40 Tahun Majalah Tempo Melawan Cemas

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

TEMPO tempo terbit, tempo tempo tidak. Sebuah kalimat sindiran semasa akhir Orde Baru di pertengahan 1990an kepada majalah berita ternama saat itu. Pemerintahan yang dikendali Presiden Soeharto, memang mirip Napoleon. Cemas-cemas gerah bahkan takut sama pena wartawan. TEMPO sebagai institusi masyarakat dalam mengendalikan jalannya keteraturan pemerintah, jelas bukan sosok yang disenangi. Puncaknya, media itu dibunuh pemerintah pada pertengahan 1994.

Bulan ini majalah berita mingguan itu akan berusia 40 tahun, sejak pertama kali terbit edisi 27 Februari 1971 dengan gambar depan pebulutangkis putri Minarni. Tak banyak media yang awet dari terpaan badai seperti TEMPO. Berapa kali majalah ini dilarang terbit, muncul lagi, dilarang, muncul lagi, dibunuh, hidup lagi. Tak terhitung peringatan keras tersembunyi melalui tekanan dari suara telepon pejabat atau pihak yang tak suka, bahkan ayunan tangan mengancam secara fisik, bila TEMPO berbuka fakta sebenarnya.

Tulisan ini tidak akan menceritakan dengan rinci tentang sejarah, ulasan, deskripsi atau know how majalah tersebut. Hanya sebuah catatan ringan yang saya ingat sebagai pembacanya. Saya hanya mengikuti perjalanan majalah itu bukan sebagai pengamat media massa ataupun konsultan media. Saya hanya seorang pembaca TEMPO. Kadang membaca, kadang tidak tiap terbitannya. Lebih banyak kegiatan terakhir saya lakukan.

Pabrik otak

TEMPO lahir hanya bermodalkan sebuah idealisme di tengah gemuruh pilihan antara yang baik dan tidak baik serta memihak dan tidak memihak. “Kami percaya bahwa tugas pers bukanlah menyebar prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan kebencian, melainkan mengkomunikasikan saling pengertian”, tulis pengantar nomor perkenalan 40 tahun silam.

Idealisme tidak bisa tercium harum tanpa ada orang yang menyebarkannya. Mereka itu para redaktur, wartawan, kolumnis, pembaca serta pihak yang merasa penting bacaan sehat yang jujur, jelas dan jernih. Mereka mengolah informasi sesuai sebuah idealisme yang sampai kini mereka pegang.

Konsistensi ini melahirkan banyak tokoh-tokoh dari dapur redaksi TEMPO melesat jauh berkarya lebih optimal di bidang yang lebih luas. Ada wartawannya yang menjadi duta besar di Uni Soviet (Rusia). Banyak pula yang menyebar memimpin indiustri bisnis media lainnya. Ada pula wartawannya yang dikenang sebagai pemikir Islam yang bergejolak mengundang debat. Juga ada kolumnisnya yang kemudian menjadi presiden negeri ini.

Saya masih ingat waktu kecil dulu, sering lewat kantor TEMPO di Segi Tiga Senen yang berbentuk bangunan bak istana Cinderella. Lalu mereka pindah ke Proyek Senen yang lebih luas, tak jauh dari kantor lamanya, hingga menetap tak jauh dari tempat Soekarno dan Hatta memerdekakan negeri ini.

Pabrik sensor

Selama berkarya dalam masa pemerintahan Orde Baru, tak sedikit kepedihan dirasakan majalah ini dalam menerima kecemasan penguasa. Bentuknya bisa berupa imbauan, suara telepon, teguran tertulis, penghentian penerbitan bahkan pembreidelan. Pada bulan November1972 TEMPO pernah tak terbit satu kali. Awal 1978 dan antara April hingga Juni 1982, TEMPO diminta tidak mewartakan satu huruf pun berita oleh penguasa. Puncaknya bulan Juni 1994. Ditutup dan tak boleh hidup lagi kecuali berganti identitas dan ruh, sebuah pilihan pasti ditolak TEMPO.

Ada keunikan ketika majalah ini dibredel pada 1994, terkait berita tentang pengadaan kapal selam yang banyak kontroversial itu. Saat itu sampul depannya bergambar menteri riset dan teknologi. Setelah “mati” selama 4 tahun, TEMPO dapat terbit kembali pada 1998, justru mendapat angin dari sang menteri yang waktu itu menjadi presiden. Sejak itu TEMPO terbit kembali meneruskan idealisme yang mereka miliki sejak 1971. Dengan berbagai kreatifitas melalui bentuk medium sesuai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Hingga detik ini.

Pabrik wajah

Selama 65 tahun usia negeri ini, TEMPO menghiasi dengan rangkaian kata dan kalimat sebagai idealisme mereka selama 40 tahun. Artinya 60% dari umur Indonesia diliput dinamika kehidupannya oleh TEMPO. Tidak ada sebuah majalah berita mingguan yang bisa bertahan hidup begitu lama, dibelantara badai kecemasan dan kemarahan penguasa.

Selama itu pula TEMPO selalu tampak menghiasi visual jurnalistik Indonesia selama 40 tahun, dengan gambar sampul depannya yang mengundang pesona dan melekat diingatan orang, Tak jarang sampul depan mereka menerima penghargaan dari luar negeri kala itu. Saya pernah tertarik meneliti secara amatir sampul depan majalah itu ketika tahun terakhir masih kuliah di kampus FISIP UI Rawamangun.

Kebetulan koleksi perpustakaan Fakultas Sastra UI (tak jauh dari kampus saya), sangat lengkap menyimpan edisi TEMPO sejak terbit. Saya iseng mengisi waktu menunggu kuliah, daripada kebanyakan ngobrol dengan teman kampus dan melihat bekas lintingan ganja yang kadang berserakan di Taman Sastra. Sebuah taman rindang di tengah kampus UI Rawamangun. Hasil penelitian amatiran itu dimuat dalam kolom surat pembaca saat majalah itu berusia 16 tahun. Mungkin itulah surat pembaca terpanjang dalam sejarah majalah TEMPO.

Selamat ulang tahun TEMPO. Tetap menulis untuk kepentingan rakyat. (*)

 

202 Comments to "40 Tahun Majalah Tempo Melawan Cemas"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  6 March, 2013 at 21:43

    Wah, apa dong? Jalan-jalan ke Kalimantan atau wisata kuliner ke Serang, Banten aja.

  2. Silvia  6 March, 2013 at 20:03

    Mas Iwan, kalau tebakan saya benar, hadiahnya apa dong?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *