Senja di Chao Phraya (7)

Endah Raharjo


Bab 2: Gerimis di Sangkhlaburi (3)

Hari kedua Osken di Sangkhlaburi. Sekitar pukul 9 pagi, sehabis sarapan, setengah hati ia melepas Laras bekerja. Osken ingin sekali bisa menggantikan si supir, mengantar Laras menemui beberapa stateless people di perkampungan orang Mon, di seberang danau. Ia tahu, itu keinginan yang konyol sekaligus kekanak-kanakan. Pada dasarnya orang dewasa tak pernah rela melepas kanak-kanak dari jiwanya.

Mereka tetap menyimpannya untuk dikeluarkan saat muncul keinginan kembali merasakan kepolosan hidup, menikmati hangatnya dekap ayah bunda, melepaskan semua beban; bagai kanak-kanak, boleh hidup di luar aturan, norma dan penghakiman. Mungkin itu salah satu sebab mengapa orang yang masa kanak-kanaknya terkoyak sulit hidup tenang. Bagai tanaman berakar pendek dan keropos, mudah roboh ditiup kencangnya angin kehidupan.

Kendaraan yang ditumpangi Laras dan koleganya keluar dari halaman guesthouse, Osken berlari menuruni tangga batu. Ia menggotong meja kursi dari teras kamar ke tepi danau, di bawah kerindangan pohon. Pekerja keras yang hidup berpindah dari satu negara ke negara lainnya dan berurusan dengan konflik atau bencana itu ingin bekerja di ruang terbuka.

Wistawan sudah menghilang dari pandangan. Mereka naik gajah atau naik rakit menyusuri sungai, menikmati suasana pedesaan, menjelajahi hutan lindung, mengagumi sambil berfoto di air terjun atau meneropong burung-burung liar.

Keheningan di sekitarnya menenggelamkan Osken dalam pekerjaan. Sebuah proposal sedang ia rampungkan. Sementara Laras berada di seberang danau, mewawancarai para stateless people perempuan. Salah satu tugas Laras dalam misinya kali ini adalah melakukan needs assessment.

Ia harus bisa merumuskan kebutuhan-kebutuhan penting orang-orang terbuang itu agar lembaga yang akan membantu mereka bisa mencari cara untuk memenuhinya. Rejim militer Myanmar telah mengusir kelompok etnis minoritas dari permukiman mereka di sepanjang pegunungan. Selama puluhan tahun mereka hidup bagai binatang buruan, berpindah-pindah dari hutan ke hutan.

Ratusan ribu orang lari ke Thailand, tinggal di kamp-kamp pengungsi di perbatasan. Bagai keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya, tak ada jaminan hidup di Thailand. Banyak pengungsi kehilangan kewarganegaraan, status pengungsi resmi pun tak mereka kantongi.  Untuk penderitaan mereka itu, dunia internasional menganugerahi sebutan yang menyakitkan, stateless people, orang-orang tanpa negara.

“Waktu kecil, saya punya anjing peranakan yang lucu. Kami beri nama Honey karena warna kulitnya yang coklat madu. Ibu mendaftarkan Honey ke sebuah lembaga resmi agar kami mudah merawatnya kalau dia sakit. Honey juga bisa ikut lomba atau kontes atau semacamnya. Setiap saya bertemu dengan orang-orang tanpa warga negara itu, saya ingat Honey. Kalau seekor anjing saja bisa punya KTP, mengapa ada manusia yang tega menolak keberadaan sesamanya?” Renung Osken dalam sebuah diskusi dengan Laras.

“Mengapa ada manusia merasa berhak mencabut hak hidup manusia lainnya? Seolah mereka kuman yang layak dibasmi,” bisik Laras meneruskan Osken.

Laras dan Osken sering berbagi cerita tentang pekerjaan mereka. Bila sedang jenuh, Laras selalu memuntahkan beban pikirannya pada lelaki itu. Osken menerima dengan senang, bagai tiang, ia ada untuk menyangga beban hati pujaannya.

“Carilah pekerjaan lain yang tidak mengharuskanmu meninggalkan anak-anakmu,” usul Osken, suatu kali.

“Di usiaku ini, tidak mudah mencari pekerjaan baru.”

“Dengan pengalamanmu?”

“Ya. Bahkan dengan pengalamanku ini. Banyak sekali anak muda yang butuh pekerjaan. Mereka tenaga baru. Darah baru. Kalau bisa dapat yang muda, kenapa cari yang tua?” Laras menertawai diri. “Kalau mau, ya ke Jakarta atau sekalian keluar Jawa. Sama juga, jauh dari anak-anak. Lebih baik begini, cuma pergi sesekali,” tambah Laras.

