Penangkaran Penyu di Ujung Genteng

Ratman Aspari


Dari bentuk telur yang lembek seperti bola pingpong, anak-anak Penyu yang biasa disebut Tukik, dapat dilihat secara langsung di tempat ini.


SUKABUMI – Tidak saja dikenal dengan obyek wisata Palabuhan Ratu semata, tetapi berbagai obyek wisata lain yang tidak kalah menariknya juga banyak terdapat di kawasan ini. Sejak era otonomi daerah wilayah Sukabumi, propinsi Jawa Barat mengalami pemekaran, saat ini Sukabumi terbagi dua, ada Kabupaten Sukabumi dan Kota Sukabumi.

Keberadaannya yang masih berada di tatar Sunda, berhawa sejuk dengan keelokan alamnya, menjadikan Sukabumi banyak dijadikan alternatif  berlibur khususnya bagi warga Ibukota Jakarta menjelang akhir pekan, maupun hari-hari libur lainnya.

Hal ini cukup beralasan mengingat keberadaan Sukabumi sendiri yang sangat mudah ditempuh dari Jakarta, bahkan beberapa terminal antar kota di Jakarta ada kendaraan untuk tujuan ke Sukabumi, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 ½ jam perjalanan.

Selain berbagai obyek wisata yang ada, di wilayah Ujung Genteng terdapat tempat pelestarian dan penangkaran Penyu, tepatnya di Kampung Pangubahan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.

Perjalanan untuk menuju ke obyek penangkaran Penyu ini dari Palabuhan Ratu kurang lebih sekitar 4 KM, lewat Surade, Perempatan Jampang hingga sampai di Ujung Genteng, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan Ojek Motor sekitar setengah jam sampai tempat penangkaran.

Tempat penangkaran Penyu di sini berada di sepanjang garis pantai yang membentang kurang lebih 5 km, tempat ini tertutup bagi masyarakat. Untuk itu pengelola membangun dua pos penjagaan di kedua ujung pantai yang dijadikan lokasi penangakaran. Untuk bisa menyaksikan secara langsung bagaimana seekor Penyu bertelur, mulai dari pertama kali naik kedarat, menggali pasir, hingga mulai bertelur biasanya dilakukan pada malam hari.

Ketika penulis melakukan perjalanan untuk mengintip Penyu bertelur di Ujung Genteng sehabis maghrib, selama perjalanan menggunakan ojek menuju pesisir pantai, banyak menemui serombongan orang-orang pantai dengan lampu petromak yang sedang menjaring di semak-semak belukar.

Setelah mencari informasi ternyata yang mereka jaring adalah serangga sejenis Kumbang yang berwarna-warni, serangga tersebut menurut mereka akan dijual per-ekornya harganya cukup lumayan, ditampung oleh pengepul untuk selanjutnya di eksport ke Jepang.

Selama perjalanan banyak juga dijumpai berbagai papan pengumuman/himbauan yang intinya untuk ikut melestarikan Penyu, yang dikoordinasi oleh sebuah organisasi peduli lingkungan dan satwa yaitu WWF. Keberadaan Penyu di Ujung Genteng, Sukabumi ini, khusunya Penyu Hijau memang merupakan salah satu satwa yang dilindungi.

Kepedulian Lembaga seperti WWF memang tidak perlu diragukan, dalam kegiatan seperti ini, namum semua itu tentunya harus mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat, disamping adanya kesadaran dari masyarakat itu sendiri.

Kami diberitahu oleh seorang pemandu, bahwa ada beberapa larangan yang harus dipatuhi untuk bisa melihat Penyu yang akan bertelur, diantaranya kami tidak boleh berisik, tidak boleh menyalakan lampu senter dan tidak boleh merokok. Sebab rokok yang terlihat oleh Penyu, bisa berakibat fatal bahkan si Penyu bisa batal bertelur dan kembali kelaut.

