Negeri Laskar Pelangi (2 – Tamat)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung


Minggu, 26 Desember 2010, hari kedua

Pukul. 7.30 wib kami sudah siap sedia melanjutkan perjalanan ke Belitung Barat, yang lokasinya tidak jauh dari kota Tanjung Pandan. Pak Buyung datang agak telat, alasan beliau karena jarak yang relatif lebih dekat sehingga tidak perlu pergi terlalu pagi. Ok deh pak Buyung…..beliau yang lebih faham kondisi di lapangan, kami diberi sarapan nasi tim oleh pihak penginapan, enak juga.

Pantai Bukit Berahu, Tanjung Binga

Rute pertama yang kami lalui adalah Tanjung Binga, berdasarkan itinerary yang aku pegang, ada disebut Bukit Berahu yang tidak boleh kami lewatkan. Pak Buyung membelokkan mobil ke arah kiri jalan memasuki kawasan privat Bukit Berahu Cottages. Sepertinya ini bukan lokasi liburan untuk umum? Karena akses masuk dijaga pegawai cottages. Pak Buyung sedikit bernegosiasi ke penjaga pintu masuk, bahwa rombongan kami hanya melihat-lihat pantai Bukit Berahu sebentar saja, sambil memberi tips masuk Rp. 10.000/mobil, kami memasuki kawasan Bukit Berahu.

Jujur kuakui kawasan “Bukit Berahu Cottages” sangat cocok buat honeymoon, hmm….suasananya romantis dan lumayan sepi. Untuk mencapai pantai, kami harus menuruni bukit melalui anak tangga yang lumayan curam, kebayang naiknya nanti agak pegel, bagiku kalau kita mau jalan-jalan harus siap resiko capek, hehe…

Undakan tangga di Bukit Berahu, Tanjung Binga


Bukit Berahu Cottages @Tanjung Binga

Pantai Bukit Berahu…sepi…

Pantainya berpasir putih dan dipenuhi bebatuan, kami berfoto-foto sejenak. Aku memperhatikan deretan cottages bergaya tradisional rumah kayu dengan tampilan cukup cozy, bener-bener cocok buat para Pengantin Baru maupun Pengantin Lawas yang mau berhoneymoon kembali hehe. Tidak perlu berlama-lama di sini, kami segera mengarahkan tujuan ke pantai tanjung Tinggi.

Pantai Tanjung Tinggi

Melalui desa nelayan di Tanjung Binga kami menuju ke lokasi pantai Tanjung Tinggi yang sangat terkenal ke seantero negeri, karena syuting film LP dilakukan di sini. Aku sempat berkhayal…seandainya ada wisata edukasi tentang pembuatan ikan asin, hihi….tentu menarik juga ya, seperti wisata budi daya rumput laut (seaweet tour) di Nusa Lembongan. Aku sempat melihat seorang turis asing berfoto di depan rumah tradisional khas Belitong, nice pic sir!

Plang lokasi syuting film Laskar Pelangi @Tanjung Tinggi Beach


Pantai Tanjung Tinggi

Tibalah kami di lokasi pantai Tanjung Tinggi, pandangan mataku langsung tertuju ke bongkahan batu-batu berukuran raksasa, yang teronggok di tepi pantai. Menakjubkan…..ada papan yang bertuliskan “Lokasi syuting film Laskar Pelangi”, foto dulu ah…. anak-anakku langsung berlarian ke tepi pantai.

Aku langsung naik ke salah satu batu besar dan duduk di atasnya sambil memperhatikan anak-anakku dan para keponakanku bermain air dan berenang, happy banget, sedang 2 keponakanku yang lainnya sibuk hunting lokasi untuk mendapatkan angel yang apik melalui lensa camera mereka. Siip deeh ntar aku tinggal di share foto-foto cantiknya, melirik ke belakangku ada satu rombongan keluarga yang sedang asyik makan bersama (piknik keluarga judulnya), gelar tiker dan buka rantang makanan mereka, ya ampuuun….koq aku jadi pengen makan juga yaa hihihi….

Piknik keluarga, sambil makan di atas bebatuan

Angin sepoi-sepoi bertiup menerpa tubuhku, waduuh….koq jadi ngantuk nie mata, gawat bener nie, mana mungkin aku tidur diatas batu besar ini, yang ada bisa menggelinding ke bawah. Akhirnya aku turun ke bawah, my kids minta dibelikan air degan. Selepas main air bawaannya haus. Aku sempat ditunjukkan sisi lain dari pantai Tanjung Tinggi, yang lebih ramai dan tidak terhalang batu-batu besar, hanya agak mengkhawatirkan debur ombaknya yang lumayan kuat dan besar. Sedang pantai yang terhalang batu-batu besar lebih aman menurutku. Debur ombak lumayan tenang terhalang batu-batu besar yang ada.

Tukang Rujak dan gerobaknya lebih gaya dengan motor

Siang hari cuaca cukup terik, aku melihat ada gerobak rujak, wah enak nie…mba Titi sudah memesan beberapa porsi, aku langsung ikut nimbrung. Makan rujak itu dimana-mana enak yaa….Rp.10.000,-/porsi. Setelah cukup puas bermain air di pantai Tanjung Tinggi, kami melanjutkan explore pantai Tanjung Kelayang.

Pantai Tanjung Kelayang

Lokasinya agak berdampingan dengan pantai Tanjung Tinggi, menurutku pasir di pantai Tanjung Kelayang lebih putih dan halus. Kami memutuskan makan siang di Lokasi ini, lagi-lagi pak Buyung tidak bisa merekomendasikan warung makan yang bisa kami kunjungi. Maklum banyak deretan warung makan di sana. Tetap cara pantau sederhana aku pakai, lihat warung yang banyak dipenuhi mobil dan kendaraan bermotor di depannya. Akhirnya kami masuk ke warung “Nyiur Melambai”. Kami langsung memilih posisi meja yang langsung bersisian dengan pantai. Jadi bisa sekalian mengawasi anak-anak main air dan pasir.

Bermain Pasir di Tanjung Kelayang beach


Pantai Tanjung Kelayang yang menawan

Aku melihat ada serombongan turis domestik yang baru turun dari perahu nelayan, lengkap dengan peralatan snorkling, aku bertanya dengan salah seorang ibu yang ikut dalam rombongan itu, “Bagus bu dasar lautnya?”, “Nggak terlihat, butek mungkin karena tadi ada hujan, jadi kami hanya berenang di Pulau yang terdekat,” ibu itu menjawab tanpa menjelaskan di pulau mana dia berlabuh.

Menurut pengakuannya, rombongannya tidak lama berada di pulau karena cuaca hujan sehingga membuat mereka memutuskan untuk segera pulang. Ada oleh-oleh Bintang Laut yang mereka bawa sambil ditunjukkan ke kami, anak-anakku langsung berteriak “Itu Patrick !” hehehe….temannya Sponge Bob.

Makan siang kami siang itu benar-benar mantabs! lagi-lagi sayur Gangan kakap, ikan Kakap Bakar, Udang Goreng, Cumi Goreng dan Cah kangkung teteup…aku sempat mengintip dapur Nyiur Melambai, wuaah penuh asaap hihi…mereka memasak masih menggunakan kayu bakar. Pantas rasanya beda….lebih enak menurutku, berasa asapnya hahahaha….

Makan siang yang mantabss rasanya!

Udara hari itu berasa tidak menentu, kadang hujan sebentar trus panas lagi…selang seling tidak jelas. Para keponakanku yang semuanya anak-anak kuliahan, meminta untuk naik perahu menyebrang menuju ke Pulau Lengkuas, yang ada mercusuar nya. Aku masih berpikir, cuaca yang tidak menentu agak mengkhawatirkan juga, tapi melihat semangat para keponakanku, serta anak-anakku yang juga mensupport kakak-kakak sepupunya, membuat mba Titi dan aku, menyerah untuk ikut menemani mereka berperahu menuju ke Pulau Lengkuas.

Sedang para bapak, suamiku dan suami mba Titi memutuskan tetap menunggu kami di warung Nyiur Melambai. Sewa kapal menuju ke pulau seharga Rp.350.000/PP, sewa pelampung beda lagi, Rp.20.000/Pelampung. Lumayanlah….ongkosnya, tapi pengalaman yang didapat benar-benar membuat kami merasakan “Adrenalin Boating Tour”…..berasa rafting di lautan, hihihi…seru campur takut!


Pulau Kepayang (Pulau Babi Besar)

Sebenarnya tujuan kami yang sebenarnya adalah menuju ke Pulau Lengkuas, dengan harapan kami akan mendapat objek yang apik buat dibidik oleh Ambang dan Dhika, keponakanku yang hobby Photografi. Kapal yang kami naiki hanyalah kapal nelayan kecil yang tidak terlalu besar, kesannya agak ringkih, aku hanya berpikir semoga perjalanan kami cukup aman dengan kapal ini menyebrangi laut yang agak berombak.

