Senja di Chao Phraya (9)

Endah Raharjo

 

Bab 2: Gerimis di Sangkhlaburi (5)

Mila menggeliat malas di tempat tidur, rasanya belum ingin bangun. Ia tengok jam kecil di atas night table. Pukul 7.30. Masih ada waktu 2 jam sebelum berkumpul dengan semua anggota tim di lobi untuk rapat koordinasi. Di antara cericit burung dan rinai lembut gerimis di luar, samar-samar terdengar suara tawa perempuan. Laras sudah bangun dan sedang berbicara dengan seorang laki-laki di teras kamarnya. Pasti Osken. Siapa lagi pagi-pagi begini sudah nongkrong berdua?

Mila meraih kimono yang tergeletak di lantai, menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan merapikan rambutnya. Masih dengan wajah mengantuk ia membuka tirai dan memandang keluar jendela. Matanya menatap sepasang manusia tengah bercengkerama di teras kamar sebelah, menikmati sarapan pagi. Jantung Mila sekejap berhenti, terlintas di pikiran dua insan itu melewatkan malam bersama.

Laras merasakan ada sepasang mata menatap tengkuknya. “Hai, Mila!” Laras menoleh ke jendela kamar Mila, memberi isyarat agar ia bergabung dengan mereka.

Ragu-ragu Mila keluar kamar sambil mengencangkan tali kimono untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut baju tidur.

Hello, Mila.” Osken yang sudah rapi menegur ramah.

Duh, senyumnya. Dan mata hijau itu menatap bersahabat. Pantas saja Laras tergila-gila dan rela menjalin hubungan jarak jauh sampai hampir setahun lamanya. Ada sesuatu pada diri lelaki itu, Mila bisa merasakannya. Tubuhnya yang ramping dan segar di usia limapuluhan menunjukkan kualitasnya. Ia pasti menjaga diri dengan hati-hati.

“Setiap berada di dekatnya, aku merasa lebih stabil. Ia seperti tiang pancang, membuatku lebih kokoh berdiri. Aneh sekali, padahal kami lebih banyak bertemu dan ngobrol lewat Skype,” cerita Laras pada Mila beberapa waktu lalu. “Dengan Osken aku juga bisa bicara apa saja. Ketakutanku. Harapanku untuk masa depan Mega dan Angka. Apa saja.”

Memandang Laras dan Osken duduk berdekatan seperti ini Mila bisa lebih memahami cerita Laras saat itu. Mereka bagaikan sepasang suami istri yang saling menyayangi. Ada sesuatu pada Osken dan Laras yang membuat Mila teringat pada seekor elang dan seekor pipit.

Osken terlihat perkasa, bukan hanya karena sosoknya yang tinggi dan belulangnya yang kokoh. Ia bagai elang, siap merengkuh tubuh mungil Laras dan menyembunyikannya di balik sayapnya yang lebar dan kuat. Sebaliknya sorot mata Laras melembut, bagai seekor burung pipit yang jinak, ingin disayangi.

Berbeda bila Laras sedang sendirian; matanya tegas, menatap lugas.  Meski ramah dan sopan, bahasa tubuhnya menyampaikan pesan bahwa ia mandiri, tak butuh seseorang untuk melindungi.

Mila jadi ragu-ragu, antara ingin duduk atau kembali ke kamarnya meninggalkan mereka berdua. Ia tak ingin mengganggu.

“Mau sarapan apa? Sekalian saya mau ke atas mengambil irisan pepaya,” laki-laki bule itu menawarkan diri mengambilkan sarapan Mila.

“Terima kasih. Boleh. Saya ingin telur dadar dan croissant,” jawab Mila.

“Telur dadar dan croissant. Segera, Madam,” Osken mengedipkan mata sembari melompati pagar rendah yang membatasi lantai teras dengan halaman. Langkahnya lebar-lebar menuju ke atas, ke lobi, tempat sarapan disajikan.

Begitu Osken berlalu, Mila menatap tajam mata sahabatnya. Tanpa sepatah kata Laras tahu apa yang ada di dalam kepala Mila.

“Tidak terjadi apa-apa semalam, Mila. Ia tidur di kamarnya sendiri. Kami hanya berciuman. Waktu kita remaja juga melakukannya.”

“Ah, Laras. Maaf. Kurasa itu bukan urusanku. Aku hanya tidak ingin kamu….,”

“Aku tahu, Mila. Kamu tidak ingin aku tergesa-gesa dan kecewa, bukan?”

“Kurang lebih begitu. Aku ingin yang terbaik untukmu. Kamu tidak hanya teman kerja. Kamu sahabatku juga.”

“Aku menikmati hubungan ini, Mila. Namun aku tidak banyak berharap. Kami belum bicara apa-apa tentang masa depan. Kami sepakat untuk menjalani saja. Kami bahagia. Paling tidak, ada seseorang yang membuatku merasa hangat dan tidak sendiri,” suara Laras bergetar. “Aku merasa ada yang melindungi meski kami berjauhan.”

Perasaan Mila benar. “Syukurlah kalau kamu bahagia,” dengan haru Mila memeluk sahabatnya, “aku bangga menjadi sahabatmu. Kalau ada yang bisa kulakukan, jangan sungkan-sungkan.” Mila mengecup ubun-ubun Laras.

Dari lobi, Osken dipayungi seorang roomboy menurui tangga batu pelan-pelan sambil membawa nampan.

***

Pukul 9 pagi. Taksi yang akan membawa Osken ke bandara Suvarnabhumi sudah tiba. Dufflebag kulit coklat sudah tersimpan di bagasi. Hanya itu yang ia bawa, barang-barang lainnya ada di hotelnya di Yangon. Osken masih harus berada di kota itu sebulan lagi.

“Kita berangkat pukul 9.30, ya. Saya masih ada urusan,” Osken meminta supir taksi menunggu. “Minum kopi atau sarapan dulu di sana,” Osken menunjuk lobi.

“Baik, Tuan. Saya akan menunggu.” Sopir taksi membungkuk sopan. Perjalanan dari Sangkhlaburi ke bandara memerlukan waktu sekitar tujuh jam. Pesawat yang menerbangkan Osken ke Yangon dijadwalkan take-off pukul 8 malam. Ia punya cukup banyak waktu.

Osken duduk di teras kamar Laras, menunggu sambil membaca. Laras memasukkan dokumen ke dalam ransel. Setengah jam lagi ia akan rapat koordinasi dengan seluruh anggota tim. Tangannya sedikit gemetar karena menahan tangis. Perpisahan kali ini terasa lebih berat dari perpisahan setahun lalu di Bangkok. Ikatan antara dirinya dengan Osken bertambah erat.

All set?” tanya Osken begitu Laras keluar kamar menenteng ransel. Bukunya ia lipat lalu ia letakkan di atas meja. Kacamatanya ia naikkan ke kepala. Laras mengangguk. Menunduk.

“Hello…? Kamu baik-baik saja kan?” Osken menarik tangan Laras lembut, memintanya duduk. Laras kembali mengangguk.

“Hanya perlu beberapa jam terbang untuk bertemu lagi, Laras,” ucap Osken lembut, “kita tahu kemana harus saling mencari,” tambahnya, “kamu punya koordinatku, bukan? Bisa dicari di peta,” Osken berusaha bercanda.

“Ya. Ya. Aku tahu. Just one flight away. Less than one day.” Laras menarik nafas panjang, mencoba mencari keseimbangan. “Aku akan baik-baik saja,” bisik Laras, lebih untuk meyakinkan diri sendiri.

“Ya. Sebaiknya begitu.” Osken menjangkau tangan Laras lalu menggenggamnya sangat erat. “Jaga dirimu baik-baik, Laras.”

“Pukul berapa pesawatmu?”

“Hahaha…!” Osken tergelak. Belasan kali Laras menanyakan hal yang sama sejak tadi malam. Laras menertawakan diri tanpa suara.

“Jam berapa kalian akan kembali ke Bangkok?” Osken ganti bertanya.

“Sehabis makan siang. Sebelum pukul 2.”

“Jadi kita bisa Skype nanti malam. Sekitar pukul 11 waktu Bangkok?”

Waktu di Bangkok dengan di Yangon selisih 35 menit. Penerbangan dari Bangkok ke Yangon hanya memakan waktu sekitar 65 menit. Osken sudah akan tiba di Yangon  pukul 8.30 malam dan tak lebih dari satu jam setelahnya ia akan berada di hotelnya.

“Oke!” Laras mengangguk, mempermainkan jemari tangan Osken.

Di kelingking kanan Laras masih melingkar cincin kawin. Osken mengelus cincin itu dengan lembut. “Suamimu sangat beruntung. Aku juga beruntung. Semoga kita beruntung.”

“Aku akan berdoa untuk kita. Keberuntungan tidak datang begitu saja. Harus ada usaha meraihnya.”

“Aku akan berdoa bersamamu.” Osken meremas tangan Laras.

“Kamu harus berangkat sekarang.” Laras mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Mereka berciuman. Lembut, seakan takut merusak jalinan benang asmara yang baru mulai dirajut.

“Terima kasih untuk ciuman yang manis,” bisik Osken di telinga Laras.

“Terima kasih sudah berkunjung,” balas Laras.

Sekali lagi mereka saling pandang. Tangan Osken membingkai wajah Laras, hidung mereka bersentuhan. Mata mereka terpejam.

“Aku mencintaimu, Laras.”

“Aku tahu.”

Seekor burung melintas, berpindah dari ranting pohon dan hinggap di atap teras.

Let’s go! Jangan sampai kamu ketinggalan pesawat.” Laras berdiri.

Osken membantu Laras membawa ranselnya. “Payung?” Tanyanya sambil mengamati gerimis. Ia raih buku di atas meja lalu ia masukkan ke dalam saku celana kargonya.

“Tidak perlu. Langit sedang menangis untuk kita,” Laras mengedipkan mata. Perempuan itu berusaha menguasai galau hatinya.

“Semoga itu tangis bahagia.” Osken melingkarkan lengan kirinya ke pundak Laras. Di bawah siraman gerimis mereka berjalan ke atas melalui tangga batu. Sesekali Laras mendongak, menatap mata hijau Osken yang berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Dari lobi, Mila mengamati mereka sejak tadi. Ia terharu. Ia tahu jalan yang akan dilalui Laras tidak mulus. Dalam hati perempuan itu memanjatkan doa agar hubungan Laras dan Osken dimudahkan segalanya.

*****

 

Bab 2, “Gerimis di Sangkhlaburi” berakhir di sini. Sampai bertemu dengan Osken dan Laras di kota lain. Semoga masih berhasrat membaca. Terima kasih banyak atas perhatian yang telah diberikan untuk kisah Osken dan Laras sepanjang 9 episode ini.

21 Comments to "Senja di Chao Phraya (9)"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  26 February, 2011 at 06:54

    Makasih Endah kisah-kisahnya. Bagaimana kelanjutannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.