Seekor induk Penyu yang akan bertelur dengan sangat hati-hati naik ke darat, sebelum ia memutuskan menggali lubang untuk tempat menaruh telur-telurnya. Dalam kondisi seperti ini Penyu sangat sensitif dan bisa dipastikan akan batal bertelur jika diketahui ada mahluk asing disekitarnya. Barulah ketika semuanya dirasa aman, penggalian lubang dimulai menggunakan kedua kakinya yang berbentuk mirip dayung, saat ini Penyu tidak lagi menggubris siapapun dan apapun yang datang menghampirinya.

Ketika lubang dirasa sudah cukup, saatnya Penyu yang beratnya bisa mencapai satu kwintal ini mulai bertelur, perlahan tapi pasti satu-persatu telur bulat berwarna putih keluar, satu Penyu bisa bertelur sampai ratusan butir.

Pada fase ini seekor induk Penyu begitu pasrah, tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada sekelilingnya, tetap asyik bertelur. Sebenarnya pada saat-saat seperti inilah kondisi yang sangat berbahaya bagi si Penyu itu sendiri, apabila datang seorang yang berniat jahat atau binatang buas lainnya, maka dengan mudahnya Penyu tersebut ditangkap, tidak akan lari, bahkan pasrah begitu saja. Makanya tingkat kepunahan Penyu sangat rawan. Setelah dirasa selesai bertelur Penyu akan menutup telur yang ada dilubang tersebut dengan pasir, sampai batas waktunya menetas.

Dan sampai di sini, kehidupan generasi Penyu akan dimulai sewaktu telur-telurnya mulai menetas. Namun perlu juga diingat hukum alam berlaku di sini, anak Penyu yang baru lahir, tidak lepas dari incaran berbagai macam binatang seperti Kepiting, Burung Laut, Ikan Besar dan binatang buas lainnya, di samping itu bahaya terbesar adalah ancaman akibat kerakusan manusia.

Karena itu WWF dengan berbagai programnya terus berupaya sekuat tenaga untuk pelestarian Penyu Hijau di Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Sehingga masih ada seberkas harapan untuk anak cucu kita, generasi mendatang bisa menyaksikan bagaimana wujud seekor Penyu.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan Penyu sedang bertelur di Ujung Genteng disarankan untuk datang pada awal bulan Januari hingga bulan Maret, dan jangan pada bulan Juli, karena pada bulan Juli sampai Agustus tersebut, masa bertelur Penyu sudah lewat. (ratman aspari)


Sekilas Tentang Penyu Hijau

Berdasarkan sumber WWF diperkirakan, setiap tahun sekitar 100.000 ekor penyu hijau dibunuh dikepulauan Indo-Australia.

Uraian Fisik penyu hijau

  • Memiliki warna kuning kehijauan atau coklat hitam gelap
  • Cangkangnya bulat telur bila dilihat dari atas dan kepalanya relatif kecil dan tumpul
  • Ukuran panjang adalah antara 80 hingga 150 cm dan beratnya dapat mencapai 132 kg


Ekologi dan habitat
Penyu hijau sangat jarang ditemui di perairan beriklim sedang, tetapi sangat banyak tersebar di wilayah tropis dekat dengan pesisir benua dan sekitar kepulauan.


Perkembangbiakan
Usia untuk kematang seksualnya tidaklah pasti: perkiraan saat ini sekitar 45 hingga 50 tahun. Penyu hijau betina bermigrasi dalam wilayah yang luas, antara kawasan mencari makan dan bertelur, tetapi cenderung untuk mengikuti garis pantai dibandingkan menyeberangi lautan terbuka.


Makanan
Penyu hijau dewasa serupakan penyu laut herbivora. Makanan utama mereka dalah lamun laut atau alga, yang hidup di perairan tropis da subtropik. Tetapi anak-anaknya diasumsikan omnivore untuk mempercepat pertumbuhan tubuh mereka. Kemungkinan besar terjadi transisi bertahap, saat penyu mencapai besar yang cukup untuk dapat menghindari predatornya.


