Keraton Solo

Handoko Widagdo


Salah satu obyek wisata yang harus dikunjungi jika ke Solo adalah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, atau lebih dikenal sebagai Keraton Solo. Sebenarnya ada dua keraton di Solo, satunya lagi adalah Istana Mangkunegaran.

Keraton Solo terletak di pusat kota, di titik nol kota. Titik nol kota Solo terletak di tugu Gladak, tepat di depan pintu gerbang utara Keraton. Jadi, jika anda masuk dari Jalan Slamet Riadi, di bundaran Gladak, belok kanan, masuk pintu gerbang, memutari alun-alun utara, kemudian masuk ke dalam keraton melalui jalan supit udang.

Setelah membeli karcis masuk, anda akan diantar oleh guide melalui pintu selatan istana. Halaman istana terasa rindang karena ditumbuhi pohon sawo kecik. Pohon sawo kecik dalam tradisi Jawa berarti membawa kebaikan (kabecikan; becik = baik). Di bawah rindangnya pohon sawo kecik, halaman istana diisi dengan pasir yang dibawa dari laut selatan.

Pasir pantai selatan ini jelas berhubungan dengan ‘pernikahan’ raja-raja Jawa dengan Nyai Rorokidul. Selain dari pasir pantai selatan, di depan keraton di sebelah kiri terdapat menara dimana Raja Solo bertemu dengan Nyai Rorokidul. Menara ini berwarna putih dengan pagar bercat biru. Menara ini menempel pada dinding istana, separoh bangunan menara ada di halaman istana, separohnya lagi berada di luar istana. Ketika keraton Solo terbakar, konon bangunan ini adalah satu-satunya yang tidak ikut terbakar.

Istana keraton Solo konon didisain oleh seorang arsitek Belanda. Tiang beranda dibuat khusus di Belanda dan dikapalkan ke Jawa oleh VOC. Ada dua patung perempuan dari pualam yang juga didatangkan dari Belanda menghiasi halaman depan istana. Lampu-lampu gantungnya juga dibuat khusus di Eropa.

Sedangkan tiang utamanya (saka guru) dibuat dari kayu jati yang diambil dari Hutan Danalaya di Wonogiri. Tiang utama dibalut dengan kain kuning. Tiang dan seluruh bangunan yang ada sekarang adalah bangunan baru, karena bangunan lama telah terbakar. Namun demikian, kayu jati bahan keempat tiang utama tetap diambil dari hutan Danalaya.

Selain dari hiasan yang berasal dari Eropa, istana juga dihias oleh keramik dari negeri Cina. Keramik-keramik ini konon merupakan hadiah dari Raja Cina untuk Keraton Surakarta.

Kasunanan Suarakarta adalah pecahan dari Kerajaan Mataram Islam. Nah Kerajaan Mataram Islam mengklaim sebagai  kelanjutan dari Kerajaan Mataram Hindu. Itulah sebabnya beberapa praktik kultural lama masih terus berlanjut di Kerajaan Mataram, khususnya di Kasunanan Surakarta, seperti praktik sesaji di bawah ini.

Selain menyaksikan istana, kita juga bisa melihat benda-benda peninggalan keraton Solo di museum keraton.

 

 

 


About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

49 Comments to "Keraton Solo"

  1. Handoko Widagdo  20 May, 2011 at 07:06

    Kangmas RM Bantolo, matur sembah nuwun kagem koreksinipun.

  2. RM.Bantolo  19 May, 2011 at 20:31

    Maap meralat untuk Istana keraton Solo konon didisain oleh seorang arsitek Belanda. yg mendisain adik Raden Mas Prabasuyasa yg terkenal dengan nama Kanjeng Gusti Susuhunan Pakubuwono II , Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I)
    dan sedikit menambahkan Pasir pantai selatan ini jelas berhubungan dengan ‘pernikahan’ raja-raja Jawa dengan Nyai Rorokidul bukan nyi Rorokidul tetapi Kanjeng Ratu Rorokidul berbeda tapi banyak orang mengartikan sama antara nyai Rorokidul sama Kanjeng Ratu Rorokidul

  3. pin  13 May, 2011 at 14:40

    arikel anda yang menulis tentang SOLO cukup menarik, silahkan diikutkan contest blog “one post for solo” dan dapatkan hadiah jutaan rupiah dengan mendaftarkanya ke alamat berikut http://pin.blog.uns.ac.id/2011/05/08/pendaftaran-resmi-blog-contest-one-post-for-solo/
    Terima Kasih

  4. Handoko Widagdo  7 February, 2011 at 07:46

    GC, pertanyaanmu sudah dijawab Mawar. Menara ini hanya boleh dikunjungi oleh Raja saja. Sebab menara ini kan kamar pertemuan antara Raja Solo dengan nyi Rorokidul. Mana boleh orang sembarangan berkunjung.

    Mas Iwan dan Kang JC, monggo kalau ke Solo saya antar ke dalam keraton sambil lihat-lihat kerisnya.

  5. Mawar09  5 February, 2011 at 00:20

    Pak Han: sorry nih telat baca dan komentarnya. Aku belum pernah ke Solo…. pengen juga sih suatu hari kesana kalau mudik. Bangunan menaranya bagus ya, tapi ngga boleh di kunjungi kan?

  6. J C  4 February, 2011 at 12:46

    Pak Hand, beberapa kali saya lewat sana memang termasuk asik dan misterius, walaupun belum pernah masuk ke sana. Saya sempat tinggal di Palur selama 6 bulan dan keliling Solo hampir tiap malam dolan sana sini….hehehe…

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  4 February, 2011 at 11:48

    Ini artikel mantap dan saya tunggu2. Di tulis sama org yg asli tahu luar dalam kraton. Sayang saya belum sempat masuk ke dalam cuma keliling sekitar Kraton saja wkt Des 1995.

    Benda-benda pusaka Kraton tidak akan pernah hilang. Mereka cuma “jalan-jalan” saja. Mungkin 5, 10 atau 50 tahun lagi akan kembali ke Kraton dgn cara2 aneh.

    Meski kraton Solo sudah agak sangar (kurang berwibawa), tapi tetap menjadi kraton tertua dan terawet yg pernah ada. Saya ingat cerita2 teman dan keluarga istri, ketika banjir menenggelamkan kota Solo tahun 1966, semua kelelep, kecuali Kraton Solo.

  8. GC  4 February, 2011 at 10:10

    pak Hand, dalemnya menara apa ya? pernah dibuka ga? fenasarannn….

  9. Handoko Widagdo  4 February, 2011 at 08:09

    Sesayu, konon ceritanya memang demikian. Banyak pusaka keraton, bahkan patung-patung di Perpustakaan Radya Pustaka juga sudah berpindah tangan. Ini akibat dari kurangnya perhatian pemerintah kepada keraton. Keluarga keraton tidak mendapatkan dukungan dana yang memadai untuk menghidupi asset mereka. Jadi ya…banyak yang dijual secara gelap.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *