Hidup Tak Butuh Tepuk Tangan

P. Chusnato Sukiman


Jika hidup adalah sebuah sebuah pertunjukan, saya memilih lagu “If I Rise” untuk  mengisi potongan soundtrack-nya…

*

Wajahnya tak lagi pucat seperti dua tahun silam ketika saya mengunjunginya di sebuah rumah sakit. Air mukanya lebih cerah, ocehannya mulai terdengar lagi. Lalu sebuah DVD dan buku saya letakan di meja sebagai buah tangan yang tak seberapa.

“Inikah film seperti yang kamu ceritakan ada orang yang bisa berenang dan memanjat tebing tanpa tangan kanannya itu?”

“Ya…” sahut saya pelan.

“Kamu selalu ada waktu untuk mengunjungi orang, saya belum bisa membalas  empat kalimu, tapi kamu sudah datang lagi. Dan… tetap saja tangan kananku belum tumbuh lagi,” katanya dengan tawa.

“Tapi kamu lupa, setiap saya datang, saya belum bisa membalas apa yang kamu telah kasih. Semangat beribu lipat kali mu itu belum pernah lunas…”

Dia tertawa lagi tanpa kata-kata yang jelas. Saya sendiri kurang paham apa arti tawanya ini.

*

Agung, sahabat saya kehilangan tangan kanannya lantaran kecelakaan dua tahun silam. Berita itu cukup mengejutkan. Saat kabar buruk itu terjadi, dia tengah menyelesaikan sebuah buku motivasi…

“Saya berhenti bekerja dan mau jadi penulis saja,” itu kalimat terakhir sebelum berita buruk itu sampai di telinga saya.

Saya tidak pernah membayangkan anggota tubuh mana yang paling terpenting dalam diri saya. Jika artis Jupe bisa paham benar bahwa payudara dan bokongnya harus diasuransikan, sedangkan saya bingung, mengapa saya harus menjamin keamanan hidung saya, misalnya.

Meski seadanya, dengan hidung ini saya bisa merasakan bahwa hidup itu indah.  Kata orang kaki kiri saya terlatih menggiring bola pendek saat futsal. Tapi tetap kedua anggota tubuh itu belum punya alasan yang kuat untuk saya asuransikan. Sedangkan sahabat saya Agung, bersikeras bahwa hati dan pikranlah yang paling penting, lantaran itu dia ingin menjadi motivator dengan buku yang sedang dia garap itu.

“Saya tidak pernah membayangkan karir kepenulisan saya akan berakhir …” Agung mulai lagi mengenang sambil  mengelus-elus batas siku tangan kanannya yang terlihat berkerak.

Saya membuang pandangan sejenak. Saya tidak ingin melempar dadu untuk menimpalinya. Lalu saya menawarkan diri untuk membuat teh gujarat  yang saya bawa ini sebagai penyelia  saat mendengarkan sebuah lagu…

*

Lagu “If I Rise” adalah salah satu soundtrack pengisi film “127 Hours” garapan sutradara Danny Boyle (2010). Dalam film , lagu ini dua kali tampil.  Yang pertama potongan lagu tanpa musik, saat Aron si pemanjat tebing batu itu membayangkan masa kecilnya di saat tangannya masih terhimpit baru besar.

Lagu itu merayap, menghambur bagai puisi di tengah bebatuan Canyon, Utah Amerika yang kering.  Lagu itu seperti mantra yang menjadikan semangatnya berlipat kali untuk melepaskan tangannya terhimpit batu besar ratusan jam lamanya, yang akhirnya, dengan sadar, ia memutuskan untuk mengamputasi sendiri tangannya sebagai upaya penyelamatan diri.

Alunan lagu yang kedua di bagian penutup film.  Lagu ini ditayangkan secara utuh saat tayangan seluruh kru film. Melanggam lambat, dan begitu lambat…

Saya sengaja menyetel DVD itu langsung di bagian akhir, supaya kami bisa sambil menikmatinya dengan teh gujarat  dengan irisan kayu manis dengan harapan kami bisa membahas bagaimana pilihan sebuah lagu yang tepat bisa membuat kita bersemangat atau entah apalah namanya itu.

