“Terdampar” Di Banyu Sumilir, Lereng Merapi

Linda Cheang


Sobat Baltyra dan Pembaca semua,

Ada selama 4 hari saya hanya bisa akses Baltyra secara terbatas karena saya mendapatkan pekerjaan untuk pergi ke lereng Merapi. Di sana, saya mengisi acara rekovasi alias rekoleksi dan motivasi. Pekerjaan ini pun sebetulnya lebih bersifat memenuhi permintaan seorang kawan yang memerlukan pertolongan. Jadi, sekalian menolong, tak ada salahnya juga saya sekalian berlibur.

Akhirnya setelah perencanaan berbulan-bulan, tiba juga saat saya berangkat. Saya memilih berangkat dengan transportasi kereta api, selain karena masalah ongkos yang lebih terjangkau kantongnya si pengundang,  saya juga bisa leluasa menikmati pemandangan bagian selatan Pulau Jawa, terutama pemandangan di Priangan Timur yang amat elok.

Plus bonus melihat rangkaian kereta api yang ditarik dua lokomotif sampai Stasiun Banjar. Ya, karena perjalanan melewati Priangan Timur itu adalah perjalanan mendaki gunung. Tiba di Stasiun Banjar, saya sempat turun dulu untuk menikmati Es Cincau Hijau. Masalahnya, saya pergi berangkat dalam keadaan tubuh kurang sehat, sempat demam dan terkena serangan panas dalam pula. Berharap Cincai Hijau membantu mengurangi panas dalam di perut, hehehe…

Namun perjalanan kereta kali ini sangat terhambat karena ada kecelakaan di Stasiun Langen, lokomotif KA Eskpress Mutiara Selatan menabrak rangkaian Kereta KA Ekonomi Kutajaya di waktu subuhnya. Kereta saya melewati stasiun tsb dan saya melihat sendiri ringseknya kedua lokomotif serta sebuah gerbong kelas ekonomi yang sedang dipotong-potong. Akibatnya, kereta yang saya tumpangi sangat terlambat tiba di Stasiun Kroya dan tentu saja tiba sangat terlambat di Stasun Tugu, Yogyakarta.

Meski kereta sudah ngebut sejak dari Stasiun Kutoarjo karena sudah ada jalur rel ganda, tetap saja tidak bisa mengejar waktu. Namun setidaknya meski terlambat, saya sudah kenyang menikmati Pecel Bunga Kecombrang (Sunda : Kembang Honje) plus Mendoan dari Stasun Kroya. Mantap, deh.

Singkat kisah, tiba di Stasiun Tugu, saya dijemput oleh kawan saya sekeluarga, makan malam sebentar dan diantarkan ke rumah mereka dulu untuk bongkar “upeti” sebelum diantarkan ke lokasi Banyu Sumilir (selanjutnya akan disingkat dengan BS), tempat saya akan tinggal di sana selama dua malam. Di BS, saya mendapatkan tempat berupa kamar di Rumah Pohon.

Sebuah bangunan kamar ukuran sekitar 5 x 4 meter, dan dibuat pohon buatan dari semen. Isi kamarnya hanya sebuah ranjang besi ukuran queen size, sebuah meja kayu berkaca dihiasi sepasang patung, dan sebuah meja rendah dengan daun meja terbuat dari selembar tripleks. Jendela di Rumah Pohon ini hanya ditutup dengan gorden putih bolong-bolong yang cukup artistik.

Di dekat Rumah Pohon, ada sawah di sebelah timur dan tenggara, sebelah baratnya pendopo BS, sebelah utaranya pepohonan dan air terjun kecil.  Rumah Pohon ini didirikan di atas sebuah sungai kecil, dan di antara Rumah Pohon dengan sungai kecil, ada ruang kosong dijadikan mushala. Suasana di lokasi ini memang sejuk dan dingin pada malam hari. Ketika malam tiba, dan orang-orang sudah pada tidur, yang terdengar hanya suara gemericik air menuju salah satu kolam pemancingan di BS.

Bagi saya, suasan itu amat menyenangkan, jauh dari rasa takut karena gelap. Saya justru bisa tidur nyenyak dengan kasur kapuk yang keras, membantu memijat punggung dan pinggang saya yang pegal-pegal setelah 10 jam lebih perjalanan kereta.

BS sendiri mulanya hanya sebagai tempat istirahat (tetirah) bagi pemiliknya. Baru beberapa tahun terakhir, dikembangkan sebagai sarana untuk wisata luar ruang dan ditambahi beberapa bangunan untuk wisma dan kegiatan rekovasi. Lokasinya di Dusun Srowolan, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Jadi, sudah di luar Kota Yogyakarta. Tepatnya 15 KM dari Kawah Merapi dan 15 KM ke arah Kaliurang dari Kota Yogyakarta. Tapi, tetap saja di siang hari, udara terasa panas juga, dengan matahari yang bersinar terik.

Di pagi dan siang pertama, saya melihat padi di sawah-sawah sekitar Rumah Pohon sudah ada yang rebah, rupanya tertimpa hujan lebat semalaman ketika saya sedang tidur nyenyak. Di pagi pertama itu pula saya melihat situasi setelah erupsi Merapi sudah tak terasa lag, kecuali sisa debu vulkanik yang mengendap di kolam-kolam pemancingan dan di selokan.