Terbayang olehku, seandainya ada Catamaran Boat yang besar tentu perjalanan ke Pulau Lengkuas akan nyaman sekali. Mudah-mudahan kedepan fasilitas kapal-kapal untuk berlayar ke Pulau-pulau nan indah di Belitong akan semakin baik. Sebenarnya jika udara bersahabat, menurut ramalan cuaca, paling baik ke pulau-pulau itu antara bulan April s/d Agustus, cuaca cerah dan airnya jernih seperti air danau, istilah nelayan setempat untuk menyebut air yang tenang.

Kembali ke pengalamanku menaiki kapal nelayan, aku dan mba Titi duduk dibagian tengah perahu, sedang anak-anakku duduk di depan dan bagian belakang bersama para keponakanku yang lain. Awalnya perjalanan cukup lancar, ombak tidak besar agak tenang. Kira-kira 10 menit berperahu, my Mirza yang awalnya duduk dibagian depan tiba-tiba mundur ke belakang, memilih duduk disampingku, dia diam dan ada sedikit raut takut diwajahnya.

Aku merasakan my Mirza memiliki firasat yang kurang baik, tapi mengingat usianya masih 8 tahun, dia tidak bisa mengekspresikan ketakutannya secara verbal. Hanya mimik mukanya yang bisa menjelaskan apa yang dirasakannya. Aku mendekap Mirza, mencoba menenangkannya, walau dia diam seribu bahasa, aku bisa merasakan kekhawatirannya. Perjalanan baru menempuh 1/3 perjalanan, saat perahu kami mulai merasakan goncangan serta terpaan ombak yang cukup besar. Iyang, keponakanku yang duduk di bagian depan perahu tiba-tiba terpental ke belakang, tiba-tiba ombak besar menghantam perahu yang kami tumpangi.

Perahu seperti tersedot ke dalam air, aku hanya bisa berdo’a dalam hati sambil mendekap erat my Mirza, semoga tidak ada yang terpental ke laut, dzikir ku dalam hati terus kupanjatkan memohon keselamatan dari-NYA. Rasanya seperti mengikuti rafting/arung jeram ditengah laut, naik dan turunnya perahu menimbulkan sensasi goncangan yang menaikkan adrenalin darah. Menantang sekaligus menakutkan….untuk menghalau rasa takut itu, para keponakanku bersama my Hakim justru berteriak-teriak riuh, saat perahu kami dihempas gelombang.

Nelayan yang menakhodai perahu berteriak dari belakang memberitahu kami, bahwa cuaca tidak memungkinkan perahu kami menuju ke Pulau Lengkuas, pak nelayan menganjurkan kami mengalihkan perahu ke Pulau Burung, sambil menunjuk satu pulau yang berada tidak jauh dari pulau Lengkuas. Sebenarnya pulau Lengkuas sudah jelas terlihat dengan mercusuar yang berdiri megah di sana.

Tetapi ombak laut yang tidak bersahabat menghalangi langkah kami untuk sampai kesana, mba Titi langsung berteriak “Pulang…kita harus pulang!”, sangat jelas terpancar rasa takut dengan kondisi perahu yang oleng kesana kemari, ada sahutan dari belakang “Yaaaa….koq pulang?” hihihihi….kacauuu banget nie anak-anak muda maunya nekad aja! mereka ingin perahu terus melaju ke Pulau Burung, apalagi si nelayan sedikit berpromosi bahwa pulau itu sama cantiknya dengan pulau Lengkuas, yang jadi masalah dalam pengamatanku Pulau Burung itu masih lumayan jauh untuk di capai. Sedang ombak laut tampak makin meninggi, pak nelayan mengemudikan perahu berjalan diatas ombak, benar-benar mendebarkan. Mungkin bagi yang tidak terbiasa dengan suasana di laut bisa sutrisss….hihihi.

Akhirnya aku bicara dengan pak nelayan “Pak, kita berhenti di pulau itu saja!” sambil menunjuk ke satu gugus pulau yang berada tidak jauh dari perahu yang kami tumpangi. Bagiku sekali memutuskan berlayar ke pulau, harus sampai perahu ditambatkan! nekad mode on….perahu diarahkan ke Pulau Babi Besar, sejurus kami sudah berlabuh disana. Mendung di langit begitu pekat, naga-naganya bakal turun hujan nie. Pak nelayan meminta kami mengikutinya, ada pondok di pulau itu dimana kami bisa berteduh. Kami berbaris dibelakangnya mengikuti sambil setengah berlari, karena kuatir hujan akan segera turun.