Selembar kertas hasil prnt out teks lagu  saya keluarkan dari tas. Saya sengaja memberi tanda warna khusus pada bagian teks:

If I rise, they are on my drive

If I believe, it’s more than it is

It’s more than it is…

If I thought I wanted more

Get the life more

Just one more call

If I believe, there’s more than this

Anymore than this


Dia diam begitu lama, tak sadar sampai lagu putaran film berakhir. Lalu suasana pecah, ketika dia minta diputar lagi, dua kali bahkan. Saya hanya berhak diam mengikuti langgamnya. Teh gujarat sudah dingin. Sebatang rokok mencairkan suasana hati saya. Tak perlu lagi saya meraba apa gerangan yang tengah  dia rasakan saat mendengar lagu bertempo lambat ini.

*

“Pernahkah kamu tahu, saya berhenti menulis bukan karena tangan kanan saya lepas sampai siku…” katanya membuka kembali percakapan.

“Saya cuma tahu, kamu butuh teman. Dan saya juga sangat butuh teman…” kata saya.  Saya atur kalimat saya sedemikian rupa supaya hatinya tidak tergores.

“Iya, saya yakin. Gola Gong menulis satu tangan dengan indahnya…. Dan, benar! Banyak pelukis, penulis, perupa, musisi, ini film juga soal pemanjat gunung tanpa tangan, kan…? Ah, banyak orang hebat yang justru terkenal sebab ada yang kurang dari tubuhnya…”

Saya diam.

“Saya tidak ingin orang lain jadi memuji karena saya cacat. Orang cacat jika punya sesuatu malah dipuji  berlipat kali…” kata-katanya membuat saya jadi lebih takut lagi bersuara. “Tidak ada yang salah memang, tapi, justru bisa menyudutkan…”

*

Saya pamit ketika senja mulai merapat. Dia memeluk saya erat tanpa satu katapun dia ucapkan lagi. Hanya sedikit kalimat permohonan maaf yang keluar dari mulut saya, kalau saja kedatangan ini justru telah membuatnya sedih.

Tetap tanpa suara yang terdengar menyahut darinya saat saya pamit menghatur salam. Saya yakin, tangannya tidak lantas tumbuh  hanya dengan sebuah lagu atau sebuah tayangan  dari film berkelas Oscar sekalipun.

Tapi yang saya yakin, pengalaman kecil yang saya ceritakan kembali ini bukan untuk dijadikan sebuah  pertunjukan sedih yang membutuhkan iringan lagu mendayu pelan. Sebab saya yakin, hidup ini memang pertunjukan, yang kadang-kadang tidak membutuhkan sorak dan tepuk tangan.  *** Chus


Jakarta 25 Januari 2011

1.       Seulas pendengaran lagu If I Rise karya AR Rahman, Dido dan Rollo; OST film “127 Hours” sutradara Danny Boyle.

2.       Tulisan kecil ini hadiah untuk Dew Fe yang tanggal 4 Februari ini merayakan hari ulang tahun.

3.       Hadiah mungil ini untuk sahabat saya Agung, yang setiap kali saya berkunjung selalu berharap tangan kanannya tumbuh kembali.

4.       Tulisan ini adalah salah satu pengisi buku “OBROLAN DI MEJA MAKAN” – Sebuah renungan harian yang akan  terbit medio tahun 2011.



13 Comments to "Hidup Tak Butuh Tepuk Tangan"

  1. Dewi Aichi  17 February, 2011 at 16:39

    mas Sumonggo…iyaa..Gola gong…yang aku juga kagum..!

  2. astuti  15 February, 2011 at 13:28

    kompromi dengan keadaan yang dihadapi memang tidak mudah dan perlu perjuangan.

  3. awesome  14 February, 2011 at 10:24

    setuju bangets sama komentar nomer 5 dan 7

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.