Chutima

Endah Raharjo


Wajahnya cantik rupawan, tubuhnya elok menawan. Kulitnya coklat kekuningan walau tanpa dipulas krim suntan. Kuku-kukunya yang dicat ungu di ujung-ujung jemarinya yang lentik berkilauan. Dengan senyum dikulum ia menyapaku.

(ilustrasi: my daughter)

Rambutku perlu dirawat karena penuh debu dan kotoran jalanan. Aku masuk ke salon ini karena letaknya hanya di seberang hotel tempatku menginap. Perempuan cantik yang menyambutku ini ternyata si pemilik salon. Ia selalu melayani sendiri setiap pelanggan yang baru pertama kali masuk ke salonnya. Cara ini terbukti manjur karena pelanggan merasa diistimewakan. Awalnya ia mengira aku warga yang tinggal di lingkungan sekitar. Baru setelah aku bicara dia tahu aku bukan orang Thai.

Kami berbasa-basi sebentar sebelum ia mulai bekerja. Senyumnya mengiringi setiap ucapannya. Kuperkenalkan diriku seperlunya. Ia ingin tahu apakah aku sedang berwisata atau ada urusan lain di Thailand.

“Saya bekerja. Research,” jawabku.

Research? Apa itu? Saya belum pernah mendengar pekerjaan semacam itu.”

Perempuan itu mendengarkan penuh perhatian saat kujelaskan.

“Madam sangat beruntung, karena cantik dan pintar,” dipujinya aku dalam bahasa Inggris yang fasih untuk ukuran orang Thailand.

Jelas sekali ia hanya ingin menyenangkan hati pelanggan barunya. Untuk ukuran kecantikan, aku bukan apa-apanya dibandingkan keindahan dirinya yang bisa kupandangi dari cermin yang terpampang di depanku. Wajahnya oval sempurna. Matanya berbinar, lingkaran irisnya lebar berwarna coklat gelap. Bibirnya penuh dan segar.

“Ah. Anda lebih cantik. Terlebih bahasa Inggris Anda, nyaris sempurna. Dimana Anda belajar?” tanyaku, sekaligus ganti memujinya. Aku lebih suka memuji ketrampilan, prestasi, kecerdasan atau kehebatan non-fisik perempuan.

Menurutku memuji kecantikan fisik seseorang tak perlu berlebihan diucapkan, terutama bila belum saling kenal. Sorot mata dan ekspresi seluruh sel-sel wajah kita bisa lebih jujur menyampaikannya.

“Nama saya Chutima, Madam.” Katanya sopan tanpa menjawab pertanyaanku. “Aku hanya perempuan bodoh. Aku belajar bahasa Inggris dari pacar-pacarku.” Sambungnya sambil tersipu.

Ahai!Ahai! Pacar-pacarnya! Ada berapa semua? Begitu batinku.

“Saya dulu punya tiga pacar, Madam,” kata Chutima seolah mendengar seruan di hatiku. “Satu ada di Singapore. Satu di Australia dan satu di Hong Kong,” jelasnya.

Luar biasa perempuan ini. Ia salah satu bukti bahwa bukan cuma lelaki yang bisa berpoligami, meskipun tanpa surat resmi.

Tanpa kuminta mulailah Chutima bercerita sambil jemari lentiknya memijit kepalaku. Katanya, ia dulu bekerja di bidang internet selama beberapa tahun. Mantan seorang web designer rupanya? Ataukah konsultan perawatan rambut online?

“Tapi bukan pekerjaan yang bagus, Madam.” Lagi-lagi Chutima seperti bisa membaca isi pikiranku. Apa mungkin jari jemari lentiknya yang tengah memijit kepalaku bisa meraba getaran otakku? Aku harus hati-hati kalau begitu.

“Oh?” Seruku. Penasaran tapi ragu-ragu untuk menanyakan. Tampaknya Chutima suka bicara, namun aku kurang suka bertanya. Kuatir kalau ia ganti ingin tahu lebih banyak tentang diriku.

“Saya menjual foto-foto,” katanya dengan suara mengambang. Jemarinya berhenti sejenak. Hembusan nafasnya kurasakan di ubun-ubunku.

Sekilas kuangkat mataku dan memandang raut mukanya melalui cermin. Wajahnya tersipu. Senyumnya malu. Aku paham maksudnya dan segera kupotong ceritanya, pura-pura bertanya tentang krim yang dia pakai untuk merawat rambutku. Harumnya lembut dan khas, seperti ada aroma anggrek cattleya, salah satu jenis anggrek warna ungu mempesona yang jadi kebanggaan Thailand.

Aku juga tidak ingin mendengar sebuah pengakuan atas kenyataan pahit yang ia alami di masa silam. Kenyataan yang mungkin ingin ia lupakan. Kenyataan yang mampu mendorong seseorang melakukan hal-hal kurang terpuji tapi tak kuasa untuk dihindari.

Namun aku berubah pikiran. Jangan-jangan Chutima justru ingin berbagi dengan seseorang yang tak dikenal seperti diriku? Bukankah bercerita pada seseorang yang tak dikenal bisa menjadi salah satu jalan keluar dari belitan persoalan yang tertimbun di dalam pikiran? Apalagi bila orang itu mau mendengarkan.

Dengan pertimbangan itu, kupandangi lagi wajah Chutima. Rupanya perempuan dengan suara lembut itu memang ahli membaca pikiran yang tidak terungkapkan lewat percakapan. Ia bisa merasakan kalau aku tidak keberatan mendengarkan.

“Benar, Madam,” matanya dialihkan dari rambutku ke mataku. “Saya menjual foto-foto. Setengah telanjang. Sebagian besar hanya tanpa bra, saya selalu masih memakai panties. Hanya sesekali saja saya difoto telanjang bulat atas permintaan.” Chutima tertawa pelan, antara malu dan menyesal. Bibirnya sedikit bergetar. Matanya mengerjap-ngerjap, mencoba mengusir bayangan tubuhnya yang dinikmati mata jutaan lelaki yang tak ia kenal.

Dari bisnis internet itulah Chutima mengenal pacar-pacarnya yang sekarang ketiganya sudah menjadi mantan. Kadang mereka masih menelponnya untuk minta bertemu. Ia juga masih sering dihubungi para penggemarnya yang dulu suka mengajak kencan. Menurut Chutima, lelaki yang cuma mengajaknya kencan, mentraktir makan dan memberi sedikit uang dianggap penggemar. Ia berkeras tidak menjual dirinya, hanya foto-fotonya saja.

“Tiga pacar saya itu memberi banyak uang. Uang dolar, Madam. Dolar Amerika, Singapore, Australia…,” paparnya dengan senyum terkembang. “Banyak sekali, Madam.” Chutima tertawa sopan. “Mereka tidak saling kenal. Mereka datang bergantian. Kadang-kadang dua bulan sekali. Kadang-kadang lama sekali. Kalau yang orang Singapore lebih sering datang karena punya bisnis di Bangkok.

Saya kadang mengunjungi mereka kalau ada yang menunggui adik-adik saya. Tentunya semua biaya ditanggung oleh mereka. Saya tinggal berangkat saja dan dandan secantik-cantiknya,” berkata begitu Chutima tertawa cekikikan.

Cerita Chutima sesekali terhenti karena sebagai pemilik salon ia harus mengawasi atau membantu tiga stafnya yang sedang melayani para pelanggan mereka.

“Saya tidak ingin selamanya menjadi pacar simpanan,” suara Chutima agak berubah sendu. “Uang pemberian mereka saya tabung, Madam.” Chutima berhenti memijat leherku dan menatapku. Mungkin ia perlu semacam kata-kata dukungan.

“Langkah yang cerdas,” kataku memuji.

“Benar. Madam. Itu juga kata teman-teman saya. Langkah yang cerdas.”

Setelah tiga tahun bekerja di ‘bidang internet’ dan berpacaran dengan tiga laki-laki sekaligus, tabungan Chutima semakin menggunung. Dengan uang itu Chutima mengikuti kursus perawatan dan tata rambut di salah satu sekolah kecantikan ternama di Bangkok. Setahun kemudian, dengan bimbingan dari guru-gurunya, Chutima membuka salon perawatan dan tata rambut.

“Sekarang saya bahagia sekali, Madam. Saya bisa membiayai sekolah dua adik perempuan saya. Mereka tidak harus bekerja sambil memakai bikini seperti saya. Saya bangga sekali punya usaha ini.” Chutima memandangku melalui cermin yang memantulkan cahaya lampu dari langit-langit, membuat mata Chutima lebih cemerlang. “Mereka bertiga teman-teman adik saya yang tidak punya biaya untuk meneruskan sekolah. Mereka saya biayai untuk ikut kursus tata rambut. Setelah lulus mereka bekerja di sini.”

“Kamu perempuan luar biasa, Chutima. Saya ikut bangga dan bahagia untukmu.” Ada rasa haru menjalari pembuluh darahku. “Semoga usahamu sukses.”

“Sudah selesai, Madam. Mari, saya akan cuci rambut Madam.” Chutima mengangkat kain ungu yang menutup bagian atas tubuhku.

Pelan-pelan aku bangkit dari kursi putih dengan motif cattleya ungu. Sekali lagi Chutima menyuguhkan senyum cantiknya untukku. Bagai cattleya, Chutima rela kecantikannya dipetik dan dinikmati siapa saja asalkan ia bisa membahagiakan dan menghidupi kedua adiknya dan teman-temannya.

*****

12 Comments to "Chutima"

  1. daveena  3 February, 2011 at 21:08

    mbak Endah…cerita yang menyentuh,
    bagaimana seorang wanita bisa cerdas berjuang ntuk keluar dari lorong yang hitam

  2. Endah Raharjo  3 February, 2011 at 08:11

    Halo semua! Terima kasih banyak untuk apresiasinya. Chutima pasti senang
    @Risty: Oke. Kalau saya tugas ke sana lagi saya kabar2i ya.
    @Sakura: itu karya anak saya (anak saya cowok), dia kulaih di Sastra Jepang . iya katanya artinya cantik. Judul ilustrasinya “bijin’.
    Salam untuk semua ya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.