu sendirian dalam kesepiannya.

“Di Watu Badag. Akang selalu pergi ke sana sama tamunya,”cuma itu yang sanggup Leman katakan.

Karena ketidakmengertiannya juga yang membuat Salija kemudian berlari ke tengah rumah. Lemari penyimpanan Wakijan menjadi tujuannya. Kuncinya masih ada di tempat yang sama, di atas lemari di bawah lipatan Koran. Salija gemetar menatap lempengan-lempengan kecil kemenyan yang dikenal orang kampung sebagai kemenyan jin dalam tas keresek hitam itu.

(bersambung …)


14 Comments to "Lubang Hitam Menganga (2)"

  1. tantripranash  29 January, 2011 at 21:36

    Dear all : terima kasih sdh mampir dan berkomentar. Tunggu lanjutannya yaa (bagian 3 – tamat) mudah2an dapat tempat setelah CNY sebab saya juga mau keliling2 dulu menikmati kemeriahannya

  2. Lani  29 January, 2011 at 01:58

    akiiiiiiiiiiiiiiii…………komen no 9………kok njurrrrrrrr ber-kaok2 melung2 ngundang2 sing nang KONA??????? la dikau wes pinter tenan je le gawe parikan………aku rak sah nambahi…..neruske……..wis se7777777777 waelah………karo manthuk2……..monggo silahken buto disekecak-aken kemawon………….aku tak nyawang wae kali ini

  3. Lani  29 January, 2011 at 01:56

    JC : akiiiiiiiiii…….knp ya kuperhatikan dikau, akhir2 ini sll ngangeni daku????? biar kau katakan gemblunk-lah……..sudrun-lah……..super duper edyaaaaaaaan………tp kok ya msh saja disenggol-senggol……..disemoni…….dirasani………..dicari-cari……..hehehe………….mbok ngaku waelah………nek kowe sak-jane tresno banget karo wong gemblunk sing nang KONA wakakakak…………nulis karo njungkir walik saking geli binti kemekelen………….anjritttttttttttt!

  4. J C  28 January, 2011 at 20:23

    Akan terjadi hal-hal yang diinginkan di antara mereka berdua…

    *sambil tingak-tinguk nyari si Gemblung van Kona…terus kabuuuurrrr*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.