Bali

Hennie Triana


Lovina, satu sudut di pulau Dewata

Liburan ke Bali kali ini telah direncanakan lebih dari setahun yang lalu. Tempat dipilih di daerah Lovina karena kebetulan kami belum pernah berkunjung ke sana. Juga rencana bahwa kami akan mengadakan reuni keluarga walaupun tidak semua bisa menghadirinya. Karena masa liburan ini bersamaan dengan masa libur sekolah dan juga liburan akhir tahun, banyak tempat di sekitar daerah Bali bagian Selatan yang penuh. Maka putusan jatuh ke daerah utara, tepatnya sekitar Lovina.

Kami memerlukan satu Villa yang bisa menampung 7 orang dewasa plus 7 anak-anak. Setelah menghubungi beberapa Villa, akhirnya ada satu yang menyatakan bahwa tempat mereka bisa menampung tamu sebanyak kami dan masih kosong pada periode liburan kami tersebut.

Menuju ke penginapan ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Jaraknya sepertinya kurang dari 100 km, tetapi jalan menuju ke sana melintasi daerah pegunungan yang penuh dengan kelokan. Tidak jelas berapa banyaknya, tapi pasti lebih dari Kelok Ampek-Ampek di Sumatra Barat sana.

Lokasi penginapan terletak di Den Carik, tepat di pinggir pantai dengan pasir hitamnya. Masa ini adalah musim hujan, sehingga air pasang dan pasir di pantai tertutup air. Ombak yang menghempas juga cukup besar. Sering ada kekuatiran dalam hati, seandainya tiba-tiba tembok pagar pemisah antara pantai dan halaman jebol diterjang ombak.

Hampir setiap malam hujan disertai petir dan kilat yang menyambar. Aku memang takut kalau ada petir dan sering tidak berani berada di luar ruangan atau di tempat terbuka pada saat seperti itu.

Banyak terdapat di sekitar daerah tersebut villa yang bagus, nyaman dan asri. Juga bisa ditemukan sawah yang menghampar, walaupun menurut penduduk daerah setempat sudah banyak sekali lahan persawahan yang telah disulap menjadi villa.

Pemandangan yang sangat kontras juga bisa dilihat menumpuknya sampah di mana-mana. Di pantai dengan pasir hitamnya yang memukau tapi kotor dengan segala macam jenis sampah. Juga anak-anak kecil yang buang air di parit pinggiran jalan di depan rumah mereka. Tak heran kalau tercium bau di mana-mana.

Wisata ke pemandian air panas dan melihat lumba-lumba tidak bisa kami lakukan karena cuaca yang sering hujan dan angin kencang, juga kurang nyaman untuk anak-anak yang masih kecil untuk menaiki perahu menuju lokasi.

Liburan kami ini sangat menyenangkan karena untuk bisa berkumpul seperti ini mungkin tak akan bisa kami mimpikan setiap tahun. Setelah dua minggu melewati kebersaman, tiba juga waktu berpisah, saat-saat mengharukan dan sedih, karena kami tak tahu kapan akan berkumpul seperti ini lagi.

Masing-masing melanjutkan liburan ke tempat yang berbeda-beda, dan sebagian langsung pulang kembali ke rutinitas kerja.

*****


Bali, Kampung Rusia

Setelah menghabiskan waktu liburan di daerah Bali bagian utara, aku, suami dan putri kami Chiara melanjutkan liburan ke daerah Bali bagian selatan, tepatnya di Nusa Dua. Aku melihat banyak sekali perubahan di Bali dari kunjunganku terakhir, 5 tahun yang lalu. Beberapa bangunan tinggi  baru telah berdiri dan ikut menambah keramaian di sana.

Menjelang makan siang kami tiba di hotel. Kemudian menyantap makanan di sekitar area kolam renang sembari menikmati keindahan pantai.

Cuaca di sini lebih bagus dari di Lovina yang sering mendung, dan kelembaban udara lebih rendah dari di Lovina. Seandainya panas terik selama berada di sana, mungkin bisa setengah mati kelelahan. Aku bisa rasakan perbedaan itu karena aku tak perlu sibuk membalurkan krim pelembab kulit, yang biasanya wajib aku pakai di rumah, kalau tak ingin kulit kering bersisik, memutih terkelupas dan pecah-pecah.

Hal baru yang aku lihat, Bali telah berubah menjadi kampung Rusia. Tamu di hotel tempat kami menginap 90% adalah orang Rusia, di mana-mana bisa kita temui wisatawan dari Rusia, juga Biro Perjalanan Wisata dalam bahasa Rusia dengan petugasnya yang juga orang Rusia.

Aku suka memperhatikan mereka, para wanitanya berdandan dan berbusana serasi, terutama menjelang makan malam, cantik sekali. Prianya tidak terlalu aku perhatikan, kebanyakan berwajah dingin dan kurang senyum. Sering aku lihat kalau lagi makan, mereka suka marah-marah kepada pegawai yang melayani.

Para pekerja di restoran maupun penjual di toko bisa berbahasa Rusia. Jadi mereka tak perlu capek-capek berbahasa Inggris, dan hampir semua toko maupun rumah makan menyertakan bahasa Rusia di papan nama ataupun di menu makanan mereka.

Satu kali kami pergi mencari restoran Jepang yang pernah kami kunjungi beberapa tahun lalu, betapa lezatnya makanan di sana. Ingatan itulah yang sepertinya mengharuskan kami untuk kembali dan menyantap hidangan di sana. Hanya sayangnya kenikmatan yang pernah ada lima tahun lalu tak tersisa, tak juga keramahan penyajinya.

Yang lebih parah di menu makanan tertera nama makanan dengan huruf Latin dan keterangan makanan hanya tertulis dalam bahasa Jepang dan Rusia. Tak ada keterangan dalam bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Mungkin pengunjung yang mereka harapkan hanya pengunjung yang mengerti bahasa Jepang dan Rusia saja. Memprihatinkan!

Satu keinginanku ke Bali juga untuk membeli buku berbahasa Indonesia. Aku mencari di mana letaknya Gramedia, tapi tidak bisa aku temui. Setiap orang yang ditanya pasti memberikan jawaban yang berbeda. Ada beberapa toko buku yang aku masuki, tapi tak satupun yang menjual buku berbahasa Indonesia. Malah mereka memandang aku dengan sedikit bingung. Aku kecewa sekali. Bali sepertinya bukan bagian dari Indonesia.

Standard harga dan biaya hidup di sana khususnya Bali bagian selatan sangat tinggi dibandingkan dengan rata-rata pendapatan masyarakatnya. Pengakuan dari beberapa orang yang sempat ngobrol denganku, mereka katakan bahwa banyak dari mereka yang sebenarnya bertarung dengan hidup yang tidak gampang untuk memilih hidup maju menyekolahkan anak atau memilih taat mengikuti ritual upacara keagamaan yang relatif mahal untuk dipenuhi.

Bali, yang menitikberatkan roda ekonomi pada Pariwisatanya, mudah-mudahan semakin ramai dikunjungi wisatawan, warga dunia manapun yang memenuhinya. Semoga taraf hidup masyarakatnya makin merata, tanpa membedakan kasta.

Terima kasih buat redaksi dan semua sahabat Baltyra yang telah ikut membaca.

Salam hangat.


Catatan liburan akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011

63 Comments to "Bali"

  1. Mawar09  11 February, 2011 at 04:09

    Hennie: iya… nanti aku share ya kalau ke Tirtagangga lagi. Ada sih foto yg dulu, malas attached nya karena harus di scan dulu. salam!

  2. HennieTriana  10 February, 2011 at 04:44

    Pak ODB…wah gitu artinya ya… bener juga ya Love Indonesia…bagus banget namanya.
    Terima kasih ya sudah mampir.

  3. HennieTriana  10 February, 2011 at 04:41

    Silvia, hehehe….dirimu emang top

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.