Yang Dicinta, Yang Dibenci

Khrisna Pabichara

“Mereka yang kita cintai—dan mereka yang kita benci—hanyalah cermin dari diri kita sendiri.”

—Kamran Pasha


Bermula dari Ironi

Kamran Pasha membuka novel Kilatan Pedang Tuhan dengan menyeret pembaca untuk menyelami hati Mariam, gadis Yahudi yang menjadi korban keganasan kesatria Conrad dari Montferrat. Lalu, Pasha menyuguhkan narasi menarik tentang Maimonides sang Rabi yang selalu terkenang petuah ayahnya, “Konon, Tuhan itu menyukai ironi. Mungkin itu sebabnya kota-Nya, yang dinamai perdamaian, selama ini hanya mengenal peperangan dan kematian.” Ya, novel ini memang bermula dari ironi, pertarungan antara “iman” dan “nafsu”, pertempuran antara “cinta” dan “benci”.

Setelah itu, Pasha mulai menghadirkan sosok mengagumkan sepanjang sejarah Perang Salib, Shalahuddin Al-Ayyubi. Kegemilangan dalam kisah penaklukan kembali Yerusalem dari kuasa Reginald si Hati Keji dibabar dengan narasi yang indah.

Lalu, melompatlah Pasha ke masa-masa genting ketika Richard si Hati Singa menjadi Raja Inggris setelah hanya dalam hitungan detik memanipulasi titah ayahnya yang menghendaki adiknya, Pangeran John, sebagai pewaris takhta. Ambisi membuatnya menghabisi prajurit muda yang juga menyaksikan titah terakhir Raja Henry.

Dari sudut ini, Pasha menggambarkan karakter dua tokoh utama Perang Salib III ini dengan penuh pikat. Seolah ini benar-benar (pernah) terjadi—karena hingga tulisan ini saya rampungkan, saya tidak berhasil menemukan referensi tentang intrik besar di balik mangkatnya Raja Henry. Saya jadi merindukan novel ini dalam versi asli, Shadow of the Swords, and Epic Novel of the Crusades, karena pukauan terjemahan dan suntingan dalam versi Indonesia ini.

Jangan menduga novel ini melulu menyingkap tragedi Perang Salib. Ada banyak kejutan yang ditawarkan Pasha bagi khalayak pembaca. Selain sosok Mariam, ada sosok lain—yang diakui Pasha sebagai sosok imajiner rekaannya—seperti Ratu Yasmin dan Sir William, meskipun untuk nama terakhir terinspirasi oleh tokoh Lord William Marshal.

Keluhuran Shalahuddin pun dibumbuinya dengan intrik Ratu Yasmin dan para selirnya, terutama ketika berupaya menjegal Mariam menuju peraduan Shalahuddin dan kisah percintaan “haram” Ratu Yasmin dengan pelayan perempuannya yang membuatnya dikenai hukuman mati. Pun huru hara yang melanda batin Maimonides karena cinta terlarang yang terjalin antara keponakannya, Mariam, dengan pemimpin pasukan muslim, Shalahuddin, yang masyhur itu.

Bahkan, merasa belum cukup, Pasha mengabarkan kisah tertangkapnya Mariam oleh pasukan Richard dan betapa “cinta” (atau malah “nafsu”) memaksa Mariam melakukan segala cara untuk mendapatkan informasi penting demi belahan jiwanya—termasuk merelakan malamnya di pembaringan Richard si Hati Singa.


Teguran dari Masa Lalu

Apabila sejarah, meminjam istilah Damhuri Muhammad, dipancang dari tiang kokoh bernama “benar-salah” atau “terjadi-tak terjadi”, tentulah Kilatan Pedang Tuhan bukan novel sejarah yang utuh karena beberapa penggalan di dalamnya merupakan “dunia seolah-olah” dan bukan “dunia sesungguhnya”.

Akan tetapi, novel ini memang dibangun dari realitas sejarah yang benar-benar pernah terjadi, Perang Salib III. Pasha mengusung cara pandang lain dalam mengisahkan kembali perang demi perang yang banyak menelan korban dari pelbagai kalangan—Yahudi, Kristen, Islam—dan mendedah sisi lain yang jarang dibincangkan, terutama karena Shalahuddin dan Richard telah banyak dianggap sebagai legenda oleh para pengagumnya.

Selain itu, saya menemukan beberapa hal yang membuat hati saya bergetar.

Pertama, kenyataan bahwa peperangan memang bukan jalan keluar yang terbaik untuk menyelesaikan masalah. Selalu ada yang harus “siap” atau “dipaksa” dikorbankan, sebut misalnya tragedi pembantaian sekitar tiga ribu tahanan tidak berdosa di Akko oleh Richard.

Kedua, kekerasan atas nama tuhan yang diimani malah mengaburkan cinta-kasih yang dianjurkan oleh agama itu sendiri. Penderitaan batin Mariam dan pergolakan hati William adalah contoh yang disuguhkan oleh Pasha.

Ketiga, ketakziman dan keluhuran budi taklah mengenal kawan atau lawan. Saya terperenyak membaca bagaimana Pasha menggambarkan kelembutan Shalahudin ketika mengirimkan tabib untuk mengobati lawannya, kesediaan William menundukkan harga dirinya demi keselamatan tuannya, pengorbanan Mariam demi “secuil” informasi—yang ternyata menentukan akhir pertempuran, dan keikhlasan Richard untuk menerima tawaran perdamaian dari seteru abadinya.

Begitulah, saya menemukan banyak hal dari novel ini, terutama jika dikaitkan dengan situasi hari ini yang semakin “tak menentu”. Bagi saya, novel ini adalah teguran dari masa lalu, semacam cermin bening yang mengingatkan agar kesalahan yang sama tak terulang lagi. Meskipun sejarah mencatat Perang Salib tak berhenti sampai di sana.

Keriangan pembacaan saya terus bergerak liar pada entakan demi entakan yang dipantik oleh petualangan hasrat, nafsu, dan kegilaan. Betapa tipisnya sekat antara yang dibenci dan yang dicinta—seperti tergambar pada sosok Mariam, William, dan Maimonides.

Betapa pampatnya jarak antara iman dan nafsu—sampai-sampai menghabisi nyawa sesama dianggap sebagai sesuatu yang “layak” dilakukan. Betapa dekatnya batas antara laknat dan hikmat—sehingga yang mustahil pun bisa terjadi demi memenuhi hajat, yang banyak dilabeli “atas nama agama”, itu—yang membuat kita kerap mengabaikan pesan Immanuel Kant tentang “kebaikan yang masuk akal” (sensible good) dan “kebaikan moral” (moral good).

Betapa pemujaan berlebihan terhadap kekuasaan—seperti digambarkan oleh Hegel lewat Nalar dalam Sejarah (penerjemah Shalahuddien Gz, 2005)—lebih banyak menghasilkan hati “yang terluka” ketimbang hati “yang tersembuhkan”, atau lebih sering melahirkan “rasa benci” daripada “rasa kasih”.

Konsep ketuhanan seperti yang melatari Perang Salib, bagi saya, hanyalah fanatisme buta akibat terbiusnya setiap penganut agama pada daya tarik “jihad” dan mengabaikan keberhargaan nyawa manusia dalam konsep ketuhanan di sisi yang lain. Anehnya, cara pandang seperti itu tetap langgeng hingga sekarang dengan metode yang berbeda, terorisme misalnya.


Pada Akhirnya

Bagi saya, membaca Kilatan Pedang Tuhan adalah petualangan spiritual. Perjalanan indah tentang bagaimana semestinya berkhidmat pada “cinta”, termasuk cinta kepada yang diimani. Dan, Pasha menunjukkan hal itu dengan cara yang indah. Anda layak membacanya!


Ragunan, Januari 2011


Judul                 : Kilatan Pedang Tuhan

Judul Asli           : Shadow of the Swords, and Epic Novel of the Crusades

Pengarang        : Kamran Pasha

Penerjemah      : Fahmy Yamani

Penyunting       : Muhammad Husnil

Penerbit           : Zaman

Cetakan           : I, 2011

Tebal               : 580 halaman

5 Comments to "Yang Dicinta, Yang Dibenci"

  1. J C  20 February, 2011 at 21:54

    Buku ini kayaknya lumayan berat dicerna…terima kasih resensinya…

  2. Djoko Paisan  19 February, 2011 at 15:22

    Terimakasih bung Khrisna, untuk artkelnya….
    Namanya manusia, dari benci bisa menjadi centa dan juga sebaliknya…..
    Salam Damai dari Mainz…

  3. [email protected]  19 February, 2011 at 12:40

    tiga

  4. Vee  19 February, 2011 at 11:16

    duaaaaaaaaaaaaaa *kedip2 ke ci lani

  5. Lani  19 February, 2011 at 08:59

    satuuuuuuuuuuuuuuuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.