Osken terbiasa melihat perempuan bekerja keras menopang ekonomi keluarga. Di lokasi konflik, bencana dan daerah-daerah yang kekeringan, perempuan harus berjalan keluar kampung hanya untuk mengambil air bersih. Meskipun Laras tidak harus bekerja sekeras itu, di matanya, ia satu dari jutaan perempuan perkasa yang gagah memperjuangkan keberlangsungan hidup keluarga. Bila berhadapan dengan perempuan seperti Laras, lelaki seperti dirinya sering lupa, abai atau hanya tidak menyadari bahwa mereka itu petarung sejati.

Matahari mulai condong ke barat, sinarnya memantul di atas air danau, permukaannya jadi berkilat seperti kaca raksasa. Perbukitan dan pepohonan yang melingkupinya bercermin dengan anggun, bayangannya terbalik di bawah garis danau. Osken mengangkat muka, memandang ke seberang, ke arah perbukitan. Laras mungkin sudah selesai dengan wawancaranya. Sebelum menutup laptop, Osken membaca ulang draft dokumen yang baru saja ia selesaikan.

“Hello!” Osken melambai pada roomboy yang sedang menuruni tangga batu. “Tolong bantu membawa meja ini ke teras sana,” pinta Osken sambil menunjuk kamarnya.

“Baik, Tuan.” Roomboy itu mendekat.

“Kamu tahu cara membeli ikan di rumah orang Mon di atas danau itu?” tanya Osken.

“Maksudnya? Tuan akan membeli ikan dari mereka?” Room boy memastikan pertanyaan Osken

“Ya. Saya dengar bisa sekalian minta dimasakkan dan makan di rumah mereka.”

Room boy itu ragu-ragu. “Ah! Sebentar. Nanti akan saya tanyakan.” Ia membopong meja, berjalan di depan Osken yang membawa kursi.

“Saya akan segera kembali, Tuan,” meja ia letakkan lalu bergegas pergi mencari informasi.

Selain di perbukitan, orang-orang Mon juga membangun rumah rakit di atas danau. Mereka hidup dari bertani, mencari ikan dan berdagang. Wisatawan bisa turun ke danau dan bertandang ke rumah mereka, membeli ikan dan meminta mereka memasakkan. Ikan-ikan itu dibumbui aneka rempah-rempah seperti sereh, jahe dan daun jeruk, dikukus hingga empuk. Bisa dimakan begitu saja atau ditemani sepiring nasi dan tumis sayuran. Dengan senang hati mereka bersedia diajak berbincang-bincang sambil menunggui tamunya makan.

Osken mendengar cerita itu dari salah satu tamu lelaki yang tadi menyapanya di pinggir danau. Untuk turun ke kampung terapung itu, orang bisa menyewa speed boat yang disediakan hotel atau jalan kaki menuruni tebing di dekat jembatan kayu.

“Kalau mau jalan kaki, kamu bisa turun ke tebing danau, di dekat jembatan kayu itu ada pematang kayu. Cukup aman,” jelas lelaki itu.

Osken ingin mengajak Laras makan malam di salah satu rumah terapung itu. Pasti romantis sekaligus seru. Ia melihat roomboy melangkah turun dengan cepat.

“Benar, Tuan bisa membeli ikan dan makan di sana. Ada pegawai hotel yang bisa mengantar ke sana kalau Tuan menginginkan. Tuan bisa mengaturnya di front desk.”

“Terima kasih.”

Osken berlari ke atas dengan hati riang. Malam ini, malam terakhir ia di Sangkhlaburi. Osken ingin membuat hati Laras senang. Besok siang Osken harus kembali ke Bangkok untuk selanjutnya menuju Kalkuta, meneruskan pekerjaannya.

Waktu dan jarak memang tak pernah ramah pada mereka. Laras tak hendak memperpanjang masa tinggal barang sehari saja. Begitu pekerjaannya selesai ia ingin cepat-cepat pulang ke Jogja, kembali pada Mega dan Angka. Dua anaknya adalah alasan terbesar untuk terus menjalani hidup. Ia bernafas, bekerja dan bertahan sendirian untuk mereka.

Selama hampir lima tahun Laras menjadi sauh sekaligus nakhoda agar kapal yang mereka naiki bertiga berlayar nyaman. Ia tak mau layarnya robek akibat terlambat putar haluan, terbuai oleh gelombang cinta meski hanya beberapa saat saja.

Osken juga tidak mau mangkir dari pekerjaan. Sudah sejauh ini ia memilih jalan sendiri. Kesepian tak ia biarkan mendekam dalam dirinya lebih dari beberapa menit. Ia pandai mengusir rasa sunyi. Rasa semacam itu bila dipelihara bisa membunuh pelan-pelan. Semua waktunya tersita oleh pekerjaan sampai ia tak sempat memikirkan kesendiriannya.

Sesekali Osken memikirkan hidup berkeluarga, biasanya sehabis bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang tampak tenteram bersama anak istri. Benarkah hidup mereka tenteram? Osken sering bertanya-tanya. Menurutnya hidupnya juga tenteram dan bahagia meskipun tanpa anak-istri.

“Orang tuaku sekarang ini jadi seperti teman, seperti kolega. Kalau bertemu kami senang bicara tentang politik, pekerjaan, isu-isu dunia, lingkungan, semacam itu. Kakak dan adikku, dua-duanya perempuan, sudah berkeluarga. Mereka tampak bahagia. Aku punya tiga keponakan, dua laki-laki dan satu perempuan. Sama sekali tidak masalah bagi mereka kalau aku memilih hidup sendiri. Keluargaku beda dengan keluargamu, Laras.” Cerita Osken pada Laras beberapa bulan lalu saat merek chatting melalui Skype.

“Kalau tiba-tiba aku muncul di depan orang tuaku dengan seorang calon istri, mereka pasti akan sangat bahagia. Tidak akan bertanya-tanya. Janda atau lajang sama saja. Perempuan Indonesia atau Uganda tidak jadi soal,” tambah Osken bergurau.

“Ya. Kita beda. Untukku tidak bisa semudah itu,” tulis Laras dalam chat-line, “banyak hal wajib dipertimbangkan. Yang paling penting pendapat dan kemauan anak-anakku dan orang tuaku. Bukan pendapat dan kemauanku. Orang tuaku harus tahu asal-usul lelaki yang kupilih, terutama agama dan pekerjaannya. Harus jelas.”

“Aku mengerti. Aku punya banyak kolega dari Indonesia. Akhir-akhir ini aku sering baca buku tentang budayamu, tentang konsep keluarga dan semacamnya.”

“Hah? Kamu serius?” Laras memberi emotikon ‘laugh out loud’ dalam chat-line.

“Aku bahagia.” Osken memberi emotikon orang menari-nari. “Aku ingin mengenalmu lebih baik lagi, Laras. Boleh kan?”

“Selama tidak bikin kamu pusing.”

“Aku bahagia.” Kali ini Osken memilih emotikon sekuntum bunga. “Aku harus pergi. Bye for now. Take care. Luv ya.” Osken menutup chat-line dengan menyertakan emotikon ‘hug’, seekor beruang coklat mungil yang merentangkan dua lengannya siap untuk memeluk.

Untuk melipat jarak, Osken dan Laras menghabiskan banyak waktu ngobrol lewat Skype. Obrolan mereka terjadwal hampir tiap hari. Biasanya dilakukan malam hari atau tergantung kesibukan masing-masing dan terutama keberadaan Osken. Mereka harus membuat janji dulu lewat sms atau email karena ada perbedaan waktu antara Jogja dan negara tempat Osken sedang bertugas.

***

19 Comments to "Senja di Chao Phraya (7)"

  1. Lani  19 February, 2011 at 22:34

    hadoh BA…….hehehe sampai segitonya ama sapa ya ngejalaninnya???? tuh komen no 14

  2. Endah Raharjo  19 February, 2011 at 22:05

    Hai Roni. Makasih udah main sampai ke sini juga
    Salam.

  3. R-82  19 February, 2011 at 14:42

    halow mba Endah selamat sore….

  4. R-82  14 February, 2011 at 19:57

    wah lama sudah ga ngobrol ngobrol dngan Mba Endah

  5. Lani  8 February, 2011 at 11:36

    ENDAH : wakakakak…..aku melu sueneeeeeeeeeeeng banget, nek ngono banyak yg wis ketularan virusku…ngekel iki..sampai wetengku kraaaaaaammmmmmm…….bagus2 dah ajaran sesatku banyak pengintilnya…….sukses dah, klu udah begini obat apapun gak bakalan konjat Endah…….dinikmati aja hahahah

  6. Beny Akumo  8 February, 2011 at 10:54

    kalo mbaca ini kayak saya yang lagi njalani aja nih Mbak … idup banget critanya …

  7. Endah Raharjo  8 February, 2011 at 10:14

    Hahahahaaa… saya lagi kambuh, nih Lani. Lupa minum obat ya gini ini

  8. lani  8 February, 2011 at 09:55

    lo? malah nanya yg nulis sopo???????? heheheh………tanya sendiri, dijawab sendiri aja deh……kkkkkkkk

  9. Endah Raharjo  8 February, 2011 at 09:45

    Hai semuaaaa!!! Hahahahaaaa… yaaaa… kan settingnya abad 21, mosok mau pakai surat kilat khusus hahahahaaaa… ini gara-garanya yang nulis memang keranjingan skype kayaknya. yang nulis siapa to?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.