Gambar-gambar terlampir semoga cukup membuat segar melihatnya. Di siang kedua, barulah saya melihat sekelompok ibu-ibu di sawah di sisi barat dari Rumah Pohon, bisa saling tertawa riang sambil memanen padi yang sudah menguning. Sebuah pemandangan yang sudah tak mungkin ditemukan di kota besar. Memang nyaman bisa tetirah di BS tetapi jika lebih dari tiga hari di sana, lama-lama, ya, bisa bosan juga.

Singkat kisah lagi, selama di BS, saya tetap tidak bisa sepenuhnya menikmati makanan karena panas salam berupa sariawan yang besar-besar di mulut saya. Belum lagi saya merasa mblenger karena kebanyakan disuguhi teh manis selama di BS, padahal saya lebih suka teh tawar yang sepat rasanya. Akhirnya ketika selesai sukses membawakan acara rekovasi, dan di hari kedua, saya harus meninggalkan BS menuju Yogyakarta, saya sengaja minta kawan saya mengantarkan saya makan malam ke Resto Milas, sebuah restoran vegetarian organik agar saya bisa puas menikmati masakan vegetarian organik, untuk membantu mengatasi kekurangan makan sayuran.  Biarpun untuk menemukan Milas, sempat berputar-putar dulu, hahaha. Ya, siapa tahu kekurangan makan sayur ini jadi salah satu penyebab saya terkena panas dalam.

Saya memilih menu Milas Omelette, ditemani Tempe Mendoan (maaf, yang ini lupa saya jepret, soale keburu lapar, hehehe) dan minumnya untuk mengatasi rasa mblenger gara-gara teh manis, saya minum Teh Sirih Madu. Teh Sirih ini dimaksudkan untuk mengobati luka sariawan di mulut juga.


Salam,

Linda Cheang

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

29 Comments to "“Terdampar” Di Banyu Sumilir, Lereng Merapi"

  1. Linda Cheang  12 February, 2011 at 09:53

    Bang BagJul : di sugai keclnya itu emang banyak ditemukan ikan-ikan kecil seperti impun (Sunda : cecere), hampir tidak kelihatan. Tapi yang sudah pasti ada adalah kepiting air tawar. Kalo soal “plung-lap”, kan, sudah ada tempatnya, ga boleh sembarangan, donk

    Tanti : ayo, transit ke Stn. Kroya dan nikmati pecelnya, hihihi

    Pak Hand : wah, seingat saya, di sekitar Rumah Pohon cuma ada tanaman daun pandan, pohon kelapa, dan beberapa tanaman perdu yang saya benar-benar tidak tahu namanya. Kawan saya yang jadi manager BS juga kurang paham. Tetangganya BS yang persis di sebelah Rumah Pohon malah sawah semua. Apa mungkin karena ada sawah lalu tidak ada nyamuknya? Bagaimana kalau Pak Hand mampir ke sana? Dan identifikasi tanaman apa saja di situ?

    Kalau di rumah, ibu saya menanam Carmium untuk mengatasi nyamuk

  2. Handoko Widagdo  12 February, 2011 at 08:07

    Linda, harus dicari tahu kombinasi tanaman apa yang membuat nyamuk tidak muncul disana. Jika bisa ditemukan, kita bisa menganjurkan rumah-rumah di perumahan untuk menanam kombinasi tanaman tersebut. Dengan demikian tidak perlu ada korban malaria atau DB. Dan tidak perlu menyemprot dengan insektisida yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.

  3. tantripranash  12 February, 2011 at 07:18

    hhhmmm … pecel bunga kecombrangnya bikin ngiler ….

  4. Bagong Julianto  12 February, 2011 at 06:47

    Linda, itu sungai kecil di bawah rumah pohon apa nampak ada ikannya?
    Ada keinginan “plung-lap”?
    Bahan organik juga ‘kan?!…………….

    Ojo’ nesu………

  5. Linda Cheang  11 February, 2011 at 11:49

    Pak Hand : selama di sana saya, ga temukan tanaman serai dan cabe. Tapi memang ada satu tanaman mirip bangle atau temulawak/temukunci, hanya lokasi tanamnya cukup jauh dari Rumah Pohon.

    nev : Pecelnya itu memang menggiurkan. Rugi kalo pas transit di Stn. Kroya, malah ga beli

    awesome, ayo, kita main ke sana

  6. awesome  11 February, 2011 at 11:19

    pengen ikutan ……

  7. nevergiveupyo  11 February, 2011 at 10:57

    pecel dan mendoan di kroya itu menggoda sekalee….

    (pak hand, saya rasanya lebih dekat…tapi malah baru tahu) tks linda

  8. Handoko Widagdo  11 February, 2011 at 08:57

    Tidak ada nyamuk karena mungkin jenis tanaman yang ditanam dibuat untuk mengusir nyamuk. Tanaman serai, cabe dan zingiberaceae bisa membuat nyamuk tidak suka

  9. Linda Cheang  11 February, 2011 at 08:09

    imeii : samam sekali tidak ada nyamuk. Yang ada cuma jangkrik yang bunyi kalau malam hari, sama kepiting air tawar di sungainya di depan Rumah Pohon

    Mawar : main ke Rumah Pohon, yuk

    Lani : yup, TOPnya betooolan..

    ODB : Oom, Rumah Pohonnya di Amrik pasti di atas pohon betulan, bukan dibikin buatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.