Satu Hati, Satu Ketetapan, Satu Cinta

Dwi Klik Santosa


WASI JALADARA : Saya hanya seorang wasi. Tak punya rumah. Tak punya tujuan. Sepanjang jalan langkah saya. Tak selalu menuju.


IRAWATI : Engkau laki-laki gagah yang rendah hati. Kau lepaskan sepenuh-penuh pengorbananmu demi hanya sebuah maksud meringankan beban yang lain.


WASI JALADARA : Saya  hanya menjalankan kewajiban. Karena begitu, ayah bunda saya selalu berpesan.


IRAWATI : Engkau seorang wasi yang waskita. Seorang sahaja yang pandai membaca, ringan tangan dan suka menolong tanpa harapkan imbalan.


WASI JALADARA : Izinkan hamba pergi. Sudah tunai tugas dan kewajiban saya jalankan. Hamba mohon diri paduka putri …


IRAWATI : Duh, sang wasi. Betapa engkau ini … betapa …


WASI JALADARA : Saya hanya seorang wasi …. Tuan putri …. Seorang jelata yang papa …


IRAWATI : Engkau yang sederhana … engkaulah telah mengisi hatiku. Seribu laki-laki gagah. Sepuluh ribu laki-laki kaya. Sejuta laki-laki tampan takkan bisa, takkan pernah mengganti harapku kepadamu. Jangan pernah tinggalkan aku sang wasi. Jangan pernah. Jika memang kau ingin pergi, ajaklah serta aku. Daripada sendiri saja kini kau tinggal hanya menyisakan hidup yang sepi, lebih baik Irawati sepi selamanya menjadi brahmanacari.


Pondokaren

23 Januari 2011

: 14.20



Jaladara namaku. Pengembara tak bertuan tujuan. Aku dijuluki laki-laki jilmaan Brahma. Karena ada Nanggala di tangan kananku dan Alugara di tangan kiriku. Mencari sumbernya angin, kemana harus kutempuh. Sedang seorang dara cemerlang timpuh kini menjatuhkan getarku. Duhai, guru, saya pulang kini hendak menuju.



Jangan engkau bersedih, jantanku. Aku Irawati putri mahkota Mandaraka akan setia menjagamu. Mencapai sumbernya angin, mutahil menjadi cita-cita. Membangun kehidupan dengan cinta. Semoga saja.



17 Comments to "Satu Hati, Satu Ketetapan, Satu Cinta"

  1. Sigit  18 September, 2011 at 14:20

    mau dengerin versi jawa nya, silakan mampir di http://sigitbs.wordpress.com/2011/09/11/wasi-jaladara/

  2. Anastasia Yuliantari  17 February, 2011 at 10:48

    Telah, sedang, dan akan bertemu dengan sang Resi…..hmmm….!

  3. J C  16 February, 2011 at 12:02

    Percakapan dalam artikel di atas memang setiap saat terjadi di sekitar kita…terima kasih untuk artikel yang unik dan menarik ini…

  4. Handoko Widagdo  16 February, 2011 at 07:28

    Dwi indah tenan. Wasi Jaladara menjelma jadi Prabu Baladewa dan putri Irawati menjelma menjadi Dewi Susilawati?

  5. Djoko Paisan  16 February, 2011 at 01:56

    Terimakasih mas Dwi….
    Adakah arti dan tujuan dari cerita diatas….???
    Maaf Dj. hanya sedikit memahaminya makna dasri cerita diatas, tapi akan Dj. baca lagi dan lagi, siapa tahu satu saat bisa mengerti.
    ( Dasar o´on….hahahahahaha….!!! )
    Salam Damai dari Mainz…

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 February, 2011 at 01:42

    Wah, ada sedikit benturan budaya saya membacanya. Tetapi tak apa, saya ambil sarinya. Terima kasih tulisan uniknya.

  7. Mawar09  16 February, 2011 at 00:43

    DKS: terima kasih kasih ya tulisannya, ditunggu lanjutannya ya …. kalau ada !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.