Sepotong Batu Dalam Cermin

Fahri Asiza

 

TUAN Santun terkejut ketika menatap cermin di ruang kerjanya, dia merasa cermin itu telah mengutuknya. “Kau akan jadi batu! Menetap dalam ruang hampa!”

Tuan Santun gamang. Dia yakin betul geraman itu berasal dari sosoknya dalam cermin. Tiba-tiba ada angin yang berpusar dari berbagai arah. Tuan Santun terhenyak, berusaha menghindar. Tapi sergapan itu menyelinap kuat, memburu, menelikung dan menghantamnya. Tiba-tiba dia tidak mampu bergerak. Dia sudah menjadi batu. Tuan Santun tergugu sejenak, mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya. Namun kaku bagai besi, dingin bagai beton. Astaga! Kenapa sosokku dalam cermin itu mengutukku seperti ini?

Tuan Santun tiba-tiba berteriak minta tolong. Dia menunggu sekitar lima belas menit dengan wajah yang mendadak mengkawah keringat. Dia yakin, seharusnya anak buahnya sudah berlarian muncul karena teriakannya. Tapi dasar sialan, tak satu pun yang muncul.

Tuan Santun berteriak kembali. “Bangsat! Sini kalian semua! Jangan cuma mau enaknya saja! Hooooiiii, Bangsaaaatt!!”

Tetap tak ada yang nongol.

“Bangsat buduk!” Tuan Santun mencoba menggerakkan tubuhnya. Tak kuasa. Tetap kaku. Sialan, kalau batu bukan begini! Aku pasti tidak bisa bernapas! Juga tidak bisa berteriak. “Hooooiii!! Manusia-manusia kadal! Cepat kalian ke sini semua! Aku tidak bisa bergerak! Kalian harus membawaku ke rumah sakit ternama!”

Pintu ruangannya yang gemerlap dengan bermacam souvenir dari luar negeri, dari para pejabat, dari para kepala negara itu terbuka. Nona Mona sekretarisnya yang montok, yang selalu menonjolkan apa yang memang perlu ditonjolkan, muncul dengan sikap anggun. Seperti biasa, membawa map yang ditempelkan ke dadanya.

Tuan Santun senang karena ada yang mendengar teriakannya. “Syukurlah, Nona Mona, syukurlah kau mendengar teriakanku! Ingat, kau adalah orang pertama yang masuk dalam keringanan nuraniku! Ke sini kamu!”

Nona Mona mengangkat kepalanya. Keningnya berkerut. Matanya yang belo, yang dipoles sedemikian rupa sehingga terlihat manis, berputar ke sana-kemari.

Tuan Santun memaki-maki. “Hei! Kenapa kamu jadi seperti orang bodoh begitu?! Aku di sini! Aku menjadi batu! Tidak bisa bergerak!”

Tuan Santun melihat sekretarisnya itu kembali menggerak-gerakkan kepalanya. Sialan, pasti dia sengaja tidak mau melihatku. Tuan Santun geram ketika Nona Mona tiba-tiba cekikikan. Lalu ganti melotot saat melihat Nona Mona dengan bergayanya duduk di kursinya. Kurangajar! Kursi itu aku dapatkan bukan hanya dengan keringat dan uang, tapi juga dengan darah! Sudah berapa banyak darah yang bersimbahan gara-gara kursi keparat itu! Bangsat! Sekarang diduduki Nona Mona yang punya pantat berlebih.

Tuan Santun berteriak sekeras-kerasnya, memaki-maki Nona Mona agar jangan duduk di kursinya itu. Nona Mona malah makin kurang ajar. Dia bukan hanya memutar-mutar tubuhnya di kursi panas itu, tapi mengangkat pula kedua kakinya di atas kursi.

Tuan Santun yang berusaha menggerakkan seluruh tubuhnya, sesaat menghentikan gerakannya. Dia mencoba menunduk. Brengsek! Tak ada yang bisa kugerakkan dari sendi-sendi di tubuhku ini kecuali mata dan mulutku. Padahal, kalau aku bisa lebih membungkuk lagi, mungkin aku bisa melihat… Bangsat! Dasar bangsat!

Tiba-tiba telepon berdering.