Foto narsis di Pulau Kepayang


Pohon kelapa nya cantik lho…

Aku berjalan paling belakang, mencoba menikmati suasana di pulau Babi Besar ini, merasakan wanginya udara laut, semak belukar dan pepohonan yang ada di pulau itu. Aneka tumbuhan suplir dan sejenisnya tumbuh subur, rumput ilalang tumbuh menyeruak di sepanjang jalan setapak yang kami lalui. Aku berdo’a dalam hati semoga nggak ketemu ular lewat, atau monyet yang tiba-tiba nemplok di pundakku, hehe…

Percaya nggak tiba-tiba aku melihat sekumpulan pohon kelapa yang berdiri rapat-rapat satu sama lain, batangnya berwarna semburat agak kemerahan, cakeep banget! langsung kuabadikan melalui digicam ku. Hanya 5 menit kami berjalan, tibalah diujung Pulau Babi besar, ada satu pondok kecil tempat berteduh, ada dua bangunan cottages kecil plus toiletsnya, cukup sederhana tampilannya. Pak nelayan masuk ke Pondok yang ada di pulau itu menjelaskan pada 2 penjaga pondok bahwa rombongan kami hanya berlabuh sebentar, sekedar berfoto-foto ria.


Subhanallah….Allah menciptakan surga @Belitong


Pulau Lengkuas nun jauh di sana…hiks gak bisa sampai karena ombak besar

Subhanallah…..amboi indahnya, pantai Pulau Babi besar ini, jadi inget film “Blue Lagoon” nya Broke Shield atau “The Beach” nya Leonardo Di caprio. Pasir yang putih bersih dengan air laut yang biru bening bergradasi warna biru tosca ke blue marine, berikut warna putih dan abu-abu dari bebatuan laut yang besar-besar tersebar mengitari pulau itu. Segerombolan camar laut terlihat terbang bebas diatas pulau segera mencari tempat untuk berteduh, rupanya hujan sudah mulai turun. Kami yang masih asyik berfoto-foto ria, langsung bergegas berteduh ke pondok, aku berteriak memanggil my kids, Hakim dan Mirza yang ternyata masih bergembira main air. Hujan turun sangat lebat diiringi kilat dan sesekali suara guntur yang menggelegar. “Untung kita berhenti di pulau ini, bu…jika kita melanjutkan ke Pulau Burung atau memutuskan pulang ke darat, kita bisa terperangkap hujan badai ini di tengah laut!” kata pak nelayan.

Hiiiii….seraaaam! terjebak ombak tinggi aja sudah bikin adrenalin naik apalagi disertai hujan badai! nggak kebayang deeh gimana hebatnya nenek moyang kita yang “Orang Pelaut” bisa menembus badai ditengah lautan luas. Aku jadi teringat alinea dan paragraf tentang petualangan Ikal dan teman-temannya saat ingin menemui “Tuk Bayan Tula” di Pulau Lanun untuk mendapatkan jimat bertuah yang disarankan Mahar, para anggota Laskar Pelangi ini harus naik perahu menembus hujan badai di tengah lautan. Kini aku mengalaminya walau tidak seheboh petualangan Ikal Cs, hehe….

Pondok kami berteduh di Pulau Kepayang

Sambil berteduh kami mengobrol dengan penjaga pondok yang menjual aneka minuman hangat dan makanan ringan, agar tidak terlalu merepotkan karena berteduh secara gratisan, kami memesan minuman hangat berupa kopi susu hangat, beruntung aku dapat segelas capuccino hangat, lumayan….buat menghangatkan badan dan menjernihkan pikiran yang penuh kekhawatiran, cukup diketahui kami lupa membawa dompet uang! untuk membayar minuman yang kami pesan kami diberi dispensasi bayar kemudian jika kami sudah tiba di darat bisa dititipkan di pak nelayan, hehe…enak bener!.

Aku hanya membathin “jangan sampai hujan ini berlangsung lama, tidak lucu kalau kami harus terjebak di pulau ini dan menginap semalam di sini!”. Aku berpikir pasti bapaknya anak-anak kuatir nggak karu-karuan karena cuaca hujan yang cukup lebat ini, melihat ponselku battere nya hampir sekarat, sinyalnya sangat lemah, kuputuskan untuk menelpon my hubby, memastikan kami semua baik-baik saja, dan akan segera pulang jika hujan reda, alhamdulillah panggilanku tersambung, “Pak, kami semua baik-baik saja, masih berteduh di Pulau Babi Besar, akan segera pulang jika hujan reda,” “Alhamdulillah….syukurlah, bapak sangat khawatir, dari tadi menghubungi kalian tidak bisa tersambung!” sahut bapake, “Iyaa…kami segera pulang.” kataku sambil menutup percakapan.

Hujan yang masih terus mengguyur pulau membuat kami terpaksa berteduh agak lama. Kulihat ada serombongan orang datang mendekati pondok, ada 5 orang turis asing yang belakangan aku tahu mereka berasal dari Russia dan Cecko. Tour guide mereka seorang pemuda yang aku duga bukan berasal dari Belitong, ada guide lokal yang mendampingi mereka, namanya Pak Rusdi, rupanya beliau pemilik rumah makan Nyiur Melambai di mana kami makan siang sebelumnya. Rombongan turis asing itu dua hari sebelumnya sudah sempat mendarat di Pulau Lengkuas, dan ingin mengulang kembali kesana hanya karena cuaca yang tidak mendukung mereka terpaksa mendarat di Pulau Kepayang.

Aku sempat bertanya seputar pulau Babi Besar ini kepada pak Rusdi. Lelaki berusia 40-an tahun ini berkisah bahwa dahulu kala di pulau ini bermukim satu keluarga keturunan Tionghoa, yang memiliki peternakan babi. Dikarenakan kondisi pulau yang agak terpencil, dan sulitnya memperoleh bahan-bahan kebutuhan hidup, akhirnya mereka menutup peternakan babinya, dan memutuskan meninggalkan pulau itu. Dalam peta pulau babi ini disebut Pulau Kepayang, tidak jelas kenapa disebut demikian, tapi para nelayan setempat tetap menyebut pulau itu sebagai pulau Babi Besar (berarti ada pulau babi kecil dunk! hehehe).

Luas pulau kurang lebih 14 Ha, dan hanya dihuni oleh penjaga pulau yang mengelola 2 cottages tersebut. Ada kegiatan eco tour berupa penanaman terumbu karang disekitar pulau, untuk melakukan kegiatan ini peserta cukup dikenai biaya Rp. 50.000./terumbu karang, dimana kita bisa menempelkan label nama kita dikerangka terumbu karang itu. Kami tidak ada waktu mengikuti kegiatan ini, yang pasti pakai acara berenang sambil snorkling di sekitar pulau.

Pohon Pandan Laut

Pak Rusdi memberi kami kenang-kenangan bibit pohon Pandan Laut, lumayanlah…buat keponakan-keponakan kami ini tanaman yang unik dan baru ditemui mereka. Pohon Pandan Laut lumayan tinggi dengan buahnya yang agak mirip durian tapi tidak berduri tajam. Hujan sudah mulai reda, jam ditanganku menunjukkan pukul 16 sore, kami harus bergegas kembali ke base camp warung makan Nyiur Melambai. Rombongan turis asing tampak menyusul dibelakang kami. Perjalanan pulang ini sangat nyaman, ombak tidak besar dan angin laut berhembus lembut menerpa wajah-wajah kami yang lelah tetapi happy, mengalami perjalanan yang begitu menantang. Jadi inget kata “traveling is not destination but the journey”, pengalaman itulah yang selalu berbeda dari setiap orang walaupun tujuan wisatanya sama.

Biar lelah tapi happy, setelah turun dari perahu, adrenalin boating tour

Indonesia adalah negeri kepulauan, sebagian besar objek wisata yang indah berada di gugus pulau-pulau yang tersebar diseantero negeri. Tentu untuk mencapainya harus melalui lautan sangat disayangkan jika kita tidak bisa menikmatinya, justru kebanyakan turis asing yang lebih faham akan ke elokan negeri ini. Saranku, belajarlah berenang sejak dini, biasakan naik perahu dan jangan takut dengan laut, bersahabatlah dengan alam, karena alam juga akan bersahabat denganmu!


Toko “Keluarga” dan Nobar Piala AFF

Kami harus segera pulang ke penginapan para keponakanku sudah bersiap-siap untuk menonton final sepak bola piala AFF antara Indonesia dan Malaysia. Mba Titi meminta pak Buyung untuk mengantar kami ke toko oleh-oleh “makanan” khas Belitong. Di bawalah kami ke toko “Keluarga” yang menjual aneka macam makanan dari ikan asin, terasi, kopi, kerupuk dan aneka penganan lainnya. Soal harga ya relatif lah….tergantung apa yang dibeli, sepertinya standart aja. My Hakim sudah berteriak mengingatkan untuk tidak berlama-lama di toko oleh-oleh ini, maklum dia tidak ingin melewatkan acara nonton bareng malam itu.

Toko Keluarga, menjual oleh-oleh penganan khas Belitong

Tiba di penginapan, semua anggota rombongan langsung mandi dan berkemas untuk nobar piala AFF di cafe dekat penginapan. Sedang aku memutuskan untuk tetap berada di penginapan, membereskan pakaian dan koper karena kami akan pulang kembali ke Jakarta esok hari. Aku menonton piala AFF melalui TV dalam kamar, hmmm…. ulah suporter Malaysia yang menebar sinar laser ke arah Kiper Markus membuat konsentrasi pemain-pemain Indonesia menjadi terpecah, tidak fokus bahkan sering membuat kesalahan yang tidak perlu, akhirnya Indonesia harus menyerah dengan Malaysia 0-3. Hiks…nasib!!!Yasuud….tidur cepat aja, karena besok sudah harus pulang ke Jakarta.


Senin, 27 Desember 2010, hari ketiga – terakhir

Hujan terus mengguyur sejak subuh, aku bersyukur untung ini hari terakhir, sebenarnya masih ada satu lokasi lagi yang mau kami tuju yaitu “Danau Kaolin”, hanya karena waktu yang keburu malam, kami tidak bisa ke sana, rencanaku kalau masih memungkinkan kami mau kesana pagi hari sebelum ke Bandara, lokasinya masih diseputaran Tanjung Pandan, sayangnya hari terakhir ini diguyur hujan, lagi-lagi rencana mengunjungi “Danau Kaolin” jadi tertunda, tampaknya kami memang harus kembali ke Belitong! Hehe… ingat Pulau Lengkuas belum kami singgahi!

Sarapan pagi kami berupa penganan kecil berupa Lemper ketan dan risoles, serta teh manis. Lumayan lah… aku melihat ke jam, jadwal pesawat kami akan berangkat pukul 11.20 siang. Masih sempat makan mie Belitong lagi nie ! benar-benar dibuat ketagihan aku. Sebelum ke bandara, aku dan keluarga menyempatkan diri makan mie dahulu, sedang mba Titi pergi ke Bandara untuk check in tiket.


Batu Satam – Bp. Firman Zulkarnaen

Sebelum kami check out dari Penginapan, bapake minta diantar ke tempat pengrajin batu satam, pak Buyung mengantar kami ke rumah pak Firman Zulkarnaen yang terletak di jalan Dahlan no. 29 Tanjung Pandan, saat kami tiba beliau tidak ada di rumah, kami diminta menunggu sebentar. Tak lama pak Firman muncul, bapak berusia 60-an tahun ini tampak enerjik dan ramah. Bicaranya blak-blakan disertai humor yang mendatangkan gelak tawa.

Kami melihat-lihat koleksi batu satam yang beliau miliki semua dijual dengan harga yang bervariasi tergantung besar kecilnya ukuran batu. Bapake sempat menunjukkan cincin batu satam yang dipakainya untuk mengetest keaslian batu tersebut, pak Firman mendekatkan cincin batu satam itu dengan batu satam yang dimilikinya, ternyata ada daya tarik menarik diantara kedua batu tersebut, berarti ini asli.

Aneka batu satam, yang dijual di rumah Pak Firman


Pak Firman yang ramah dan lucu

Pak Firman lebih suka disebut sebagai Pengrajin batu satam dari pada disebut Penjual batu satam, banyak penghargaan yang sudah diperolehnya selama 18 tahun menjadi pengrajin batu satam, foto-foto selama beliau berpameran di dalam dan luar negeri di pajang di dinding ruang kerjanya yang tidak terlalu besar itu, kurang lebih berukuran 2,5 m x 3 m. Tasbih raksasa yang terbuat dari batu satam, dinilai dengan harga 1 M rupiah, hmmm…mantabs!

