Grojogansewu Tawangmangu

Handoko Widagdo – Solo


Awal tahun 2011 saya sempatkan membawa keluarga untuk berlibur ke Tawangmangu. Tawangmangu menjadi pilihan karena dekat dari Solo. Kami mengajak juga dua teman anak ragil saya untuk bergabung. Tujuan utama adalah air terjun Grojogansewu. Kami memilih untuk masuk dari pintu belakang. Sebab treknya lebih landai daripada kalau masuk melalui pintu utama. Lagi pula, perjalanan melalui pintu belakang tidak diganggu oleh monyet-monyet yang sering menyambar apa saja yang kita bawa. Sepanjang trek kami menemukan beberapa bunga liar yang indah.

Grojogansewu – yang menurut cerita wayang adalah tempat pertapaan Raja Mandura Prabu Baladewa, adalah air terjun yang sudah dikenal sejak jaman Belanda. Pada hari libur, obyek wisata ini ramai dikunjungi oleh para wisatawan lokal. Anak-anak kami menyusuri sungai sampai ke dekat air terjun. Basah? Tentu saja!

Selanjutnya, anak ragil saya bersama teman-temannya mencoba arung jeram mini, sementara saya dan istri menyaksikan dari atas jembatan.

Setelah puas berarung-jeram, mereka melanjutkan bermain air di sungai yang sama.


Berwisata ke Grojogansewu adalah wisata yang murah meriah dan sehat. Sebab kami bisa menikmati hutan, sungai yang jernih dan alam yang segar.


Tawangmangu, awal tahun 2011

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

80 Comments to "Grojogansewu Tawangmangu"

  1. Handoko Widagdo  26 February, 2011 at 14:33

    Lho rangkep pitulikure kok tekan Grojogansewu ki piye to?

  2. Lani  20 February, 2011 at 00:34

    KORNEL : dikau benerrrrrrrrrr sekali, biar dikemulin sampai rangkep pitulikur………klu gak digembok sami mawon uculllllll………..soko kandange…….blaikkkkkkkkkk wessssssss

  3. Kornelya  19 February, 2011 at 23:59

    Hahahaha, kemuli rangkap pitu likur tapi ngga digembokin podo wae. Melawan godaan Ratu Pantai Kona, pertahanan rontok.

  4. Handoko Widagdo  19 February, 2011 at 19:38

    Tunggu saja artikelnya

  5. Lani  19 February, 2011 at 11:36

    AY : gratissssss…….ora dipungut bayaran AY

  6. Anastasia Yuliantari  19 February, 2011 at 11:21

    Pokoke ngakak…..mbayangke selimut rangkep pitulikur rapa priests…..wkwkwkwk.

  7. Lani  19 February, 2011 at 11:08

    yoo….dikemuli rangkep PITULIKUUUUUR…..nulis karo ngakak aku Hand

  8. Handoko Widagdo  19 February, 2011 at 10:53

    Lani, Ya wis mulai sekarang ditutup rapet sampai artikelmu tayang

  9. Lani  19 February, 2011 at 10:44

    HAND : laaaaaah…..kowe iki lo jare dikongkon jok ngomong2 sek…….saiki malah dirimu yg koar2 gak seru lagi dunkkkkkkkk

  10. Handoko Widagdo  19 February, 2011 at 10:12

    Lani, kalau Yesus dicobai oleh Iblis sebanyak tiga kali diatas bukit, Priets hanya dicobai di Kona satu kali. Tapi pencobaannya kok berat banget ya, meski hanya sekali.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.