Aku Percaya Animisme

Handoko Widagdo


“Aku percaya Animisme, sebab kepercayaan ini lebih organis dan lebih ekologis. Agama-agama monoteisme itu membuat manusia merasa super dan kurang menghargai makhluk dan obyek lain di bumi.” Demikian pernyataan teman saya dari Nepal pada sebuah makan malam di tepi pantai di Rayong, Thailand. “

Agama animis itu percaya bahwa semua obyek mempunyai dewa. Manusia hanyalah salah satu obyek yang ada di bumi. Sementara agama monoteis menggambarkan tuhannya yang tunggal dalam bentuk/sifat manusia. Akibatnya, manusia menjadi merasa super dan tidak menghargai makhluk/obyek lain yang ada di bumi. Ini menyebabkan relasi yang kurang baik bagi kelangsungan hidup di bumi.” Teman saya menambahkan pendapatnya.

Pendapat tersebut menggangu pendapat yang sudah mapan dalam benak saya. Sepulang makan malam mataku tak jua memejam. Pernyataan temaku itu begitu mengganggu. Bukankah animisme selama ini saya anggap sebagai keterbelakangan, ketidak-rasionalan, penyembahan berhala, musrik, dan perlu ‘ditobatkan’? Bukankah selama ini saya menganggap bahwa agama monoteisme lebih rasional, lebih modern dan lebih membantu manusia dalam menjalani hidupnya di bumi? Mengapa teman saya malah percaya animisme? Mengapa dia bisa begitu logis dalam menjelaskan tentang mengapa dia menganut animisme dan menyatakan bahwa animisme adalah solusi untuk keselamatan kehidupan di bumi?

Pernyataan teman saya tersebut membuat badai di benak saya. Badai pertanyaan tersebut menggoyang pendapat yang sudah mapan di pikiran saya. Apakah benar manusia-manusia yang percaya pada monoteisme sudah begitu rupa menyiksa bumi? Apakah konsep bahwa manusia adalah ciptaan super telah membuat bumi menuju ke kehancuran? Apakah ketidak-acuhan manusia terhadap kerusakan bumi yang sekarang ini terjadi adalah akibat dari kepercayaan monoteis?  Jika benar demikian, apakah kepercayaan monoteisme harus diganti? Apakah hanya cukup direvisi sehingga lebih bervisi ekologi?

Penggembaraan pikiran saya berlanjut. Agama monoteisme percaya akan adanya sorga. Sorga adalah tujuan utama (ultimate goal) bagi penganut agama monoteisme. Sementara kehidupan di bumi adalah hanya bagian kecil yang tidak kekal. Karena kehidupan di bumi adalah kehidupan sementara dan tidak kekal, maka tanggungjawab manusia terhadap bumi juga tidak maksimal. Karena bumi adalah tempat persinggahan sementara, maka tidak perlu kita jaga.

Menjelang subuh aku merasa lelah memikirkan hal ini. Sebagai seorang penganut salah satu agama monoteisme, kemudian saya berdoa. Gusti sesembahan kawula, bantulah saya menjawab kerisauan yang muncul dalam pergumulan iman saya sebagai manusia. Benarkah ajaranMu dan ajaran-ajaran nabi agama-agama monoteisme menyebabkan kehancuran bumi? Gusti nyuwun duka (minta maaf yang sedalam-dalamnya) atas pertanyaan saya ini.


Rayong, 26 Januari 2011

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

87 Comments to "Aku Percaya Animisme"

  1. Handoko Widagdo  18 February, 2011 at 08:58

    Itsmi, saya percaya kepada Tuhan bukan karena takut kehidupan setelah mati. Tetapi dari kesadaran sebagai ciptaan yang mencintai penciptanya. Cinta saya kepada Tuhan membuat saya bahagia. Kebahagiaan saya membuat saya hidup dengan tanggung-jawab. Saya menghargai orang-orang yang bisa bertanggung-jawab apapun dasarnya. Seperti Nietzche yang merasa bisa bertanggung-jawab jika Tuhan tidak ada. Sehingga manusia ‘harus’ bertanggung-jawab kepada dirinya sendiri.

