Perjalanan ke Marrakech

Gisela


Bulan Juli kemarin saya dan suami berkesempatan mengunjungi Marrakech yang merupakan salah satu kota besar di Morocco.

Setelah menempuh 3,5 jam penerbangan tibalah kami di Menara aiport. Setelah melewati imigrasi (oh ya, untuk WNI tidak perlu visa) kami menuju money changer untuk menukarkan uang di teruskan ke bagian information untuk menanyakan arah menuju
hotel.

Mereka menyarankan untuk naik bus karena kebetulan bus itu melewati hotel kami yang berada di pusat kota. Matahari sangat terik dengan temperature 40 derajat Celsius di ikuti angin sejuk sepoi membelai kulit ketika kami keluar dari airport.

Kami bergegas menuju bus yang menunggu di ujung jalan. Bus yang lumayan bersih dan luas hanya terisi 6 penumpang di situ. Kami memilih kursi paling depan menikmati sepanjang  perjalanan menuju hotel.

Supir bus memberitahu kami untuk turun di halte dan menunjukan arah menuju hotel kami.

Hari pertama kami lewati dengan mengelilingi sekitar hotel dilanjutkan dengan menyantap makan malam di restaurant khas Marrakech di sebelah hotel. Keesokan harinya kami mengunjugi Jardin Majorelle (Majorelle Garden), kebun ini dulunya di miliki oleh Yves Saint Laurent, biaya masuk 30 Dirham.

Kebun yang asri dengan banyak tumbuhan kaktus dan di salah satu sudut kebun di tanami pohon bambu yang rimbun, kontras sekali dengan di luar yang gersang dan panas.

Suasana di pusat kota, masih banyak di gunakan keledai sebagai alat angkut.

Hari ke tiga, kami mengunjungi Djemaa El-Fna (Traditional market), lapangan luas yang dikelilingi restaurant, toko toko, di tengah lapangan itu banyak di jumpai atraksi ular, penjual obat, permainan berhadiah, gerai souvenir, penjual minuman orange jus yang hanya di bandrol 3 dirham, tapi hati hati bagi mereka yang mempunyai perut sensitive, suamiku kena diare cukup parah gara gara minum orange jus itu.

Menjelang sore pasar ini juga di penuhi oleh penjual sea food. Oh iya, jangan lupa mencoba makanan khas Morocco, enak sekali apalagi beef yang di kukus dengan kurma, olive, kismis (sayang saya tidak mencatat nama menunya).

Satu lagi jangan lupa memberikan tip setiap memasuki restaurant kalau tidak mereka tidak akan segan segan meminta.

Kebetulan pada hari itu ada Marrakech Festival yang menampilkan tarian dan baju traditional dari masing-masing daerah. Sepanjang jalan kota tua di penuhi oleh warga yang menonton festival itu, pakaian warna warni dengan tarian yang dibawakan oleh pria dan wanita diiringi music meramaikan suasana.

Hari berikutnya, kami mengikuti tour dari hotel menuju Atlas mountain, di situ kami diajak melihat kehidupan sehari-hari orang Berber, sepanjang perjalanan menuju ke atas banyak dijumpai gerombolan unta unta disewakan siap untuk di tunggangi.

Sesampai di atas kami menikmati makan siang di pinggir sungai dan dilanjutkan dengan mendaki gunung menuju waterfall di pandu oleh Ahmed. Sebenarnya saya tidak ingin ikut dikarenakan suami kena diare tapi suami bersikeras untuk ikut.

Perjalanan lumayan jauh mendaki batu batuan besar, di sisi jalan tebing curam. Ahmed berlari melompat lincah di antara bebatuan dan sesekali membantu kami melewati tebing yang curam. Setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih tiba juga kami di air terjun, sebenarnya air terjun ini biasa saja tidak ada yang istimewa tapi yang paling membuat kami terkesan karena keramaiannya yang luar biasa padahal perjalanan mendaki gunung juga tidak mudah loh.

Tidak hanya turis tapi banyak sekali orang local yang memadati lokasi ini. Kami harus antri satu persatu dan bergantian untuk menikmati air dingin yang mengalir dari air terjun.

Sebagian dari mereka berenang atau berendam di bawah air terjun.

Hari ke empat setelah sarapan pagi kami berjalan kaki menuju old medina, di sekitar kota tua itu banyak terdapat objek wisata, kami memutuskan untuk mencari sendiri Dar Si Said Museum (Sahara Desert), mencari museum ini penuh perjuangan, jarang sekali petunjuk jalan sehingga kami harus berputar putar di jalan sempit dalam kota tua selama kurang lebih 2 jam, dan diperparah lagi mereka tidak bisa berbahasa Inggris (lebih fasih bahasa Prancis yang adalah bahasa kedua mereka) sehingga menyulitkan untuk bertanya, bermodal peta ala kadarnya kami menelusuri jalan sempit itu tiba jugalah kami di museum itu, tidak banyak di lihat di museum itu, mereka menceritakan kehidupan orang gurun pada masa lampau.

Kemudian kami melanjutkan ke El Badi Palace dengan taxi setelah menyerah berputar-putar tidak menemukan alamat itu, padahal jarak dari Dar Si Said tidaklah jauh menuju El Badi Palace. Setelah membayar tiket kami memasuki area istana yang merupakan reruntuhan bekas istana. dari atas menara itu kita bisa melihat Old Medina atau kota tua dengan atapnya yang khas berwarna orange.

Bagian depan istana yang luas sepertinya sudah di renovasi, di bagian belakang dibiarkan seperti apa adanya. Bisa dibayangkan megah dan besarnya istana ini di lihat dari bekas pondasi. Di sisi lain kami memasuki terowongan yang sepertinya bekas penjara.

Selesai sudah liburan kami selama 4 hari di Marrakech yang unik dengan segala ciri khasnya.

15 Comments to "Perjalanan ke Marrakech"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  1 February, 2011 at 20:48

    Gisela, kalau ke Casablanca, bilang-bilang ya? Kita bisa ketemuan. Kebetulan saya tinggal di Mampang Prapatan, nggak jauh dr Casablanca. OK?

  2. Adhe  1 February, 2011 at 20:06

    Gisela thanks ya sharing kisahnya ke Marrakesh, comment no.11…..hahaha, bisaaa aja nie Om ISK.

  3. Linda Cheang  1 February, 2011 at 11:15

    ya, kalo acara jalan-jalan, mah, dibawa asyik ajah.

  4. Mawar09  1 February, 2011 at 00:36

    Gisela: terima kasih ya artikel jalan2 ke Morocco nya. Asyik juga ya…… kasihan banget suami kena diare, apa karena gelas juicenya ngga bersih atau juicenya terkontaminasi? Jalan2 paling tidak seru kalau ada yg sakit. Salam!

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  31 January, 2011 at 22:34

    Kalau Spanyol itu ibarat Bali, maka Maroko adalah Lombok.

    Tapi saya tak suka negara Maroko. Walau saya perokok, saya suka satu negara meroko semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.