Penglipuran: Desa Wisata Bali

Ratman Aspari


Objek Wisata yang Mempesona

Desa adat Penglipuran berlokasi pada Kabupaten Bangli yang berjarak 45 Km dari Kota Denpasar, Desa adat yang juga menjadi objek wisata ini sangat muda dilalui. Karena letaknya yang berada di Jalan Utama Kintamani, Bangli. Desa Penglipuran ini juga tampak begitu asri, keasrian ini dapat kita rasakan begitu memasuki kawasan Desa. Pada aeral Catus Pata yang merupakan batas memasuki Desa Adat Penglipuran, di sana terdapat Balaidesa, fasilitas masyarakat dan ruang terbuka untuk pertamanan yang merupakan areal selamat datang.

Desa ini merupakan salah satu kawasan pedesaan di Bali yang memiliki tatanan yang teratur dari struktur desa tradisional, perpaduan tatanan tradisional dengan banyak ruang terbuka pertamanan yang asri membuat desa ini membuat kita merasakan nuansa Bali pada dahulu kala. Penataan fisik dan struktur desa tersebut tidak lepas dari budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Adat Penglipuran dan budaya masyarakatnya juga sudah berlaku turun temurun.

Keunggulan dari desa Penglipuran ini dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Bali adalah : Bagian depan rumah serupa dan seragam dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa. Desa tersusun sedemikian rapinya yang mana daerah utamanya terletak lebih tinggi dan semakin menurun sampai daerah hilir. Selain bentuk depan yang sama, juga bahan tanah untuk tembok dan untuk bagian atap terbuat dari penyengker dan bambu untuk bangunan diseluruh desa.

Desa Adat Penglipuran ini termasuk desa yang banyak melakukan acara ritual, sehingga banyak sekali acara yang diadakan di desa ini seperti pemasangan dan penurunan odalan, Galungan, dll. Kondisi seperti ini sangat cocok untuk kunjungan wisata bagi anda, apalagi pada saat acara/kegiatan tersebut berlangsung. Sehingga kita dapat melihat langsung keunikan dan kekhasan dari desa Penglipuran tersebut.Walaupun anda tidak sempat datang pada saat acara tersebut, anda bisa menikmati suasana desa pada sore hari.

Kerena pada saat sore umumnya penduduk desa keluar rumah setelah selesai melakukan aktifitas rutin mereka di pagi dan siang hari, mereka keluar berkumpul bersama-sama penduduk desa yang lain dan tidak jarang sore hari mengeluarkan ayam jago kesayangan mereka dan tidak jarang mereka melakukan tajen/adu ayam tanpa pisau di kakinya.


Karang Memadu; Jangan Coba-Coba Berpoligami

Lelaki Penglipuran diharuskan menerapkan hidup monogami yakni hanya memiliki seorang istri. Pantangan berpoligami ini diatur dalam peraturan (awig-awig) desa adat. Dalam bab perkawinan (pawos pawiwahan) awig-awig disebutkan, krama Desa Adat Penglipuran tan kadadosang madue istri langkung ring asiki.

Artinya, krama Desa Adat Penglipuran tidak diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu. Jika ada lelaki Penglipuran yang telah menikah naksir wanita lain lagi, maka cintanya hanya bisa dinikmati  sebatas dalam mimpi saja. Sebab kalau melanggar aturan ini, akibatnya bisa disisihkan dari desa pakraman. Jika lelaki Penglipuran beristri yang coba-coba merasa bisa berlaku adil dan menikahi wanita lain, maka lelaki tersebut akan dikucilkan di sebuah tempat yang diberi nama ‘Karang Memadu. Karang artinya tempat dan memadu artinya berpoligami. Jadi, Karang Memadu merupakan sebutan untuk tempat bagi orang yang berpoligami. Karang Memadu merupakan sebidang lahan kosong di ujung selatan desa.

Penduduk desa akan membuatkan si pelanggar itu sebuah gubuk sebagai tempat tinggal bersama istrinya. Dia hanya boleh melintasi jalan-jalan tertentu di wilayah desa. Artinya, suami istri ini ruang geraknya di desa akan terbatas. Tak cuma itu, pernikahan orang yang berpoligami itu juga tidak akan dilegitimasi desa, upacara pernikahannya tidak dipimpin oleh Jero Kubaya yang merupakan pemimpin tertinggi di desa dalam pelaksanaan upacara adat dan agama.

Implikasinya karena pernikahan itu dianggap tidak sah, maka orang tersebut juga dilarang bersembahyang di pura-pura yang menjadi emongan (tanggung jawab) desa adat. Mereka hanya diperbolehkan sembahyang di tempat mereka sendiri.

Melihat hukuman yang menakutkan yang akan diterima oleh lelaki yang bermaksud berpoligami ini, sampai sekarang tidak ada lelaki Penglipuran yang berani bersujud di kaki istrinya agar diijinkan menikah lagi. Karang Memadu yang disiapkan oleh desa tetap tidak berpenghuni dan bahkan oleh penduduk desa dianggap sebagai karang leteh (tempat yang kotor).

Mungkin lelaki Penglipuran lebih memilih hidup nyaman dengan satu istri daripada digilir dua istri dan dicuekin orang se-desa.

Penglipuran sebuah desa di kabupaten Bangli, propinsi Bali tepatnya di kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli. Desa Penglipuran terletak pada jalur wisata Kintamani, sejauh 5 Km dari pusat kota Bangli, dan 45 Km dari pusat kota Denpasar.

Desa Penglipuran merupakan satu kawasan pedesaan yang memiliki tatanan spesifikasi dari struktur desa tradisional, sehingga menampilkan wajah pedesaan yang asri. Penataan fisik dari struktur desa tersebut tidak terlepas dari budaya masyarakatnya yang sudah berlaku turun-temurun. Keunggulan dari desa adat Penglipuran ini terletak pada struktur fisik desa yang serupa seragam dari ujung utama desa sampai ke bagian hilir desa. Keseragaman dari wajah desa tersebut di samping karena adanya keseragaman bentuk, juga dari keseragam bahan yaitu bahan tanah untuk tembok pagar (penyengker) dan gerbang rumah (angkul-angkul) dan atap dari bambu yang dibelah untuk seluruh bangunan desa.

Topografi desa tersusun sedemikian rupa di mana pada daerah utama desa ini menyebabkan pemerintah Propinsi Bali menetapkan desa Penglipuran sebagai daerah tujuan wisata sejak tahun 1992.

Selain keseragaman bentuk bangunan, desa yang terletak pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut ini juga memiliki sejumlah aturan adat dan tradisi unik lainnya. Salah satunya, pantangan bagi kaum lelakinya untuk beristri lebih dari satu atau berpoligami. * (ratman aspari)

25 Comments to "Penglipuran: Desa Wisata Bali"

  1. awani  13 April, 2011 at 04:52

    Sip infonya sy mau kesana nih

  2. jeje  22 February, 2011 at 08:41

    @anastasia: gampang kok mbak, saya asli bangli 30 menit dari ruamh saya menuju desa penglipuran

  3. jeje  22 February, 2011 at 08:39

    @anastasia: gampang kok mbak… nanti kalau mau kita kesana, saya asli bangli dari rumah saya 30 menit ketempat ini.

  4. Dewi Aichi  19 February, 2011 at 08:58

    Ayla…wah ya gampang aja to…tinggal nyebrang ato lewat udara, trus jalan kaki, kalau mau minta gendong…ya ntar tak cariin komodo dulu…kan kuat klo cuma nggendong dirimu..!

  5. Anastasia Yuliantari  19 February, 2011 at 07:57

    Gimana caranya kalo mau ke situ, ya? Apa sudah terkenal di kalangan pariwisata sehingga mudah nyari info kalo mau ke sana???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *