Randu Alas

Sanie B. Kuncoro


KAU terbangun pagi itu oleh nada dering telepon yang seolah memanggilmu dengan tergesa. Matamu belum sepenuhnya terbuka, masih terperangkap kantuk yang belum ingin melepaskanmu.

Wuk [1], apakah pulang pekan ini?” Itu suara bulikmu. Bernada tanya sekaligus menyimpan perintah di sebaliknya, yang biasanya tidak memberikan peluang bagimu untuk membantah apalagi menolak.

“Ada apa, Bulik?”

“Ada yang penting. Kita harus memindahkan makam eyang putri dan ibumu. Ini perintah dari kepala desa.”

“Apa?” Kau terkejut. “Mengapa?”

“Kampung itu memerlukan balai pertemuan umum. Lokasi terpilih adalah tempat tumbuh pohon besar di dekat pemakaman desa. Ingat pohon itu? Randu alas. Nah, makam Yangti dan ibumu adalah yang terdekat dengan akar-akar pohon itu, maka harus dipindahkan.”

Seketika itu juga kau terbangun dari tilam. Rasa ngantuk tak berdaya menjeratmu lagi.

“Pohon itu, randu alas….”

“Ya, pohon yang besar dan tinggi sekali itu akan segera ditebang dalam waktu dekat ini,” Bulik melanjutkan kalimatmu yang patah. “Mungkin satu atau dua bulan lagi. Maka pulanglah, untuk mencari hari baik pemindahan makam.”

Selanjutnya tak lagi kau dengar sepenuhnya kata-kata Bulik. Kau hanya diam merenung pada tilammu entah untuk berapa lama. Selepas subuh yang berembun itu, kau dapati hatimu patah. Dan cahaya matahari yang redup pagi itu, menampakkan padamu patahan hati yang berserak di berbagai penjuru mata angin.

***

Di pelataran itu kau berdiri. Kuntum-kuntum bunga yang kelopaknya mulai layu, berserak menyentuh telapak kakimu yang telanjang tak berkasut. Kau pungut salah satu di antaranya. Belum layu bunga itu. Lima lembar kelopaknya masih utuh, rapi saling menumpuk melingkar serupa piring berceruk. Berwarna merah kesumba, sama seperti merah yang kau temukan pada masa kanak-kanakmu yang dahulu itu.

Beberapa jarak darimu, sebatang pohon berdiri menjulang tinggi. Kepalamu harus tengadah maksimal demi merengkuh seutuhnya dalam tatapan matamu, ujung-ujung ranting yang menjulur sedemikian rupa ke berbagai mata angin. Daripadanyalah bunga-bunga yang berserak gugur itu berasal. Randu alas.

Berapa lama tak kau kunjungi pohon itu hingga sedekat ini? Entahlah. Tak pernah kau berpikir untuk menghitung waktu yang terlalui itu, yang senantiasa bergerak menjauh pergi, meninggalkan hitungan-hitungan yang seolah terjejak pada standarisasi usia, kerutan pada kulit wajah dan warna rambut yang berubah. Sementara merah kesumba pada bunga, hijau daun dan cokelat kulit batang pohon randu alas itu masihlah warna yang dahulu.

Tiada pernah pohon itu menghilang dari ingatanmu. Dirimu menyimpan utuh setiap bagiannya. Bermula dari umbi akar yang berlekuk sepupa geliat otot raksasa, membentuk cerukan yang dulu menjadi tempat persembunyianmu dalam permainan jelungan [2]. Lalu batang pohon yang senantiasa tegap tanpa gerak sejak pertama kali tangan kecilmu merambatinya. Dan juluran ranting-rantingnya yang kerap kali bergerak lembut searah angin, seolah memanggilmu dari kejauhan sekaligus memandu langkahmu menuju pulang.

Kau selalu ingat, pada musim penghujan daun-daunnya tumbuh sedemikian rimbun, menutup setiap batang ranting serupa rabut kribo yang bergerombol. Saat kemudian datang kemarau, satu persatu helai-helai daun itu akan beranjak menjadi kuning layu, untuk kemudian gugur perlahan melepaskan diri dari ranting penumbuhnya. Di kemudian masa, dari pelajaran biologi di sekolah dasar, kau  mengerti bahwa gugurnya daun-daun itu adalah demi memberikan peluang tumbuh pada putik bunga yang sedang memulai masa awal tumbuhnya.

Pohon itu memberimu sebuah pelajaran. Daripadanya kau belajar bahwa proses gugur daun itu tidak hanya sebagai penanda musim belaka, melainkan pemahaman tentang arti saling berbagi waktu dan kepentingan demi menjalin kesinambungan kehidupan. Memberi peluang bagi satu sama lain, masing-masing tumbuh menelusuri jalur perjalanan sesuai garis alam hingga hidup terus berlanjut.

Di musim kemarau hujan tak lagi datang, ketiadaan air tanah makin terbatas, sementara matahari kemarau justru memaksimalkan penguapan pada setiap helai daun. Sementara putik-putik bunga itu serupa bayi pembawa gairah hidup yang harus tetap tumbuh, maka daun-daun memilih mengugurkan diri, demi supaya air tetap terbagi hingga bunga-bunga itu mekar pada waktunya.

Selalu datang musim mekar itu. Puncaknya adalah ketika daun-daun telah nyaris gugur seluruhnya. Tak ada lagi gerumbul kribo hijau pada ranting-rantingnya, melainkan kelopak-kelopak merah kesumba….

Kuntum-kuntum itu hanya mekar dalam hitungan hari, untuk kemudian berjatuhan demi giliran mekar putik bunga yang berikutnya. Jatuh bunga-bunga itu di segala penjuru tanah pekuburan tempatnya tumbuh, seolah menaburi setiap nisan. Pada musim itulah, pekuburan itu seolah terdatangi seribu peziarah, yang menaburkan kelopak merah kesumba kembang randu alas.

Selalu kau ingat musim itu. Karena kelopak merah kesumba itulah yang menjadi pandu langkahmu menuju rumah. Entah di arah mana kau berada, menatap pohon itu dari kejauhan, akan senantiasa meyakinkanmu bahwa kau tidak akan tersesat menelusuri setiap kelokan di sepanjang perjalanan menuju rumah.

***

Di sinilah kau sekarang. Di pelataran tanah pekuburan berpagar bata merah sebatas panggul, yang adalah tempat bermainmu di masa kecil dahulu. Tepat di tengahnya pohon randu alas itu tumbuh. Memberi ruang persembunyian dan keteduhan pada masa-masa bermain para anak.

Jauh sudah masa bermain itu kau tinggalkan. Namun tak akan kau lepaskan randu alas itu dari ingatan, juga dari hatimu. Sungguh tidak. Karena padanyalah masa lalumu tersimpan seutuhnya. Tidak hanya dirimu, melainkan juga sejarah teman-teman bermainmu. Tak tertingal pula kenangan yang terbawa oleh para peziarah, yang datang dan pergi tak berjejak.

Kau terlahir seolah tanpa orang tua. Tak a a ibu, apalagi ayah yang berjaga untukmu di masa awal langkah kehidupan. Hanya seorang nenek mengawal pertumbuhanmu ketika itu, yang mengajarkanmu melafalkan “eyang putri” sebagai kata pertamamu. Patahan kata yang terlalu panjang untuk lidah mudamu. Kau hanya sanggup menjadikannya sebagai panggilan pendek “Yangti”, yang diterima nenekmu dengan pemakluman yang sumringah.

Nenek mengawal pertumbuhnamu, tidak untuk menjadikanmu sebagai perempuan yang menyerah diri kepada takdir dengan percuma.

“Jangan bertanya atau mencari ayahmu,” begitu pesan Yangti suatu kali saat mengantarmu berziarah pada pusara ibu.

“Bukan sebagai pembalasan karena dia juga tidak pernah bertanya dan mencarimu. Lebih karena dia tak patut menjadi akarmu.”

Kala itu kau tak sepenuhnya mengerti arti pesan tersirat, tapi kau tahu bahwa mengangguk adalah pilihan yang tepat untukmu.

“Tanpa mengenal ayahmu, kau justru akan terbebas dari beban warisan sejarah yang tak perlu. Tradisi keturunannya tak akan mengikatmu. Kau hanya akan mewarisi trah dan darahku.”

Lagi kau mengangguk.

Nenek menjalankan apa yang diiinginkannya. Di usia dini, canting dan peralatan batik serta ragam polahnya seolah adalah bagian dari dolananmu.

“Ibumu adalah pembatik yang terampil. Setiap canting seolah takluk pada keluwesan tangannya. Batikannya rapi nyaris tanpa cacat,” begitu Yangti berbisik sembari menuntun jemarimu menggerakkan canting menelusuri pola batik yang tergambar pada mori. Seringkali cairan hangat pada rongga canting itu menetes, menyisakan lepuh yang perih pada kulit mudamu.

“Akan diwariskannya keluwesan itu padamu. Tak akan ada canting yang memberontak pada taklukan jemarimu,” lagi Yangti berbisik, menghentikan keluhanmu.

“Dariku akan kau warisi penciptaan corak,” kini nenek menuntun tanganmu memegang pensil, menggambar pola batik pada perca-perca mori tersisa. Garis lengkung, motif geometris, sulur menjalar, kelopak bunga dan beragam corak yang tak sepenuhnya kau pahami ketika itu.

“Maka suatu hari akan kau temukan corak batikmu sendiri.”

Demikianlah Yangti memberimu sebuah tradisi dan talenta untuk menjadi seorang penerus. Sungguh kau tak tahu gerangan apa yang akan menjadi pola batikmu nanti. Dan apakah kau menginginkan “warisan” itu? Sungguh kau tak tahu.

Usiamu begitu dini ketika itu. Canting, mori, dan ragam pola-pola itu seringkali memberimu siksaan yang seolah tak tertanggungkan. Saat teman-teman sepantaran usiamu boleh bermain seharian, maka batas waktumu ikut bergabung hanyalah separuhnya. Saat tengah hari, selepas makan siang, canting dan mori adalah temanmu selanjutnya.

Celoteh canda dan gerak permainan teman-temanmu kau simak dari kejauhan di balik jendela. Acapkali mereka memanggilmu. Tanpa melihat kau tahu, mereka sedang berada di bawah rindang randu alas. Duduk dan bersandar pada akar-akarnya yang kekar, atau memanjati dahan-dahannya yang menjuntai perkasa.

Setiap kali kau ingin bergabung, seolah juluran akar dan dahan-dahan itu menarikmu untuk mendekat. Suara gemerisik daun-daunnya seolah menggapai memanggilmu. Kau selalu tergoda, tapi asap tipis yang melayang lembut dari canting yang ditiup Yangti, menebarkan aroma khas yang seolah mengawang sesaat lalu mengendap, seolah menyentuhmu perlahan sembari mengingatkan untuk tetap menekuni lembaran mori di hadapanmu.

Maka, pensilmu harus terus bergerak, seolah menenangkan pemberontakan kecilmu. Bukan motif parang, truntum atau kawung yang terwujud kemudian. Yang tergaris pada morimu adalah juluran geliat akar randu alas. Pohon itulah yang memanggil dan mengikat hatimu.

Akar lung-lungan, akar yang saling mengulurkan membentuk keterkaitan satu sama lain. Demikianlah Yangti menamai corak itu. Terpaten kemudian pola itu atas namamu. Itulah batikmu. Akar lung-lungan.

***

Kaki telanjangmu melangkah. Di pusara Yangti dan ibu kau berhenti. Juluran akar randu alas menyentuh ujung jarimu. Ah, apakah jejulur akar itu menyentuh pula Yangti dan ibu di kedalaman? Kau letakkan pertanyaanmu sembari membersihkan pusara. Lalu kau taburkan bunga melati, kuntum putihnya berpadu dengan merah kesumba kembang randu alas.

Terhela nafasmu kemudian. Kau tidak sedang berpikir tentang pencarian hari baik demi pemindahan makam. Kau sangat yakin bahwa Yangti dan ibu akan tetap tenang dan ikhlas di mana pun sisa raga mereka di pusarakan. Bahkan juga andai harus diperabukan. Kau tahu bahwa mereka berdua telah mencapai nilai-nilai yang lebih dari sekadar penempatan fana belaka.

Kau lebih berpikir tentang randu alas. Telah berpuluh tahun pohon itu menjadi akar bagi kampung itu. Padanyalah tersimpan kenangan silam yang telah menjadi sejarah abadi sebuah kampung. Rindang daunnya meneduhkan tanpa pamrih. Taburan tangannya adalah peziarah yang setia, bahkan bagi nisan yang seolah tak lagi bernama dan terabaikan.

Akankah pohon itu menyerah dan berakhir demi sebuah balai pertemuan?

Tepat saat kau memilih jawab pertanyaan itu, satu kelopak randu alas melayang menyentuh pundakmu, untuk kemudian bergulir jatuh di ujung kaki.

***

Bapak Wali Kampung itu menatapmu dengan mata bertanya. Kau mengangguk meyakinkan.

“Luas tanah ini kiranya memadai sebagai balai pertemuan, lokasinya pas di tepi jalan besar,” katamu. Kau ulurkan makin dekat buku sertifikat tanah kepadanya.

“Selama ini terpakai sebagai rumah pembuatan batik, akan saya kosongkan dengan segera sesudah tukar guling ini disepakati pihat terkait. Bagaimana?”

“Apakah niat ini sunguh-sungguh?” Wali Kampung itu seolah meragukanmu.

Kau mengangguk.

“Akan segera saya adakan rapat untuk membahas hal ini. Kalau terealisasi nanti, saya kira istilah yang lebih tepat bukanlah tukar guling, melainkan tukar pohon,” kata Wali Kampung itu kemudian.

Sak karepe [3],” katamu tanpa suara.

Demikianlah. Suatu kali kau belajar tentang kehidupan dari pohon itu, kini tak hendak kau buang pelajaran itu.

Seperti daun-daun randu alas rela gugur demi berseminya kelopak bunga merah kesumba, demikianlah kau memilih kehilangan tanah lokasi rumah batikmu demi supaya randu alas itu tetap tumbuh di mana dia berakar. Kau tahu bahwa kau lebih sanggup kehilangan hartamu, yang kau yakini datang dan pergi tanpa kekekalan, ketimbang kampung itu beserta sejarahnya kehilangan akar tumbuhnya. Demikian pula kau tak sanggup kehilangan akar dirimu.

Randa alas itulah akar kampung tumbuhmu, juga dirimu. (*)

*Bersama ini sebatang pohon Randu Alas mengucapkan terima kasih kepada Pak Jokowi, wali kota kami di Solo.


Keterangan:

[1] Wuk: panggilan untuk anak perempuan

[2] Jelungan: petak umpet

[3] Sak karepe: terserah


Cerpen ini dimuat koran JAWA POS minggu 23 Januari 2011

(Bersama ini sebatang pohon Randu Alas mengucapkan terima kasih kepada Pak Jokowi, wali kota kami di Solo)


17 Comments to "Randu Alas"

  1. Dewi Aichi  9 July, 2011 at 21:22

    Semangat ya mba Sannie….cepat sembuh…doa kami semua untuk mba Sannie….di sini ada iu Ida , sudah mengajar lagi, sudah menerbitkan cerpen cerpen bahakan novel novelnya terbit dalam waktu berdekatan…pokoknya cepat sembuh untuk mba Sannie..!

    mba Sannie tinggal di Solo nih..

  2. Dewi Aichi  5 July, 2011 at 09:33

    Bisa di copy paste ke artikel lain biar infonya sampai, thank you, aku sudah waktunya tidur..

  3. Dewi Aichi  5 July, 2011 at 09:30

    Mba Sanie B Kuncoro saat ini sedang dalam penyembuhan sakitnya yaitu kanker payudara, bagi teman teman yang diJakarta, di Indonesia, jika bisa membeli majalah Femina, edisi 7 Juli Minggu ini, ada bonus cerpen cerpen karya Kurnia Effendi, Sanie, dan teman teman, untuk mendukung kesembuhan Sanie B Kuncoro.

  4. Lani  3 May, 2011 at 02:59

    NOVITA………makanya jgn ndekem digua trs……..ternyata disini kamu ketemu salah satu penulis handal favoritemu to……hayooooooo ikutan nulis, aku tau kamu punya crita sak-ambreg2………dr SLOVENIA……..bagikan disini ya………ditunggu oleh semua member BALTYRA lo…………

  5. Novita  3 May, 2011 at 02:09

    Hampir keluar biji mata saya melihat di daftar penulis ada nama Sanie B. Kuncoro. Anda adalah salah satu penulis favorit saya jaman Anita cemerlang. Sangat bersyukur menemukan anda disini. Baltyra memang top banged. Trima kasih buat admin dan salam kenal buat Sanie B. Kuncoro. Cerpen2 dan tulisan2 anda selalu sempuna.

    Salam manis dari Slovenia,
    Novita

  6. Linda Cheang  1 February, 2011 at 16:11

    jadi kepingin punya isi bantal dari randu.

  7. Mawar09  1 February, 2011 at 00:32

    Cerpen yg bagus!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.