Lubang Hitam Menganga (3 – habis)

Tantripranash


Salija menunggu beberapa hari saja tapi rasanya seperti setahun. Hingga pada suatu malam datang lagi orang-orang kota itu. Ia sudah berbaring di ranjangnya dan pura-pura tertidur sampai mereka berangkat menjelang tengah malam seperti biasa.

Secepat kilat Salija melompat menyambar senter dan baju penghangat seadanya. Berlari ia menembus malam tanpa suara. Tujuannya jelas ke Watu Badag lewat jalan pintas Rawa Pinggir yang ia hapal betul, karena sejak kecil akrab dengan tiap senti jalan setapaknya.

Terseok-seok dan beberapa kali terpeleset karena sandal jepitnya yang sudah aus, tetapi ia tak punya waktu berhenti. Salija berusaha tak memikirkan biawak yang ia tahu tinggal di air situ. Rambutnya yang tadi dicepol seadanya kini terburai-burai. Biasanya suaminya kembali sebelum azan subuh berkumandang, tetapi suara azan tak sampai terdengar di Rawa Pinggir.

Puluhan menit berlalu, akhirnya sampai juga Salija di luar rawa. Tanah berpasir teraba di kakinya. Senter dimatikan dan ia bergerak perlahan di balik bayangan pohon. Tak dirasakannya lagi perih-perih di kakinya karena luka goresan ranting dan ilalang tajam. Sambil meraba-raba, ia perlahan beringsut-ingsut maju. Kehadirannya tentu sulit terdengar, karena suara deburan ombak saat laut pasang di malam itu terdengar begitu gemuruh. Malam tak terlalu pekat karena bulan bulat penuh.

Tak sulit Salija mengenali sekelompok orang yang duduk bersila,  melingkar di atas batu datar besar yang letaknya lebih tinggi dari pantai itu. Bau bakaran kemenyan memenuhi udara dan seberkas sinar temaram dari lentera yang diletakkan dekat situ turut menciptakan suasana magis.

Orang-orang dalam kelompok itu menunduk sambil berpegangan tangan. Mungkin sekali mata mereka pun terpejam. Terdengar suara Wakijan memimpin pujian dan doa dalam bahasa karuhun. Bukan ditujukan kepada Sang Maha Pencipta hidup tetapi kepada yang dianggap menguasai lautan situ.

Orang-orang kota itu khusyuk, larut dalam suara Wakijan yang seperti nyanyian lirih dalam nada-nada rendah. Di luar lingkaran sesosok pocong berdiri tegak. Entah mengapa Salija yakin betul itu adalah Leman yang dibalut kain kafan. Orang-orang yang tunduk pada hasrat duniawi itu mudah dibodohi pula dengan penampilan Leman. Ujung kain kafan Leman sudah tentu basah dan belepotan pasir. Seandainya saja mereka tahu.

Salija menghela nafas dalam. Hampa dan kecewa menjadi satu. Jiwanya seperti jatuh terperosok, melayang semakin dalam ke dalam lubang hitam menganga. Digigitnya bibirnya menahan tangis seraya membetulkan ikatan kain pada pinggangnya. Tubuhnya berbalik dan melangkah cepat.

Salija kembali pulang diam-diam masih lewat jalan yang sama. Esok dan selanjutnya ia mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak sepatah katapun terucap untuk hal yang satu itu, kepada suaminya juga kepada Leman. Sejak saat itu pandangannya terhadap suaminya berubah total. Di matanya Wakijan sangatlah hina.

******

Dua tahun kemudian, lingkaran bersila orang-orang kota itu masih ada di malam-malam tertentu yang senyap ditingkah debur ombak. Masih di Watu Badag, masih lewat tengah malam. Pujian dan doanya pun masih sesat jua, tetapi gumam parau Lemanlah yang kini memimpin.

Wakijan tak pernah kembali dari melaut ketika badai datang tiba-tiba di suatu malam. Kejadiannya hanya beberapa hari saja setelah acara larungan sesajen ke laut. Orang bilang ada yang kurang dengan sesajen mereka tahun ini. Orang-orang kota itu dengan sedikit bangga malah menganggap Wakijan dibawa ke kerajaan penguasa lautan, karena dibutuhkan di sana. Sebaliknya, Salija pikir Wakijan paling-paling terseret arus dalam yang memang dahsyat. Walau kadang-kadang terselip juga keraguannya jangan-jangan suaminya mati karena membayar tebusan atas perjanjiannya dengan alam lain, ataukah akibat Wakijan menjanjikan kemakmuran yang bukan merupakan kuasanya.

Setelah Wakijan tiada, Lemanlah yang melanjutkan. Entah bagaimana caranya orang-orang kota itu kini rutin pergi tengah malam bersama Leman. Bukan hanya posisi pimpinan sesat yang kini diraih Leman secara kebetulan, tetapi ia juga ingin menggantikan posisi Wakijan sebagai pendamping Salija.

“Tak baik terus jadi janda. Biarlah saya yang menggantikan posisi Akang di rumah,” kata Leman di suatu senja di tepi pantai.

Salija membuang pandangannya ke lautan. Dipandanginya ombak yang bergulung-gulung, berbuih-buih. Teringat ia ucapan pamannya waktu kecil dulu, bahwa sebesar apapun dosa kita walau sebanyak buih di lautan tetapi ampunan Allah lebih besar lagi dari itu. Seandainya saja Leman mau bertobat dan meninggalkan pekerjaannya yang sesat tentu ia dapat menerimanya.

Perempuan itu tetap terdiam, tetapi kini ditatapnya mata Leman dalam-dalam. Seakan-akan berusaha mengukur kedalaman jiwanya. Salija menghela nafas dalam-dalam. Kini ia merasa berada di bibir lubang hitam itu, tetapi tak ingin ia terperosok ke dalamnya untuk kedua kalinya. Salija menggeleng sambil tersenyum dan melangkah menjauh.

Salija menolak pinangan Leman tanpa berpikir panjang. Ia memilih mengajar mengaji di surau kecil di ujung desa. Hari-hari lain ia tetap menggarami ikan dan menjahit jala milik orang lain. Di waktu-waktu luangnya ia masih kerap berlari ke pantai untuk menikmati ombak. Kali ini bukan untuk mengusir galau hatinya tetapi lebih kepada rasa syukur menikmati damainya hidup. Salija bangga tak begitu saja menyerah kalah untuk menggadaikan jiwanya pada sesuatu yang kelam.

****

Selama hasrat duniawi masih diagungkan, akan ada terus orang-orang yang mencari jalan pintas dengan menobatkan tuhan-tuhan kecil …

(Tamat)

Terinspirasi dari kisah seseorang yang pernah mengikuti ritual sejenis.

12 Comments to "Lubang Hitam Menganga (3 – habis)"

  1. tantripranash  14 February, 2011 at 07:19

    @ dear All : Terima kasih sdh mampir di sini, ma kasih juga untuk comment, dan apresiasinya …

  2. Lani  11 February, 2011 at 04:09

    waduuuuuuuuuuuh……….ya mmg gitulah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.