Jangan Menangis, Mbak

Odi Shalahuddin


(Bagian pertama dari 6 tulisan)

Jangan menangis. Saya nanti ikut sedih. Benar. Saya tidak mengada-ada. Cerita ini cerita tentang diri saya. Bukan cerita orang lain. Bukan pula khayalan. Sungguh. Jadi, janganlah menangis. Setidaknya, tidak menangis di depan saya. Nanti saya berhenti loh ceritanya.

Tadi Mbak sendiri yang minta. Saya sudah bersedia. Termasuk direkam. Termasuk dicatat. Saya sudah cerita. Masak Mbak malah gak tahan sih? Saya saja, yang menjalani, tetap bertahan. Kalau gak tahan, saya sudah mati dari dulu, Mbak.

Terus-terang, saya sendiri sangat jarang menangis. Menangis percuma buat saya. Tidak ada pengaruh apa-apa. Kalau saya menangis, lalu bisa dilahirkan kembali, saya tentu akan menangis, Mbak. Atau misalnya saya berubah tempat, berada di rumah sendiri, saya akan menangis, Mbak. Apalagi bila di rumah ada Bapak ada Ibu ada kakak ada adik yang saling menyayangi. Saya akan menangis menggerung-gerung. Tapi, menangis malah buat capek. Membuang energi. Karena itulah saya jadi malas menangis.

Tolong, Mbak, jangan menangis, ya. Biar saya lanjutkan cerita. Padahal tadi baru pembukaan loh. Saya baru menyatakan tidak tahu siapa Ibu. Tidak tahu siapa Bapak. Tidak tahu siapa keluarga. Mau tanya kepada siapa? Tidak ada yang tahu, Mbak. Pak Min dan Mpok Nah, saya kira kedua orangtua saya.

Nyatanya bukan. Pantas saja saya diperlakukan berbeda. Saya yang harus pagi-pagi buta mempersiapkan air panas. Menyiapkan masakan pagi. Bersih-bersih. Lalu pergi di pagi buta juga. Mencari barang-barang bekas di tumpukan sampah. Tentu barang bekas yang bisa dijual.

Saya memang kabur. Siapa yang tahan dipukuli terus menerus. Dimaki-maki. Disebut anak Syetan juga. Padahal saya gak tahu syetan seperti apa. Mereka juga belum tentu tahu. Tapi saya tahu, sebutan itu jelek dan merendahkan. Apalagi Pak Min, berulang kali mencumbu paksa. Diperkosa, untungnya selalu gagal. Biar saja pergi. Siapa tahu ada peruntungan. Biar tahu rasa Pak Min dan Mpok Nah, kehilangan setoran 100 ribu sehari.

Mbak, jangan menangis dong. Saya jadi resah kalau lihat orang nangis. Bingung mau ngapain. Mau ikutan nangis, pasti gak bisa. Bener, Mbak. Malah bingung saya.

Saya itu, tadi bilang. Saya kabur. Kabur dari rumah. Di pinggiran kali dekat tempat pembuangan sampah. Kata orang bau sekali. Tapi saya tak pernah terganggu. Mungkin biasa, ya Mbak. Sejak bayi. Menghirup aromanya.

Tujuan saya, kabur sejauh-jauhnya. Tapi ya, bingung juga. Saya tidak pernah keluar dari perkampungan itu. Saya gak tahu bagaimana kehidupan di luaran. Saya asal naik kendaraan saja. Saya membawa uang 200 ribu. Saya ambil dari bawah bantal mpok Nah. Angkutan berkeliling.

Setiap ditanya mau turun mana, saya cuma bilang nanti masih jauh. Sampai supir bilang, sudah sampai. Saya turun. Di sebuah terminal. Ramai sekali. Saya bingung. Benar-benar bingung. Perut lapar. Saya masuk warung. Saya pesan makanan yang saya suka. Saya makan banyak, loh, Mbak. Habis, kalau di rumah, dijatah. Tidak bisa tambah. Uh, nikmatnya makan dengan bebas.

Setelah makan, bingung lagi. Keluar dari warung, Cuma memandang angkutan datang pergi. Sampai ada pengamen. Mendekati saya.

”Ngamen bareng, yuk,” katanya.

”Wah, gak bisa nyanyi,”

”masak cakep-cakep gak bisa nyanyi. Tapi gak papa. Suara jelek, orangnya cakep pasti diberi. Yuk ngamen,”

Dia langsung tarik tangan. Padahal belum kenal. Saya nyanyi. Dia pakai kentrung. Naik turun bus dan angkutan kota.

“Wah, luar biasa. Kamu hebat, kita bisa jadi partner,” katanya, “tinggal di mana?”

Aku diam.

”Tinggal di mana?”.

Aku diam. Bingung. Tidak tahu mau menjawab apa.

Ya, itulah Mbak. Itu pertamakali saya kenal di luar orang di perkampungan dengan tempat pembuangan sampah. Anak itu hampir sebaya. Mungkin 13 tahun. Saya sendiri gak tahu pasti umur saya. Kata orang-orang antara 10-12 tahun sih. Pak Min dan Mpok Nah waktu ditanya, malah sewot. “Gak penting tahu umur. Yang penting bisa hidup. Sudah”.

Mbak, jangan menangis, toh. Benar Mbak, saya jadi bingung. Tersenyum toh, Mbak. Ah, Mbak. Sudah ah, saya gak mau cerita. Padahal saya mau cerita panjang loh, Mbak. Tapi Mbaknya nangis terus. Ya, sudah.

Jangan menangis, Mbak. Saya jadi bingung.


Yogya. 17.01.11



28 Comments to "Jangan Menangis, Mbak"

  1. probo  17 February, 2011 at 20:52

    saya nggak angis kook dik…cuma mbrebes mili……

  2. odi Shalahuddin  17 February, 2011 at 20:29

    @Sakura: Wah harus sabar menunggu nih.. Masih tergantung admin kapan menayangkannya. heh.e.h.eh.e
    Terima kasih atas apresiasinya loh… Semoga juga lanjutan dari perjalanan malam juga bisa ditayangkan mengenai kenangan terhadap situasi anak jalanan Semarang.
    @Sierly: Hi..hik.hiks. hikssss…. tenang saja. Menunggu admin aja ya…

  3. odi Shalahuddin  17 February, 2011 at 20:22

    @LA dan DA: Orang Jogjakah? hi..hi..hi..

  4. Sierli  17 February, 2011 at 11:04

    Mas OS, cepetan cerita lanjutannya dikirim mas, kalo enggak tar saya nangis loo..

  5. Lani  17 February, 2011 at 09:21

    DA : pokok-e kutungguuuuuuuu……..

  6. Sakura  17 February, 2011 at 09:06

    Ditunggu lanjutannya, cerita-cerita dari kehidupan anak jalanan begini harusnya memang bisa diangkat ke public, setidaknya supaya mata hati pemerintah kita terbuka, untuk lebih memikirkan nasib rakyat.

  7. Dewi Aichi  17 February, 2011 at 08:38

    Aku ra ketinggalan, cuma belum sempet komentar, wong aku kerja bawa iPad , bisa baca, tp tiap menit tak tutup wkwkwk, takut dipecat ha ha…..Ngga ding, wong kerjaanku dirumah, cuma sekarang ada orang luar, jadi ngga bisa kutinggal online di baltyra.

  8. Lani  17 February, 2011 at 08:30

    DA : ya’ik……….horeeeeeeeeee……selak ora sabaaaaaar aku ki DA……….hehe rak cedak, rak sah adoh…….wis podo saling nulari kok kkkkkkkkk……….kowe ketinggalan critaku wokeh…….pokoke asyikkkkkkkkk booooo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.