  2. Vee  17 February, 2011 at 17:43

    Yes, it’s me….Vera…….hehehehe……….welcome bek ya om…….tante………

  3. Itsmi  17 February, 2011 at 16:13

    Handoko, memang tidak gampang hidup dengan tak menentu dan menerima bahwa kalau kita mati itu selesai, tutup. dan tidak mudah hidup dengan penuh tanggung jawab dan mandiri. Oleh karena itu manusia menciptakan Tuhan.

  4. Lani  17 February, 2011 at 08:13

    ADHE : se77777777 dgn komen no 72

  5. Lani  17 February, 2011 at 08:12

    MBAK NUK : moco komentar mbak no 71……..dowooooooooone duh……..yg menarik adl alinea pertama……..la iki ngomongin apa to ujug2 njur lampu mati……..making love???? la nek peteng ndedet…….apa ora nabrak2 kedandapan…….mmg bener apa yg ditulis mbak……mosok main cinta gelap gulita……….hehehe……gak banget deh! terang benderang jg gak passsss……….gak sepppppppp……..kudune la kuwi LILIN….temaran…….waduh, mengko ora dikancani lelembut kkkkkkk………mmmmm ya romantisssss……..wuiiiiiiiiih…..wes ah……nek bablas njur ming kebessss……….ilere lo mbak wakakak

  6. Handoko Widagdo  17 February, 2011 at 08:03

    Itsmi, aku setuju dengan dikau bahwa pengetahuan membawa kemajuan. Namun apa yang dianggap maju dalam satu culture mungkin dianggap sebaliknya oleh culture lain. Atau suatu dianggap maju bagi culture di suatu masa akan dianggap suatu kesalahan di masa yang akan datang. Disinilah terbukti bahwa pengetahuan tidak sempurna. Dikau pasti akan menjawab bahwa pengetahuan itu evolved. Jika demikian, saya adalah penganut bahwa pengetahuan itu sangat penting, tetapi belum sempurna. Oleh sebab itu saya percaya adanya otoritas sempurna, yang dalam keyanikan saya saya sebut sebagai Tuhan.

  7. Itsmi  16 February, 2011 at 14:08

    Handoko,pertanyaanmu sudah di jawab sama Adhe. Yang di tulis Adhe itu inti pelajaran dari agama monotheis. Kata lain agama mengajarkan kita puas dengan tidak memahami dunia. Kalau manusia memegang pemikiran itu, manusia masih berpikir bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Untung ada Galileo yang siap mau di hukum.

    Dengan lepasnya agama barat maju bukan hanya dari segi sains tetapi juga dari segi moral. Contoh homo di beberapa negara sudah bisa nikah.

    Tidak ramah terhadap bumi itu berkaitan dengan pendidikan dan kesadaran. Pendidikan itu musuhnya agama. Karena pendidikan meningkat, kepercayaan pada Tuhan berkurang.
    Contoh Eropa utara.

    Tetangga saya setiap malam ketemu dengan makluk dari angkasa. Menurut kamu itu bagaimana ?????

  8. Handoko Widagdo  16 February, 2011 at 07:26

    Itsmi, point saya adalah bahwa semua ‘kepercayaan’, termasuk atheisme itu berangkat dari satu titik yang tak bisa digugat. Theisme percaya titik yang tak bisa digugat adalah TUHAN. Bagi dikau, titik berangkat yang tak bisa digugat adalag LOGIKA.

    Sebenarnya point saya dalam artikel ini bukanlah pada titik berangkat tersebut, tetapi bagaimana perilaku monotheisme ‘mungkin’ menyebabkan perilaku manusia yang tidak ramah terhadap bumi.

  9. adhe  15 February, 2011 at 20:49

    Om Han, pertanyaan yang ada dalam pikiran om Han saat ini wajar menurutku, manusia dibekali ALLAH akal dan pikiran untuk mencerna hak2 yang bersifat logika, juga dititipi Nurani dan Kalbu untuk memfilter mana hal2 yang tidak bisa diolah melalui logika, bisa dirasakan keberadaannya dalam diri kita. Seperti Tuhan dan Rasul, kita tidak pernah melihat wujud mereka, tapi kita yakin dan percaya akan keberadaan Nya. So…biarlah yang tidak ‘terjangkau’ dengan logika kita tetap menjadi “rahasia” Nya, karena tidak semua hal harus diketahui manusia kan?

    Trims Om, artikel yang menarik.

  10. nu2k  15 February, 2011 at 20:46

    Achhhhh, wat zielig. Kalau lampu mati ya kita coba cari pemecahannya. Mungkin dengan menyalakan lilin agar bisa menerangi sekitarnya ?? Mosok lampu mati terus bermain cinta . Waaaahhh kalau lampu mati terus bermain cinta atau bermain cinta dengan mematikan lampu , ya nggak romantis lagi lah. Guuuueeeelaaap, jangan-jangan salah raba. Mungkin justru dengan cahaya lilin akan membuat suasana romantis. Sekarang bayangkan, bagaimana anda bisa tahu apakah pasangan anda pada saat lampu mati juga terangsang untuk bercinta. Sekarang saya bisa mengerti mengapa banyak wanita Indonesia (lihat artikel di salah satu majalah Kartini) yang selama kehidupan berumah tangganya belum pernah merasakan bagaimana rasanya dan apa itu yang namanya “orgasme”. Lhawong hanya dipakai sebagai pelampiasan hawa nafsu karena lampu mati…..Achhhhhhhhhh.
    Berpuasa? Pasti anda lupa, bukankah kita sudah diajarkan untuk berpuasa sejak dari jaman nenek moyang kita.. Berpuasa (salah satu bentuk mengurangi kegiatan makan) ngadem, sekali atau dua kali sebulan, hanya makan rebusan kentang dan sayur, sangat baik untuk mengurangi timbunan lemak yang ada di tubuh kita. Atau mengurangi makan garam untuk menjaga dan mengantisipasi darah tinggi. Atau puasa ngebleng, puasa sehari sebelum sampai sesudah hari lahir, membuat tajam dan jernih panca indera kita. Saya sampai saat ini masih mempunyai cukup banyak tante dan bude (tidak para oom dan pakde) yang masih sugeng dan usianya sudah diatas 80 tahun. Masih sehat lho yat dan bisa melakukan perjalanan jarak jauh seorang diri naik semacam D-trans (?). Dan mereka memang rajin berpuasa dan sangat hebat dalam hal mengendalikan dirinya…..
    Alinea terakhir, dua hal kecil yang bisa kita kendalikan bila kita sudah dapat mengendalikan diri kita sendiri..
    Soal korek kuping, korek upil saya kira juga ada tempat tersendiri dan perlu pengendalian diri. Apakah pantas kalau kita melakukan itu sementara banyak orang disekitar kita? Bukankah kita diajarkan untuk melakukan kedua hal itu setelah kita selesai mandi? Atau melakukannya dengan menggunakan/ ditutupi saputangan?Bukankah kita masih memegang dan menjalankan norma dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Atau kita sudah melupakannya hanya untuk bisa mendapatkan julukan “modern” ?

    Satu lagi, saya masih tetap memegang etika pergaulan (entah itu yang traditional maupun yang modern) dimanapun saya berada. Dan juga dalam hal tulis menulis. Mungkin anda akan menggolongkan saya pada kelompok yang kuno? Tidak mengapa! Yang jelas dengan etika dan norma yang saya miliki saya bisa masuk kesemua kelompok masyarakat tanpa ada kesukaran. Baik itu di Tanah Air maupun di Luar Sana. Jadi untuk teman di Baltyra yang belum saya kenal (mungkin hanya lewat nama dan tulisannya saja) saya tidak akan pernah menyapa dengan ber- KAMU, -MU ria. Atau kalau saya ingin berKAMU, -Mu ria, saya akan lebih cenderung untuk menggunakan bahasa Inggris saja dalam berkomunikasi….

    Nu is het genoeg en ik wens jullie allemaal een prettige avond toe. Sekarang saya harus kerja lagi. Tot weer schrijven? Groetjes, Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.