Muslim Tionghoa Rayakan Tahun Baru Imlek 2011

Ratman Aspari


Tahun Baru Imlek, adalah hari besar tradisional yang paling meriah dirayakan orang-orang Tionghoa di seluruh dunia, melambangkan persatuan, kemakmuran, hari raya yang meriah untuk menaruh harapan baru pada masa mendatang.

Muslim Tionghoa yang teragabung dalam Pembina Iman Tauhid Islam, Perastuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) wilayah DKI Jakarta (6/02), mengadakan kagitan acara perayaan Tahun Baru Imlek 2011, bertempat di Gedung Serba Guna Prasada Raya Jakarta.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua PITI DPW DKI Jakarta HM. Syarif Siangan Tanudjaja, SH, Walikota Jakarta Pusat H. Syaifulah, M. Pd mewakili Gubernur DKI Jakarta, Konsul perwakilan negara sahabat (China, Saudi Arabia, Palestina), serta anggota PITI dan tamu undangan lainnya. Acara dimeriahkan oleh kelompok nasyid Lampion dan group musik Fitri.

Menurut HM. Syarif Siangan Tanudjaja, SH selaku Ketua DPW PITI DKI Jakarta mengatakan bahwa perayaan Tahun Baru Imlek tahun 2011 ini mengambil tema’ Marilah kita jalinkan kasih sayang sesama umat manusia demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa’. Lebih lanjut HM Syarif juga menegaskan bahwa perayaan TahunBaru Imlek ini merupakan yang pertama kalinya diadakan oleh PITI DPW DKI Jakarta.

“Bagi warga muslim Tionghoa, papar Ketua DPW PITI DKI Jakarta, pada prinsipnya kita tidak semata-mata merayakan Imlek, tetapi sebagai Etnis Tionghoa kita tidak pernah melupakan akar budaya leluhur kita, ’ tegas HM Syarif. Kegiatan ini lanjut Ketua DPW PITI DKI Jakarta, lebih sebagai ajang forum komunikasi dan silaturahmi, sesama anggota dan juga keluarga besar kita. Sebagai wujud bakti bagi orang tua dan leluhur, untuk tetap mengenal identitas dirinya, terutama bagi generasi muda.

Sementara itu, H. Syaiful, M. Pd selaku Walikota Jakarta Pusat, mengharapkan agar Tahun Baru Imlek ini bisa membawa semangat kebersamaan bagi etnis Tionghoa. “Juga merupakan saat yang tepat untuk instropeksi diri, sebagai ladang amal dan kesetiawakawanan sosial, “papar walikota Jakarta Pusat.

Di sisi lain HM Syarif Siangan Tanudjaja, SH selaku Ketua DPW PITI DKI Jakarta berkeinginan untuk mendirikan sebuah masjid yang bernuansa oriental, perpaduan budaya yang ada di China dan di Indonesia, mudah-mudahan bisa berdiri di wilayah DKI Jakarta. “Ini baru sebatas cita-cita kami dari PITI DKI Jakarta, ” tegas HM Syarif. Untuk merealisasikannya kami butuh dukungan dari semua pihak, ini sebagai wujud dan sumbang sih kami muslim Tionghoa khususnya yang ada di DKI Jakarta dan Indonesia pada umumnya.

Sampai saat ini diakui HM Syarif jumlah anggota PITI wilayah DKI Jakarta sekitar sepuluh ribu orang, kondisi ini lanjutnya telah terjadi pembahuran, banyak di antara mereka yang telah menikah dengan berbagai ragam suku yang ada di Indonesia, sebagaimana yang disampaikan walikota Jakarta Pusat dalam kata sambutannya, tegas HM Syarif, bahwa ini menunjukan sudah tidak ada lagi diskriminasi atau apapun terutama di DKI Jakarta ini bagi etnis Tionghoa.

‘Tahun baru Imlek diharapkan membawa semangat kebersamaan, sebagai ladang amal dan kesetiakawanan, serta moment yang tepat untuk instropeksi diri, ”tegas walikota Jakarta Pusat H. Syaifuloh, M. Pd.


Makna Imlek

Selain berbagai sambutan dari para pejabat, yang diselingi dengan hiburan dari group Nasyid Lampion dan Fitri, di akhir acara diadakan doorpize dan pembagian angpao bagi anak-anak. Acara menjadi lebih khidmat ketika H. Mulyawan, menguraikan makna Imlek, uraian ini menjadi penting terutama bagi generasi muda, agar sebagai etnis Tionghoa tetap mengerti identitas dan jati dirinya, tidak pernah melupakan sejarah dan budaya leluhurnya.

