Seratus Tahun Bapak Alzheimer

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


PARA stafnya bingung setengah mati, bagaimana bos mereka sebagai pemimpin sebuah negara adi kuasa di jagat raya, membaca komik Spiderman pertama kali membuka lembaran surat kabar di tiap pagi hari. Bos mereka bukan tergolong muda lagi. Seharusnya di usia kepala tujuh, dia pensiun dan pergi ke ranchnya yang luas sambil ngangon (memelihara) ternaknya. Bukan sebaliknya berpikir keras mengurusi dunia dan mengatur semua kejadian di jagat sesuka kepentingannya.

Telinganya saja sudah mulai tuli, karena sering mendengar suara letupan pistol saat muda dulu waktu syuting sebagai aktor Hollywood yang tak pernah dilirik piala Oscar. Ada sumpelan alat bantu dengar di kupingnya agar suara terdengar nyaring, terutama suara-suara staffnya memberi masukan.

Sorot matanya tentu sudah tak fokus membaca laporan-laporan maha penting yang dia harus putuskan segera. Bahkan dikabarkan, sang bos malas membaca laporan staffnya yang tebalnya seperti buku telepon.

“Bos, ini laporan tentang perkembangan negara El Salvador”, lapor seorang pembantunya. Negara kecil di Amerika Tengah ini sering bergolak dan membuat pusing sang bos. selama menjadi pemimpin negara besar.

“Berapa halaman?”, sang bos balik bertanya.

“Dua ratus halaman lebih”, jawab stafnya tegas.

“Saya minta ringkasannya”, perintah si bos.

“Baik! Saya akan buat 20 halaman”, sigap stafnya.

“Well, kalau bisa dua halaman saja. Bagaimana?”, sang bos balik bertanya.

Dialog tersebut benar-benar terjadi dan dikutip dalam layar film yang menceritakan tentang penembakan dirinya sebagai seorang presiden saat usianya sudah uzur 70 tahun. Anehnya, sang bos itu tetap sehat dan tak mati meski lengan kiri bagian bawahnya terkena peluru dari revolver Rohm RG-41 kaliber 0,22 mm. Peluru ditembakkan seorang sakit jiwa yang ngambek karena aktris pujaannya, Jodie Foster yang bermain dalam film “Taxi Driver”, tak mau jadi pacarnya.

Selama jadi seorang pemimpin negara besar, terlihat dia seperti banyak lupa dan tidak tahu banyak apa yang seharusnya dia ketahui. Apalagi ada lebih 200 negara di dunia yang dia harus perhatikan agar tidak bersekutu dengan musuh bebuyutan negaranya, yaitu negara-negara komunis yang dia sebut “kerajaan iblis”.

Banyak fungsi indrawi dan memori otaknya yang terkuras karena usia yang uzur. Kondisi ini membuat dia malas berpikir terlalu kompleks, seperti mengurus yang sepele dan hal-hal kecil yang tak perlu. Banyak hal-hal prioritas dan penting, dia delegasikan ke wakilnya, George Bush, yang kelelahan keliling dunia mewakili bosnya yang malas ke luar negeri.

Dia yang sering divisualkan sebagai seorang koboi, yang malas berpikir keras mengurusi rakyatnya. Selama dia memimpin, dia menentang peran besar negara dan pemerintah. Biarkan saja rakyat mengurusi dirinya sendiri. Pemerintah tak boleh ikut campur terlalu jauh. Apalagi mengurusi urusan bisnis swasta, pengadilan, sepak bola, penyanyi, anak hilang, artis porno, pesinden, seni musik atau kamar tidur rakyatnya.

Meski dia mulai rada pelupa dan menua, kemampuan berkomunikasinya sangat prima dibanding para pendahulunya. Julukan “The Great Communicator” adalah milik abadinya. Masalah rumit menjadi mudah bila dia jelaskan di depan layar TV, sebuah dunia yang tak asing baginya berhadapan di depan kamera.

Hobinya berpidato setiap minggu melalui radio untuk rakyatnya, menyampaikan hal-hal penting secara audio. Entah dari meja kantornya, di peternakannya, di pesawat atau dari rumahnya. Pernah dia entah sengaja atau bercanda, keceplosan berbicara kepada rakyatnya melalui corong radio. “Kita dalam 5 menit akan menyerang Uni Soviet dengan senjata nuklir”. Semua heboh, apalagi rakyat Uni Soviet yang menjadi musuh dalam selimut negaranya.

Dia juga pernah memerintahkan tentaranya menembak pesawat musuh dari sebuah pabrik roti yang dia sedang datangi. Bahkan dia pernah iseng mengirimkan marinir menyerbu sebuah negara pulau kecil di Karibia, Granada. Lalu lahirnya lelucon yang mengejek sang bos yang gemar klenik itu.

“Wah, kalian tak tahu di mana Granada”, kata si bos kepada seorang staffnya sebelum invasi.

“Hmmm…terus terang saya tak tahu”.

“Alaah, gimana sih? Lihat dong peta Spanyol. Lihat yang jelas”

Rupanya si bos tak bisa membedakan negara mini Granada di Karibia yang akan diserbunya, dengan kota Grenda, bekas kota Islam di Spanyol.

Ketidaktahuan, kapasitas memori dan kemalasan mengurusi yang tetek bengek menjadi ciri khas pemerintahannya selama delapan tahun berkuasa memimpin Amerika Serikat ke puncak kemakmuran dan kehebatannya. Dia bisa menghancurkan ideologi komunis yang menjadi musuh negaranya selama setengah abad, tanpa perang dan pertumpahan darah setetes pun.

Lima tahun setelah tak menjadi pemimpin lagi, tanpa sungkan dan malu dia mengumumkan kepada seluruh rakyat AS, dirinya bersiap menuju ufuk akhir kehidupannya. Mantan bos negara super power itu terkena Alzheimer, penyakit yang melenyapkan semua memori dalam ingatan seseorang. Keberaniannya itu diacungkan jempol oleh seorang pakar saraf FKUI, Prof. Sudiarto Kusumoputro.

“Bagi saya Ronald Reagan adalah bapak Alzaheimer dunia” , aku sang profesor yang kagum kepada Presiden ke 40 AS yang memerintah 1981-1989. Baginya, sebuah keberanian untuk seseorang mengumumkan penyakitnya kepada publik. Apalagi Alzheimer punya stigma sebagai penyakit “cacat mental” yang memalukan, seperti yang diderita oleh sahabat baiknya, aktris Rita Hayworth.

Anehnya ketika menjadi presiden, Reagan dengan ramah dan ceria layaknya keluarganya, menerima anak Rita Hayworth, Putri Yasmin Aga Khan, sebagai pengurus yayasan peduli Alzheimer. Namun penyakit itu tak peduli terhadap seorang Reagan yang lahir 06 Februari 1911 di Tampico, Illinois.

Ronald Reagan lupa dia adalah seorang presiden terbesar AS. Dia tak ingat lagi negara yang dibuatnya besar. Dia tak mengenal siapapun termasuk istrinya. Yang dia tahu manusia harus mati. (*)


42 Comments to "Seratus Tahun Bapak Alzheimer"

  1. Djoko Paisan  14 February, 2011 at 03:11

    Bung Osa…
    Terimakasih sudah menyapa Dj….
    Hahahahahahahaha….!!!!
    Kalau sommer, mau mandi beberapa kali, tidak jadi masalah.
    Itupun tergantung kwalitet airnya…..
    Lebih baik, setelah mandi pakai body Lotion, jadi kulit tetap seger dan tidak pecah-pecah, karena kering.
    Bagaimana…dengan rencana ke Mainz…??? Kalau jadi mampir ke Mainz, kasi kabar ya…..
    Kalau week end, Dj. bisa jemput di Air Port Frankfurt, asal tau jadwalnya saja.
    Semoga betah, tinggal di Eropa, walau bau badannya sudah sepperti orang bule…hahahahaha….!!!
    Salam sejahtera dari Mainz….

  2. Osa KurniawanIlham  14 February, 2011 at 02:48

    Tulisannya menarik mas ISK. Yang saya ingat dari Ronald Reagan selain kehebatannya memerangi komunisme tanpa pertempuran adalah saat dia mengajukan proposal kepada DPR anggaran untuk memulai proyek STAR WARS (perang bintang). Gara2 itu ilmu fisika laser berkembang dengan pesat, saya menjadi salah satu “korban”nya yang akhirnya tertarik menekuni Teknik Fisika.

    Om DJ, saya baru ngeh kenapa orang bule di sini males mandi saat winter. 2 minggu pertama di sini saya selalu mandi 2 kali sehari dan pada minggu ketiga, kulit saya jadi kering, gatal dan kayak korengan. Akhirnya harus ganti sabun dan mengurangi jadwal mandi jadi sekali sehari. Lumayanlah sekarang bau badan sudah mirip bau badannya bule-bule sini he..he…

    Salam,
    Osa KI

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.