Bapake membeli gelang batu satam yang harganya masih terjangkau kocek kami, hehehe…. pak Firman menegaskan bahwa kita jangan sampai terpengaruh ke arah syirik jika mempercayai manfaat suatu batu, beliau tetap mengembalikan kepada ALLAH SWT yang Maha Menyembuhkan, hal ini berkaitan dengan faedah yang bisa ditemui dari batu satam ini (batu ini sifatnya hanya sebagai perantara saja).

Sedikit sejarah tentang batu satam, dikutip dari lembaran stensilan yang diberikan pak Firman. Batu Satam berasal dari akar kata “Sa” (pasir) dan “Tam” (empedu), penemu pertama batu ini adalah orang beretnis China, yang menyebut batu itu dengan julukan “Empedu Pasir”. Para ilmuwan menyebutnya “tektite” sedang N. Wing Easton, peneliti asal Belanda, pada th.1922 menyebutnya “Billitonite” (batu dari Belitung). Batu Satam ini diketahui berasal dari ruang angkasa, berjuta tahun yang lalu ada meteorite yang jatuh di pulau Belitong, warna hitam pada batu ini berasal dari campuran zat asam karbon, zat mangan dan zat-zat lain yang terkandung didalam bumi pulau Belitong. Batu ini hanya bisa diketemukan secara kebetulan, jika kita menggali tanah dikedalaman kurang lebih 50 m.

Jeruk Kunci khas Belitung, dibuat es jeruk ueeenaknya!

Setelah dirasa cukup melihat, membeli dan mendengarkan kisah batu satam ini dari pak Firman, kami pamit pulang untuk segera ke bandara. Di halaman rumah pak Firman ada pohon jeruk kunci, kami minta ijin untuk membawanya beberapa buah, pak Firman malah mempersilahkan kami mengambil sesukanya. Harumnya membuat kami terlena sampai lupa kalau rasanya asam luar biasa.


Rumah Adat Belitong

Dalam perjalanan ke bandara, kami sempat berhenti sejenak di rumah adat Belitong, untuk sekedar berfoto-foto sambil melihat secara kilat apa yang ada di dalam rumah adat tersebut. Sekali lagi gratis masuk kesini tidak ada pungutan biaya sedikitpun. Saat aku masuk ke dalam rumah, tampak sedang ada rapat adat dari para tetua adat Belitong. Mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran para turis, malah kami dipersilahkan melihat-lihat dan memotret apa yang ada di dalam rumah itu. Sebelumnya kami harus membuka alas kaki terlebih dahulu, sudah jelas kalau orang melayu harus buka sepatu sebelum masuk ke rumah.

Foto di samping Rumah Panggong


Maket Rumah Panggong tampak samping

Rumah Adat Belitong disebut Rumah panggong, berdasarkan luas lahan, rumah panggong terdiri dari dua jenis yaitu rumah panggong melebar kesamping dan rumah panggong memanjang ke belakang. Kebetulan rumah yang kumasuki memanjang ke belakang. Terdiri dari dua bagian rumah, di tengah-tengahnya ada beranda kosong yang merupakan ruang penghubung antara ruang pertama dan kedua. Bangunan ini terbuat dari kayu yang sangat solid, kebanyakan orang melayu menyebut dengan nama kayu tembesu (kayu yang kuat laksana besi), bisa saja rumah dibuat dari kayu-kayu kelas 1 seperti kayu Mahoni, Jati, Merbau dan Meranti.

Teras depan, disebut Suyok


Rumah Panggong bagian belakang, di bawahnya disebut Beruman (kolong rumah)

Sedikit mengutip isi brosur yang kudapat dari petugas dinas pariwisata pemda Babel yang memberikan gratis kepada kami, rumah panggong terdiri dari:

1. Suyok/Teras, ruang transisi sebelum masuk ke rumah
2. Ruang Luar, merupakan ruang tamu
3. Ruang Tengah, merupakan inti dari rumah, berfungsi sebagai ruang keluarga
4. Los, merupakan teras samping yang berfungsi sebagai ruang penghubung antara dapur dan ruang tengah
5. Dapur dan ruang makan, selain sebagai tempat masak juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu kaum ibu,
6. Beruman, merupakan kolong rumah yang biasanya dipergunakan untuk menyimpan kayu bakar, kandang ayam, tempat untuk bertandang dan lain-lain, pada masyarakat pedalaman Belitong, mereka suka membuat pengasapan dengan membakar tanaman tertentu untuk mengusir nyamuk.

Di ruang tengah aku melihat ada seperangkat kursi tamu, lemari penyimpan kain-kain adat (berjenis songket), aneka porselen alat-alat makan, lemari yang berisi pakaian adat pengantin Belitong, tempat tidur dan pelaminan pengantin, lengkap beserta aneka jenis hantaran untuk pengantin terdiri dari:

1. Gunung Pinang, kelengkapan memakan sirih salah satunya adalah buah pinang, dari nama buah pinang inilah lahir istilah “meminang”

2. Kembang Sirih, kebiasaan memakan sirih dari masyarakat melayu menjadi makanan budaya yang memiliki nilai-nilai persaudaraan, gunung sirih merupakan simbol dari rasa penghormatan mempelai lelaki ketika hendak melamar mempelai wanita

3. Bunga Nasi kembang telor, merupakan tanda kebanggaan orang tua kepada anak gadisnya yang taat kepada perintah orang tua serta telah khatam Al-Qur’an, biasanya diwujudkan dalam bentuk nasi ketan kuning dan ayam panggang, diberikan sebelum anak gadisnya duduk bersanding, bunga nasi kembang telor ini akan dibagikan kepada anak-anak dengan mengharap keberkahan dan anak-anak lain diharapkan dapat mengkhatamkan Al-Qur’an juga.

4. Gunung Kapur, sama halnya dengan Gunung Pinang, dalam acara makan sirih tidak boleh ketinggalan unsur kapur, ketiga jenis ini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisah, dirangkai dan dibentuk seperti gunung,

5. Pahar, dulang atau wadah dari tembaga/kuningan berkaki untuk menjamu hidangan, yang digunakan untuk waktu dan kegiatan tertentu, seperti tempat menyajikan makanan khusus untuk mempelai laki-laki, bisa juga untuk meletakkan kembang telor dan lainnya sebagai kehormatan kepada para tamu

6. Tipa, adalah piranti memakan sirih, wadah menyimpan sirih beserta perlengkapannya, merupakan simbol kehormatan dan persaudaraan

7. Buah Butun, untaian kain satin yang dirankai membentuk bunga dan buah butun (sejenis buah dari pohon pandan laut), untaian ini digantung mengelilingi ranjang pengantin dengan berbagai warna, biasanya 7 s/d 9 untaian jika diurai akan berfungsi sebagai tirai penutup ranjang pengantin.

8. Tanduk Rusa, merupakan hiasan yang juga berfungsi sebagai tempat menggantungkan topi atau kopiah.

9. Di Dapur, aku menemui tungku dari tanah liat untuk memasak dan aneka tempayan untuk menyimpan air, serta aneka perkakas memasak tradisional lainnya.

Ranjang Pengantin dan seperangkat hantaran untuk meminang

Cukup segitu aja yaaa….banyak banget kalau mau dijelaskan lebih detail, ini saja sudah aku singkat sedemikian rupa.

Tiba di bandara, mba Titi sudah melakukan check in untuk semua tiket yang kami pegang, kami berpamitan dengan pak Buyung tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya selama kami berada di Belitong.

Masuk ke dalam boarding room, para keponakanku masih sempat belanja kaos-kaos khas Pulau Belitong, bagus…harganya juga standart sekitar Rp.60.000,- sayangnya tidak ada yang model tangan panjang, nggak jadi beli deh.

Pesawat Sriwijaya Air yang kami naiki terbang on schedule, Alhamdulillah…perjalanan pulang ini berjalan sangat lancar, aku tidak menemui adanya turbulence. Pesawat mendarat cukup smooth. Selesai sudah perjalanan singkat tapi berkesan di Pulau Belitong, kami semua menikmati liburan ini dan ingin mengulanginya kembali di waktu yang akan datang, Belitong…we’ll be back…soon or later!

—-AMH, BDL, 16012011—-

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

23 Comments to "Negeri Laskar Pelangi (2 – Tamat)"

  1. Fifi Ranta  23 January, 2013 at 11:31

    Tanjung kelayang jua bukit berahu…………….
    pasir putih yang menakjubkannn

  2. Nana  16 February, 2011 at 16:44

    Adhe….mantaff…reportasenya OK banget.

    Thanks ya….

  3. veronika  4 February, 2011 at 13:20

    thanks ya atas infonya…..kita pasti akan berlibur kesana yang katanya cakepppppp berikut bangka nya skalian biar mak nyosssss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.