Lebih lanjut H. Mulayawan menguraikan ihwal asal mula tahun baru Imlek, menurut catatan orang Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek atau Chunjie telah ada empat ribu tahun lebih, ini dimunculkan oleh Yu Shun. Suatu hari pada dua ribu tahun lebih sebelum Masehi, atau 4. 000 tahun lebih hingga sekarang, seorang yang bermarga Yao atau Gui alias marga Youyu, bernama Chonghua, telah dipilih oleh para kepala suku pada zaman purbakala, telah memimpin bawahan-bawahannya merayakan hari ini yang bertepatan tangal 1 bulan 1, konon ini merupakan awal Tahun Baru, yang kemudian disebut Chunjie. Dulu Chunjie juga disebut Yuandan, bulan 1 disebut Yuanyue.

Sementara dalam versi lain menurut H. Mulawan, konon pada zaman purba yang paling dini terdapat jenis binatang aneh yang ganas sekali bernama Nian tinggal di dalam pegunungan yang jauh terpencil, bentuknya garang sekali, sifatnya buas dan kejam, segala macam unggas, binatang reptil dan artopoda, serangga, bahkan manusia hidup dimangsanya, sehingga siapapun yang menceritakan Nian takut sampai wajahnya pucat lesi. Seiring dengan berjalannya waktu dari tahun ke tahun, orang-orang mulai menguasai aturan kegiatan Nian, setiap berselang 365 hari binatang Nian ini menyelususp ke tempat pemukiman orang banyak menyantap mahluk atau manusia, munculnya selalu pada malam gelap dan ketika fajar menyingsing mereka kembali ke tempatnya di pegunungan yang jauh terpencil.

Setelah menghitung hari tepatnya Nian datang membunuh dan memangsa segala macam mahluk termasuk manusia, maka para penduduk menganggap malam ini sebagai malam kritis dan naas, disebutnya Nanguan, mereka telah menemukan suatu akal untuk melewatkan malam ini, yakni setiap malam ini mereka sudah lebih dahulu memperisapkan makanan malam, memadamkan api dan membersihkan dapur, kandang ayam dan sapi, pintu depan rumah dan pintu pekarangan ditutup rapat-rapat, mereka bersembunyi di dalam rumah, makan malam akhir tahun Nianyefan.

Berhubung mereka tidak bisa memprediksi setelah malam ini nasib apa yang akan mereka alami, selamat atau tertimpa musibah, maka mereka khusus pada malam ini membuat makanan yang mewah dan lezat, selain seluruh anggota keluarga baik yang tua maupun yang muda harus makan bersama, juga bermakna rukun dan bersatu. Sehabis makan malam mereka duduk berhimpit-himpitan, ngobrol dan melek-an sampai pagi.

Maka akhirnya kebiasaan ini menjadi Chuxi malam terakhir menejelang penutup tahun ini untuk menyambut Chunjie atau Xinchun, Hari Raya Musim Semi Baru.

Satu versi lagi legenda Chunjie yakni Wannian, menciptakan penanggalan = Lifa. Alkisah, dahulu kala ada seorang pemuda yang bernama Wannian melihat iklim dan gejala alam lainnya pada suatu musim pada waktu itu kacau balau, maka dia bermaksud mencocokannya, namun masih belum menemukan cara penghitungan waktu. Suatu hari ketika dia telah lelah menebang kayu untuk keperluan dapur, lalau beristirahat dan berteduh di bawah pohon-pohon, pergerseran bayangan pohon telah memberi insiprasi kepadanya, untuk merancang sebuah alat pengukur bayangan matahari untuk menghitung waktu, menentukan perhitungan waktu dalam sehari, kemudian tetesan air dari tebing mengilhami dia untuk membuat sebuah jam air berlapis 5 untuk menghitung waktu, seiring dengan pergantian waktu dia menemukan selang lebih 360 hari, maka 4 musim pun berputar 1 kali, panjang pendeknya waktu berulang sekali lagi.

Zuyi Z, kaisar pada waktu itu, dipusingkan oleh tidak terprediksinya cuaca. Setelah Wannian mengetahui, maka ia membawa alat pengukur bayang-bayang matahari dan jam air menghapad sang kaisar, menjelaskan dalil peredaran matahari dan bulan. Setelah dirasa masuk akal, maka Zuyi Z dengan senang hati menyuruh Wannian tinggal dan dibangunkan panggung alat pengukur bayang-bayang matahari dan paviliun jam air. Dan diharapkan bisa secara tepat mengukur aturan waktu, menghitung secara tepat waktu pagi dan sore/malam.

Suatu kali, Zuyi pergi untuk memahami keadaan kemajuan pengujian penanggalan Wannian, ketika Zuyi naik keatas panggung waktu, dia menemukan sebuah syair terukir di dinding :

Mentari terbit dan terbenam tigaratus enampuluh,

Mengitari berulang-ulang dari awal

Tumbuh-tumbuhan layu dan subur dibagi mepat waktu

Satu tahun terdapat duabelas bulan purnama


Mengetahui Wannian berhasil menciptakan penanggalan, sang kaisar naik ke atas panggung waktu untuk menengok Wannian. Wannian menunjuk pada gejala astronomi, berkata kepada Zuyi : “Sekarang bertepatan 12 buah bulan telah penuh semua, tahun yang lama telah usia, musim semi yang baru telah mulai lagi. Mohon paduka yang mulia tetapkan hari besar. ”Zuyi bersabda, ”Musim semi sebagai awal tahun, maka sebutlah Hari Raya Musim Semi, ”Demikian kabarnya asal muasal Hari Raya Musim Semi.

Musim dingin berlalu dan musim semipun datang, setahun demi setahun berjalan, setelah melalui pengamatan jangka panjang, perhitungan yang cermat, Wannian telah menciptakan sebuah penanggalan matahari yang akurat, tatkala dia menyerahkan penanggalan matahari kepada kaisar baru yang mewarsi tahta, seluruh wajahnya telah penuh dengan jenggot putih perak. Sang kaisar sangat terharu, demi mengenang jasanya, maka penanggalan matahari dinamakan “Wannianli, menganugerahkan Wannian sebagai Riyue Shouxing sama dengan Dewa Waktu Umur Panjang, ”. Kemudian orang-orang yang merayakan tahun baru menggantungkan gambar dewa panjang umur, kabarnya ini untuk mengenang Wannian yang berkewibawaan tinggi dan dihormati khalayak umum.


Penanggalan Tiongkok

Sejak Dinasti Xia (2070 SM – 1600 SM) bulan pertama dari tiga bulan musim semi dipakai sebagai bulan 1 zhengyue sampai sekarang, maka penanggalan Tiongkok Yinli atau Nongli juga disebut penanggalan Xia sama dengan Xiali, berarti dari Xia sampai dengan sekarang telah ada kurang lebih 3. 700 tahun lebih.

Tahun 1912 Dr. Sun Yatsen/Sun Zhongshan menjabat Presiden Besar Sementara ZhongHua Minguo mengumumkan di Nanjing, Penanggalan Tiongkok diganti memakai Penanggalan Matahari yang dipakai secara umum oleh dunia, dan memutuskan mulai berlaku efektif tanggal 01 Januari 1912, tanggal 1 Januari disebut Tahun Baru.

Tanggal 27 September 1949 Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok dalam rapat pertamanya memutuskan berbarengan dengan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, memekai tahun Masehi sebagai penanggalan yang dipakai secara umum oleh dunia. Demi membedakan antara Imlek dan Masehi, tanggal 1 Januari disebut ‘Yuandan, tanggal 1 bulan 1 Imlek diganti sebutan menjadi ‘Chunjie’ * (ratman aspari)


*) data sumber, ceramah H. Mulaywan pada perayaan Tahun Baru Imlek (06/02/2011), PITI DPW DKI Jakarta, di Jakarta.

14 Comments to "Muslim Tionghoa Rayakan Tahun Baru Imlek 2011"

  1. surya adi saputra  10 July, 2013 at 21:00

    ahlan wasahlan saudaraku

  2. surya adi saputra  10 July, 2013 at 20:58

    senang bisa memiliki saudara yg banyak termasuk etnis tionghoa

  3. pitidki jakarta  14 February, 2011 at 11:21

    maju terus demi ukhuwah

  4. J C  10 February, 2011 at 11:27

    Idem komentar pak Hand!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.