Aku Bukan Psikopat

Dwi Klik Santosa


Dalam kepahitan, aku suka ketawa-tawa. Dalam kemasyukan, kadang mudah saja aku melempar keluh dan umpat. Psikopat, begitu aku suka dikata-katai.

Ah, apa peduliku dengan olokan miring itu. Kulit badanku kenyal. Otot-ototku keras bertonjolan. Badanku bugar. Auraku cerah. Adakah aku ini gila atau sakit ingatan? Hmm .. aku tidak percaya jika itu diriku. Sebab daripada menggagas beragam versi omongan orang yang sinis dan asal itu, tentu saja aku lebih memercayai keyakinanku.

Kalau aku suka ngakak. Bahkan lebih sering pula tergelak-gelak ketika melulu sedang dalam kesendirian, pastilah aku punya alasan kenapa begitu lepas tawa itu membuncah dan menggerai.

Adakah bukan sesuatu yang lucu, merenungkan kucing itu di kamarku. Begitu manisnya. Tidak menunjukkan galak dan garongnya. Padahal sekian tikus itu lalu lalang saja bagai tak pernah merasa berdosa berkelitar di kamarku.

Mengambili makanan itu sesukanya di meja jika aku lalai karena kesibukanku, dan kadang mengerati sepatuku yang terbuat dari kulit belel. Dan betapa riangnya tikus-tikus itu ketika makhluk-makhluk kuat dan raksasa di sekitarnya tidak menunjukkan permusuhan dan pengusiran terhadap asyik masyuk kegiatannya mengintai, mengendus dan memakani sesuatu yang bukan jatahnya.

Kucing yang malas! Begitu aku pernah merutuki si belang itu. Tapi, astaga … kucing itu malah bersalaman sama si tikus. Saling mengendus, saling berpasihan. Aduuuhhh, betapa lucunya. Betapa manisnya. Ahahahaha … betapa ini menyenangkan, betapa ini … aduuuuuuhh …

Pun, ketika segepok diari biru itu kubacai kembali lembaran demi lembarannya yang mulai kumal, mulai lagi bibit-bibit tawa itu mengejang, menjalar, mengelitiki syaraf- syaraf mulutku.

++

Siang yang panas itu, sekelompok pengamen topeng monyet berkerumun di depan gerbang gedung sakral dan megah itu. Lusuh-lusuh pakaiannya. Begitu pun permukaan kulit badan dan aura wajahnya. Tidak ada seratus jumlah mereka.

Bertalu-talu bebunyian itu serentak ditabuhkan. Terdengar kemprang. Keras, tak keruan. Belasan monyet ada saja atraksinya. Ada yang berjas dan berdasi. Ada yang berjubah dan bersyal. Ada yang pakai surjan dan beskap. Ada yang pakai kerudung, blues dan gaun, lengkap dengan kalung besar dan benges di bibirnya. Ada yang pakai jin pula, telinganya ditindik.

Keren-keren sosok monyet-monyet ini. Dendi-dendi. Seiring dengan alunan tetabuhan yang aneka rancak, makhluk-makhluk lucu itu beraksi dengan gayanya yang bosy, sok ningrat, sok jagoan, sok cantik, sok wibawa. Dan lalu monyet berkacamata hitam itu mengambil segulungan kertas besar.

Dibentangkan dibantu oleh monyet lainnya. Gulungan kertas itu bertuliskan jelek sekali, seperti ditulis dengan arang. Disangga dengan bambu dan lalu diberdirikan. ”TUAN DAN NYONYA YANG TERHORMAT, MALU ITU INDAH.”

++

Sore itu, langit biru penuh. Pun angin berdesir-desir menyisiri rambut-rambut kami. Namun, tak jua, tak juga kami bisa berucap kata. Meski selama itu kami telah berjalan dan berduaan saja. Tapi entahlah, ada doggy herder menyeruak tiba-tiba dari sebalik gerumbul pohonan. Guk .. gukk … guuukk. Wiiiih … sosoknya besar dan mulutnya nganga berliur-liur dengan gigi-giginya yang tajam. Aduh, galaknya. Matanya jalang dan buas.

Alamak! Kami pun berlarian pontang-panting. Memang monster besar yang jahat. Larinya cepat dan segera saja kami akan tertangkap dan digigitnya. Dan tapi, ah, itu ada parit besar. Huuup … begitulah, saking takutnya, kami berdua melompatinya. Jatuhku terjengkang. Dan, weeeekk …. celana itu robek.

Dalam panik, engkau terjatuh, tepat menghadap ke wajahku. Kemerah-merahan pipimu. Dan tapi, begitu engkau melihat bagian bawahku, renyah keras engkau menertawaiku. Begitu lepasnya, betapa gemesnya. …. Aduh, anjing besar. Terima kasih, ya. Karenamu, kami jadi makin akrab dan mesra.

++

Masih tertinggal kenangan itu. Terpaku pada dinding batu. Yang pualam dan tak pernah tua. Di sini pernah kau nyanyikan padaku. Sepenggal senandung merdu yang langka. Nyaris satu dekade sudah, usia kenangan itu. Dan kini, di tempat ini. Kudapati sunyi melalui setetes, dua tetes air dari ranah misteri. Di lembah sunyi itu. Betapa nikmat engkau tertidur. Dan kini, disini kau biarkan saja aku. Tertawa-tawa, mengigau, mengenangkan sosokmu yang agung.

++

Ah, …. lebih baik kututup saja buku kusam ini.

Dan lalu, ketika malam tiba. Hujan tiris mereda. Rembulan samar-samar, menyembul malu-malu dari saputan gerumbul mendung kelabu. Pun tiada angin mendesau. Tapi halimun malam itu bagai virus menusuki kulit. Atis. Selalu begitu nuansa malamku. Selalu begitu. Sunyi. Kurasai saja. Kunikmati saja. Aku pun melongok ke ruang langit. Mencari-cari, menebak-nebak, mataku mulai berair-air. Tuhan, kapan bintang jatuh itu datang?


Pondokaren

13 Mei 2010

: o3.24

9 Comments to "Aku Bukan Psikopat"

  1. Djoko Paisan  21 February, 2011 at 01:38

    Hhhhhmmmm….????

  2. J C  20 February, 2011 at 22:06

    Hhhmmmm…

  3. Linda Cheang  20 February, 2011 at 21:46

    memang bukan psikopta, cuma orang lieur, hehehe

  4. Djoko Paisan  20 February, 2011 at 17:25

    Hahahahahaha…..
    Senenge rek, ono sing gelem…..???
    Huust jo seru-seru, mengko didukani yu NU2K…hahahahahaha….!!!

  5. probo  20 February, 2011 at 16:35

    kalih njenengan PakD…..tambah HN….

  6. Djoko Paisan  20 February, 2011 at 14:34

    probo Says:
    February 20th, 2011 at 07:48

    nomer kalih malih…..

    ” Kalih ” sinten malih bu…???

  7. HN  20 February, 2011 at 11:51

    nomer tigo…

  8. probo  20 February, 2011 at 07:48

    nomer kalih malih…..

  9. Djoko Paisan  20 February, 2011 at 06:36

    Tapi une un…!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.