Buku Harian

Hennie Triana Oberst – Jerman


Kebiasaanku menulis sesuatu di Buku Harian seingatku dimulai ketika duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Entah karena keisengan dan kesenangan, atau mungkin juga memasuki masa remaja di mana situasi dan perasaan rasanya lebih sensitif dan (agak) cengeng. Dulu almarhumah Ibuku sering mendapatkan Buku Agenda dari salah satu penerbit buku pelajaran untuk sekolah. Beliau sering membagikan buku tersebut pada kami anak-anaknya.

Segala macam aku tuliskan di dalam buku tersebut, mulai dari perasaan, kejadian keseharian, puisi juga beberapa cerita pendek yang aku coba karang. Sudah tidak bisa aku bayangkan berapa banyak jumlah buku yang telah aku penuhi dengan coretan yang tak penting dan mungkin memalukan kalau dibaca sekarang.

——-

Selesai kuliah aku pindah ke Bandung. Di sana aku memulai pengalaman menjadi anak kos, sekamar dengan kakak kandungku yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Baru beberapa minggu memulai hidup di sana, kakakku malah dapat beasiswa ke salah satu negara di Eropa, jadilah aku sendiri. Begitu akan pindah ke kota inilah sebahagian buku harianku telah aku kumpulkan dan berfikir untuk memusnahkannya. Bagaimana mungkin membawa buku sebanyak itu.

Setahun bermukim di Bandung, kemudian pindah ke Jakarta karena akhirnya aku mendapatkan kerja di sana. Perlahan-lahan aku bisa memusnahkan buku harian yang menumpuk tersebut. Tetapi kebiasaan menulis ini masih berlanjut di Jakarta walaupun frekuensinya rendah sekali. Mungkin kebiasaanku itu perlahan tertutup oleh hidup baruku, sibuk dengan kerja, dunia baru dan juga teman-teman baru.

———-

Tahun 2009 kemarin aku kembali ke rumah orang tua di Medan. Ayahku wafat, menyusul Ibunda yang telah “pergi” duluan 11 bulan sebelumnya. Selama 1 bulan di Medan itulah waktunya bagi kami anak-anak yang ditinggalkan untuk membenahi dan membereskan segala surat-surat dan barang-barang yang ditinggalkan almarhum orang tua.

Ketika membereskan lemari pakaian Ayahku itu ada satu laci yang terkunci. Kami agak bingung mencari di mana kunci lagi tersebut. Pastilah surat-surat penting ada di situ. Akhirnya laci tersebut berhasil dibuka. Hampir pingsan begitu aku lihat ternyata salah satu benda yang mengisi laci tersebut adalah satu Buku Harianku. Entah apa perasan yang saat itu hadir dalam diriku.


11.Dez.2010

Catatan ditulis ketika perasaan rindu kuat menyergap, tadi malam almh. Ayah hadir di mimpiku

93 Comments to "Buku Harian"

  1. HennieTriana Oberst  22 February, 2011 at 16:15

    Beny, hehehe…fotonya dari redaksi…
    Nggak tau catatan apa..jangan-jangan catatan jaman sekolahnya Suhu ya
    Terima kasih Beny sudah mampir..

  2. Beny Akumo  22 February, 2011 at 15:30

    photonya bukan catatan resep masakan zaman dulu ya Mbak Hennie???

  3. HennieTriana Oberst  21 February, 2011 at 20:48

    mbak Probo….hahaha….model itu udah gak keluar lagi ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.