Better be prepared than sorry

Hariatni Novitasari


Senin 31 Januari 2011

Senin dinihari, tidak sengaja aku mengobrol dengan seorang teman yang sudah tinggal di St. Louis selama 15 tahun. Kita mengobrol tentang ancaman salju yang akan datang di St. Louis. Berita kalau di St. Louis akan terkena badai salju sudah ada sejak beberapa hari sebelumnya. Tapi aku tidak tahu akan sangat parah akibatnya (sesuai dengan prediksi). Menurut ramalan cuaca, di St. Louis akan terjadi freezing rain yang kemudian disusul dengan salju tebal yang bisa mencapai 2 feet.

Temanku cerita, kalau di St. Louis terjadi badai salju (snow storm), biasanya akan disusul dengan power loss (listrik mati). Power loss itu biasanya karena es yang jatuh ke pohon-pohon dan rantingnya patah. Patahan ini jatuh ke kabel listrik sehingga bikin power loss. Teman tadi menyarankan untuk menyimpan stok makanan matang. Jadi ketika listrik dinyatakan mati, sudah siap dengan makanan.

Apalagi di apartemen juga kompor pakai listrik. Teman juga menyarankan untuk siap lilin dan korek api. Dua hal terakhir ini yang aku tidak punya.  Aku bilang ke teman, kalau aku pagi-pagi harus mencari di Wallgreen, sambil berdoa Senin pagi belum hujan. Karena berdasarkan ramalan cuaca, hujan mulai Senin pagi.

Senin pagi jam 8 aku pergi ke Wallgreen yang jaraknya 15 menit dari rumah jalan kaki. Pagi itu sudah sangat mendung dan dingin sekali. Dari apartemen ke Wallgreen harus melewati jalanan yang masih ada sisa-sisa salju yang turun Kamis 20 Januari. Dalam perjalanan ke Wallgreen aku juga ingat kalau aku juga harus beli payung karena payungku telah raib alias hilang entah kemana.

Aku berjalan bergegas ke Wallgreen karena takut segera hujan atau freezing rain tiba-tiba saja turun karena bisa sangat licin. Sepulang dari Wallgreen aku masak beberapa bahan yang ada di kulkas. Untuk stok saja karena sehari sebelumnya aku bikin kari ayam lumayan banyak. Aku juga menelpon temanku yang tinggal di South Grand tentang kemungkinan badai salju dan menyarankan dia untuk stok makanan matang juga.

Karena aku kuliah sore, jadinya pagi itu aku di rumah saja menyelesaikan membaca buku Floyd Hunter. Jam 1 siang, aku coba cek update berita di St. Louis Dispatch. Dari berita terakhir sudah agak gawat. Dalam badai salju kali ini, St. Louis akan mengalami dampak yang sangat parah karena berada di wilayah perbatasan antara wilayah-wilayah yang terkenal freezing rain dan heavy snow. Dan, St. Louis akan dapat dua-duanya. Diperkirakan Senin sore freezing rain akan datang dan listrik ada kemungkinan padam. Karena itu, PLN-nya Missouri sama Illinois, Ameren sudah mempersiapkan adanya kemungkinan power loss di St. Louis. Kru Ameren dari wilayah-wiyalah sebelah sudah dipersiapkan di St. Louis dan tentara sudah siap untuk jaga-jaga kemungkinan terburuk.

Mereka sudah di-briefing di Memorial Soldier di daerah downtown. Groceries dipadati oleh para konsumen yang mencari staple foods macam roti, susu, dan lainnya. Jam 2 aku mandi dan siap-siap ke kampus. Belum sampai berangkat, iseng-iseng saja cek email karena menunggu balasan email dari advisorku. Tiba-tiba “tringggg” masuk email dari Mary Fowler yang biasanya memberikan pengumuman tentang masalah-masalah di kampus.

Ternyata, kampus sudah ditutup mulai dengan jam 4 sore. Mulai jam segitu sudah tidak ada aktivitas di kampus, termasuk kelas, klinik, administrasi dan bahkan gedung pertunjukan Touhill. Jembatan Millennium Student Centre (MSC) ditanyatakan tutup jam 16.30. Itu artinya, kelasku juga dibatalkan. Di saat yang bersamaan, teman serumah datang dari kampus dan aku kasih tahu kalau kelas malam dibatalkan semua.

