Baltyra Dunia Nyata, Bukan Dunia Maya

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


PETER Steiner berkomentar aneh mungkin lucu. Nadanya mengagumi sebuah dunia baru nan ajaib di awal 1990an. Dunia tempat surga manusia bisa sangat mudah bercengkrama sesama mengabaikan jarak serta waktu. Steiner bukan ahli internet yang sering disebut dunia maya. Dia hanya seorang kartunis di harian The New Yorker.

“Dalam internet tak ada yang tahu kalau Anda seekor anjing”, kata Steiner mengejek. Saat itu internet masih benda asing bagi awam. Mungkin saja kartunis seperti Steiner membayangkan internet bagai dunia kartun. Orang bebas bicara, bernyanyi, menulis sekaligus sembunyi tanpa diketahui siapapun.

Bagaikan dunia maya, internet tempat bebas orang melakukan apapun dalam benak Steiner. Dengan kata lain bebas mencaci maki antar sesama. Itu sebabnya, sebagian orang berinternet, bersembunyi dalam identitas tak semestinya. Atau mengelabui sosoknya meski identitasnya jelas yang kadang membajak atribut sosok orang lain.


Sendiri di tengah keramaian

Dunia internet bukan membawa kita terperosok ke dalam pelosok sudut dunia tanpa orang lain. Lalu di sana kita bebas melampiaskan apa saja melampui tatanan kesantunan. Sebaliknya, internet malah menyeret penggunanya ke sebuah dunia nyata yang penuh gempita sorak sorai bertabur kata. Hanya bedanya, kita tak mencium bau badan dan tetesan keringat massa yang berkumpul.

Orang pun berpikir, ternyata dunia maya menjadi perpanjangan dunia nyata, yang harus dihiasi kesantunan beretika, nettique. Ketika mata kita terbelalak di depan layar komputer atau ponsel, di situ bola mata kita (atau sentuhan jari tuna netra) menatap ribuan bahkan jutaan orang.

Bolehkah kita mencaci maki saat asyik berinternet? Bayangkan, ketika Anda mengetik umpatan “Bajingan lho!”, suara itu didengar dengan baik oleh ratusan, ribuan bahkan jutaan orang! Lebih berbahaya dari sekedar Anda mengumpat langsung di depan orang bersangkutan atau melampiaskan seorang diri di dalam ruangan tertutup.


Perpanjangan dunia nyata

Etika bagaikan oksigen. Dunia kejahatan, mafia, triad, preman atau kalangan pembajak pun punya etika. Di Baltyra, sebuah dunia maya global citizen, tempat berkumpulmya manusia rantau Indonesia di luar negeri, mencoba sebuah filosofi beretika sebelum menuliskan kata di internet.

Tentu saja hal itu punya landasan kuat dari pengalaman chaotic routine bertutur yang selalu terjadi pada tempat sejenis seperti Baltyra. Lalu diubah perlahan-lahan menjadi communal paradise tempat berekspresi yang nyaman dan elok. Hasilnya memang menakjubkan, seperti yang dinilai oleh Internet Sehat, sebuah kegiatan rutin (flagship program) sejak 2009 dari ICT Watch (Information and Communication Technology).

Lembaga ICT Watch dikenal bagai advokasi nirlaba yang berdiri pada 2002 untuk menegakkan berekspresi yang aman dan bijak berinternet. Kegiatan Internet Sehat bermaksud membangun masyarakat madani di Indonesia. Basisnya digapai melalui ICT (informasi, komunikasi dan teknologi).

Baltyra selama 2010 telah meraih medali perunggu pada periode 15 (26 Mei 2010), perak pada periode 17 (3 Juni 2010) dan emas (29 Juni 2010). Puncak finalnya untuk anugerah platinum digelar di MU Cafe pada 9 Februari 2010 lalu. Walau tak meraihnya, Baltyra yang tergolong baru dalam citizen journalism, berhasil masuk nominasi sebagai pemenang Internet Sehat Blog & Content Award (ISBA) 2010. Tahun ini anugerah itu milik rumahinspirasi.com.

Joseph Chen sebagai moderator Baltyra, Pak Kanakin dan penulis menyaksikan penganugerahan yang dihadiri ratusan blogger dan komunitas dunia maya pada 9 Februari 2010 lalu. Sekaligus kami ingin dan telah membuktikan, bahwa Baltyra bukan dunia orang bisa bersembunyi bebas jauh dari keramaian dan ketidaktahuan banyak orang. Tentunya juga tak bebas jauh dari etika.

Siapapun yang ingin bercengkrama, bertutur dan bertukar pikiran, bisa diketahui sosoknya yang hadir dalam wujud jelas, meski mereka bertukar nama atau berwajah avatar lain. Komunitas seperti ini yang pantas mendapat anugerah dari Inter Sehat. Selamat untuk orang-orang yang membangun dunia sehat dan santun dalam Baltyra. Jemarimu, cakar harimaumu. (*)



Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

177 Comments to "Baltyra Dunia Nyata, Bukan Dunia Maya"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 January, 2013 at 10:53

    Hahahahahaha…

  2. Kornelya  13 January, 2013 at 10:51

    Penulis artikel raja Kamp… makanya dipublikasikan di koran. hehehe

  3. anoew  4 January, 2013 at 14:05

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  4 January, 2013 at 14:01

    Dasar kampret!

  5. anoew  4 January, 2013 at 13:49

    Saya sejak kecil 4 tahun sudah bertemu dan kenal dengan ayah mertua Anoew. Jadi saya tegaskan disini, jaaaanggaaan Saudara Anoew macem-macem sama saya. Itu saja.

    Mana berani saya berkampret-kampret sama raja kampret. Bisa-bisa nanti nggak kebagian buah segar lagi kan refot.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *