Morotai Dalam Gambar

Ary Hana

 

Saya tertarik menuliskan kembali Morotai paska pemerintah menetapkan ‘Sail to Morotai 2011’. Berikut saya menuliskannya berdasarkan artikel saya di kompas.com dan sedikit tambahan gambar.

Nama Morotai menarik minat saya saat seorang sopir oto -sebutan mobil carteran- menanyai tujuan seorang ibu yang turun dari speedboat di dermaga Sofifi, Halmahera Barat. Hari itu, saya tinggalkan dermaga Kota Baru Ternate pagi-pagi, melaju dengan speedboat selama satu jam menuju Sofifi, Tujuan awal saya Tobelo, kota di Halmahera Utara. Mendengar kata Morotai disebutkan ibu tadi, saya jadi ingin menyeberang ke Morotai.

Perjalanan dari Sofifi menuju Tobelo ditempuh selama 3 jam, menyusur pantai timur Halmahera. Dengan oto, ongkosnya Rp 75.000. Lumayan mahal. Saya duduk di bangku belakang ujung kanan mobil LUV terbaru berpenumpang 6 orang. Mata saya pedih, sinar mentari tepat mengenai anak mata. Apalagi semalam saya begadang. Pemandangan hijau dan indah sepanjang perjalanan tak cukup menghibur.

Setelah istirahat makan di Malifut, kami memasuki Tobelo tengah hari. Turun di pelabuhan, saya langsung mencari kapal. Tapi feri ke Morotai baru saja berangkat. Dua penumpang lelaki pun lunglai meninggalkan pelabuhan. Saya coba bertahan, ditemani empat penumpang lain. Mereka hendak pulang ke Morotai.

“Kita tunggu di sini aja Kak, siapa tahu ada speed yang jalan,” ujar perempuan di samping saya. Suasana pelabuhan Tobelo mirip Tanjung Perak di Surabaya. Bangunannya penuh peti kemas, sangar, dingin. Hanya di sini lebih lengang dan tak nampak calo, apalagi pengemis atau pengamen.

Setengah jam kemudian kami dipanggil tukang speedboat. Disuruh menunggu di sebuah kapal. Tak berapa lama speed pun jalan, karena sudah ada 9 penumpang. Ongkosnya yang Rp 50.000 per orang dianggap cukup untuk membeli solar.

Butuh waktu 1,5 jam menuju Morotai, melalui belasan pulau-pulau kecil. Ada pulau yang cukup dihuni 2 pohon kelapa, ada pulau seukuran pekarangan sebuah rumah, semua berpasir putih. Saya bayangkan pulau-pulau seperti inilah yang menarik wisatawan asing dan membuat mereka nekad membelinya. Pulau pribadi.

Dikisahkan oleh teman di Galela, ada tiga pulau terapung yang berpindah-pindah tempat antara perairan di dekat Galela pesisir dan Morotai. Kadang pulau itu mendekati pantai Galela, kadang menjauh. Keberadaannya tak tetap. Yang melihatnya menjuluki pulau siluman.  Pulau yang saya lihat dari speedboat siang itu pastilah pulau siluman, karena bergerak-gerak ikut ombak.

Laut tenang siang itu. Kami pun tertidur dengan nyaman. Saya sempat berkali-kali mimpi buruk. Speed terbalik karena diterjang ombak besar. Halusinasi mungkin, akibat begadang semalam dan terlalu banyak ngopi. Ketika pemilik speed meminta ongkos, legalah saya. Morotai sudah dekat.

Morotai ternyata panas, karena berada di garis khatulistiwa. Begitu menginjakkan kaki di dermaga, sadarlah saya tak punya bekal informasi yang cukup tentang pulau satu ini. Tak ada peta, tak disebutkan dalam lembar lonely planet secara detil. Yang saya ingat inilah pulau yang dijadikan basis militer sekutu, khususnya pasukan Amerika, dalam menggempur pasukan Jepang dalam PD II. Walau buta, hati saya riang. Saya suka Morotai. Pantainya indah, bersih, berpasir putih, dan belum terjamah.

Saya berlari sepanjang dermaga yang panjang, motret di sana-sini. Sementara penumpang speed terakhir sudah menghilang dibawa ojek entah kemana. Akhirnya saya putuskan berjalan kaki, melalui pasar di pinggir pelabuhan, lalu lurus mendaki. Pura-pura tak peduli.

Tiba-tiba seorang lelaki, berpakaian tentara, yang menyapu halaman depan kantornya menegur saya. “Ci mau kemana?” Obrolan pembukanya bagai titik terang. Saya bisa bertanya ini-itu.

Kantor batalyonnya menghadap ke sebuah gereja. Tua. Nampak rusak. Bobrok. Buah Hati Kudus namanya. Ada tanya. Kenapa bisa rusak begitu dan tak diperbaiki. Ada keinginan mengabadikannya.

Pak tentara yang pernah 26 tahun tugas di Nabire, Papua ini lalu memanggil keponakannya untuk membawa saya keliling Morotai. Jadi tukang ojek. Pukul 2.00, saat panas-panasnya, saya ron Morotai. Banyak yang mau saya lihat, terutama peninggalan tentara sekutu di sana. Ada dermaga tua, ada transmeter air kaca, juga sebuah meriam yang tak utuh lagi. Sempat kami menuju bandara, tapi dilarang petugas lanud untuk motret pangkalan militer peninggalan sekutu. Tapi saya tidak menyerah, nyelip di sela jalan menuju bandara untuk mengambil gambar sekedarnya.

Sayang tak banyak lagi yang tersisa dari PD II. Bangkai kapal selam sudah banyak yang diangkat. Meriam-meriam, tank-tank, dan semuanya bersih diangkut Herlina, Pahlawan Trikora, untuk dijual sebagai besi tua. Sisa-sisa besi tua ini disulap menjadi beragam alat perhiasan yang disebut besi putih, dan dijual di Ternate.

“Kalau Kakak mau bisa sewa ketinting ke Pulau Sum-sum.  Di sana sedang dibuat patung Mc Arthur,” kata tukang ojek, mencoba menghibur. Saya mengiyakan. Pikir saya buat apa melihat patung jendral AS itu, yang hanya buatan. Saya butuh bukti otentik peninggalan PD II. Sewa ketinting pun tak murah, perjamnya Rp 125.000. Hehehe..

Selain Sum-sum, ada juga Pulau Langere-ngere, tempat budi daya mutiara. Satu dua industri perhiasan dari besi putih ada di sebalik pulau lengkap dengan rongsokan besi tua kapal selam.

Dalam kepanasan dan keputusasaan menyusuri jejak Mc Arthur, saya menemukan hal lain. Gereja-gereja yang rusak, puing-puing rumah yang menyemak, sia-sisa kerusuhan agama sepanjang 1999-2002. Saya tanya tukang ojek itu.

“Kamu di sini selama kerusuhan itu?”

“Iya, Kakak. Saya masih kelas dua SMA ketika itu,” jawabnya lirih.

“Apa yang kamu lihat? Seramkah..”

“Aaih.. begitulah, aih.. gimana ya, aih..aih”

Pemuda itu tak mampu berucap. Kehabisan kata. Wajahnya yang merah terbakar nampak pias. Ada kengerian di matanya.

“Kak, semak yang kita lalui tadi itu dulu pernah jadi pemukiman penduduk. Tapi rumah dan penghuninya habis saat kerusuhan.”

“Kenapa tak dibangun lagi?” tanya saya ingin tahu. Teringat saya onggokan gereja tadi.

“Itu tanah orang. Yang punya telah dibantai, takkan torang tinggal dekat situ to.”

Saya tercekat. Kami lalu melalui gereja sederhana. Dari kayu. Juga rumah-rumah penduduk yang sangat sederhana. Laju motor menembus kampung yang ramai, ada masjid bagus di sana. Mayoritas penghuni Morotai memang muslim. Umumnya orang keturunan Ternate, Galela dan Tobelo. Bahasa yang mereka gunakan pun campuran ketiga bahasa daerah tersebut, ditambah bahasa pasar, bahasa sehari-hari Maluku Utara.

Orang-orang di kampung sangat ramah. Yang perempuan sibuk mencari kutu saat siang, yang lelaki bekerja di kebun. Ada sedikit persawahan di bagian timur, juga cengkeh, pala, dan jagung. Tanah umumnya kerontang. Meranggas. Listrik tak selalu menyala. Sinyal HP hanya milik telkomsel, itu pun hanya di dekat dermaga.

Nelayan hanya berada di sepanjang dermaga. Tak banyak. Ikan tore dan cakalang banyak dijual. Senang sekali melihat nelayan membawa hasil tangkapannya sore itu. Mungkin hanya ikan yang murah di sini. Hampir semua bahan pokok diambil dari Tobelo yang sudah dua kali lipat harganya.

Walau menyengat, Morotai eksotis. Pantai-pantainya berpasir putih. Terumbu karangnya utuh, kecuali di bagian bangkai kapal selam PD II diambil. Hanya dengan mata telanjang kita bisa menembus kedalaman laut yang menghijau oleh terumbu karang. Tapi bulu babinya banyak. Salah menginjakkan kaki bisa panas sekujur tubuh.

Malam itu saya menginap di Losmen Tonga. Mahal buat ukuran penginapan sederhana. Tak ada kipas angin, berkali-kali mati lampu, dan banyak nyamuknya. Tiba-tiba saya teringat kawan yang mewanti-wanti tentang Malaria. Tapi saya pejamkan mata juga. Berharap bertemu hantu Douglas Mc Arthur.

Esoknya, seperti kesetanan saya keliling pulau dengan berjalan kaki. Amboi, susah sekali mencari angkot di pulau kecil ini. Hanya ada yang menuju ke barat. Ke timur? Jangan harap. Namun inilah saat mengabadikan berbagai momen. Tentang gereja yang dirusak, tentang puing-puing rumah, juga pasar yang mengenaskan suasananya. Saya suka melihat ikan asin yang digantung, atau cakalang yang teronggok dikerubuti lalat.

Morotai kaya akan hasil laut, saya percaya itu. Namun kehidupan di pulau ini seperti berjalan di tempat. Jauh berbeda dengan Tobelo yang berkembang pesat. Tak heran jika penduduk Morotai lebih suka menghabiskan hidupnya di Tobelo, Manado, atau Ternate. Akankah pulau ini menjadi hidup paska ‘Sail to Morotai 2011’? Entahlah. Mungkin akan banyak wisatawan datang masa itu. Tapi mereka akan menginap di mana? Tak ada hotel layak di sini. Hanya penginapan sederhana yang lusuh dan terbiar.

Kadang saya menginginkan Morotai menjelma menjadi Lombok atau Bali. Tapi mungkinkah? Sedang feri dari dan ke Tobelo hanya ada sekali sehari. Speedboat memang banyak, tapi di musim ombak sulit bergantung pada speed. Pesawat? Memang ada penerbangan ke Morotai, tapi waktunya tak tentu. Bisa seminggu sekali bisa dua minggu sekali, tergantung penumpang dan pilotnya. Tersadar saya mimpi untuk menjadikan Morotai sebagai pulau surga wisata masih jauh panggang dari api.

 

 

 

36 Comments to "Morotai Dalam Gambar"

  1. Nor Ahmad  9 August, 2014 at 17:06

    gak ada foto masjid morotai?
    sayang sekali tapi trimas kerna infonya.

  2. ASHRORI  24 November, 2011 at 21:46

    IYA,,, BTUL, morotai memiliki keindahan yg tdk dimiliki oleh daerah2 lain,, ada 1 pulau yg bernama Dodola, pulau itu yg selalu d Huni oleh para turis, yg bkin unik pulau ini klo airnya Pasang, pulaunya terpisah namun klo pas airnya Surut Pulaunya tersanbung kembali,

  3. nevergiveupyo  9 March, 2011 at 10:55

    wah..makasih..ada artikel tentang morotai…
    kalau boleh saya prediksi…nasib morotai pasca Sail2-an itu ya ndak jauh beda sama banda (pasca Sail banda 2010 kemarin)
    apa pasal?? anggaran yang sekian banyak habis untuk kegiatan seremonial dan koordinasi (baca : rapat2) …infrastruktur nyaris tersentuh (memang ada beberapa pembangunan fisik seperti jalan, sarana MCK..tapi jumlahnya minim)
    padahal di banda relatif lebih baik. hotel ada..penduduk cukup banyak..spot2nya juga (katanya..saya belum beruntung sampai disana sih) luar biasa…
    jika ingin dikenal dunia dan mempunyai fasilitas tempat tinggal yang cukup OK.. salah satu cara paling gampang ya serahkan pengelolaan kepada orang asing (seperti di raja ampat dan wakatobi) tentusaja..kompensasinya adalah : lbh banyak orang asing yang bisa menikmati keindahan tersebut…
    hiks…. indahnya negeri ini…

  4. GRA  8 March, 2011 at 12:09

    nambah lagi pengetahuan ttg bagian dr Indonesia yg tak pernah dibayangkan…

  5. AH  28 February, 2011 at 05:54

    30. mbak adhe, sebetulnya tak hanya indonesia timur, di indonesia barat yang berupa kepulauan kecil, kondisinya juga mengenaskan, padahal sangat eksotik. kapan-kapanlah saya tulis.

    31. sama2 mbak rosda. kapan2 mainlah ke sana )

  6. Rosda  27 February, 2011 at 21:51

    Thanks Mbak Ary…jadi pernah lihat Morotai lewat artikelmu..

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)