Ketika dia datang, aku baru tahu kemungkinan kita tidak bisa menyalakan lilin karena smoke detector akan berbunyi. Sialnya, aku pagi harinya tidak kepikiran beli senter. Dan, hari Minggu aku ke Galleria dan ke counter Eddie Bauer mengantar teman dan melihat senter tetapi tidak membelinya karena tidak berpikiran akan butuh senter. Sebelum cuaca tambah buruk, aku minta dia untuk mengecek apa dia punya senter apa tidak. Kalau dia tidak punya, kita bisa segera ke Wallgreen dan beli senter. Untungnya, dia ada. Jadi kita tidak perlu keluar rumah. Siap-siap hibernasi.

Tahu kampus sudah menyatakan libur, aku menelpon temanku tadi dan bertanya apakah universitas dia diliburkan apa tidak. Dia kemudian juga mengecek email kampus dia. Sama, dia juga baru saja menerima email kalau sekolah dia tidak ada kelas untuk Senin sore dan Selasa. Akhirnya kita sepakat kalau dia mendingan di tempatku saja, kalau terjadi apa-apa, paling tidak, ada ada teman. Sembari menunggu temanku datang, aku mengecek perkembangan di St. Louis.

Jam 4 lebih temanku datang. Di luar sudah sangat mengerikan. Mendung dan anginnya kencang sekali. Dingin sekali. Temanku datang dengan wajah yang sangat tegang. Dia kemudian bercerita tentang mengerikannya di luar sana: api yang memercik dari kabel metro (kereta) dan licinnya jalan di dekat stasiun. Untung dia diantar oleh orang yang kebetulan lewat di dekat stasiun dan dengan baik hati menawarkan tumpangan bagi dia. Dia juga bercerita, kalau mobil yang dia tumpangi, spion-nya telah beku dengan es. Begitu pula dengan kaca mobil.

Begitu temanku datang, kita memutuskan untuk menambah stok makanan. Ya nasi, ya ayam, ya ikan. Kita masak sambil ngakak sekaligus takut. Temanku lebih takut lagi kalau power loss, soalnya dia banyak sekali tugas paper. Sebaliknya, aku tidak terlalu resah kalau power loss, karena tidak ada paper sama sekali. Semester ini lebih banyak reading daripada nulis.

Sambil memasak, sambil kita memberikan perkembangan yang terjadi sambil terus memantau www.weather.com. Aku juga mendapati email-email dari kampus berseliweran dari para instruktur tentang kelas yang dibatalkan dan kemungkinan kuliah online atau double burden untuk minggu depan. Malam harinya, gubernur Missouri menyatakan St. Louis dalam status gawat darurat. Malam harinya menjelang tidur, aku mendapati pohon maple di depan rumah tegak membeku.


Selasa, 1 Februari 2011

Pagi hari bangun tidur, aku mendapat satu email kalau kelas untuk hari Selasa juga dinyatakan masih libur. Aku cek perkembangan cuaca, semakin gawat kayaknya. Ada warning merah di halaman situs cuaca. Masih ada tulisan severe weather disana. Aku lihat di luar, mendung tebal. Pohon yang tegak berdiri dan beku. Kemudian butiran es yang jatuh dari langit dan langsung membeku.

Pohon-pohon tambah membeku begitu pula dengan rumput. Besarnya sama dengan butiran garam Madura. Suaranya juga krasak-krasak. Kalau kena muka juga lumayan juga. Pedih. Udara lebih dingin dari biasanya. Aku hanya keluar sebentar mengambil beberapa foto dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah.

Seharian kita memantau berita dari web sambil terus tidak terjadi power loss. Tapi dia saat yang bersamaan kami juga menjaga power di laptop, HP dan lainnya. Tapi kadang mikir juga, kalau sampai terjadi power loss, kita tidak ada internet. Tapi paling tidak bisa pakai HP.

Tidak hanya sekolah-sekolah yang diliburkan, orang kantoran juga libur. Yang paling ditakutkan dari freezing rain adalah jalanan yang licin dan bisa menimbulkan potensi kecelakaan yang besar. Jadi, semua orang lebih baik tinggal di dalam rumah.

Seharian kami memantau perkembangan badai salju di St. Louis karena diperkirakan severe weather akan terjadi Selasa sore. Sore harinya, kami mendapati update berita kalau St. Louis teryata tidak seburuk yang diprediksikan. Freezing rain iya, snow juga, tapi tidak setinggi yang diramalkan. Malahan, badai bergeser ke Illinois. Kami juga mendapati update kalau kru Ameren dipindahkan ke Illinois semua. Malam itu, di tempatku turun salju dengan angin yang mengerikan.

Menjelang tidur, kami mendapati email kalau sekolah masih libur hari Rabu.


Rabu, 2 Februari 2011

Pagi hari kami mengecek cuaca. Gila -22 C. Sepertinya, Rabu dinihari lebih dingin karena aku sedikit merasakan. Kalau pagi temperatur segitu, pasti malamnya bisa mencapai -30C atau paling tidak -25C. Kami mengecek juga perkembangan salju sampai dengan detik terakhir. Ternyata, di Illinois perkembangannya sangat buruk. Puluhan ribu orang di wilayah eastern dan southern Illinois mengalami power loss. Listrik mereka  mati. Aku membayangkan, kalau badai itu terjadi di St. Louis pasti listrik yang mati akan terjadi di tempatku.

Hari Rabu salju seharian turun di Normandy. Salju seperti biasanya. Lembut dan indah. Temanku dan aku menarik nafas lega karena yang terburuk tidak terjadi di St. Louis. Kita juga agak cekikikan karena menjadi stockist nasi dan lauk pauknya karena takut terjadi benar-benar bencana. Tapi kita kemudian berpikir, lebih baik bersiap-siap daripada menyesal. ***


37 Comments to "Better be prepared than sorry"

  1. HN  8 February, 2011 at 11:48

    Mbak Ay: Kalau di Manggarai adem, kan sudah ada selimut hidup, ga usah rangkap 27, rangkap satu saja cukup, hehehe.

    Subo: Subo selimut ora usah akeh2, siji ae… sing penting khasiate.

    Pakdhe Sumonggo: Kalau power loss kayak kata Pampam, ga tau kapan hidupnya. Sudah gitu tanpa pemberitahuan pula.

    Pak Handoko: Iya Pak… Itulah kenapa juga orang-orang yang tinggal di negara 4 musim jalannya lebih cepat dan mereka tepat waktu. Karena faktor cuaca. Mereka berjalan cepat karena mereka terbiasa berjalan waktu winter. kalau sdh winter harus cepet-cepet mencari tempat yang hangat. Sama juga dengan masalah waktu. Mereka dalam bercocok tanam, harus benar-benar membaca musim. Kalau sampai salah baca musim, mereka bisa kelaparan di kala musim dingin. Kalau di negara dua musim, kita tidak perlu terlalu ngoyo karena semua sudah tersedia.

  2. Handoko Widagdo  8 February, 2011 at 08:00

    HN, saya pernah baca buku (lupa judulnya) yang mengatakan bahwa by nature, orang yang hidup di empat musim mempunyai kemampuan planning yang lebih baik daripada yang di sekitar equator. Sebab mereka secara alami harus menyiapkan makanan pada saat alam tidak bersahabat. Sementara orang di tropis, bangun tidur sudah tersedia daun dan buah untuk dimakan.

  3. Sumonggo  8 February, 2011 at 06:17

    Mbak HN, badai pasti berlalu. Untunglah di sini tidak seperti itu, hanya power loss-nya saja … he he ….

  4. lani  8 February, 2011 at 06:11

    AY : wah jiaaaaaaan……….mrono-mrene kowe sambat adem………resepe?????? jok lali kemul rangkep ping pitulikuuuuuuuuur

  5. Anastasia Yuliantari  8 February, 2011 at 06:03

    Emon…adeeemmmm……!

  6. HN  8 February, 2011 at 02:36

    Subo: iya benar… Daripada tidak ada peringatan sama sekali, dan tidak siap-siap ternyata benar-benar terjadi. Tapi juga kadang yang namanya bencana. Kadang seperti yang diramalkan, kadang lebih buruk, atau kadang tidak terjadi. Tapi tidak ada salahnya juga kalau senantiasa bersedia kalau sudah ada warning.

    Oom Dj: iya Oom, sudah pada bangun dan tidak kedinginan lagi. Makanya sudah agak rame…. Enak ya Oom, sudah 6C… Dingin, tapi tidak terlalu dingin. Disini, mungkin juga sama kayak di Jerman, meskipun dingin macam begini, masih ada saja yang ke kampus pada celana pendek, padahal saya paling tidak dua layers… hehehe.

    Mbak Mawar: seru, tapi sedikit menegangkan. Apalagi cuacanya mendung terus. Jadi merasa sangat gloomy gitu. Hari Sabtu kemarin juga salju lagi, dan diprediksi sampai Rabu. Untungnya, salju hari Sabtu hanya sampai jam 12-an saja, selanjutnya cerah. Dan dari Minggu sampai dengan hari ini, tidak turun salju. Tadi sempat mendung sebentar, tapi sekarang lagi mulai sunny.

  7. Mawar09  7 February, 2011 at 23:37

    HN: seru juga ya pengalamannya. Iya….better be prepared !! lebih baik selalu ada senter dirumah, walau tidak ada storm sekalipun. Enak dong ngga usah masak seminggu, tinggal di anget-in aja tuh makanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.