Abadikan Nama Bayar HK$ 5 juta

Kine Risty


Belum lengkap rasanya jika ke Hong Kong, tanpa bertandang ke komplek Biara Po Lin. Inilah Biara Zen, biara tertua dan ternama di kawasan tersebut. Tepatnya terletak di dataran tinggi Ngong Ping, di Pulau Lantau, pulau terbesar di kepulauan Hongkong.

Komplek biara yang makmur itu dibangun pada awal tahun 1920-an oleh tiga orang pendeta ahli Zen, yaitu Tai Yuet, Tuen San, dan Yuet Ming. Dari Tung Chung, kota terdekat menuju Po Lin, bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan MTR, karena jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api itu selalu tepat waktu.

Untuk mencapai Po Lin, kita bisa melanjutkan perjalanan dengan naik bus No 23 yang tarifnya 16 dolar Hongkong atau taksi berwarna biru, sekeluarnya dari stasiun kereta. Atau naik cable car selama 45 menit dengan tarif 107 dolar Hongkong (round trip).

Hanya taksi biru yang diijinkan masuk kawasan biara itu. Perjalanan menumpang bus dan taksi, memakan waktu sekitar setengah jam. Para pengunjung harus menghabiskan waktu lebih lama, karena antrean panjang berliku di terminal bis maupun halte pemberhentian taksi di Tung Cung. Bukan main banyaknya jumlah pengunjung Po Lin. Ada baiknya, kita membawa bekal kesabaran.

Jangan lupa pula membawa penutup kepala, entah topi atau payung, untuk melindungi diri dari terik matahari selama mengantre bila ke Po Lin ketika musim panas. Tapi saat ini Hong Kong sedang musim dingin so tidak usah ribet bawa payung. Saya dan teman-teman memilih naik cable car untuk menikmati pemandangan di atas laut serta bisa melihat Bandara Hongkong dari atas kereta dengan tarif 107 dolar Hongkong (round trip).

Begitu memasuki komplek biara, kita bisa melihat patung Buddha yang duduk bersila dengan agungnya di alam terbuka, di Bukit Muk Yu. Patung dari perunggu itu tingginya sekitar 34 meter dan berat 250 ton. Model cetakan patung dirancang selama dua tahun oleh seniman Hou Jinhui dari Institut Seni Murni Guangzhou.

Sebelum mendaki ke atas bukit, saya dan teman-teman menyempatkan diri makan siang di pelataran Po Lin yang banyak mempunyai pilihan tempat makan, seperti restoran Japan dan menu masakan Cina. Anda juga bisa menikmati menu vegetarian khas Biara Po Lin seharga 60 dolar Hongkong untuk menu makan siang biasa dan 100 dolar Hongkong untuk menu istimewa. Selain itu di kedai-kedai kecil Anda bisa berbelanja aneka warna cinderamata.

***

ADA cerita lucu ketika makan siang. Saya dan seorang teman memilih menikmati masakan Japan, karena tidak ingin nyamja (minum teh yang diiringi dengan berbagai menu makanan) di restoran Cina.

Jumlah teman saya delapan orang. Lainnya memilih nyamja yang ternyata harga makanannya mahal sekali. Mereka memilih satu ekor ayam panggang dan tumis sayur. Dua menu plus delapan mangkok nasi berapa harganya? Wow…..!! Harganya benar-benar fantastik 500 dolar Hongkong.

Karuan saja teman-teman saya terkaget-kaget dan ketawa ngakak ketika cerita ke saya yang baru keluar dari restoran Japan. Saya hanya ketawa sambil mengatakan, “Mo mandai haji cole yamja hai lito ha… ha… ha…” Artinya tidak masalah. Lain kali makan di restoran ini lagi ha… ha…. Tawa kita pun berderai bersama.

Setelah selesai makan siang, kami menuju susunan 268 anak tangga yang harus kita naiki supaya kita sampai di pelataran atas, di bawah singgasana patung terbesar. Seperti arti Po Lin yaitu bunga teratai yang berharga, tahta Big Buddha berupa bunga teratai yang mekar sepenuhnya.

Menurut kabar, di tiap kelopak bunga itu terukir nama-nama donatur bagi pembangunan Big Buddha yang dimulai pada tahun 1982. Hanya dermawan yang menyumbang sedikitnya 5 juta dolar Hongkong yang namanya diabadikan. Ruangan tersebut tertutup untuk umum dan akan dibuka saat upacara-upacara penting saja.

Di beranda luar lantai dasar terdapat arca-arca lebih kecil yang membawa aneka rupa wadah. Hampir setiap pengunjung berusaha melempar keping-keping mata uang ke arah mereka.

Menurut kepercayaan, bila koin-koin tersebut berhasil masuk ke tangan para patung, niscaya rejeki sang pelempar pun bakal berlimpah. Bangunan di bawah Big Buddha terdiri dari tiga lantai. Banyak hal bisa dinikmati di tiap lantai tersebut. Misalnya di ruang lantai dua Anda bisa menyaksikan gambar-gambar besar yang bercerita tentang sejarah budaya Pulau Lantau. Juga uraian tentang rencana dan perkembangan pembangunan Big Buddha. Di lantai tiga terdapat ‘Genta Amal’ yang tergantung tepat di tengah-tengah atap.

Bel itu dikendalikan oleh komputer sehingga secara teratur berdentang sebanyak 108 kali sehari. Sayang sekali, kita dilarang memotret di dalam ruang-ruang itu. Nuansa religius tentu saja tampak kental di kawasan pariwisata Po Lin. Di sana terdapat beberapa kuil, sehingga para pengunjung pun bisa bersembahyang, membakar dan menanam dupa. Ada Kuil Welto yang terletak di bagian luar, serta Kuil Arhan dan Kuil Tua yang berada di tengah komplek biara.

Di belakan bagunan Patung Budha kita bisa menyaksikan laut yang sangat indah dan airnya berwarna biru. Setelah melepas lelah karena mendaki tangga yang begitu tinggi sekitar pukul 04.30, saya turun karena kabut mulai menyelimuti Bukit Po Lin dan siap antre menuju kereta gantung.

Sesampainya di sana tiket teman saya hilang. Untung petugasnya baik hati dan mau menggantinya walau harus menunggu proses yang begitu lama.

15 Comments to "Abadikan Nama Bayar HK$ 5 juta"

  1. Kine Risty  26 February, 2011 at 00:54

    pak DJ …
    pohon apa itu saya juga kurang tahu
    terima kasih ya sudah mampir

  2. Djoko Paisan  3 February, 2011 at 02:43

    Kine…
    terimakasih untuk cerita jalan-jalannya…
    Photonya bagus-bagus….
    Dj. tertarik dengan photo terakhir, pohon apa itu, akarnya sampai begitu besarnya…hebat…!!!
    Salam manis dari Mainz…

  3. Kine Risty  3 February, 2011 at 00:13

    wkakkakaakka……betul betul mbak lani hahhaha

  4. Lani  2 February, 2011 at 22:49

    KINE RISTY : halaaaaaaaah…….koyok rak ngerti ae sopo to aku iki????? wakakakak

  5. Kine Risty  2 February, 2011 at 22:24

    Hannie..ayoo jalan2 bareng say

    @mbak lani… hehhehe kayak dukun wae sampean iki mbak lani hahha betul2

    @sumonggo..hahha monggo kerso

    @Nia…nginepnya di kennedy town mbak

    @Linda..betulah

    @Taufikul…emboh ya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.