Menatap Dunia dari Pic Du Midi

Osa Kurniawan Ilham


Apa kabar Sobat Baltyrawan dan Baltyrawati? Sudah lama saya nggak mengirim coret-coretan ke Baltyra dan saya berharap ini bisa menjadi pembuka untuk tulisan-tulisan berikutnya setelah mood menulis sempat menghilang.

Awal tahun ini saya bersyukur mendapat kesempatan untuk belajar di Perancis dalam rangka meraih sertifikat sebagai persyaratan untuk memegang tanggung jawab di posisi yang baru di kantor. Namanya program sertifikasi, lumayan serius pendidikan ini karena selalu ada ujian di tiap minggunya yang nilainya akan diperhitungkan di akhir program untuk menentukan sertifikat bisa diraih atau tidak.

Tapi bukan urusan serius itu yang mau saya bagikan kepada teman-teman. Namanya orang Indonesia, seserius apapun kita harus bisa mencari-cari waktu untuk bisa jalan-jalan. Benar nggak? Nah mengenai urusan yang enak-enak inilah saya mau berbagi dengan Anda he..he…

Akhir pekan pertama kami jadwalkan untuk bisa mengunjungi Pegunungan Pyrenee yang terkenal dengan saljunya itu. Perancis beruntung mereka dianugerahi 2 pengunungan bersalju oleh Tuhan. Di bagian selatan mereka diberi Pegunungan Pyrenee oleh Tuhan, sekaligus menjadi batas alami dengan Spanyol. Di bagian utara mereka dianugerahi Pegunungan Alpene yang kalau nggak salah juga menjadi batas alami Perancis dengan Swiss dan Jerman. Karena sekolah saya di Pau, maka Pyrenee menjadi pilihan yang tepat untuk melihat dan menjamah salju, begitu tekad kami saat berangkat dari Indonesia. Maklum dari kampung he..he…

Pyrenee dijangkau dari Pau kira-kira dalam waktu kurang dari 2 jam, sepertiganya melalui jalan tol lalu dilanjutkan melalui jalan kampung yang sangat mulus dengan pemandangan pedesaan ala Perancis lengkap dengan ternak sapi yang berkeliaran. Karena saat ini masih musim dingin, lahan persawahan masih kosong belum digarap.

Saya pikir Pyrenee ini seperti Puncak kalau di Indonesia, jadi pasti akan macet nanti kalau di akhir pekan. Tapi dugaan saya meleset, boro-boro macet, jalanan malah terlihat lengang sehingga memacu orang mengemudikan mobilnya dengan cepat (hanya kamera pemantau kecepatan saja yang bisa mengendalikan kelakuan para penggemar Formula-1 ini he..he..). Karena itu saya pikir pasti Pyrenee sepi nih hari ini.

Ternyata dugaan saya salah, Pyrenee ternyata sudah dipenuhi dengan mobil dan orang-orang yang hendak bermain ski. Bahkan lumayan susah mencari tempat parkir.

Akhirnya kesampaian juga kaul dari Indonesia untuk bisa melihat salju. Jangankan melihat, menginjak-injak pun bisa he..he…Dan demikianlah akhirnya naluri anak-anak muncul ketika melihat salju dan es bertebaran di depan, sejauh mata memandang.

Ternyata berjalan di atas es itu sangat membahayakan, karena licin kami beberapa kali nyaris jatuh terpeleset. Karena itu boro-boro mau main ski seperti orang-orang bule itu, kami hanya melihat-lihat saja salju itu dengan ketakjuban bak seorang dari kampung nun jauh di sana. Kami ingat anak-anak berpesan untuk membawakan oleh-oleh salju, karena nggak mungkin membawanya akhirnya isteri tersayang hanya bisa mengambil salju tersebut, menggengamnya lalu meminta saya memotretnya he…he…

Petualangan belum selesai, kami memutuskan untuk pergi ke puncak gunung bersalju berketinggian 2.877 meter itu. Puncak itu terkenal dengan nama Pic du Midi. Dengan membayar tiket seharga 32 Euro akhirnya petualangan ke puncak pun dimulai, dengan menggunakan kereta gantung.

Akhirnya sampailah kami di Pic du Midi. Ternyata ini dulunya adalah pusat pengamatan bintang lengkap dengan teropong-teropongnya. Saya menyaksikan dari film dokumenter di museumnya betapa dulu hebat dan beraninya para insinyur yang membangun observatorium ini di tahun 1873. Bayangkan mereka membawa peralatan dan bangunan masih dengan jalan manual mendaki gunung bersalju ini. Inilah para pioner pemberani itu.

Selebihnya, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menikmati alam ciptaan Tuhan ini. Betapa besar Tuhan pencipta alam semesta ini, ciptaanNya saja sudah seperti ini indahnya. Saya sempat teringat sebuah kisah suci ketika iblis menawarkan dunia ini asal saja mau ditukar dengan menyembahnya. Mungkin kalau Anda menatap dunia yang begini indahnya dari tempat ini; di mana Anda bisa menatap dunia dalam arah 360 derajat; mungkin saja kita akan berada dalam pilihan yang sulit dalam tawaran si iblis itu. Maaf sekedar sedikit berfilsafat saja he..he…

Sebagai penutup, saya pikir gambar-gambar ini bisa mewakili apa yang ada di benak saya saat itu. Kekaguman.

Catatan akhir:

Ini sedikit narsis sih…..gara-gara Pic du Midi kami pun sempat jadi foto model lho he..he… Di http://menteridesainindonesia.blogspot.com/search/label/MODEL%20KDRI

Osa Kurniawan Ilham, Pau, 13 Feb 2011



36 Comments to "Menatap Dunia dari Pic Du Midi"

  1. Dewi Aichi  23 February, 2011 at 04:54

    pak Osa…………..wuahhhhhhhh…foto-foto yang luar biasaaaaaaa……bbrrrrrrrrr..dinginnya..!

  2. Beny Akumo  22 February, 2011 at 11:14

    pasangan serasi

  3. lani  22 February, 2011 at 05:52

    OKI : maturnuwun……….klu kami berdua bikin ribut malah ada dampak positifnya………..jd enjoy aja hehehe

  4. Osa KurniawanIlham  22 February, 2011 at 05:43

    @Mbak Hennie & Yu Lani,
    silakan aja rumahku diberantakin, gak papa he..he…. lumayan ada yang nemanin belajar untuk ujian besok.
    Isteri barusan tidur, salamnya saya sampaiin.

  5. lani  22 February, 2011 at 05:10

    HENNIE : wakakakak…se7777777 Hen………klu gitu kamu sdh menjadi salah satu pengikut ratu gemblunk dr KONA……..aku jg gitu……….takuuuuuuuut banget ketagihan………makan balung muda kkkkkkkkkkk

  6. HennieTriana Oberst  22 February, 2011 at 04:55

    LANI, wkwkwkwk…. aku cuma doyan memandang aja kok.. Kalo menyentuhnya takut… (takut ketagihan hehehe….

    Osa, maaf ya rumahnya udah berantakan nih…
    Salam buat istri yang imut.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.