Populasi dan Distribusi
Di kawasan pesisir Afrika, India dan Asia Tenggara serta sepanjang garis pantai pesisir Australia dan Kepulauan Pasifik Selatan. terdapat sejumlah kawasan peteluran dan kawasan mencari makan penting bagi penyu hijau. Mereka juga dapat ditemukan di Mediterania dan terkadang di kawasan utara hingga perairan pesisir Inggris.


Ancaman
* Hilang dan rusaknya habitat

Pembangunan yang tidak terkendali menyebabkan rusaknya pantai-pantai yang penting bagi penyu hijau untuk bertelur. Demikian juga habitat tempat penyu hijau mencari makan seperti terumbu karang dan hamparan lamun laut terus mengalami kerusakan akibat sedimentasi atau pun pengrusakan oleh manusia.

* Pengambilan secara langsung
Para peneliti memperkirakan setiap tahun sekitar 30.000 penyu hijau ditangkap di Baja, Kalifornia dan lebih dari 50.000 penyu laut dibunuh di kawasan Asia Tenggara (khususnya di Bali, Indonesia) dan di Pasifik Selatan.

Di banyak negara, anak-anak penyu laut ditangkap, diawetkan dan dijual sebagai cendera mata kepada wisatawan. .

* Pengambilan secara tidak langsung
Setiap tahu, ribuan penyi hijau terperangkap dalam jaring penangkap. Penyu laut merupakan reptile dan mereka bernafas dengan paru-paru, sehingga saat mereka gagal untuk mencapai permukaan laut mereka mati karena tenggelam.

* Penyakit
Di sejumlah kepulauan Hawai, hampir 70% dari penyu hijau yang terdampar, terkena fibropapillomas, penaykit tumor yang dapat membunuh penyu laut. Saat ini, penyebab tumor belum diketahui.

* Pemangsa Alami
Penyu laut dapat mengeluarkan lebih dari 150 telur per sarang dan bertelur beberapa kali selama musimnya, agar semakin banyak penyu yang berhasil mencapai tingkat dewasa. Keseimbangan antara penyu laut dan pemangsanya dapat menjadi lawan bagi keberlanjutan hidup penyu saat pemangsa baru diintroduksi atau jika pemangsa alami tiba-tiba meningkat sebagai hasil dari kegiatan manusia. Seperti yang terjadi di pantai perteluran di Guianas, kini anjing menjadi ancaman utama bagi telur dan penetasan. (sumber WWF)

25 Comments to "Penangkaran Penyu di Ujung Genteng"

  1. pargiwiyono  12 November, 2013 at 17:18

    trim banyak infonya sobat tentu info ini bisa saya sampaikan pada teman teman untuk selalu menjaga habitat ini rtims2

  2. Pulau Seribu  12 March, 2013 at 02:51

    semoga tulisan anda bermotivasi bagi kita semua para pembacanya. nice post

  3. ratman aspari  18 February, 2013 at 13:36

    Terima ksh Pulau Pramuka,benar sy juga kenal dg penangkaran penyuyg di PulauPramuka dg Bpk.Salim,sy pernah berkunjung kesana,beliau bnyk mendapat penghargaandriKalpataru atas ketekunananya menyelematkan penyu dari kepunahan,semoga menjadi inspirasi dan bermanfaat,salam sukses

  4. pulau pramuka  16 February, 2013 at 12:03

    penyu sebagai binatang laut yang di lindungi dan di jaga habitat nya dengan pelastarian buat anak cucuh. trimakasih atas info dan artikel ya. karna di kepulauan seribu juga melestarikan penyu dengan jenis peyu sisik. dengan artikel anda saya semakin mengetahui akan penting nya habitat penyu itu sendiri.

  5. arfan  27 December, 2011 at 15:11

    Saya ada kegiatan event untuk awal januari 2012. salah satu kegiatan itu adalah pelepasan tukik di pulau pramuka. yang jadi kendala adalah, sampai saat ini kami belum mendapatkan tukiknya. boleh saya minta kontak personnya untuk saya bisa mensukseskan acara tersebut. no HP saya 0817197027 / 53673999
    thx
    arfan

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)