Married With Berondong

Daveena


Tahun 1983

Tahun dia dilahirkan maka kugambar komik – seorang bayi sedang menangis kencang, ada aliran air yang sama derasnya dari mata dan kemaluannya..hehehe, dasar bayi nakal. Sementara itu aku berusia 7 tahun, seorang siswi berkucir dua dan berponi sedang  duduk manis di bangku sekolahnya yang masih SD.


Tahun 2008

Dia sudah jadi arsitek (baru aja lulus sih) dan aku juga arsitek yang sudah punya rekam jejak pada gedung-gedung ternama di Jakarta, kami berkenalan via chatting.  Uups ternyata kami juga sama-sama suka membuat komik -kami kopdaran buat saling bertukar komik dan tiba-tiba saling membagi cerita hati. Tiga bulan kami berkenalan, dia mengajakku menikah tanpa pacaran terlebih dahulu.

Katanya,”Mbak, berkenalan denganmu membuatku tambah mengetahui tujuan hidupku. Rasanya kita sudah berhubungan lamaaa sekali. Maukah jika kita tingkatkan hubungan ke jenjang yang lebih serius?”,

Aku merasa hal yang sama sebenarnya…ditambah sedikit narsis, “ehmmm emang ada pesona apa ya didiriku  yang membuatnya terpana pada pandangan pertama.” Ya udah sih kalau begitu tapi plis stop panggil mbak dunk.

——lapor ortu dan orang-orang terdekat——-

“Apaaa 7 tahun 2 bulan lebih muda?”…”kamu ga lagi desperate kan?”…”Pasti karena dah ditanyain ma orang-orang ya?”….”Perlu diselidiki motifnya tuh”…”Coba pikirin 10 tahun lagi, kamu dah keriput di sana-sini, suamimu masih kinyis-kinyis,”…begitulah komen kontra di sekeliling.

Untung ada juga yang mendukung dan gongnya pas ada yang bicara begini, “Apa yang kamu risaukan sudah terpecahkan 1400tahun lalu, manakala seorang pria bernama Muhammad menikahi wanita yang 15 tahun lebih tua, Khadijah. Dan mereka berhasil membina keluarga yang berkualitas tinggi.”

Dan keberatan terpecahkan maka janur kuningpun melengkung.

———kami dan pekerjaan———-

“Aku baca di majalah, desainnya enggak banget – sok modern, minimalis tapi gak jelas. Iklim tropis tapi material full beton, ketutup kaca ama aluminium kayak oven raksasa.” kata si berondong pas lewat suatu gedung. Aku cuman bisa,”[email protected]#$*&,”… “Yang, kok diem aja..kamu ya yang desain?”…

Diem artinya iya… Lain waktu:

“Yang, coba lihat desain rumah buat mas Gandhul,” si berondong manggil-manggil,

“Ehm, secara desain bagus cuman sepertinya orientasi bangunan kurang jelas dan pengalaman ruang kurang diperhatikan, sori yang waku baru lulus aku juga euphoria fasade keren.”

Berondong terdiam, “Dendam kok saran.”

———–Kami dan Uang———-

“Gajiku sekarang 2,5juta- aku gak ingin mbak kaget,” dia bilang.

“Yang, aku juga pingin kamu tahu – gajiku 9 juta,”aku bilang.

“Uang mbak adalah hak mbak, uangku adalah uang kita. Aku gak mau uang mbak terpakai buat kebutuhan rumah tangga. Kalo gajiku kurang maka aku akan cari side job. Kalo gajiku cukup – side job jalan terus,” dia bicara. Aku cuman bisa bilang, “Oke aku sangat menghargai itu.”

Tanggal 20an, “Yang makan di luar yuk.” Emang uang belanja ada sisa?, dia nanya.

“Aku yang traktir pliss,” kataku. Dia masuk kamar dan aku khawatir dia marah, akhirnya dia keluar dan mengulurkan beberapa lembar uang, “Tadi nyari di kantong celana ternyata masih ada sisa jatah pulsa ga kepake, jatah makan siang kelupaan. Sering kelupaan.” Aku cuman bisa memandangi  dan tak bisa menahan tuk memeluk dia dengan haru.

——-Ending————–

Demikian penggalan-penggalan novel grafis berjudul Married with Berondong  ditulis oleh pasangan suami isteri VBI Djenggoten dan Mira Rahman, ISBN 978-602-95228-1-5, Mei 2010. VBI Djenggoten memiliki  blog JamurKomik yang segar namun kritis. Senang sekali membaca cerita cinta yang realistis tapi tetap romantik dikemas dalam bentuk komik (psst terus terang untuk buku Fiksi saya tak pernah menyentuh yang berat-berat biasanya saya baca buku dengan judul Dodol semacam Isteri Dodol, Boss Dodol, Anak Kost Dodol…secara untuk pekerjaan sudah harus baca buku-buku yang bikin jidat berkerut).

Novel grafis ini masuk dalam nominasi Anugerah Pembaca Indonesia 2010 dari Goodreads Indonesia untuk kategori Komik dan Sampul.

——— A Note to Myself————

Aku, ” kamu dah tau umurku…keberatan?”,

” Enggak,” brownies (alias brondong manis) itu tegas menjawab,

Aku,” tapi aku keberatan,”

Dengan cool dia menjawab,”Pikiranmu membatasi dirimu.”

“Tapi pas kamu masih SD – aku dah ngantor pake sepatu branded yang jut2 gitu deh (dalam hati: padahal sih hadiah dari pacar waktu itu),” lanjutku. “Dan sekarang kita sama-sama bekerja, masing-masing bersepatu kan. Masalah kamu tuh apaan sih?”, masih dengan cuek dia menjawab.

Sembari tepok-tepok jidat, aku telpon kakak-ku, “Mas Bbbbb…gimana ni?”. Eh si kakak menjawab,”Ingat 10 tahun lagi kamu dah keriput n dia lagi sukses-suksesnya, palingan banyak wanita muda menghampiri..jantungmu kuat gak?”. Beeh….bukan kakak yang supportif ni…


73 Comments to "Married With Berondong"

  1. idr  3 July, 2011 at 10:39

    kukira menikah bukan karena yang dilihat usia melainkan kecocokan jiwa….kalo suda merasa klik kenapa musti melihat usia?????????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.