Cek dan Tax

Hariatni Novitasari


Beberapa hari yang lalu ketika ngobrol dengan seorang teman baik di gtalk, aku cerita tentang duitku yang dikembalikan ke rekeningku kembali gara-gara aku kena charge pengiriman order cek yang mbambet.

Ceritanya, aku sudah tiga kali order cek ke bank, tapi sampai tiga kali order tidak sampai juga di tangan. Padahal, cek adalah hal yang urgent di sini. Terpaksa, aku pergi ke banknya yang nun jauh di Hampton Avenue, dan tanya kenapa cekku tidak datang-datang. Si CS, Carissa bilang, kalau cekku sudah dikirim dan dia tidak tahu mengapa sampai hari itu aku tidak jua dapat cekku.

Karena sudah tiga kali gagal, sama dia cek akan dikirim dengan ONS dan bisa dilacak. Dua hari kemudian, aku mendapatkan cekku, dikirim orang UPS pagi-pagi jam 8.

Eh, ketika dapat bank statement, lah kok aku kena charge $33. Pas kebetulan lagi jalan di Hampton Ave lagi, aku cerita ke Carissa kalau aku kena charge. Akhirnya Carissa bilang, ” Harusnya kamu tidak kena charge. Iya deh aku urusin pengembalian duitmu ke rekening ya” Tidak sampai seminggu, duitku yang  $33 balik ke rekening, dan aku dapat cek. Semuanya better-off.

Terus aku cerita ke teman yang tinggal nun jauh di belahan bumi selatan yang sedang musim panas. Dia heran sekali. “Wah, kamu pakai cek pren. Memang tidak pakai ATM atau e-banking?”

Iya, kalau di Indonesia, orang yang pakai cek itu, adalah orang yang duitnya banyak. Tapi tidak disini. Orang yang duitnya tidak banyakpun juga bisa bayar pakai cek. Pembayaran pakai cek diterima hampir di semua tempat. Bahkan ada supermarket yang mau dibayar cek waktu kita belanja.

Yang paling umum, cek digunakan untuk membayar uang kos-kosan atau sewa apartemen. Untuk bayar pakai cek, jumlah duitnya tidak harus besar-besar amat, bahkan sebesar $10 pun boleh juga. Ini misalnya kalau kita ngasih uang ke dokter sebagai bagian dari ketentuan di asuransiku. Jadi, kalau aku ke dokter praktik atau dokter di rumah sakit, aku hanya butuh keluar duit $10 untuk biaya ketemu dokternya.

Aku ceritakan kalau kita bisa bayar senilai $10 si teman tambah kaget. Terus tanya lagi, “Jadi, kamu kemana-mana bawa buku cek?”

Ya ga selalu, jawabku.

“Lha kamu apa ga pakai ATM dan e-banking?”

Ya, itu juga pakai. Masalahnya, di US, ATM hanya bisa buat ambil duit dan deposit saja, baik duit ataupun cek. Tidak bisa buat transfer atau bayar-bayar tagihan seperti halnya di Indonesia.

Dulu, waktu di Washington DC dan dapat orientasi, aku masih belum mudeng atau paham dengan model pembayaran cek ini, sampai benar-benar membuktikan cara kerja cek yang beneran. Jadi, kalau aku punya hutang sama teman yang banknya tidak sama, aku bisa kasih si teman cek senilai dengan jumlah utang itu.

Soalnya, kalau transfer antar bank pasti kena charge, dan aku tidak emoh bayar charge. Jadi, mending aku kasih cek saja ke dia. Si teman bisa cairkan cek itu ke bank yang sama dengan bankku atau bank dimana dia memiliki nomor rekening. Gampang. Nanti, kalau si teman sudah mengambil atau mencairkan ceknya, akan ada laporan di rekening kita di e-banking.

Nah, kalau kita tidak ketemu sama si orang, kita juga bisa kirim cek itu via pos. Kita tidak usah kuatir kalau cek yang dikirim bakal disalahgunakan oleh orang lain karena di cek kita sudah tertulis dengan nama kita dan nomor rekening kita. Kadang kita juga bisa request untuk cek itu kita minta modelnya seperti apa temanya. Ada macam-macam seperti Hello Kitty. Demikian juga kartu ATM. Jadinya, jarang sekali ada ATM yang kembar.

Sekarang masalah tax. Di US, kalau beli barang atau makanan, harga yang tertera itu di menu atau price tag belum termasuk pajak. Apalagi kalau makan di restoran, belum termasuk juga tips (antara 10-15 persen). Meskipun di awal kelihatan harganya murah, ketika ditambah dengan tax dan tips ini jatuhnya akhirnya mahal juga.

Jumlah pajak, tidak sama antar negara bagian. Missouri adalah negara bagian dengan pajak yang lumayan besar. 8 persen. Disini, meskipun untuk orang asing tidak ada istilah VAT (Value Added Tax). Yang ketika pulang ke negara aslinya bisa minta pengembalian pajak. Aku sudah Tanya waktu pertama kali datang. Lumayan kalau ada VAT dan bisa siap-siap mengumpulkan kuitansi.

Tapi ternyata tidak ada. Lagian kalau dipikir, sekolahku juga dibayarin dari duit pajak, hehehe. Makanya, disini, para tax payer alias warga negara berani menuntut ke kalau mereka benar-benar dirugikan. Kebijakan-kebijakan yang costs tax payer selalu saja jadi polemik. Begitu kuatnya para tax payer itu dimuka pemerintah. Selain itu, uang pajak juga digunakan untuk peningkatan fasilitas, seperti jalan tol atau transportasi.


23 Comments to "Cek dan Tax"

  1. anoew  23 February, 2011 at 21:13

    Mon, jadi kapan mau kasih aku cek?

  2. nia  23 February, 2011 at 02:36

    halo Hn.. Sy sm ma yu lani.. Ogah pake ebanking.. Gak sreg rasane haha.. Atm sy jebul bs diganti utk debit card yg jg bs utk transaksi online.. Lmyn skr ngrasain enaknya byr online walo gak smua trima debit card. Klo di spore bnyk axs machine yg bs buat byr tagihan2, pajak, bahkan bl dokumen tender.. Jd sy gak perlu cek hehe..

  3. Kornelya  22 February, 2011 at 10:56

    Bu Gucan, di Indonesia kuliah disekolah negeri melalui jalur plus-plus, ternyata sangat mahal. Tahun lalu ada temanku yg mau masukan anak melalui kasak-kusuk plus-plus, kursinya seperti dilelang saja, ada jurusan yg sampai 100jt. Aku terperangah, bagaimana mau pemerataan jika systemnya demikian. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.