Sebuah Draft Novel Karya SW Yanti

Bamby Cahyadi


KISAH VIRA

Oleh: SWD Yanti


Vira masih sibuk membereskan pakaiannya. Dikemasnya satu per satu, dia menyadari tangannya semakin lemah dalam melipat pakaiannya, nafasnya tersengal, matanya panas menahan air yang mengalir namun air mata itu sudah menggenang di ujung matanya. Vira menunduk agar tak seorang pun tahu apa yang terjadi padanya, tubuhnya semakin lemah dan dia berkata dalam hati, hypoglikemik.

Dia berjalan pelan keluar kamarnya menuju ke meja makan di rumahnya yang sederhana, anak  lelaki semata wayangnya sedang asyik menonton televisi dan suminya tak tampak di ruangan ini juga di kamarnya.

Vira meraih selembar roti tawar yang tersisa dan diolesinya dengan selai strawberry murahan yang dibelinya kemarin dan segera dimakannya untuk meningkatkan kadar glukosa dalam darahnya, Sudah bertahun-tahun ia mengindap diabetes mellitus type II yang membuat gula darahnya naik dan turun di luar batas normal. Dia kembali berjalan perlahan kamarnya duduk di kasur dan melipati sisa pakaiannya.

Besok Vira sudah harus bangun pukul 03.00 karena perjalanannya ke Surabaya akan dimulai pukul 05.00. Pembantunya dengan setia membantu  merapihkan pakaiannya di dalam koper tuanya. Ia memasukkan berks-berkas dokumen pekerjaannya  ke dalam koper. Satu persatu diperiksanya.

Ia melihat jam dinding di kamarnya yang sepi itu sudah menunjukkan pukul 22.00. ia meminta pembantunya, Sri, memanggil anaknya, Putra, untuk segera tidur karena  besok Putra harus berangkat sekolah sebelum pukul 06.00 sekaligus ia mempersilakan Sri untuk beristirahat di kamar pembantunya. Sri membawa keluar kopernya yang sudah dikunci rapat. Setelah Putra menggelar kasurnya di lantai kamarnya, Vira menelepon suaminya Awal, dengan telepon selularnya yang sudah sering rusak itu. “Pa, pulang pa, sudah jam 22.00 besok, masih ada pekerjaan lagi.”

Dan seperti biasanya di ujung telepon sana Awal menjawab sambil menghardik, “Rewel banget! Tidur aja sendiri, sana, aku bawa kunci rumah kok”.

Memang kunci rumah selalu dibawa Awal yang selalu keluar rumah malam hari setelah pekerjaan di bengkelnya selesai.  Bersama teman-temannya sesama bapak-bapak di kompleknya ia selalu meninggalkan Vira dan anaknya Putra untuk kesenangannya sendiri dan Vira merasa lelah untuk mengingatkan Awal.

Vira memeriksa Putra yang sudah terlelap dan dia berjalan perlahan mengangkat kedua kakinya yang lemah karena sakitnya ke kamar mandi di dalam kamar mereka. Di kamar mandi yang kecil itu dia membesihkan diri bersiap tidur dan mengambil wudhu.

Karena Vira sempat terlelap sejenak setelah shalat isya, dia memutuskan menjalankan shalat tahajjud sebelum tidur, kegiatan yang sungguh disukainya kini. Ia menjalankan shalat di kasurnya karena ia tak mampu lagi melakukan shalat di atas sajadah di lantai. Begitu  dalam ia tenggelam dalam ayat-ayat yang dilafalkan dalam hatinya.

Baru dua raka’at ia melakukan shalat Tahajjud dan saat ia berdo’a ia mendengar Awal pulang dan langsung masuk kamar. Tampak di sudut matanya Awal mengganti pakaiannya dan tanpa berkata apapun padanya, Awal tidur.  Terdengar dengkuran di belakang Vira.  Dan Vira kembali meneruskan shalatnya.  Sampai Vira benar-benar merasa tak sanggup menahan kantuknya, ia tertidur masih menggunakan mukenanya. Ia tahu, suaminya seperti biasa memasang guling sebagai pembatas tidur mereka. Dan Vira tak hendak mengusik pembatas itu.  Ia mengucap syukur dan ia tertidur.

Pukul 03.00 alarm membangunkannya. Vira segera bangkit dan berjalan pelan ke  dapur memasak air panas dan sambil menunggu ia berzikir, entah mengapa ia bersungguh-sungguh berzikir memohon perlindungan dan rezeki dari Allah untuk Putra.

Hatinya terasa tercekat setiap ia mengingat anaknya dan wajah tampan putranya  yang masih terlelap itu. Setelah matang dengan perlahan dibawanya dengan hati-hati ceret yang berisi sedikit air panas itu lalu dituang kedalam ember dalam kamar mandinya.  Ia pun segera mandi dengan hati-hati supaya tidak mengganggu tidur Awal dan Putra. Tak lama mandi, ia segera mengenakan pakaian yang telah disiapkannya. Tak lupa jilbab sederhananya. Ia berdandan sepantasnya dan ia melaksanakan sholat Subuh.

Lalu Vira duduk di samping tempat tidur  di samping suaminya, ia meraih perlahan tangan Awal yang masih tertidur pulas, “ Pa , mama berangkat ya” dicium tangan suaminya dikecup pipi suaminya dan suaminya tiba-tiba terbangun  dan dengan  terkejut dan bergerak reflek mengibaskan tangannya sehingga tetamparlah pipi Vira, Plak, cukup keras. “ Apaan sih , bikin kaget saja” Namun Vira hanya mengusap pipinya dan meminta maaf telah mengejutkan Awal.”Maaf, pa, Mama pamit”.

Awal hanya bereaksi mebalikkan tubuhnya membelakangi Vira”Iya, iya”

Vira menunduk mencoba meraih tangan anaknya dan, diusapkannya tangan Putra ke pipinya, entah kenapa air matanya mengalir deras, “Mama pamit ya, nak.”

Putra hanya ,menjawab sekenanya, “ Hati-hati ya, Ma” Diusapnya pipi Putra  dan keningnya. Vira menggumam, “Jaga dirimu baik-baik,Nak. Tetaplah shalat.” Di luar terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya,  setelah mengucapkan salam yan tak terjawab, ditutupnya pintu kamarnya.

Ternyata Sri sudah bangun sambil membawakan kopor ke pagar rumahnya  Sri mencium tangan Vira dan tiba-tiba ia memeluk erat tubuh Vira. “Ibu, hati-hati, maafkan Sri.”Vira mengangguk dan berpesan agar Sri menjaga dirinya sendiri dan menjaga Putra.

Pak supir kantornya memasukkan koper Vira dan segera Vira masuk ke mobilnya. Sebelum mobil dinyalakan. Vira melihat Putra bergegas berjalan ke pagar dan melambaikan tangannya. Rupanya Putra sudah bangun. Vira hanya tersenyum dan melambaikan tangansambail beteriak “  I love you Putra.” Di perjalanan ke bandara Vira tak putus-putusnya mengucap istighfar. Ia merasa perjalan kali ini dilaluinya dengan berat namun ada rasa bahagia yang perlahan muncul dari hatinya, entah kenapa.

Tak butuh waktu lama menembus pekatnya malam Jakarta, mereka sampai di Bandara Soekarno Hatta. Dan Vira dibantu supir kantornya bergegas masuk ke terminal keberangkatan, Setelah mengurusi dokumen dan kopernya, Vira berjalan ke pemeriksaan satu persatu sambil terus menyerahkan tongkat  stainless steel, alat bantu jalannya selama ini ke petugas bandara hingga akhirnya Vira duduk di ruang tunggu keberangkatan.

Calon penumpang masih sedikit dan dia mengeluarkan tasbih merah kesayangan, pemberian  sahabatnya, kembali ia membaca istighfar dan semakin lama hatinya semakin tenang dan rasa bahagia dan ringan itu semakin merasuki dirinya, dilayangkan pandangannya ke seluruh ruangan, tampak calon penumpang yang tampak begitu cantik dan tampan , pakaian mereka tampak begitu indah, tubuh mereka harum, hmmm pastinya mereka sudah mandi semua dengan sabun wangi pikirnya,  namun di  ujung ruangan ia melihat seorang wanita berpakaian serba hitam mengenakan kacamata hitam di saat pagi yang masih gelap ini tampak gelisah, ia sekali-sekali mengelap pipinya yang rupanya basah oleh air mata.

Tiba-tiba seorang wanita tua  berkerudung putih  duduk di sampingnya tersenyum lalu berkata” Sudah siap, jeng?Apa benar-benar sudah siap?”

Vira yang bingung tak tahu harus menjawab apa , tapi entah kenapa tiba-tiba mulutnya menjawab” Iya Bunda, saya sudah siap, ini yang saya inginkan.”

Wanita tua itu tersenyum, “ Tak usah takut, teruslah mengingat Tuhan.Ah, maaf saya mau ke situ.” Katanya sambil menunjuk pasangan yang membawa satu anak berusia 7-8 tahunan di ujung ruangan. Sang suami berseragam militer dengan topi baret hijaunya.

Vira hanya mengangguk  namun  ia tak memperhatikan perginya wanita tua yang tak dikenalnya itu. Matanya tertuju ke sekelompok anak muda yang masuk tergesa-gesa dengan suara gaduh, beberapa berjalan seperti  dengan mata seperti mengantuk, ah dasar pemabuk , gumam Vira dalam hati.

Tak lama suara panggilan untuk  penumpang pesawat agar memasuki pesawat bergema di pengeras suara. Vira segera memasukkan tasbih  ke dalam tasnya dan berdiri, ia berusaha melangkahkan kakinya secepat-cepatnya ke arah pintu penumpang pesawat.

Ia serahkan dokumen masuk ke petugas dan ia berjalan menuju  bis pengantar yang disediakan. Ia agak kesulitan menaiki bis dengan kakinya yang lemah, namun tiba-tiba dari dalam bis tangan wanita tua itu dengan kuat menggapai tangannya dan membantunya masuk, bahkan wanita tua itu menyilakannya duduk di sampingnya di dalam bis.

Tak lama mereka sampai di  samping tangga pesawat.  Vira tertatih pelan menaiki anak tangga pesawat. Ia hampir tergelincir karena lemahnya kakiknya berpijak, namun seorang pramugari sigap menopang tubuhnya dan membantunya menaiki tangga pesawat.

Vira  mendapatkan tempat duduk di dekat jendela, ini pertama baginya karena biasanya Vira menyukai tempat duduk di  bagian lorong agar mudah baginya keluar-masuk.  Vira meletakkan tongkatnya di bagasi di atas kepalanya dengan bantuan pramugari.  Vira memandang keluar jendela, langit mulai bersinar, semburat matahari malu-malu menampakkan kecantikannya dan Vira sungguh merasakan kedamaian dan mengagumi keindahan karya sang Pencipta ini.

Tepat di sampingnya tampak sayap pesawat tebentang lebar dan gagah. Ia melihat para penumpang masih hilir mudik mencari kursinya ditingkahi langkah-langkah sigap pramugari dan pramugara pesawat itu. Dan tak lama pesawat terisi penuh. Dan ada tanda suara yang mengisyaratkan pintu pesawat sudah ditutup .

Vira merasa pesawat bergerak perlahan dan suara pramugari mengingatkan metode penyelamatan yang sudah sering dia dengarkan. Tak terasa Vira meraba bagian dalam tas besarnya, ia menyentuh telepon selularnya tapi ia tak segera mematikannya, tak seperti biasanya, tangannya menyentuh butiran tasbih merahnya yang segera diraihnya dan ia kembali mengucap istighfar.

Pukul 06.15 pesawat segera tinggal landas  Vira  besyukur  bahwa  prosesnya sangatlah mulus dan nyaman. Ia memandangi langit yang mulai tampak biru.

Di rumahnya Awal  sedang mengantar putra ke sekolahnya dengan sepeda motor tuanya. Meski sudah SMA, Vira tetap tak mengizinkan Putra mengendarai motor sendiri karena khawatir akan keselamatannya.

Pukul 6.15 Putra telah sampai di sekolahnya dan segera bergegas naik ke kelasnya di lantai tiga  sebuah SMA Negeri, ada perasaaan aneh menyelimuti dirinya. Ia segera meletakkan ranselnya yang sudah lusuh ke laci mejanya dan tiba-tiba ia menyadari bahwa botol minum yang dibawanya  mengeluarkan air sehingga  ranselnya basah.

Dan dengan mengomel dia  mengeluarkan  buku-buku yang sebagian basah dari ranselnya.  Putra bingung karena ia yakin ia telah menutup rapat-rapat botol minumnya dan setelah diperiksa tak ada tanda-tanda bahwa botolnya telah pecah.

Awal yang telah sampai ke rumah seperti biasa sebelum mulai bekerja di bengkelnya ia menikmati kopi  dan roti sambil menggenggam remote televisi di sofanya yang sudah sobek-sobek. Ia ingin melihat ulasan pertandingan bola  yang tak diselesaikanya tadi malam,namun stasiun televisi tersebut tiba-tiba terganggu siarannya dan segera ia mengganti saluran.

Mungkin karena terlalu keras memencet tombolnya, salurannya berpindah sendiri tanpa diperintah. Sekilas ia melihat berita kecelakaan pesawat. Dan ia merasa tertarik sehingga ia berusaha menghentikan remote televisi ke saluran yang menyiarkan berita tersebut.

Disebutkan sebuah pesawat maskapai penerbangan nasional pagi ini meledak dan jatuh, semua penumpang dan awak pesawatnya tewas.  Ia melihat bangkai pesawat yang tercerai berai dan hangus  di suatu daerah di pematang sawah. Televisi menuliskan bahwa  data nomor penerbangan pesawat itu  dengan tujuan Surabaya.

Hatinya tercekat. Ia segera membuka kotak masuk di handphonenya dan melihat sms yang dikirimkan Vira kemarin yan tak diperhatikan sebelumnya. Vira menulis: papa, aku jadi ke Surabaya, tiketnya sudah ada dengan nomorXXX-XXX-XXX. Hati Awal seperti hancur, nomor yang sama tertera di televisi sebagai  data pesawat yang baru saja meledak dan jatuh.

Awal segera menelepon maskapai penerbangan itu untuk mengecek kebenaran beritanya. Dan ternyata benar nama Vira Iswaridini ada dalam daftar penumpang pesawat yang telah ceck in di bandara Soekarno Hatta tadi pagi.

Awal ingin memastikan keadaan istrinya, ia masih menyimpan sedikit harapan bahwa Vira masih hidup, tapi ternyata harapannya musnah setelah maskapai mengkonfirmasikan bahwa semua penumpang dan awak pesawat tewas seketika karena ada ledakan di  langit sebelum pesawat jatuh berkeping-keping.  Dengan gontai Awal memaksakan diri menuju ke sekolah Putra, menjemput anaknya tunggalnya.

Di sekolahnya, Putra yang sedang sibuk mengeringkan buku-bukunya dan memasukkan kembali ke lacinya. Bersamaan dengan bunyi bel tanda masuk sekolah, ia merasakan handphonenya bergetar di saku celananya, ia membaca sms yang diterimanya dan tersenyum, dimasukkan kembali handphonenya ke sakunya.

Dan tak lama pelajaran dimulai . baru setengah  jam ia belajar, muncullah bapak wakil kepala sekolah yang sangat menyayanginya  pak Handi. Pak Handi berbisik sebentar ke guru kelasnya dan guru kelasnya memanggil nama Putra. Dan pak handi meminta Putra menikutinya ke kantornya, ia diberi kesempatan mengambil tasnya, Putra yang kebingungan segera mengambil tasnya dan mengikuti langkah Pak Handi, tanpa bicara sepatah pun.

Ada rasa tegang dipikiran Putra seraya bertanya-tanya dalam hatinya. Sesampainya di kantor pak Handi, Putra menemui ayahnya yang telah duduk di ruang Pak Handi. Ayahnya segera memeluk tubuh Putra. Ia melihat wajah ayahnya telah basah dengan air mata. “ Ada apa Pa?”

Awal hanya memeluk erat tubuh anaknya dan mengajaknya pulang.  “Nanti saja di rumah Papa cerita.”

Setelah mereka meminta izin, mereka segera meninggalkan ruang kantor wakil kepala sekolah, sekilas Putra melihat Pak handi menghapus air matanya. Perasaan tak enak segera memenuhi dada Putra. Mereka pulang dalam kebisuan.

Sesampai  di rumah   Putra yang tak sabar kembali bertanya pada ayahnya sambil ia menurunkan ransel dari pungungnya. “ Ada apa sih Pa?” Terdengar suara tangis dari kamar Sri dengan  begitu keras.

“Putra, duduklah,” Awal memulai pembicaraannya. “Putra tahu kan hidup dan mati seseorang itu sudah dituliskan oleh Allah?” Putra yang tetap bingung mengangguk. “Putra tahu kan bahwa Mama sangat menyayangi kita?” Putra kembali mengangguk.  Tiba-tiba Awal memeluk bahu anak tunggalnya itu dengan keras,”Putra, pesawat mama jatuh  di dekat Surabaya”.

“ Jam berapa Pa?”

“Sekitar jam setengah tujuh.”

Tak disangka oleh Awal, Putra tersenyum.”Tenang Pa, Mama selamat.”

“Ini SMS mama, aku terima sektar pukul 06.45” kata Putra ambil mengeluarkan handphonenya.Dibukanya kotak masuk pesan yang tertulis pesan dari “Mama” dan tertulis “ I love you,Putra, anakku, Mama sudah bahagia sekarang.”  Awal memeluk erat tubuh anaknya dengan derai air mata yang tak tertahankan.

Di dalam pesawat 06.25 pesawat yang tebang  dengan tenang seperti terguncang-guncang, namun Vira seperti tak merasakan apa-apa  dia asyik dengan istighfar yang meluncur tanpa henti dari mulutnya. Tiba-tiba wanita tua ditemuinya di ruang tunggu menggantikan tempat penumpang di sebelahnya lalu berkata, “Handphonenya belum dimatikan tuh.”

Vira merogoh tasnya dan saat tersebut Vira melihat pancaran api  muncul dari sayap pesawat  tepat di samping tempat duduknya. Ia hanya sempat mengucap istighfar dengan keras, selanjutnya ia pasrah.

Ia merasakan wanita  tua di sebelahnya mengendongnya dengan perkasa. Dan ia merasa tubuhnya dan tasnya terangkat. Dan setelah itu ia tak sadar lagi apa yang terjadi. Ia meraasa berada di suatu padang rumput yang indah dengan bunga-bunga liar yang  memancarkan wangi harum. Ia masih tertelungkup.

Tiba-tiba ia melihat pramugari yang tadi menolongnya menaiki tangga pesawat kembali membantunya bangkit. Ia berjalan tegap tak seperti dulu sebelum ia sakit. Tubuhnya terasa segar, pikirannya begitu tanang dan damai. Dia merasa  bahagia dan ia segera ingin mengabarkan keadaanya kepada Putra, anaknya.

Vira memerogoh tasnya, dan dikeluarkan handphonenya yang memang masih menyala. Ia sedera menuliskan pesan untuk anaknya,” I love you Putra.” Belum selesai ia muliskannya  di belakangnya terdengar suara keras seorang pria, “Matikan handphonenya!”

Dengan panik  Vira memencet  keyboard di handphonenya sembarangan dan tepat ketika tangan seorang laki-laki yang sangat kuat dan tegap menggenggam pergelangan tangannya pesannya berhasil terkirim ke Putra, anaknya.

Vira segera memasukkan handphonenya ke dalam tas besarnya dan  ia kembali kebarisannya. “Kamu yakin mau jalan atau kembali ?” Tanya laki-laki itu, Vira merasa takut melihat laki-laki itu.

Namun tiba-tiba wanita tua yang telah menggendongnya ke tempat itu merangkul bahunya. “Tak usah takut, Vira. Berjalanlah dengan kekuatan yang telah kau kumpulkan selama ini.” Wanita itu begitu damai memberi kekuatan di hati Vira, dan berjalan lagi. Sesampai dijung jalan, ia melihat gerbang besar berukir nama-nama Allah  terbuat dari emas. Gerbang itu selalu menutup otomatis setiap ada yang masuk sehingga setiap orang  harus mendorongnya. Di depan Vira ada 4 orang berdiri dalam antrian yang rapi namun semua diam membisu.

Orang terdepan mendorong pintu itu dia seorang laki-laki kurus yang berjalan dengan kepala menunduk. Setelah gerbang tertutup orang kedua maju tapi  ketika dia mendorong gerbang itu dia berteriak keras, “aaaaaahhhhh, shit!” Vira melihat pemandangan mengerikan tangan orang tersebut meleleh dan gerbang yang tadinya berwarna emas indah tampak menyala dengan warna oranye  dengan asap-asap keluar dari permukaannya. Orang tersebut mendorong kembali dengan sisa tenaganya, karena merasa kurang kuat ia mendorong dibantu tendangan tubuhnya.

Ternyata orang kedua itu adalah calon penumpang berbaju hitam dan berkacamata yang selalu mengusap air mata di pipinya. Akhirnya gerbang terbuka dengan tubuh yang tak sempurna lagi bentuknya karena meleleh,”wanita itu” memasuki  ruangan itu.

Vira mencoba melihatnya ruangan apa itu. Namun yang tampak hanya tirai-tirai saja menutupi pandangannya. Di depannya ada sepasang suami iatri dan anak mereka . Sang istri tampak keatakutan tak mau meneruskan langkahnya dan bersikeras untuk kembali lagi namun sang suami yang mengenakan seragam militer sambil menggendong anaknya memeluk sang istri maju ke depan gerbang.

“Assalamu’alikum” sahut suami istri itu, didorongnya pelan gerbang itu dan terbukalah. Sang suami tetap menggendong anaknya dan memeluk istrinya melangkah masuk.

Kini tinggallah Vira di depan gerbang itu. Sang wanita tua tiba-tiba sudah ada di sampingnya dan berkata lembut,” Vira, inilah jawaban do’a-do’amu,nak.” Vira teringat Putra dan Awal , anak dan suaminya.

Dan seperti membaca pikirannya wanita tua itu merangkul pundaknya,” mereka diurus oleh yang Paling Sempurna” Tiba-tiba ada rasa nyaman di hati Vira. “ Alhamdulillah, aku ikhlas. ”

Diulurkannya tangannya yang akhir-akhir ini sudah lemah kondisinya. “ Assalamu’alaikum warrahmatullahi  wabarrakatuuh”

Dengan mantap Vira menyentuh gerbang  emas itu yang ternyata begitu dingin dan harum itu. Didorongnya perlahan masuklah ia ke ruangan yang penuh dengan tirai-tirai sutra ternyata taman yang tertata indah dengan bunga-bunga mawar kesukaannya yang menyebarkan harum wangi dan suara air menglir tenang yang berasal dari sungai kecil yang mengalir tenang membelah taman, airnya begitu bening.

Vira, ingin bersujud dengan kedua kakinya yang kembali kokoh unrtuk mengucap syukur atas rasa bahagia yang dirasakannya.  Tiba-tiba di depannya ada seorang laki-laki yang begitu besar berbaju gamis seraya bertanya “Siapa namamu?”

Yang langsung dijawab ”Vira Iswaridini”

”Bangkitlah” perintah laki-laki perkasa itu . Sekarang kamu bukan lagi Vira dan hapuskan ingatmu tentang Vira.

Pada saat itu Vira seperti masuk ke mesin waktu, gambaran masa kecilnya bersama ayah-ibunya di asrama tentara, masa sekolahnya, masa kuliahnya, masa indahnya sampai saat pernikahannya dengan Awal, saat pertama ia melihat Putra yang baru dilahirkannya, saat ia mengasuh Putra yang belajar sepeda ketika kecil, saat ia mendapat penghargan sebagai peneliti andalan di perusahaannya, saat ia menerima gaji yang diberikan Awal dari kantornya, saat ketika ia  merasa lemas dan terjatuh di kamar mandinya dan ditolong oleh Sri dan Putra yang mendobrak pintu kamar mandinya, saat ia koma dan dirawat di rumah sakit, saat ia belajar berjalan sambil teriaki oleh Awal, saat Awal pulng dari kantornya dengan gontai dan mengabarkan ia di phk, saat ia menjual perhiasan hasil tabungannya untuk menyambung hidup mereka, saat ia mencari beasiswa untuk sekolah Putra dan Saat ia pamit pagi tadi kepada Awal dan Putra di kamarnya.  Gambar ini ditutup dengan Putra yang berlari ke pagar rumahnya dan melambaikan tangannya ke Vira yang sudah duduk di dalam mobil kantornya. Dan tiba-tiba Vira hilang.

Awal dan Putra menunggu kedatangan jasad Vira yang berhasil diidentifikasikan di bandara. Tak lama jenazah para korban kecelakaan pesawat tiba, mereka mengenali peti bertuliskan nama Vira Iswaridini. Awal dan Putra memaksa ikut dengan mobil jenazah untuk menemani Vira terakhir kalinya. Namun sebelum mobil diberangkatkan seorang petugas maskapai pesawat  mendatangi Awal yang sudah bersiap hendak masuk ke mobil jenazah dimana Putra telah menunggui jenazah ibunya di dalam.

“Pak, suaminya ibu Vira?”

“Ya, ada apa?”

“Ini  kami temukan di jasad ibu Vira dan anehnya meski pesawat  meledak hand phone ini tetap menyala dan ini yang membantu kami melacak keberadaan jasad-jasad itu. “

Petugas menyerahkan handphone Vira yang berwarna merah itu. Anehnya keadaaanya masih mulus dan masih menyala. Teringat dengan cerita Putra tentang pesan yang dikirim Vira sesaaat setelah ledakan terjadi, Awal membuka kotak pesa terkirim yang ada tertulis  di pesan terakhir  “I love you Putra, rtruisfhklkjfdsvjhj.”

Dan ada satu pesan tak terkirim setelahnya. “Papa, you don’t know how much I love you, maafkan mama. Titip Putra , kalian harus saling menyayangi.”

Awal menangis tak terbendung lagi, ia merasa menyesal telah menyia-nyiakan Vira di akhir hidup istrinya. Ia hanya menggangap Vira sebagai beban hidupnya. Terlintas bayangan tubuh istrinya yang lemah dan berjalan tertatih pelan setelah  jatuh itu masih berusaha tegar mencari nafkah sebagai tenaga administrasi setelah dia menerima tawaran pahit dari kantornya setelah ia lagi menjadi peneliti utama di laboratorium pabrik obatnya.

Terbayang tubuh Vira yang dulunya segar dan kuat, selain sebagai ilmuwan Vira juga berprofesi sebagai pelatih aerobik dengan bayaran tinggi. Saat sakitnya ia menjadi pengajar ngaji anak-anak kampung yang dibayar seikhlasnya.

Vira  yang dulunya berambut panjang dan selalu dirawat ke salon akhirnya semakin menipis  dan sebagian bahkan sebagian telah botak karena sakitnya yang tidak teridentifikasi oleh dokter sampai Vira  menutup rambutnya dengan  jilbab. Vira yang selama ini berpakaian indah berganti dengan baju gamis longgar yang membuatnya tak menarik lagi.

Dan Awal menyesali perasaannya yang selalu ingin membuang Vira, ingin mengembalikan Vira, andai saja mertuanya masih ada. Awal menyesali bahwa diam-diam ia telah mendo’akan agar dibebaskan dari Vira sebagai beban hidupnya.

Dan Awal menyesali telah sering berkata-kata kasar kepada istrinya yang memaksa istrinya untuk berjalan di kedua kakinya yang lumpuh karena ia tak mau lagi dijadikan tumpuan jika istrinya ingin ke kamar mandi atau keluar rumah.

Ia masih ingat bagamana Vira pulang dengan tubuh basah kuyup sepulang kerja minggu lalu karena tekena hujan setelah turun dari angkutan umum karena ia tak mampu memegang tongkat sekaligus memegang payung. Dan ia ingat apa yang dikatakan kepada istrinya “ Dasar bodoh, bawa payung nggak dipakai.”

Ia masih ingat bahwa istrinya sudah tidak lagi diberi nafkah batin selama ia sakit karena ia begitu marah dengan Vira.

Tapi ia juga masih ingat lantunan do’a yang diucapkan istrinya dengan liih di setiap malam saat Vira melaksanakan sholat tahajjud,” Ampuni hamba, ampuni suami hamba, ampuni anak hamba ya Allah.”Betapapun ia menyakiti hati Vira, istrinya malah mendo’akannya.

Setelah peti jenazah sampai di rumah, Awal dan petugas maskapai membuka peti jenazah Vira. Awal menemukan tubuh istrinya telah habis tebakar dengan tangannya bersedekap erat di dadanya dan istrnya masih mengenakan cincin kawin mereka yang telah disimpan entah kemana oleh Awal saat Vira petama sakit. Wajah Vira tak tersentuh api, kecantikannya yang seperti hilang ketika ia sakit kini kembali lagi. Bibirnya tersenyum, Vira seperti tertidur.

Putra yang tak tahan melihat jasad ibunya menyeruak di antara petugas maskapai dan para petugas segera menutup tubuh Vira yang terbakar menyisakan wajahnya.” Mama, putra juga sayang Mama. I love you mama. Sekarang Mama sudah bahagia kan?”

Air mata yang mengalir di pipinya segera diusapnya karena ia  ingat kata-kata mamanya ketika sakit, “Putra jangan tangisi mama jika suatu saat mama meninggal tapi do’akan mama saja ya, nak”.

Putra segera mengambil air wudhu dan melakukan sholat sunnah di samping jasad ibunya. Ia mengambil Al Qur’an berkata lirih  pada jasad ibunya ” I love you, Mama. Ini untuk Mama”. Dan lantunan surat Al Waqi’ah terdengar indah dari mulutnya.***



7 Comments to "Sebuah Draft Novel Karya SW Yanti"

  1. elnino  11 February, 2011 at 19:12

    Duuuh…mewek.com…

  2. J C  7 February, 2011 at 16:42

    Hhhhmmmm…kisah yang cukup menyentuh…

  3. Handoko Widagdo  7 February, 2011 at 09:14

    Jangan-jangan pesawat meledak karena sinyal hp ya?

  4. Sasayu  7 February, 2011 at 05:11

    Dengan suksesnya membuat Sasayu mewekkk…!

  5. Mawar09  6 February, 2011 at 03:13

    Bamby: sedih banget cerpennya. Jadi menetes airmata deh! mulia banget ya Vira, udah diperlakukan seperti itu oleh suaminya masih sabar. Duh… rasanya aku pasti ngga bisa bersikap seperti itu.

  6. Djoko Paisan  5 February, 2011 at 17:04

    2

  7. Linda Cheang  5 February, 2011 at 09:03

    bukankah keinginan Si Awal terkabul sudah, lepas dari Vira, beban hidupnya? Koq, malah menyesal? hohoho…begitulah manusia, ya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.