Sebuah Batu Bertuliskan Namamu

Ary Hana


sebuah batu bertuliskan namamu

di situ, sendiri, menggerutu

tentang lalu, adakah aku?

Bahkan ketika kukabarkan pertikaian di antara mereka yang mengaku ber-Tuhan, kau hanya diam, tak bergeming, dan membuang muka. Bagimu Tuhan itu hal pribadi, tak boleh diusik siapapun keberadaannya di dalam hati, hingga kau simpan di bagian yang tersembunyi. Agar tak ada orang usil mengulik siapa Tuhan-mu, agar tak ada yang menyinggung keegoanmu.

Dan ketika kuberitakan jatuhnya korban di kedua keluarga kita yang berbeda agama, kau hanya melenguhkan desah. Harusnya kita mampu melindungi mereka, bukannya membiarkan orang-orang itu mencabik-cabik kulitnya, menyayat tubuhnya, lalu membakarnya di dekat sebuah gereja atau di depan masjid.

Agama telah mencerai berai kita, itu kataku marah. Keluarga yang dulu bersatu dan saling bantu, kini baku hina dan beringas saling bunuh.

Bukan, bukan salah agama atau Tuhan, sanggahmu. Salah keimanan kita, salah pikiran kita yang dangkal memaknai Tuhan.

Namun aku tidak terima. Darahku mendidih, jantungku berdegup kencang. Tak kau lihatkah saudaraku, seorang ibu hamil dikorek perutnya dengan lading. Janin di dalam kandungannya dikeluarkan paksa, lalu dicincang seolah daging tuk sajian bakso. Saudaraku, mereka melakukan semua itu di depan mata suaminya yang hidup dan menjerit. Mana rasa kemanusiaan? Mana?

Kau sedikit terjengat. Terkejut kurasa. Namun tak sedikitpun menggetarkan hatimu agar mau membela mereka.

Keduanya saudaraku, umat Tuhan yang bertikai itu. Tak mungkin kubela salah satunya. Apalagi ini hanya perang karena dangkalnya memahami Tuhan. Biarlah aku menjadi penolong kaum yang cedera.

Lalu dalam operasi kemanusiaan tuk menolong korban, kau terjebak di dalam pertempuran. Kau hanya selamatkan seorang anak, anak yang kedua orangtuanya binasa dibantai, anak yang orangtuanya berbeda agama dengan pihak yang menyerang malam itu. Tanpa ampun mereka memanahmu tepat di tengkuk. Kau tersungkur. Anak itu lari, menujuku. Ah saudaraku, malam itu begitu kacau. Tak tahu aku bagaimana menyelamatkanmu. Tapi anak itu aman bersamaku. Keluar dari Galela, keluar menembus Tobelo yang porak poranda. Dengan speedboat kami menuju Ternate, segera.

Saudaraku, kelak kutahu mereka membakar jasadmu di dalam rumah itu. Bersama ratusan korban yang kau tolong di situ. Kini yang bisa kulakukan hanyalah memagutkan sebuah nama di batu. Namamu. Semoga kau mau menungguku di sana. Pesankan tempat satu untukku.

*Kulihat seorang perempuan memandang pantai Ternate di suatu siang, di tepi swering. Bajunya penuh cabikan. Rambut panjangnya yang tergerai hingga ke bahu, nampak kusut seolah tak pernah disisir. Matanya jauh menembus laut dan pulau-pulau di cakrawala, lalu terhenti di ujung Halmahera, di bagian yang bernama Galela. Mendadak dia menoleh, tersenyum kepadaku, sambil berkata, “Kata mereka aku gila.”


11 Comments to "Sebuah Batu Bertuliskan Namamu"

  1. Lani  11 February, 2011 at 04:17

    waduuuuuuuh………..kekacauan mengenai agama lagi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.