Tuan Santun pias, menyadari kalau bunyi dering bip-bop-bip-bop-bop-bop itu adalah telepon rahasia. Salurannya pun disembunyikan. Tak seorang pun yang boleh tahu tentang telepon itu. Istrinya pun tidak pernah tahu. Dia berusaha menggerakkan lagi seluruh tubuhnya yang benar-benar tak mampu dilakukannya, ketika melihat Nona Mona mengangkat telepon yang ada di mejanya. Lalu memandang heran sendiri pada telepon itu sementara dering bip-bop-bip-bop-bop-bop masih terdengar.

“Heeeiiii! Jangan diangkat! Hoooiiii! Sialan! Sekretaris sialan! Aku tarik lagi ucapanku tadi kau masuk daftar pertama yang akan kuberikan jabatan tinggi! Aku pecat kamu baru tahu rasa?! Hooiiii! Jangan ke bawah! Jangan!”

Nona Mona sudah menemukan telepon itu yang berada di kolong meja sebelah kanan. Berada di sebuah kotak berukuran besar, berukir gambar sepasang naga dan sepasang keris bertuah. Tuan Santun melihat kening sekretarisnya berkerut. Pasti si Montok itu heran. Sialan! Kenapa aku harus jadi batu? Kenapa cermin itu tiba-tiba mengutukku? Sialan, benar-benar sialan!

“Apa? Tuan Santun? Maaf, beliau tidak ada di tempat.”

Tuan Santun mendongak. “Nona Monaaa! Goblok! Aku di sini! Aku hanya berjarak tiga meter darimu! Ayo lihat ke sini! Bantu aku bergerak! Panggil yang lain! Panggiillll!! Kalau perlu kumpulkan semua para pejabat untuk membebaskanku dari kukungan sialan ini!”

“Hihihi… nama saya Nona Mona. Ah, bisa saja. Iya, iya… saya memang sekretaris Tuan Santun. Hihihi… kata orang sih yang memang cantik, seksi dan selalu membuat pria-pria mana pun terangsang. Aii… jangan bicara seperti itu, ah. Tidak enak. Nanti saya tuntut lho karena melakukan pelecehan… hihihi… tapi saya suka, kok.”

Tuan Santun bengong. Dengan siapa Nona Mona bicara? Keparat! Kenapa aku harus menjadi batu? Aku salah apa? Aku bukan Malin Kundang! Aku bukan pula Batu Menangis! Dasar sialan! Kalau aku terbebas dari kukungan sialan ini, akan kuhancurkan cermin keparat itu.

“Hihihi… bisa saja. Tidak, kok, saya tidak terlalu mengharapkan apa-apa. O… kalau itu sih iya. Masa sih ada orang yang tidak mau… hihihi… Sudah ah, pembicaraannya disudahi saja, nanti kalau Tuan Santun muncul saya tidak enak. Kenapa? O… memangnya ada apa nih sampai minta nomor hape saya? Hihihi… ngomongannya kok melantur ya…”

“Nona Monaaaaa!! Hentikan  pembicaraan keparat itu! Nona Monaaaaa!!”

“Boleh kok, saya malah suka. Ah, saya sih tidak mengharapkan apa-apa. Sama Tuan Santun saya juga tidak mengharapkan apa-apa. Oh, iya, iya… catat ya? Apa? Sudah siap pulpen sejak tadi? Ih, saya jadi malu… Iya, iya 0-6-1-6-8-2-4-7-4-3-3-5-6-8-1-0-3. Kenapa? Banyak banget angkanya? Hihihi… kan memang harus seperti itu, kalau tidak banyak angkanya yang tidak maju-maju lho. Apalagi kalau di belakangnya ada angka nol lima belas biji. Iya, saya tunggu ya teleponnya. Oh, maaf, ada pesan buat Tuan Santun? Tidak ya? Iya deh… hihihi… cup-cup-cup-muaaaaahhh!”

Tuan Santun menggeram, lebih menggeram lagi ketika melihat Nona Mona tertawa cekikikan. Kakinya diangkat kembali di atas meja dan makin membuat Tuan Santun geram karena tidak bisa mengintip.

“Nona Monaaaa! Jangan cekikikan seperti kuntilanak! Ayo bantu aku! Bantu… heiiii!! Apa tadi dia bilang?! Apa tadi dia omong?! Beliau tidak ada di sini?! Aku tidak ada di sini?! Oh, kenapa ini?! Kenapa?!”

Tuan Santun bertambah panik. Dia berteriak-teriak lagi. Nona Mona mengangkat kepalanya, seperti mendengar sesuatu. Hanya sebentar. Lalu dengan tak acuh dia meninggalkan ruangan itu sambil cekikikan.

Tuan Santun berteriak keras, “Nona Monaaaaaa!!”

Pintu ruangannya telah ditutup kembali. Yang masih terbayang dalam benaknya, pantat Nona Mona yang beregal-egol ketika meninggalkan ruangan. Tuan Santun memejamkan matanya. Mencoba memikirkan apa yang menyebabkan semua ini. Dia baru datang, seperti biasa, selalu bercermin melihat penampilannya. Ya, penampilan harus dijaga. Harus diperlihatkan. Itu nomor satu.

Lalu di cermin dia melihat bayangannya. Ketika dia tersenyum, bayangannya pun tersenyum. Berkacak pinggang, pun sama. Membuka kedua kakinya dengan kepala ditegakkan, pun sama. Tapi… hei! Ada yang salah! Ya, ada yang salah! Tuan Santun mencoba mengingat lagi. Dia tadi berdiri seperti sikapnya bila sedang berpidato atau memimpin rapat.

Dan… heiiii!! Di cermin tadi, sosoknya malah duduk. Ya, duduk! Ah, tidak mungkin. Aku sudah gila kalau begitu. Mana ada cermin yang memantulkan bayangan yang berlainan kecuali sudut pandang kiri dan kanan saja. Tapi… ya, bayanganku di cermin itu sedang duduk.

Lalu aku mendadak seperti dikutuk!

Gila! Aku dikutuk! Dikutuk?! Dikutuk?!!!

Sinting! Mana mungkin cermin bisa mengutuk! Apa di dalam cermin itu ada roh jahat? Tuan Santun kembali berpikir. Tidak salah lagi, pasti ada roh jahat. Roh yang dikirimkan oleh orang-orang sirik padaku dan akhirnya mengutukku menjadi batu!

Tuan Santun menjerit-jerit ketakutan. Dia berharap Nona Mona akan kembali lagi ke ruangannya. Kalau perempuan sialan itu tidak muncul, mudah-mudahan yang lain akan mendengar teriakannya. Ketika suaranya nyaris serak, pintu ruangannya terbuka. Wajah Tuan Santun gembira. Dia berseru-seru keras, “Hai, Man! Kasman! Angkat aku dari sini, Man!”

Laki-laki berusia 57 tahun yang selalu berkopiah itu asyik saja mulai membereskan ruangan Tuan Santun. Seperti biasa, setiap pukul dua belas siang, dia harus merapikan ruangan itu.

“Man! Aku di sini!”

Kasman bersiul-siul.

“Man! Hei, Kasmaaaann! Dasar buta! Kasman, aku di sini!”

Kasman tetap bersiul-siul. Sepuluh menit dia bersiul-siul bersamaan pekerjaannya selesai.

“Hai, Kasman! Tunggu, tunggu sebentar! Ini aku, boss kamu, majikan kamu, pejabat, orang pemerintahan! Hai, Kasman!”

Kasman berhenti sejenak. Menoleh dengan bingung. Tuan Santun girang. Dia tertawa. “Ya, ya, arahkan mata kamu ke sini! Ya, betul! Ini aku, Man! Ini aku! Ya, ya, terus mendekat!”

Kasman mendekat. Langkahnya berhati-hati. Tuan Santun gembira, menyemangati terus. “Iya, sedikit lagi. Rupanya kamu tidak buta, Man. Tidak seperti perempuan montok sialan itu!”

Kasman terus mendekat. Sejarak satu meter dari cermin, dia berdiri tegak. Tuan Santun kian bersemangat. Senyumnya sontak lenyap ketika Karman melewatinya dengan wajah yang kian mendekat cermin. Susah payah Tuan Santun melirik, melihat kelakuan Kasman di depan cermin.

Kasman mengupil! Bahkan memperlihatkan rongga hidungnya yang dipenuhi bulu-bulu kasar. Lalu menarik cabut sekaligus tiga lembar. Kasman lega. Tuan Santun meringis, seperti nyawanya sedang dicabut paksa.

Kasman tertawa memperhatikan tiga lembar bulu hidung di tangannya. Lalu dengan santai dia membuangnya dan berlalu dari sana. Tuan Santun berteriak-teriak keras. Memaki-maki setinggi langit dengan kemarahan yang kian menggunung di  dadanya. Dia terus berteriak hingga suaranya mulai lenyap.

Saat itu dia tergugup. Astaga, kalau suaraku hilang, siapa lagi yang mau mendengarnya. Aku harus menghemat suara. Suara sangat mahal harganya. Bahkan ada yang membayarnya dengan mengorbankan beberapa nyawa. Dulu Tuan Santun pun melakukan hal yang sama.

Berarti suara harus dihemat sekarang. Tanpa suara, orang-orang seperti dirinya tak berarti apa-apa. Hanya senyap saja yang ada.

Tuan Santun menunggu dan menunggu dengan kegelisahan yang kian mendera. Sialan, bagaimana orang-orang bisa tahu kalau aku menjadi kaku di sini tanpa bersuara? Kurang ajar! Perduli setan dengan suara! Pokoknya aku harus terbebas dari belenggu ini, aku harus menang dalam masalah ini.

Tanpa sadar Tuan Santun melirik ke cermin.

Dia berteriak keras, karena melihat seekor ular melata di dalam cermin. Seketika matanya melirik-lirik panik. Tidak, dia tidak melihat ada ular di sekelilingnya. Tuan Santun melirik kembali ke cermin. Kali ini dia melihat seekor harimau sedang memperlihatkan taring-taringnya yang mematikan.

Tuan Santun menjerit, tapi yakin kalau suaranya tak ada yang keluar. Memejamkan mata mungkin lebih baik. Dilakukannya selama sepuluh menit, lalu berhati-hati membuka matanya lagi. Di cermin sudah tidak ada lagi sosok harimau. Yang ada seekor tikus yang sedang mencicit lalu mengerat sebuah besi. Kali ini Tuan Santun lebih berani.

Malah dia seperti melihat pemandangan yang lucu. Beberapa saat lamanya dia lupa kalau dirinya menjadi batu.

Tikus itu mulai memakan besi yang dikeratnya tadi, lalu menuju ke lemari arsip. Menggerogotinya dalam hitungan detik. Berkas-berkas penting, surat-surat berharga, uang, deposito pun dimakannya. Tuan Santun menoleh ke kanan. Tidak, itu hanya dalam cermin saja. Biarkan tikus itu menikmati apa yang ingin dinikmatinya.

Tikus itu lalu berhenti. Dia terlentang, seperti seorang manusia, dia mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. Tuan Santun tertawa lagi, semakin lupa kalau dia menjadi batu. Dilihatnya tikus itu bangkit, menggeliat, lalu menguap. Entah dari mana datangnya, tikus itu mengisap sebuah cerutu.

Kali ini Tuan Santun terbahak-bahak. Terlebih lagi ketika tikus itu terbatuk-batuk. Tawa Tuan Santun semakin keras, menggema, menabrak dinding ruangan dan memantul di lantai dan langit-langit. Tapi saat itu pula terdengar suara bagai orang tercekik. Tuan Santun merasakan lehernya tersumbat keras. Dia melirik ke cermin, membelalak dan yakin kalau telinganya menangkap suara manusia yang terbahak-bahak.

Gila! Tawa tikus itu tawa manusia?! Tuan Santun mencoba mendengarkan lebih seksama. Ya, ya, itu suara manusia! Astaga! Tikus apa itu? Lagipula, mengapa dia tiba-tiba bisa muncul dalam cermin? Dan tawa itu… Mengingatkan Tuan Santun pada suara-suara jin, setan, babi ngepet, siluman dan segala macam makhluk jejadian dalam sinetron Indonesia.

Dengan wajah berkeringat, Tuan Santun kembali melirik ke cermin. Tikus itu masih terbahak-bahak dengan tubuh berguling-guling seolah melihat lakon kehidupan yang paling lucu sedunia. Mendadak tawa itu terhenti. Tikus itu berdiri tegak, dalam arti sesungguhnya, mempergunakan dua kaki. Terdiam beberapa lama. Hanya matanya yang melirik ke kanan kiri, cemas.

Presis denganku, bisik hati Tuan Santun. Aku pun hanya bisa melirik ke kanan kiri. Sialan, kenapa aku harus dikutuk menjadi batu? Siapa yang bisa membebaskanku? Berapa lama? Apa selamanya aku akan menjadi batu? Lalu siapa yang memimpin seluruh masalah yang aku pimpin? Siapa? Di negeri ini, tak satu pun yang becus melakukannya. Semuanya hanya omong kosong, igauan, dan luapan nafsu belaka. Lalu siapa yang memimpin? Bagaimana caranya aku bebas?

Tikus itu tiba-tiba berlari kencang. Plassss!! Menghilang entah kenapa. Tanpa sadar Tuan Santun melirik sekelilingnya. Tidak, tidak ada siapa-siapa di sana. Lantas kenapa tikus itu kabur seperti ketakutan?

Tuan Santun terdiam. Tak perlu memikirkan tentang tikus dan cermin keparat yang mengutukku itu. Aku harus membebaskan diri. Tuan Santun mulai berteriak-teriak lagi. Lebih keras dari sebelumnya. Berharap ada yang muncul, melihatnya dan membebaskannya.

Satu hari telah lewat. Nona Mona, Kasman, Hendrik dan bawahannya yang lain, bergantian masuk ke ruangannya. Namun tak satu pun yang melihatnya.

Dua hari telah lewat. Kali ini lebih banyak yang masuk dan mencari-carinya.

Tiga hari telah lewat. Mulai terdengar keributan kalau Tuan Santun telah lenyap.

Berhari-hari telah lewat, yang masuk ke ruangannya pun bergantian. Mulai polisi, provost, pejabat, orang pemerintahan, hingga dukun paranormal yang memasang dupa dan kemenyan yang menyengat ruangannya, yang membuatnya terbatuk-batuk.

“Hei, orang-orang bodoh! Aku di sini! Aku di sini! Huk… huk… huk…!”

Dukun berpakaian hitam-hitam itu asyik berkomat-kamit. Mengerahkan segala macam ilmunya untuk menemukan Tuan Santun.

Satu bulan pun lewat. Tuan Santun mulai nelangsa, mulai menderita. Anehnya, dia tidak merasa lapar dan haus sama sekali. Sosoknya memang telah menjadi batu dan tak merasakan apa-apa kecuali mata hati yang gelisah, pedih dan menjerat segala bentuk.

Terlebih lagi ketika menyadari, anak dan istrinya tidak pernah muncul.

“Mereka katanya ke luar negeri,” kata salah seorang.

“Kemana?”

“Tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu?”

“Ala… siapa yang berani menanyakan orang-orang seperti mereka mau kemana? Siapa yang berani? Mau dipecat?”

“Jadi bagaimana mengabarkan hilangnya?”

“Tunggu saja. Siapa tahu Tuan Santun muncul. Bukankah begitu yang sering dilakukan kebanyakan orang? Lenyap dulu, baru kemudian muncul kembali?”

“Bagaimana kalau moksa?”

Tak ada jawaban.

Kering semata.

Tuan Santun terus menjadi batu. Bertahun-tahun, tanpa ada yang mengetahuinya kalau dia berada di ruangan kerjanya sendiri.***

 

7 Comments to "Sepotong Batu Dalam Cermin"

  1. J C  28 February, 2011 at 09:43

    Ini kualat ya ceritanya? Menerima karma….

  2. HN  28 February, 2011 at 08:32

    Apakah Tuan Santun memang santun?

  3. Kornelya  28 February, 2011 at 05:53

    Tuan santun membatu, demi masa depan dan keselamatan anak istri. Ditunggu lanjutannya.

  4. Linda Cheang  27 February, 2011 at 18:38

    jadi membatu.

  5. Djoko Paisan  27 February, 2011 at 15:53

    Mas Fahri….
    Terimakkasih untuk cerita nya…..
    Ada sembungannya atau tamat, karena sudah jadi batu….???
    Salam Sejahtera dari Mainz…

  6. Lani  27 February, 2011 at 14:43

    duaaaaaaa

  7. Lingga  27 February, 2011 at 14:26

    Lagi lagi 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.