Ketika Harus Memilih

Rya

 

Lagi-lagi dia menelponku sudah beratus kali mungkin dia telpon namun hati ini begitu berat untuk menjawab, hingga kubiarkan handphoneku meraung-raung meminta dijawab namun hati ini tak mau bergeming….

——————————————–ii————————————————–

Setiap kali hati ini bertanya mengapa, mengapa aku harus melalui kehidupan ini, apakah ini memang benar-benar sudah takdirku. Hidup dalam kesendirian tak pasti..yah benar-benar sendiri karena tak ada seorangpun yang bisa ku percaya untuk sekedar berbagi beban.

Aku agak terkejut sewaktu menelpon dia siang itu, sambutan yang kuterima begitu berbeda dengan caranya menyapaku beberapa hari yang lalu. Hingga aku bertanya apa “kau baik-baik saja” kenapa kau begitu kedengaran khawatir akan sesuatu..dan kau berkata “ aku lagi mennunggu kelahiran anakku” beberapa saat aku terdiam..dan hanya minta maaf karena menggangunya.

Yang tiba-tiba benakku terasa kosong, dan timbul pertanyaan kenapa, kenapa, kenapa, kenapa setelah sekian lama beberapa bulan ini kita menjalain komunikasi kembali dia tidak pernah cerita kalau istrinya sedang hamil dan dia menantikan kelahiran bayinya.

Padahal belum lama dia menyatakann masih sayang aku masih selalu mengingatku dan bahkan minta ketemu, aku hanya bisa mengurut dada bagaimana seorang lelaki yang beristri  yang sedang hamil sanggup mencoba main api dengan perempuan lain..ukh….

Esokya dia SMS dan bertanya kenapa aku tak mau ditelpon…kukatakan jangan telpon aku lagi, jaga diri baik-baik dan kalau perlu bantuan silahkan sms saja….maafin yah.  Dalam hati aku cuma bisa minta maaf dan berusaha memaafkan diriku karena hampir khilaf mengambil yang bukan milikku.

Akhirnya aku kembali ke kesendirianku, namun aku berusaha untuk bersyukur dan berbahagia karena sebenarnya aku tidak benar-benar sendiri..masih ada Ray, cahaya hidupku yang menemaniku entah sampai kapan, karena dia hanyalah titipan sang pencipta untukku hingga suatu saat sayapnya kuat dan akan pergi meninggalkan induknya. Mudah-mudahan aku kuat ya Allah.

 

Salam manis,

Buat semua pecinta

12 Comments to "Ketika Harus Memilih"

  1. rya  1 March, 2011 at 13:45

    thanks untuk komennya. Hidup itu memang pilihan.

  2. Rosda  1 March, 2011 at 12:48

    Dunia tak selebar daun kelor…masih banyak pria yang baik.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.