Legalisasi Pornografi

Rusdianto


Saya percaya, film porno –atau bentuk pornografi lainnya– tidak akan merusak moral generasi muda dan tua di negeri ini. Tentu ada alasan mengapa beberapa Negara Eropa (Belanda, Jerman, Italia, Perancis, Skandinavia) membolehkan peredarannya, termasuk Amerika Serikat yang relatif bebas. Bagi anda yang tidak sepaham dengan saya, silahkan membandingkan indeks kualitas sumber daya manusia kita dengan negara-negara tersebut.

Pornografi telah ada sejak dahulu kala. Banyak peradaban kuno meninggalkan artefak-artefak pornografi berupa gambar, atau relief-relief erotis, secara terang-terangan di ruang khalayak. Mestilah ada tujuan positif di balik penampilan tersebut. Penerapan UU anti Pornografi di negeri ini tidak serta merta memberi kita hak untuk menyalahkan perilaku banal tersebut. Masa lalu tak bisa dinilai dengan nilai-nilai masa kini.

Materi pornografi berbentuk gambar bergerak di zaman sekarang sekedar bentuk-bentuk pengayaan dari masa lalu. Pemanfaatan teknologi audiovisual cuma adaptasi dan eksplorasi ke sekian manusia atas seksualitas. Film porno tak ubahnya memakai cermin (sebelum teknologi fotografi ditemukan), dildo, penis & vagina sintetis, vibrator, pecut, rantai, dan sebagainya. Pornografi semata perkakas, satu lagi penemuan alat bantu seks, produk kebudayaan umat manusia. Maka, kita tidak boleh menutup hak setiap orang dewasa yang membutuhkan tontonan pornografi secara privat untuk mewadahi kebutuhan seksnya. Paling tidak, kita memperlakukan pornografi minimal sama dengan pelacuran atau perjudian. Formalitasnya dilarang namun dibiarkan.

Pornografi untuk pemanfaatan pribadi mestilah baik. Terlepas kita memproduksinya sendiri atau membeli produk jadi. Cuma negara otoriter yang tanpa malu-malu, mau mencampuri urusan seks warganya. Mungkin negeri kita boleh jadi salah satu contohnya. Hanya Indonesia yang pemerintahannya tega dan gegap gempita merayakan ketelanjangan tubuh satu-tiga warga negaranya.

Saya mencurigai mereka yang terlibat dalam perayaan itu sekian lama memendam hasrat mendekati pornografi. Hingga mendadak gagap ketika harus berhadapan dengan materi pornografi yang –terus terang– biasa-biasa saja. Bagi yang terbiasa menikmati pornografi, umumnya menganggap materi video porno artis itu sebagai karya pornografi bermutu rendah. Ibarat sinetron picisan yang lebih mengandalkan tampang aktor/aktris ketimbang aktingnya.

Kita terlanjur merayakan ketelanjangan tubuh orang. Tubuh yang seharusnya wilayah paling azasi manusia, telah direndahkan. Apa hak orang-orang melihat persenggamaan mereka, melihat tubuh dan kemaluan mereka layaknya milik bersama? Analisis telematika, iseng-iseng, gaul, referensi, atau apapun alasanya tidak memberikan kita hak untuk memelototi kemaluan mereka. Jika dua orang melakukan hubungan intim dan merekamnya untuk diri sendiri, bukan hak siapa pun untuk melarangnya, apalagi menontonnya. Mereka berzinah, mereka selingkuh, itu bukan domain kita. Merekam persenggamaan diri sendiri juga bukan penyimpangan seks. Gejala menggemari diri sendiri ini dapat kita temui padanannya pada aktivitas Karaoke; Orang-orang menyanyi untuk mendengarkan suaranya sendiri, bukan ?

Bagi saya pribadi, seks adalah ruang pribadi. Dia di luar wilayah Negara dan harus dipisahkan dari negara seperti halnya agama. Selama tidak melanggar hukum positif, tidak mengganggu wilayah kehidupan orang lain, silahkan saja.

Selama ini kita tidak adil menilai seks. Sebelum menilai kita telah menetapkan standar penilaian terlebih dahulu, yaitu kebenaran menurut ideologi atau dogma anutan lainnya. Bahwa seks dengan kekerasan adalah salah, masokisme salah, pemakaian alat bantu salah, melihat video porno salah, gay & lesbian salah, seks tanpa nikah salah. Tanpa agama dan dogma, seks sebenarnya baik-baik saja selama dua atau lebih pihak melakukannya atas dasar suka sama suka, nyaman, tidak ada pihak yang keberatan dan pelakunya tidak didera rasa bersalah pasca melakukannya..

Kita terlanjur mewarisi teori dan praktek seks konservatif sebagai standar untuk kita juga menginterpretasi perilaku seks orang lain. Mereka yang konsisten dengan kebiasaan seks gaya atas bawah di tengah gelap gulita tidak adil mencap anomali gaya doggy style. Penyimpangan dari apa? Dari kebiasaan anda, bukan dari mereka. Bila mereka terbiasa dengan perilaku itu, meski kasuistik (merekam persenggamaan diri sendiri), itu bukanlah penyimpangan. Sebab tentu tak elok jika hubungan intim diperbandingkan, bukan?  Lagipula, sejak kapan standar operasional persenggamaan dibakukan?

Interpretasi tertutup atas seks harus dilawan. Pemaksaan ceritra-ceritra tua tidak lagi memadai untuk menafsir citra dan menilai kenyataan-kenyataan baru yang menampakkan diri melalui teknologi. Perangkat (ideologi) berpikir lama telah kadaluwarsa untuk mengolah teknologi informasi baru. Pola pikir lama selalu mencari dan menggali isi informasi yang sesuai dengan dirinya sambil terus mengabaikan informasi yang tak dapat diprosesnya. Para penganutnya enggan mengubah diri namun ngotot mempertahankan kelangsungan hidupnya. Bila perlu dengan menyingkirkan, dan bahkan menghancurkan informasi-informasi baru, hanya karena kebaruan itu tak mampu diprosesnya.

Seperti salah seorang pengacara yang selama ini getol memproklamirkan dirinya membela nilai-nilai moral, dalam sebuah program talk show salah satu TV swasta mengaku turut memelototi video itu. kemudian setelah semua beramai-ramai menyaksikan video tsb, mereka kembali beramai-ramai meminta segenap statsiun TV menghentikan pemberitaannya agar tidak memancing rasa ingin tahu pemirsa. Hanya berselang semenit setelah mereka sendiri membuktikan dirinya sebagai korban dari rasa ingin tahu tersebut namun mengecualikannya. Hebat !

* * *

Setelah menonton bareng video porno mirip artis, Abu Mawas bertanya pada rekannya.

“ Tadi kemaluanmu ereksi yah?”

“ Tidak.” Kata temannya, “ tontonan tadi sekedar bahan buat wawancara TV sebentar malam.”

“ Kalau begitu, kamu bukan lelaki normal” Kata Abu Mawas.

Merasa tersinggung, temannya menantang Abu Mawas menonton video porno itu sekali lagi. Kemudian,

“ Lihat,” temannya menunjuk tonjolan tepat di resluiting celananya, “ Berdiri, bukan?”

“ Kalau begitu, kamu bukan lelaki beriman.” Kata Abu Mawas.

* * *


Rusdianto. Peminat blog social media. Aktif menulis flash fiction & cerpen di blog pribadinya www.antojournal.com serta artikel resensi buku fiksi & tips menulis fiksi di www.indonovel.com. Sekarang berdomisili di Makassar.


17 Comments to "Legalisasi Pornografi"

  1. donaLd  26 February, 2011 at 03:17

    definisi lelaki normal dan beriman sudah dibakukan belum mas Rus?

  2. Djoko Paisan  24 February, 2011 at 03:52

    Terimakasih mas Rusdianto, untuk ulasannya..
    Nah ya, setiap orang mempunyai budaya masing-masing…..
    Dan…baik itu disekolah atau dirumah, harus ada penjelasan dari guru dan orang tua.
    Dan bukan malahan menutupinya, karena dengan demikian, yang bersangkutan, akan mencari diluar rumah.
    Tidak semua orang yang tinggal di Erpa atau negara maju, selalu bebas….
    Masih sangat banyak yang memegang norma-norma yang baik juga…
    Salam Damai dari Mainz…

  3. J C  23 February, 2011 at 22:08

    Sudah sifat dasar manusia makin ditutupi, makin dilarang, makin ingin tahu, makin ingin mencoba…apalagi kalo di belakang kata “manusia” tadi ditambah kata “Indonesia”

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  23 February, 2011 at 20:26

    Pemahaman dan cara pandang seks sangat tergantung dengan budaya mereka yang memandangnya. Saya sulit menyalahkan mereka yang memiliki cara pandang yang berbeda dengan saya, karena ini masalah budaya yang mengakar. Di dalamnya ada rekaman perjalanan jejak kehidupan golongan tersebut dalam memandang segala hal, yang bersentuhan dengan lingkungan mereka.

    Bila wanita Taliban memakai cadar menutupi wajah, saya bisa memahami hal itu, karena alam dan budaya mereka memaksa untuk melakukan hal itu. Badai pasir dan terik panas yang sering terjadi memaksa siapapun memakainya.

    Namun ketika di Indonesia yang tropis dengan lingkungan yang berbeda, hal itu sulit diterima. Bagaimana wanita harus menanam padi dengan pakaian seperti itu?

    Sama halnya dengan cara pandang terhadap seks, saya tidak mau egosentris.

  5. anoew  23 February, 2011 at 20:18

    Porno atau bukan, semua tergantung dari mana kita melihat.

  6. Sasayu  23 February, 2011 at 19:18

    Pada akhirnya tugasnya orang tua untuk memberi pelajaran sex yang mendidik kepada anak2, dalam arti jangan memberi statement yang memojokkan sex sebagai sesuatu yang jelek, tabu, salah (emang gimana bikin anaknya donkk). Lagipula sex itu kan diciptakan oleh yang diatas untuk dinikmati.
    Yang jadi kekuatiran kan anak2, lha buktinya apa yang terjadi di indonesia, tidak dilegalisasi pun malah bikin penasaran anak2 kannn, terus anak tanya orang tua, orang tua tidak memberi jawaban yang memuaskan, malah membingungkan, ya akhirnya cari sendiri dehhh. Sedari awal, anak2 sudah harus diberitahu konsekuensinya.
    Hanya sekedar memberi pendapat karena setiap hari baca berita malah ketawa dan geleng2, orang2 pada ngurusin ranjang orang lain, kalau pingin itu ya tidak perlu anarkis dan menyusahkan orang lain.

  7. Itsmi  23 February, 2011 at 18:15

    Pada umumnya orang berfikir bahwa negara seperti Belanda, Skandinavia, Jerman dll tidak mempunyai moral. Karena negara-negara ini mengenai sex bisa di katakan negara bebas, dengan catatan selama tidak dengan paksaan,kekerasan atau dengan anak-anak.

    Sudah jelas ekses terjadi tetapi ini bukan monopoli dari negara bebas. Meskipun di klaim bahwa itu tidak terjadi di negara yang beragama dimana sex itu tabu. Negara negara yang sex menjadi tabu itu pada umumnya terjadi ekses yang lebih berkali kali dari pada negara yang bebas. Seperti nikah dengan anak umur 12 tahun, wanita di sunat, dimana kemaluan wanita terjadi tidak sempurna, untuk menjaga keperawanan, melakukannya hanya lewat anus atau melahirkan di operasi caesar dll. Ini terjadi di negara negara yang melihat dirinya sebagai superior dalam moral.

    Perbedaan antara Negara bebas dan negara dimana sex itu tabu, itu karena di negara negara bebas, itu mempunyai struktur terbuka dimana ekses begini terlihat.
    Ini dikarenakan di luar kebebasan, orang diatas 18 tahun sudah dilihat, sebagai orang dewasa. Jadi sudah bisa memilih dan tau sendiri apa artinya baik dan jelek.

    Penekanan atau disembunyikan tidak tertolong tetapi orang yang di sadarkan dengan informasi dan dalam pendidikan dari SD sudah di diskusikan, informasikan itu lebih efektif

    Kontrasepsi atau penelitian- penelitian pada seksual itu dari negara bebas dimana negara yang mentabukan ikut menikmatinya tetapi sekaligus menilai bahwa negara bebas ini tidak mempunyai moral.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.