Senja di Chao Phraya (8)

Endah Raharjo


Bab 2: Gerimis di Sangkhlaburi (4)

Mendung tipis berarak dari utara ke selatan dihembus angin senja, melintasi Danau Khao Laem. Osken khawatir hujan akan turun tiba-tiba.

“Kita bisa bawa payung. Kalau hujannya deras kita bisa menyewa mobil hotel,” ujar Laras.

“Saya nggak mau itu. Saya mau jalan kaki ke sana,” Osken menggerutu, terdengar seperti anak-anak yang kecewa.

“Hahahaaa…, kamu kayak anak kecil saja!” Laras terbahak melihat wajah Osken berubah cemberut.

“Aku bisa jadi apa saja kalau sedang dekat kamu,” Osken menggoda Laras. Mereka tertawa-tawa, seketika lupa pada mendung yang mengancam menggagalkan rencana.

“Kita berangkat sekarang? Bossmu sudah tahu kalau….?”

“Tentu saja! Lagi pula ini di luar jam kerja,” potong Laras.

“Aku tidak ingin merusak reputasimu.”

“Saya sudah pamit sejak kamu belum datang.”

“Apa katanya?”

“Mau tahu aja! Kayaknya hari ini kamu out of character,” Laras mengedipkan mata kiri.

Tawa mereka kembali terlontar ke udara. Osken menggandeng tangan Laras, menaiki tangga. Mereka berhenti di lobi untuk meminjam payung besar dari hotel. Laras membawa payung lebih kecil yang disimpan di dalam tas. Salah satu petugas front desk memandang mereka dengan senyum bahagia.

Pasti pasangan ini sedang berbulan madu, pikirnya. Rona cinta dan bahagia terpancar dari seluruh tubuh mereka. Dua wisatawan Korea yang baru datang berpikiran sama, mereka memandang Osken dan Laras dengan rasa senang yang tidak disembunyikan. Dimana-mana orang suka pada wangi aroma cinta yang menguar semerbak di udara.

Di Sangkhlaburi waktu seolah sembunyi. Yang membedakan pagi, siang dan malam hanyalah matahari, bulan dan bintang. Tak ada rush hour yang menyulap orang menjadi belingsatan seperti dikejar setan. Tak ada suara klakson mobil yang menggertak lalu lintas minta diberi jalan.

Rumah-rumah panggung dari papan berderet cantik di kanan kiri jalan. Penduduknya seolah menjalani hidup tanpa beban. Bila pagi datang, mereka bangun lalu membiarkan semuanya berjalan dengan sendirinya, tanpa rencana, tanpa menoleh ke belakang. Ketika malam turun, tak terlihat orang-orang berlalu-lalang mencari hiburan.

Segala sesuatunya hening. Tenang. Menentramkan. Sesekali saja ada sepeda, sepeda motor atau mobil melintas di jalan.

“Sebentar,” Laras berhenti untuk mengambil foto salah satu rumah panggung. Dua wisatawan kulit putih yang sedang melintas di depan rumah itu mempercepat langkah mereka. “Terima kasih.” Teriak Osken, melambaikan tangan.

Sepuluh menit kemudian, Osken dan Laras sampai di mulut gang menuju tebing danau. Lima orang anak kecil tampak bermain bola di kolong rumah panggung, di sudut jalan. Semakin dekat danau, jalanan makin menurun dan menyempit. Osken mempererat pegangan tangannya.

“Lihat!” teriak Laras. “Itu danaunya.”

“Hati-hati. Aku periksa dulu titiannya.” Osken melepaskan gandengan tangannya dan melangkah turun di depan Laras. Di ujung undak-undakan batu, tepat di batas tebing danau ada titian sepanjang 10 meter yang tersambung dengan rumah rakit paling ujung, dekat tebing. Seorang anak perempuan berada di ujung titian, di samping rumah rakit itu. Ia melambai-lambaikan tangan.

“Ah! Itu dia. Itu pasti anak perempuan Nai Lawi.” Seru Osken.

Nai Lawi, pemilik rumah rakit yang akan menerima mereka, punya istri yang pandai memasak. Menurut pegawai hotel yang menyarankan, banyak wisatawan memuji masakannya. Nai Lawi juga bisa bicara bahasa Inggris meskipun sedikit. Meskipun sudah memesan lebih dulu lewat pegawai hotel itu, Osken tetap mengantongi selembar kertas bertuliskan nama makanan dalam aksara Thai, sekedar berjaga-jaga.

Di kertas itu juga tertulis nama si pegawai hotel dan nomer telponnya. Ia akan menjemput Laras dan Osken di rumah rakit Nai Lawi, dengan speed boat, sekitar pukul 9 malam.

Gadis kurus berambut pendek poni itu melompat-lompat kegirangan. Ia selalu senang kalau ada wisatawan datang ke rumahnya untuk makan ikan masakan ibunya. Biasanya mereka akan memberinya coklat atau makanan yang jarang ditemui di pasar Sangkhlaburi.

Bila beruntung ia akan diberi mainan. Pegawai hotel sudah mengingatkan Osken agar membawa sesuatu sebagai hadiah untuk anak-anak pemilik rumah. Laras membawa beberapa buku bergambar dan satu set alat tulis di dalam tasnya.

Tangan kanan Osken membimbing tangan Laras sementara tangan kirinya memegang payung. Mereka menapak pelan-pelan di atas titian papan yang bergoyang-goyang. Sesekali papan itu melesak sedikit ke bawah permukaan air. Di ujung titian si gadis kecil mengamati dengan wajah tegang. Osken mengangkat jempolnya ke atas sebagai tanda bahwa mereka baik-baik saja. Lalu gadis itu tertawa, memamerkan gigi susunya yang ompong satu.

“Hai!” Laras menyapa si kecil begitu ia sampai di atas dek yang menghubungkan titiap papan dengan selasar rumah rakit. Pipi gadis itu ia cubit dengan lembut.

“Hello!” Osken mengelus rambut lembabnya. Pasti sudah berhari-hari tidak dicuci. Namun wajah anak itu manis sekali. Pipinya merah karena matahari.

Nun di langit terdengar suara guntur. Si kecil menarik tangan Laras, mengajak segera meninggalkan tempat itu. Mereka melangkah pelan-pelan beriringan menyusuri selasar papan, lalu berpindah lagi ke atas titian yang saling bersambungan dari rumah rakit yang satu ke rumah rakit lainnya.

Rumah rakit Nai Lawi berada di tengah-tengah. Ia sudah siap menyambut tamu saat Osken dan Laras tiba.

Sawadee krap,” ucap Nai Lawi. Tangannya yang kokoh dan kecoklatan tertangkup di dada, punggungnya sedikit dibungkukkan.

Sawadee krap,” Osken ikut membungkukan badan dan menangkupkan tangan

Sawadee ka,” balas Laras.

Sabaidee rua krap?” Osken menanyakan kabar Nai Lawi

Sabaidee krap. Khun la krap?” balas Nai Lawi

Sabaidee krap,” ucap Osken.

“Ini anak saya. Namanya Mi Su.” Dengan bahasa Inggris seadanya, Nai Lawi memperkenalkan si kecil pada dua tamunya.

“Mi Su gadis pintar,” puji Laras pada si gadis yang menggelayut di lengan kokoh ayahnya.

“Terima kasih,“ ucap Nai Lawi, “anak lelaki saya sedang ke kota. Berdagang. Larut malam dia baru pulang,” tambahnya. Wajah Nai Lawi penuh keriput karena sengatan matahari, bukan karena usia. Matanya yang sipit menyorot tegas. Gigi-giginya yang berbercak hitam tidak mengurangi keramahan senyumnya.

Nai Lawi mempersilakan dua tamunya duduk di atas tikar. Aroma masakan terbawa angin danau hingga ke ruang depan. Mi Su berlari ke dalam.

“Makanan sudah siap. Tinggal disajikan,” ucap Nai Lawi.

“Terima kasih,” ucap Osken dan Laras berbarengan.

“Rumah-rumah rakit ini indah sekali. Boleh saya melihat-lihat?” Mata Laras berkeliling menikmati rumah rakit yang terbuat dari kayu.

“Ya. Tentu saja,” Nai Lawi berdiri. Laras mengikutinya dari belakang. Aneh rasanya berada di dalam rumah yang berayun-ayun lembut seperti di dalam kapal.

“Ini istri saya. Namanya Phawta.” Dari namanya Laras menduga kalau istri Nai Lawi orang Thai, bukan keturunan asli Mon. Phawta menggulung lengan bajunya lebih ke atas, mengusapkan dua tangannya pada apron butut yang membalut tubuhnya. Sepasang tangan itu lalu ia tangkupkan ke dada. “Madam,” katanya, membungkuk tanda hormat. Senyumnya malu-malu. Phawta lalu meminta Nai Lawi mengajak tamunya kembali ke depan karena makanan siap dihidangkan.

Laras meminta ijin untuk memotret. “Mumpung masih cukup terang,” katanya.

“Sebentar lagi gelap, Madam,” ujar Nai Lawi. Mi Su kecil minta difoto bersama Osken dan Laras bergantian. Ia cekikikan kesenangan.

Gerimis turun. “Angin bertiup cukup kencang, mendung tidak tebal. Tidak akan hujan,” Nai Lawi menjelaskan.

“Makanlah bersama kami, Nai Lawi,” pinta Osken saat Phawta menyajikan makanan di atas tikar.

“Bersama Phawta dan Mi Su juga,” tambah Laras.

“Tidak, Tuan. Terima kasih banyak,” ucap Nai Lawi.

“Ayolah! Temani kami,” Osken membujuk sambil memandang Mi Su yang tersenyum-senyum. Tangan Osken menepuk-nepuk tikar.

Laras bangkit, melangkah mendekati Mi Su, menggandeng tangan gadis kecil itu. Mi Su memandang orang tuanya. Mereka mengangguk tanda setuju. Osken sekali lagi membujuk mereka untuk makan bersama, namun usahanya sia-sia. Suami istri itu pergi ke belakang meninggalkan anaknya makan bersama tamunya. Tak butuh waktu lama bagi Mi Su menjadi akrab dengan Laras dan Osken. Sambil makan mereka bertiga bercanda.

Menjelang pukul 9 sayup-sayup terdengar suara speedboat siap menjemput Osken dan Laras. Puas atas layanan Nai Lawi dan istrinya serta merasa mendapat sahabat baru, Osken membayar makanan dua kali lipat dari yang seharusnya. Ia memberikan kartu namanya.

“Saya akan datang lagi kapan-kapan,” Osken menjabat tangan Nai Lawi dengan hangat.

Mi Su berseru kegirangan ketika Laras menghadiahinya buku-buku dan alat tulis. Kalau saja Laras tidak sedang bekerja, ingin rasanya ia bermalam di sana, mengenal keluarga Nai Lawi lebih dekat lagi.

***

“Aku bahagia sekali malam ini,” bisik Laras sesampai di guesthouse. “Terima kasih banyak, Osken.”

“Aku yang harus berterimakasih, Laras. Atas waktumu dan terutama senyum dan tawamu. Sungguh malam yang indah. Sudah lama sekali aku tidak menikmati malam seindah ini.” Osken mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Laras. Lembut Osken menarik tubuh Laras mendekat ke tubuhnya. Perempuan itu menurut saja karena sejak tadi ia pun ingin didekap.

*****

Keterangan:

Sawadee krap/ka = sapaan umum yang bisa digunakan kapan saja, pagi/siang/malam. ‘Krap’ (dibaca kap) untuk laki-laki dan ‘ka’ untuk perempuan.

Sabaidee rua krap?” = apa kabar? how are you doing?

Sabaidee krap. Khun la krap?” = baik-baik aja. Anda bagaimana?

8 Comments to "Senja di Chao Phraya (8)"

  1. Endah Raharjo  18 February, 2011 at 09:50

    Halo semua. Makasih banyak komentar2nya. @Pak Djoko: ada rumah yg punya kamar mandi/WC ada yg tidak. Ada MCK umum juga. Seperti di rumah2 rakit lain. Kotoran dibuang di danau/sungai itu juga. Di danau banyak ikannya, jadi langsung ‘dilahap’… Danau Khao Laem itu sebenarnya reservoir, tapi org ‘menganggap’ sbg danau. Lebih mirip sungai karena panjang, dan tidak kecil. Silakan Pak Djoko lihat foto di ‘Senja di Chao Phraya 6’, yang terlihat spt sungai itu juga danau khao laem. Salam

  2. J C  18 February, 2011 at 08:48

    Makin asik dan makin romantis…lanjuuuutttt…

  3. Djoko Paisan  17 February, 2011 at 23:44

    Terimakasih Endah, untukceritanya….
    Dj. sangat tertarik dengan photo rumah-rumha yang berdempetan di danau kecil itu….
    Kalau mau buang air besaar, kemana tuh…
    Baunya bisa ketetangga kan….???

  4. Linda Cheang  17 February, 2011 at 19:56

    iya, deh, berlanjut….

  5. [email protected]  17 February, 2011 at 16:27

    lanjoooooooooooot (o nya dilebihin satu daripada ci lani)

    duuuh… bikin penasaran… lanjut dooong, kalo perlu yang lebih panjang lagi ceritanya.

  6. Lani  17 February, 2011 at 13:22

    lanjooooooooooot

  7. Mawar09  17 February, 2011 at 12:30

    Nomor dua !! ngintil Mbak Nunuk ah!

    Endah: ceritanya makin asyik nih !! ditunggu lanjutannya ya!

  8. nu2k  17 February, 2011 at 10:09

    Cepet-cepet iar nomor satu. gr. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.