Valentine

Anwari Doel Arnowo


16 Februari 2005

Saya menyaksikan perayaan Natal di Tokyo tahun 1959 oleh orang Jepang.

Saya sedikit terkejut dan mulai memasang mata dan telinga lebih tajam. Saya saksikan bagaimana muka gembira gadis-gadis Jepang yang berusaha mengikuti perayaan Natal dengan muka penuh harap untuk ikut melebur dalam suasana Natal. Kenyataan yang ada hampir semua orang di Jepang waktu itu terbagi menjadi beberapa golongan besar: tidak beragama, percaya Buddha, beragama Hindhu dan Shinto. Yang beragama Nasrani amat kecil jumlahnya.

Tetapi Natal? Itu dengan spontan dirayakan oleh banyak orang di pusat-pusat keramaian di kota dan di pelosok-pelosok. Benar-benar mempesona banyaknya manusia Jepang yang ingin ikut merayakan Kurisumasu (Christmas).

Mereka berlomba menyanyikan Jingguru Berru (Jingle Bells) berkali-kali dan mengucapkan waito kurisumasu (White Christmas) dengan penuh percaya diri. Karena lafal ucapannya yang demikian itu maka lagu-lagu Natal amat riuh dinyanyikan dengan nada dan lirik yang tidak bisa pas persis.

Seru juga saya mengikuti ini dan kadang hati saya bisa merasakan bagaimana rasanya para orang tua yang melihat anaknya memulai memasuki budaya asing yang janggal. Untuk diketahui bahwa pada waktu itu banyak Tentara Amerika Serikat yang ada di sekitar Tokyo, dengan pakaian sipil (tanpa seragam). Sesudah Jepang takluk karena kalah dalam peperangan Perang Dunia Kedua, orang Jepang kelihatan jenuh dengan kemiliteran. Mereka kurang menghargai tentara, apalagi kalau berseragam bersimpang siur di dalam kota. Karena itulah semua Tentara mendiami barrack mereka yang kebanyakan berada  di luar kota dan semua anggota Tentara yang masuk ke dalam kota diharuskan untuk menanggalkan seragamnya, berbaju sipil.

Cara seperti ini, menanggalkan seragam tentara di dalam kota dan tempat keramaian sipil, sampai sekarang ditiru di seluruh dunia. Tidak gampang mencari dan melihat seragam tentara di New York, Tokyo, Singapura dan London sekalipun.

Jumlah anggota Pasukan Tentara Amerika ini berkulit putih dan banyak juga berkulit hitam, konon jumlahnya mencapai 10.000 orang. Mereka ini jelas didominasi oleh pemeluk agama Nasrani. Dengan mudah dapat ditebak bahwa “penularan” kegiatan kurisumasu adalah karena adanya interaksi antara para anggota Tentara Amerika Serikat ini dengan penduduk asli, yakni Jepang.

Saya kira beruntunglah bangsa Jepang yang cukup kuat mendalami kebudayaannya sendiri, yang dipenuhi dengan lagu-lagu dan tarian-tarian serta puisi-puisi dan syair-syair. Ada yang namanya Matsuri, sebuah ritual festival kebudayaan di Jepang yang jenisnya berpuluh-puluh ribu banyaknya. Tiap daerah mempunyai Matsuri daerahnya sendiri, semua penduduk berpartisipasi. Demikian yang berfestival, semua menjalankan tugasnya dengan tekun dan secara bersama-sama. Pada musim bunga Sakura berkembang, bukan main penuhnya Ueno Koen (Taman Ueno) yang terkenal dengan manusia yang duduk, menari, minum sake dan menyanyi lagu-lagu kuno Jepang secara berkelompok-kelompok.

Saat ini perayaan Valentine dan Kurisumasu masih dirayakan orang tetapi tidak seseru pada tahun 1959 seperti saya saksikan.

Pada 14 Februari 2005 banyak sekali anggota masyarakat kita, orang Indonesia, merayakan Valentine Day. Sudah sejak tahun 1970-an hari “Kasih Sayang” ini dikenal di Indonesia. Saya ingat bagaimana masyarakat Indonesia yang baru mengenal ke Inggris-Inggrisan, juga agak sedikit menyerupai suasana di Jepang pada sekitar tahun 1959 dalam merayakan Natal. Kalau waktu 1959 saya banyak kali mentertawakan orang Jepang mengucapkan kata-kata Inggris dengan patah patah, ironis sekali bahwa sekarang saya kecewa melihat banyak teman-teman muda orang Indonesia yang  tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik, tetapi memakainya dimana suka. Banyak contoh yang dapat dipetik dalam kasus ini.

Tidak paham bahasanya dan tidak mengerti dengan benar, biarpun   suaranya bagus sekali, akan tetapi oleh karena kurangnya pengertian mengenai perbendaharaan kata-katanya, maka sering terjadi kelucuan dalam bernyanyi. Semangat bonek (bondo nekat-modal tekad)lah kira-kira secara keseluruhan kejadiannya.

Gus Dur menulis dalam bukunya berjudul: Tuhan Tidak Perlu Dibela, pada halaman 29 ada judul Qasidah. Ada bagian yang menyebutkan *….setiap hari Jumat TVRI menyiarkan acara yang bernada Islam. Nah, yang menggelisahkan adalah seringnya lagu-lagu gambus Arab, atau juga qasidah modern, dibawakan di layar TVRI.* Lawan bicara Gus Dur pada waktu itu adalah seseorang yang setengah baya dan seorang pemimpin sebuah kursus musik, melukis dan bahasa di bilangan Kebayoran dan telah mapan dan mulai mencari sesuatu yang bernilai tinggi dari sekedar ‘menjalankan profesi’.

Lawan bicara Gus Dur ini berkata: “Ini mengganggu saya, orang yang berkecimpung di dunia musik,” katanya. Sudah benarkah “kebijaksanaan” menjadikan qasidah sebagai perwakilan musik Islam di layar TV, dalam satu rangkaian dengan uraian keagamaan dan pengajian Al-Qur’an? Ini semua dikutip, karena ini adalah inti pokok pembicaraan serious Gus Dur dengan lawan bicaranya. Masuk akal bagi saya, mengenai apa yang disebutkan bahwa musik Islam seharusnya dan selayaknya tidak selalu bernuansa Arab. Jelas apa kata-kata orang itu yang menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya musik yang Islami itu?

Jawabannya yang mengejutkan Gus Dur adalah: “Ya, yang universal, diakui di mana-mana, seperti lagu pop dan musik klasik. Asal jelas diisi pesan keagamaan. Dan bermutu tinggi, dihargai orang di mana-mana”. Gus Dur lalu ingat kepada kata-kata bung Syu’bah Asa: Ada seorang pelukis yang menyebutkan ciptaan Beethoven sebagai “musik yang paling dekat dengan Tuhan”.

Yang terkenal dalam masalah Valentine adalah cara berkirim ucapan selamat dan sudah melantur kemana-mana. Kamus Webster  menerangkan kata Valentine sebagai berikut: Saint Valentine’s Day adalah hari menghormati Santo Valentine yang seorang Pastor berkebangsaan Italia yang meninggal kira-kira pada tahun 270.

Pada tanggal 14 Februari orang saling memberikan kartu tanpa mencantumkan nama pengirim. Apa sebabnya tanggal 14 Februari? Karena pada tanggal itulah sang Santo yang sebenarnya waktu itu masih pendeta/pastor atau priest  biasa, dipotong kepalanya (beheaded) oleh Kaisar Claudius II yang memimpin Kerajaan Roma. Sebabnya adalah priest Valentine ini banyak menolong tahanan orang Nasrani yang ditahan oleh pasukan Roma. Tentunya Santo yang satu ini tidak akan mengira bahwa dirinya atau namanya akan dirayakan oleh orang-orang yang tidak seagama dengan sang Santo.

Tetapi stop dulu.

Itu hanyalah salah satu dari tiga versi sejarah asal muasal hari Valentine. Dua yang lain adalah sebagai berikut: Valentine adalah seorang bishop dari Terni yang juga dipenggal kepalanya oleh ‘pemerintahan’ Claudius II dalam kasus yang kira-kira sama. Versi yang ketiga adalah: Seorang pastor Valentine yang dipenjarakan karena menikahkan orang-orang muda meskipun telah dilarang. Larangan berbunyi: perkawinan dilarang. Karena dia jatuh cinta kepada anak gadis sang pengelola penjara (jailor) dan surat cintanya ketahuan, maka dia dihukum mati. Ini terjadi di Afrika. Jadi inti cerita ini adalah rasa yang mebentuk simpati kepada orang yang dibunuh karena menjalani rasa cinta, baik sang pastor, sang bishop maupun yang pastor yang narapidana.

Sekali lagi stop dulu.

Gereja Katholik berpendapat bahwa momen rasa simpati ini dapat dipergunakan untuk menambah citra agama dalam meluaskan pengaruhnya. Tetapi Gereja Katholik telah dengan bijaksana membuat keputusan pada tahun 1969 yang isinya sebagai berikut:

Menghapus St. Valentine’s Day dari kalender resmi perayaan hari besar Katholik  di seluruh dunia.

Dasar keputusan ini adalah karena simpang siurnya sejarah yang semuanya, termasuk tiga versi diatas, tidak dapat diandalkan.

Sekarang saya ambil kesimpulan saja sendiri: Valentine day saat ini tidak ada hubungannya, kalau meneliti sejarahnya sendiri, dengan hari kasih sayang. Apalagi antara dua kekasih.

Ini adalah manipulasi bisnis perusahaan-perusahaan percetakan yang menghasilkan kartu-kartu ucapan selamat.

Saya ingat ada kebiasaan di Jepang, pada tanggal dan hari tertentu yang menganjurkan masyarakat untuk memakan masakan belut  (bahasa Jepang: Unagi, baca unangi). Kalau hari itu dia tidak makan unagi, maka dia akan terserang penyakit dalam musim panas. Sakit apa, penyakit apa saya tidak pernah mendapat keterangan yang tepat.

Karenanya seperti halnya kartu ucapan selamat Valentine, saya berpraduga bahwa issue unagi ini adalah ulah para penjual unagi di Jepang.  Jadi tidak ada bedanya para penjual unagi ini dengan para pemuka agama Katholik yang memanfaatkan issue pastor Valentine hanya untuk menjadikan dia seorang martyr (martir), menumpanginya demi untuk memudahkan meluaskan pengaruh masyarakat Katholik pada tahun 270  Masehi. Saya memandang masalah unagi dan valentine sederajat.

Istilah yang sesuai adalah : komersialisasi kebabalasan.

Banyak orang sekarang tidak senang melakukan pemberian selamat kepada ummat lain yang merayakan hari besar agamanya. Contohnya banyak kaum Muslim yang tidak suka memberi Selamat hari Natal kepada yang merayakannya. Tetapi Yasser Arafat datang di dalam perayaan Natal di dalam gereja yang sedang menjalani upacara Natal. Seperti diketahui istri Yasser adalah pemeluk Kristiani. Telah terjadi, dan sudah bertahun-tahun lamanya, para pemeluk agama lain mulai merayakan perayaan agama yang tidak sama, tanpa sadar.

Di sebuah pasar, saya mendengar seorang ibu penjaja barang yang mengenakan jilbab atau jilbob ikut menyanyikan lagu Natal yang sedang berkumandang dari Malam Kudus sampai White Christmas. Kalau hal ini telah diketahui oleh yang bersangkutan, dan dalam rangka saling menghormati, saya akan senang hati. Tetapi karena kedangkalan pengetahuannya mengenai apa yang dikerjakannya, saya menduga ibu pedagang akan menyesali apa yang telah diperbuatnya. Nabi Isa juga memintakan ampun bagi yang menyalibnya dngan kata-kata “karena mereka tidak tahu apa yang sedang diperbuatnya”. Karenanya, saya menganjurkan untuk menyelidiki kedalaman akar sejarahnya dengan lebih teliti. Jangan karena asal kelihatan modern dan tanpa tahu arah tujuannya.

Terus terang saya tetap senang dengan saling menghormati dalam beragama, karena agama adalah urusan yang paling pribadi. Menyuruh ini itu, begini begitu, itu dosa dan akan dihukum berat di neraka dan sebagainya dan seterusnya tiada habisnya. Hidup  menjadi susah karenanya.

Di Jepang, ada larangan untuk melakukan kegiatan agama, termasuk ceramah apalagi disiarkan melalui media, di depan umum. Larangan ini dicantumkan dalam undang-undang, bukan sekadar larangan penguasa lokal, tetapi nasional. Para pemikir yang membuat undang-undang tentunya tidak akan terlalu berani untuk secara ceroboh mengundangkan larangan seperti ini. Di Jepang pernah diakui ada lebih dari belasan ribu agama, informasi ini saya peroleh pada waktu mengikuti ceramah mengenai Kebudayaan dan Agama  Jepang di Pusat kebudayaan Jepang, yang pada waktu itu terletak di jalan Cemara, Jakarta, disampaikan oleh seorang ahli kebudayaan dan agama yang bergelar professor.

Untuk menghindari kekeliruan, seperti banyak sekali disebut oleh Gus Dur dalam tulisannya, saya anjurkan agar kita semuanya bersikap arif dan tidak perlu arrogant atau setia berlebihan karena ingat kepada judul bukunya: Tuhan Tidak Perlu Dibela. Apalagi Allah itu mempunyai 99 nama-nama pujaan yang serba Maha: ar-Rahman, ar-Rahim, al-Malik, al-Quddus, as-Salam (itu lima pertama yang artinya: Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pengasih, Maha Raja dan Yang Maha Berkuasa, Maha Suci dan Maha Sejahtera). Lima nama Allah yang terakhir adalah: al-Badli (Yang Maha Pencipta), al-Baqi (Yang Maha Kekal), al-Waris (Yang Maha Mewarisi), ar-Rasyid (Yang Maha Pandai) dan yang terakhir as-Sabir (Yang Maha Sabar).

Maka tidak diharuskan untuk membela Tuhan kalau kamu belum bisa membela dirimu sendiri. Sayangilah orang lain setelah kamu menyayangi dirimu sendiri.

Ini NORMAL dan WAJAR saja.

Orang yang membunuh dirinya sendiri adalah orang yang tidak sayang kepada dirinya sendiri, dan ini dapat diartikan tidak sayang kepada Tuhannya. !!

Best regards

Anwari Doel Arnowo
[email protected]

BintaroBantenIndonesia

Make mortality your ally

17 Comments to "Valentine"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 February, 2011 at 03:07

    Terima kasih Pak Anwari tulisannnya. Ada beberapa bagian dalam tulisan bapak saya praktekan.

  2. Dato Dananjaya  15 February, 2011 at 15:38

    bagus juga informasinya
    menambah wawasan saya

    salam

  3. lani  15 February, 2011 at 03:55

    MAS DJ : se77777777 dgn komen no 14……….gmn mo berbagi kasih??????? klu tdk dimulai dr mencintai diri sendiri duluuuuuuuuuuuuuu……………betooooooooooool

  4. Djoko Paisan  15 February, 2011 at 03:22

    Selamat Malam Cak Doel…..
    Terimakasih untuk penjelasan yang begitu mendetail….
    Dj. sangat setuju dengan mengasihi diri sendiri, karena tanpa mengasihi diri sendiri, bagaimana kita bisa mengasihi orang lain.
    Apalagi mengasihi TUHAN…???
    Salam Damai dari Mainz….

  5. Mawar09  15 February, 2011 at 03:10

    Pak Anwari : tulisan yang sangat enak dibaca, penuh dengan pesan yg bijak. Terima kasih ya Pak !!
    Saya dan suami juga beda keyakinan, tapi ngga jadi masalah bagi kehidupan yang kami jalani.

  6. nu2k  15 February, 2011 at 02:36

    Teman-teman seBaltyra, hayoooooo, siapa yang mau ikut kangmas Anwari jogging dan berolah jiwa plus raga. Biar sehat dan kuat. Dan jangan lupa minum Wedang Jahénya….Menurut tulisan yang saya baca di pesawat Garuda , Wedang Jahé bisa turut melangsingkan badan lhooo. Ha, ha, haaaaa. Mungkin karena keringat yang mengucur setelah minum Wedang Jahé seember ya…. Silahkan dicoba dan dibuktikan kebenarannya, kalau anda mau lhooooo…

    Welterusten, en doei, Nu2k

  7. Kornelya  15 February, 2011 at 00:17

    Pa Anwari terima kasih untuk tulisannya, yang mengajarkan saya untuk berpikir bijak.. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.