Sepatu Kaca

Fahri Asiza


Cerpen udah lama bangeeeeeet, pernah dimuat di sebuah majalah remaja, lalu dipermak lagi dan dimuat di sebuah antologi cerpen (lupa nama antologinya) dan sengaja diposting spesial untuk Ricardo Marbun

“Kayak Cinderella?”

Giman mengangguk mantap. “Iya, bedanya ini cowok.”

“Mana bisa begitu?”

“Bisa, Gus. Pokoknya bisa.”

“Kamu yakin sekali, Man?”

“Yakin sekali. Yang penting kamu harus mencari sepatu kaca.”

“Di pasar jual nggak?”

“Mana ada di pasar. Kamu harus bertapa.”

“Biar ketemu ibu peri?”

“Nggak ada peri-perian. Cuma orang bodoh yang percaya peri-perian?”

“Lha, kamu sendiri kok percaya dengan sepatu kaca? Memangnya bisa bikin aku kaya sementara?”

“Itu benaran, Gus. Bukan dongeng, bukan juga seperti paranormal yang kebanyakan hanya berdongeng.”

Gus Dol hanya mengangguk-angguk. Angin malam membelai wajahnya. Sapu jalan tergeletak di sebelah kakinya, di atas trotoar. Pantatnya terasa dingin karena trotoar seperti menyerap malam.

“Sebentar, Man. Biasanya yang pakai sepatu model begituan kan cewek, kenapa bisa cowok?”

“Lho, kamu kan cari sepatu kacanya yang untuk laki-laki. Memangnya kamu ingin jadi banci? Sudah, kamu harus cari sepatu kaca. Percayalah kamu pasti jadi kaya sementara dan Jumilah, penjual jamu gendong yang kamu taksir itu, pasti akan lengket. O ya, Gus, kalau sudah mendapatkan Jumilah, sepatu kaca itu harus kamu kembalikan lagi.”

Gus Dol serius menatap Giman yang penuh semangat. “Satu lagi, Man. Biasanya kan, kereta kuda yang dipakai Cinderella pada pukul dua belas malam akan berubah menjadi labu. Kalau aku, berubah jadi apa?”

“Terong!”

***

Ketika meninggalkan kampungnya di sudut Jawa Tengah, Gus Dol yakin bisa mendapat penghidupan yang lebih layak di Jakarta. Dia tidak percaya, ketika ada yang bilang, tamat SMA aja tidak, bagaimana bisa menaklukkan Jakarta? Keahlian aja tidak punya, bagaimana bisa hidup di Jakarta? Jawaban Gus Dol sangat sederhana, “Yang penting berusaha. Kalau Allah berkehendak, Insya Allah semuanya mudah.”

Menumpang truk pasir, Gus Dol tiba di Jakarta. Dihirup udara Jakarta banyak-banyak, seolah khawatir oksigen yang bebas lepas itu diraup oleh para konglomerat dan dijadikan bahan komoditi.

Dia tetap bersemangat, meski hanya tidur di kolong jembatan. Dia yakin, dia mampu menjadi “orang” di Jakarta. Lima bulan kemudian, sapu jalanan menjadi temannya kala malam. Berkat kebaikan Pak Rahmat yang diselamatkannya dari penodongan.

Gajinya tidak besar buat orang Jakarta. Tapi sangat besar baginya. Laksana juragan cengkih di kampungnya ketika uang sembilan puluh ribu rupiah itu diterimanya. Dan Jumilah muncul. Cantik. Satu daerah dengannya, hanya beda desa. Hanya berbeda satu tahun. Usia 17 tahun bagi gadis-gadis Jakarta, usia yang sangat dinanti. Tapi Jumilah hanya menjual jamu gendong.

“Tapi berubah jadi terong? Mana bisa begitu?” pikirnya lagi, melirik Giman yang mulutnya mengeluarkan dengkuran seperti tlakson bus malam. “Jangan-jangan, aku malah berubah jadi tomat.”

Ini malam kesembilan setelah Giman mengusulkan dia harus mencari sepatu kaca.

“Kalau kau gagal pada hari kedua belas, jangan harap kau bisa mendapatkan Jumilah,” todong Giman tadi. “Oya, setelah Jumilah kaudapatkan, kau mau apa?”

“Pulang kampung. Menikah.”

“Lho, kalian kan masih muda?”

“Menikah muda itu sunnah Rasul, Man.”

“Usiaku sudah dua puluh dua tahun, tapi belum menikah.”

“Carilah jodohmu.”

Giman hanya tertawa. Melihat wajah Gus Dol yang tiba-tiba bersemangat, “Kalau gitu, kau juga harus mencari sepatu kaca, Man. Tapi hati-hati, jangan sampai pukul dua belas malam tiba.”

“Memangnya kenapa?” Giman lupa kalau dia yang mengusulkan hal itu.

“Siapa tahu kereta kudamu akan berubah menjadi jengkol.”

Giman mendengus. Menarik bekas karung terigu untuk dijadikan selimut.

Gus Dol masih termangu. Sepatu kaca, sepatu kaca, di mana aku harus mencarinya? Sudahlah, pokoknya, aku harus mencari sampai dapat.

Pagi dan siang hari yang biasanya dimanfaatkan sebagai tukang parkir liar di sebuah pertokoan, kini dihentaknya. Gus Dol mulai melangkah, pede. Sepatu kaca harus kudapatkan. Juga Jumilah.

“Aku ingin pulang kampung sebenarnya, Gus,” kata Jumilah murung, malam itu. “Sudah dua tahun aku di sini ikut Yuk Lasmi. Bebannya berat, Gus. Menjual jamu gendong tak banyak untungnya. Tapi ruginya bertumpuk. Kalau aku ke terminal, pasti sopir dan kenek banyak yang mencolek-colek. Belum lagi ada mobil mewah berhenti, lalu penumpangnya menawarkan aku bekerja padanya. Katanya mau dijadikan sekretaris. Tapi mana bisa begitu?”

“Kamu punya potongan, Jum.”

“Tapi kan ndak pantas. Aku cuma tamat SD. Yuk Lasmi sih menyesali aku menolak permintaan orang itu. Katanya, itu keberuntunganmu. Tapi keberuntungan apa? Bagaimana kalau aku hanya dijadikan gendaknya saja?”

Gus Dol merasa ada lahar yang bergolak di dadanya. Tiba-tiba saja dia ingin melindungi Jumilah. “Selama ada Gus Dol, kamu jangan takut soal itu, Jum.”

Jumilah hanya tertawa kecil. Sungguh, cantik sekali dia.

Dan dalam panas terik seperti hari ini, Gus Dol sudah menjelajahi berbagai pasar. Dia percaya pada ucapan Giman sekarang. Di pasar jelas tak ada yang menjual. Dia terus menyusuri jalan, memasuki setiap toko, tak perduli ditertawakan, tak perduli diejek. Gus Dol tetap bersemangat.

Sepatu kaca harus kutemukan.

Hingga kedua kakinya tak mau diajak bersahabat lagi, sepatu kaca itu tak ditemukan pula. Dia ingat, harus bertapa. Tapi, bertapa di mana? Jakarta sudah menjadi belantara beton. Jakarta sudah menjadi himpunan besi, batu, pasir, semen dan sebagainya. Di mana tempat yang layak untuk bertapa?

“Di pinggir kali,” saran Giman mantap. Masih tersisa dua hari lagi seperti yang dikatakannya.

“Tapi kayak begituan dilarang oleh agamaku, Man. Dulu aku pernah mengaji. Kata Ustadzku, bertapa untuk mendapatkan sesuatu yang dilarang agama itu berdosa.”

“Tidak apa-apa berdosa sedikit. Yang penting Jumilah kaudapatkan.”

“Apa yang akan terjadi kalau aku bertapa nanti?”

“Mungkin kau akan diganggu oleh sebangsa dedemit. Nah, kalau ada yang memberi petunjuk padamu, kau harus mengikutinya.”

“Ini namanya sinting, Man. Hanya Allah yang boleh kita ikuti. Mengikuti petunjuk orang-orang yang mengaku sakti aja aku nggak mau, apalagi mengikuti petunjuk dedemit?”

Giman menggaruk-garuk kepalanya. “Sudahlah, pokoknya aku sudah memberi petunjuk. Kalau tidak mau melaksanakannya, jangan salahkan aku ya?”

Gus Dol hanya mengangguk-angguk.

***

Pisang emas, lisong, kemenyan, roti, ayam panggang, sudah menyatu di atas nampan. Gus Dol memperhatikan lagi. Lengkap semuanya. Sesajen harus diberikan, kata Giman. Sekarang, tinggal membawanya ke pinggir kali, tempat sepi yang cocok buat bertapa. Jaket sudah dipakainya. Tak lupa mengoleskan autan. Bertapa pun harus pakai persiapan, kan? Malah Gus Dol sempat mengajak Giman.

“Aku khawatir tampang dedemit yang muncul itu menyeramkan, Man,” alasannya yang ditolak mentah-mentah Giman.

“Begitu saja takut. Di Indonesia kan yang kayak begituan lagi model, Gus. Orang gede aja banyak kok.”

Gus Dol bersila. Plastik sudah digelar, dijadikan alas duduk. Sesajen diletakkan dengan baik. “Harus agak ke timur, Gus,” saran Giman.

Kedua tangan disatukan di dada. Dia menunggu. Harus diam, begitu kata Giman pula. Tenang dan jangan takut dengan dedemit yang muncul. Hingga pukul tiga pagi, dedemit itu tidak ada yang muncul. Yang terdengar suara musik dangdut di kejauhan. Suara cekikikan dari tenda di sebelah barat. Lalu teriakan-teriakan dan nyanyian orang yang mabuk. Gus Dol tidak menghiraukannya dan bertahan tidak tidur. “Itu karena ulah dedemit, yang ingin menggagalkan tapamu.”

Giman hebat. Kayaknya dia tahu banyak soal beginian. Dedemit itu tetap tidak muncul. Malah perutnya yang terasa lapar. Roti di hadapannya nampak lezat. Seumur di Jakarta dia belum pernah makan roti itu. Pasti mengasyikan. Lisong pun asyik untuk dihisap. Tapi tidak. Lebih baik roti saja. Ya, hanya roti. Tapi ayam panggang itu pun lezat. Ya, ya, ditambah ayam panggang kalau begitu. Tapi… habis makan kan harus cuci mulut. Pisang emas sangat cocok.

Dua menit kemudian, sambil melirik kanan kirinya, Gus Dol sudah asyik memakan roti, ayam panggang dan pisang emas. Ketika habis, dia baru sadar. Lho, mana bisa begini? Mana bisa dia mendapatkan Jumilah?

“Sudah, Man,” sahutnya pasti ketika pukul lima kembali ke “gubuk derita”-nya.

“Bagus. Siapa yang mendatangimu?”

“Tidak ada.”

“Wah, gagal namanya.”

“Tidak gagal juga.”

“Kenapa?”

“Sesajen itu habis.”

“Habis? Oh! Berarti, dedemit itu memakannya! Kau pasti dapat petunjuk tentang sepatu kaca itu, kan? Ayo, katakan, katakan!”

“Kenapa harus aku katakan, Man?”

Giman tertawa malu-malu. “Kalau kau berhasil, aku juga mau melakukannya. Tuh, di sana ada pembantu kece yang berasal dari kampungku.”

Gus Dol tertawa. “Jadi kau ingin bertapa  dan mendapatkan sepatu kaca juga?”

Giman mengangguk.

“Jangan khawatir. Kata dedemit itu, kita harus pulang kampung, Man. Katanya, Jakarta bukan tempat buat orang-orang seperti kita. Di kampung, kita bisa ke masjid, shalat berjemaah, tadarusan, bersilaturrahmi, tolong menolong dan lainnya, Man.”

“Tapi mau kerja apa?”

“Waktu aku nekat datang ke sini, aku berkeyakinan, Allah pasti akan membantu kita mau berusaha. Nah, sekarang, aku juga yakin, Allah pasti akan membantu kita di kampung bila kita berusaha.”

Giman manggut-manggut. “Eh, bagaimana dengan sepatu kaca itu?”

“Besok, kau ikut aku. Akan kutunjukkan di mana sepatu kaca itu berada?”

“Memangnya ada dua pasang?”

Gus Dol mengangguk mantap. “Aku mau Shubuh dulu.”

***

Truk itu kosong. Sangat lega untuk mereka berdua tempati. Angin mendesir kencang seiring melakunya truk itu dengan kecepatan sedang. Tawa Giman masih terdengar, lalu terbatuk-batuk.

“Sepatu kaca?” serunya, dan tertawa lagi.

Gus Dol mengangguk mantap. “Dedemit kamu itu bodoh, Man. Aku lebih pintar dari mereka, kan?”

“Iya, iya!” sahut Giman geli. “Kau memang hebat, hebat sekali! Bisa mendapatkan sepatu kaca dengan mudah! Tapi, apa iya sepatu kaca ini bisa membuatmu mendapatkan Jumilah?”

“Bukan karena sepatu kaca itu, Man. Tapi karena Jumilah ternyata memang jodohku, meski kami hanya saling berjanji saja saat ini. Kamu sendiri kan berhasil mendapatkan Suminten?”

“Aku dan dia juga saling berjanji untuk setia dan bila saatnya tiba, Insya Allah, kami akan menikah.”

“Iya, kita akan membangun desa kita dulu, Man, meski mungkin tak akan semudah bayangan kita.”

“Tapi kau bilang, dengan keyakinan, kita bisa melakukannya?”

“Insya Allah dan tentunya kita selalu meminta petunjuk Allah.”

Giman mengangguk, tiba-tiba dia tertawa lagi. Mengambil plastik kresek di sebelahnya. Plastik yang sama pun ada di sebelah Gus Dol. Giman melirik lagi. Mengeluarkan isinya dan tawanya meledak keras.

Di tangan kirinya, ada sepasang sepatu bekas yang dibelinya di pasar Jatinegara. Di tangan kanannya ada potongan kecil sebuah kaca.

Hahaha… sepatu kaca. Sepatu dan kaca.

Kenapa juga aku percaya dan menyarankan hal-hal seperti itu pada Gus Dol? Hal-hal yang justru menjadi sebuah pembodohan. Tawa Giman kian meledak. Gus Dol hanya tersenyum.***



7 Comments to "Sepatu Kaca"

  1. emmy surya  31 May, 2012 at 02:33

    Cerpennya bagus!… saya juga bikin cerita tentang sepatu kaca, tapi cerita yang asli, hehehe…
    saya numpang ambil gambarnya boleh kan yahh?…
    [email protected] bolehh… aminnn…

    bisa di lihat di sini,.. : http://emmysurya.wordpress.com/2012/05/31/sepatu-kaca-cynthia-venika-dan-andy-lau/

    terima kasiihhh

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  14 February, 2011 at 13:15

    “pengumuman penting, dengar hai dengar… pengumuman penting bagi kita semua….” Ingat lagu ini, lagu Cinderella yg dinyanyikan Ira Maya Sopha ttg sepatu kaca, wkt kecil.

  3. awesome  14 February, 2011 at 10:01

    love it

  4. Djoko Paisan  13 February, 2011 at 16:57

    Teimakasih bung Fahri…
    Ternyata sepatu dan kaca….???

  5. Handoko Widagdo  13 February, 2011 at 14:46

    sayang cinde yang rela…coba Nurdin yang rela…

  6. Linda Cheang  13 February, 2011 at 11:59

    yah, setidaknya akhir cerita bikin mesem, hehehe….

  7. Mawar09  13 February, 2011 at 06:37

    Fahri: cerpennya bagus, banyak terjadi pd pendatang yg berkhayal akan jadi kaya di Jakarta tapi berakhir jadi tukang minta-minta atau lainnya. Tidak gampang menaklukkan Jakarta, karena sudah dipenuhi oleh mereka-mereka yang serakah !

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.